Air Mata

Hus! Jangan diketawain!”

Rira cepat-cepat menutup mulutnya, tapi masih terkikik dengan matanya. Dan yang melihatnya hanya bisa melemparkan pandangan kesal. Kok bisa ya, ada cewek yang ga punya perasaan seperti ini.

Padahal Dina, teman sekelas mereka sedang menangis di tengah-tengah sahabaynya. Dicampakkan pacarnya sesaat sebelum kelulusan. Katanya sih, karena beda universitas.

Mungkin memang tidak semua orang harus menanggapi berita ini serius, toh kasus Dina putus-nyambung seperti ini sudah ketiga kalinya dalam tahun terakhir mereka di SMA. Tapi, saat mendengar tawa Rira tadi, rasanya siapapun akan mengira Rira sedang menjelekkan Dina.

Meskipun memang kenyataannya begitu.

Merasa menjadi pusat perhatian, Rira ngacir keluar ruangan, yang kemudian diikuti oleh Dan.

“Gara-gara nggak pernah pacaran kali ya, kamu ga punya perasaan kayak gitu,” komentar Dan. Rira mengambil duduk di bangku,  nyengir.

“Ga jugaaaaa….”

“Aku jadi penasaran, kalau kamu nangis gimana,” ujar Dan berikutnya. Rira malah menjulurkan lidah, “aku nggak akan pernah nangis didepanmu lah, week.”

“Soalnya aku tau bakal diketawain, hahaha!”

Dan ngedumel dalam hati, kapan ya, anak ini bisa serius?

“Oh iya, minggu depan aku udah bimbel di Jakarta.”

“Lah, nggak disini aja?”

“Ada tempat bimbingan alumni yang bagus, ya, sekalian cari pengalaman.”

Rira meletakkan tangannya didagu. “Kita ga ketemu lagi dong. SBMPTN juga disana?”

“Iya. Sekaligus.”

“Sekaligus diterima kuliah disana?”

“Yang itu belum tahu,” ujar Dan, mengangguk pada adik tingkat yang menyapanya. “Tapi maunya sih begitu.”

“Yah…”

“Kamu nangis, aku ga jadi pergi deh,” ucap Dan tiba-tiba.

Rira berpose seperti detektif conan, mengeluarkan suara hmmmm tanda ia sedang berpikir. “Ga mauuu…”

***

Kemarin, berbeda dengan hari ini.

Dan menemukan Rira berdiri mematung, badannya bergetar lemah, kemudian terdengar isakan darinya.

Tiba-tiba saja ia merasa bersalah telah meminta Rira menangis.

Kukira aku bisa mengusap air matamu.. dan itu akan jadi sangat romantis.

Bulir-bulir air mata bergulir bergantian dipipinya. Sesekali Rira harus mengelap hidungnya, yang ikut-ikutan basah, dengan bunyi srooot  yang mengganggu. Sekarang ia menangis keras, lebih keras daripada pelayat lainnya.

Aku tidak ingin pergi…

Bayangan Dan yang berusaha menggapai pipi Rira kemudian menipis dan hilang…

 

Bengkulu, 8 September 2016


Cerpen ini sekali tulis aja kemaren. Ga pake mikir. Makanya kalau ada kesamaan tokoh dan tempat atau sejenisnya jangan dibawa baper, plis 😀

Aku masih belum bisa eksperimen ke judul. Ada yang mau bantu kasih tips judul atau perbaiki judul yang ini?? 😀

 

Te rima kasih!

P.S : tadi masuk SMS dari orang rektorat, katanya anak-anak peksiminas bisa mengukur baju di penjahit. Ih cie ada baju kompakannya. Kegiatan ini sudah didepan mata!!

 

Ruang Kosong

“Nge-chat siapa sih?” Mia melongokkan kepala ke kolong meja Gina, yang dengan terburu-buru (dan mencurigakan), melempar hpnya ke sudut paling dalam, sekaligus menimpuk hp yang tidak bersalah itu dengan buku Fisika Kuantum.

“Bukan siapa-siapa.”

“Alaaah, biasanya juga aku yang ngebalesin chat-chat di line kamu..” paksa Mia. Wajah sahabatnya tidak bisa berbohong. Pasti ada yang disembunyikan.

Dan pasti tentang cinta, cieeh.

Gina mendorong Mia kembali ketempat duduknya, “yang ini beda lah…”

“Akhirnya ada yang menarik hati, begitu?” tanya Mia, bertopang dagu sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.

“Maunya sih…”Read More »

DIGIMON TRI

Siapa yang naruh bawang disini?! T.T

Malam ini kukosongin buat update blog dan lain-lain. Pas lihat postingan bang Agung tentang breaktime, aku iseng klik aja. Eh, di pagenya langsung keluar artikel tentang trailer DIGIMON TRI,

digi.JPG

IYA SAYA RINDU SEKALIIII 😀

Jaman kapan ya itu nonton Digimon terus? Dulu pas kecil (pengakuan mama, abah dan oma dan lain-lain) saya nontonnya bukan Berbi bukan dora, tapi Digimon, power ranger dan ultraman.

Theme song nya hapal banget, yang versi bahasa indonesia, yang ini

Dimulai cerita, yang berputar dengan cepatnya

Permukaan tanah, berubah merah

Seluruh bumi, menjadi surga yang kosong

Kan kami bebaskan, dengan tangan ini

Jalan berbatu, panjang dan tiada batas

Harus dibuang ketempat jauh disanaaaaaa

 

Dari web itu, aku langsung liat trailernya, Digimon tri. Ah, mereka sudah besar sekarang. Taichi, Yamato dkk. Tapi digimonnya tidak berubah, masih yang itu doang, gambarnya bikin kangen. Patamon, Agumon, dan semua mon-mon lainnya aku rinduuu :’)

Saking bahagianya liat video-video itu masa ya, air mataku menetes. Apalagi pas tahu penyanyi salah satu ostnya yang butterfly sudah RIP…

Masa kecil begitu indah. Lupakan soal menjadi dewasa dan semua aksesorinya, rasanya pengen koleksi lagi semua film dan ostnya!

Tolong developer game, bikin DigimonGo juga dongg T.T

Terima kasih digimon, karena kalian masa kecil saya bahagia 😀 Dan mungkin karena dari dulu nontonnya itu, imajinasi saya jadi terbuka lebar untuk membikin fantasi macam apa saja dan jadi penulis seperti ini..

digiii.JPG

 

 

Kado Ulang Tahun

Bayangan itu menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, tanpa suara. Memanfaatkan kelamnya malam dan sunyinya lelah untuk mengintai. Dimana-mana pintu tertutup, lampu dimatikan, hanya neon papan reklame yang berkedip-kedip di jalan itu.

Berjalan diam-diam dengan kondisi awas, bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah teropong kecil. Dengan itu, ia mengamati kondisi medan yang ia akan masuki. Atau tidak masuk, karena tugasnya hanya mengamati. Menyelidiki pergerakan.

“Kak?”

Bayangan tadi separuh terlonjak karena kekagetannya, ditemukannya wajah familier menatapnya dibawah pencahayaan seadanya. Adiknya.

“Kenapa kamu disini? Kakak sedang berkerja!”

Rindu menarik sesuatu dari belakang punggungnya, “Selamat ulang tahun!”

Sepotong kue cupcake dengan lilin berdiri diatasnya disodorkan pada Adit. Rindu memantik api, yang kemudian langsung ditiup Adit sebelum dapat membakar sumbunya.  “Terima kasih ya. Tapi kalau begini terus, kakak bisa ketahuan!”

“Ini dibuka dulu!” paksa Rindu, “aku sudah bela-belain ngikutin kakak dari tadi!”Read More »

MAFIA ALA BEM FKIK UNIB!

Jadi sebelum masuk kuliah, yaitu minggu lalu (04/9) anak-anak BEM FKIK UNIB melakukan musyawarah kerja untuk kepengurusan periode ini! Pelantikan, rapat, strategi!

Yang asyik dari muker kali ini, yaitu ice breaking sebelum makan siangnya! Permainan ini namanya nggak tahu, sang moderatornya, Zahfran Hafizkhi cuma bilang,

game warewolf, giant, shir, raja dan penduduk.

*yang kemudian membuat dengung pertanyaan. Aneh banget!

Tapi buatku yang biasa nonton orang main game di youtube (halah), aku malah jadi keingat game spyfall di Node dan Mafia di Higatv (nanti kumasukkan link videonya diakhir tulisan). Mungkin paling mirip ke Mafia, apalagi setelah Zhafran menjelaskan cara mainnya.

Note : Mainnya bersama seluruh anak BEM kecuali anak PSDM yang jadi panitia.Read More »

Cek FiraFirdaus di Wattpad!

Liburan hampir usai. Mestinya novel yang dikerjakan juga rampung. Nyatanya nggak 😛

Terlalu banyak ide membuat tidak fokus, apalagi unlimited internet bikin gampang streaming. Daripada ngetik aku malah lebih sering ngegoogle “gimana cara bikin video di youtube”, dsb, ga guna. Toh nanti pas balik ngampus ga bakalan ada waktu buat bikin video main-main. Pun kalau bikin vlog siapa juga yang mau nonton. Nanti aja kali yak kalau udah punya asisten editor video, haha.

BTW, sudah setahun serial Firchayala diupload di blog ini. Mengingat tahun lalu masih amat sepi, dan aku berusaha keras menaikkan jumlah postingan dengan memasukkan konten dari potongan-potongan novelku. Novel lama yang belum diterbitkan, karena berbagai kondisi dan alasan.

Ingat banget waktu itu cuma mbak ayumie yang ngelike, haha.

Ya iyalah waktu itu aku ga promosi kemana-mana, follower wp juga dikit banget.

Kemudian datanglah liburan kali ini, memberiku ide untuk upload di wattpad.

*yang sebenarnya mengulang luka lama ga ada yang baca, kan followernya cuma 1-2 orang, haha. Parah.

Udah tau gitu, aku masih pengen mencoba. Mungkin kalau di blog susah membacanya, dan lagipula kata beberapa orang tamplate blogku berat kalau dibuka lewat hp. Jadilah kupilih wattpad, yang lagi seru dikalangan anak muda. Wattpad udah kayak perpustakaan buku teenlit dan romance, yang gratis tis is s.

#kertasmahal.Read More »

Paragraf Delapan

“Dalam beberapa hari ini, apa kau tidak menemuinya?”

Aku tergelak. Semua parameter ini, sambutan menengangkan dari mereka, kartu nama ini, benar benar membuat perutku tergelitik. Aku tertawa besar-besar, sambil memperhatikan wajah mereka yang tiba-tiba jadi lucu.

“Aku bahkan baru mendarat tuan,” kataku, masih tertawa. “Kalian hebat sekali menghubungkanku dengan penusukan itu. Tapi saking hebatnya kalian bahkan tidak mengecek catatan perjalananku? Tuan tuan, aku baru saja mendarat disini beberapa menit lalu. Sebelumnya aku menikmati nikmatnya sinar matahari tropis Bali. Dan kalau kalian cek paspor ku, terakhir kali aku berpergian keluar negeri adalah enam bulan yang lalu..”

“Brak!” Albert memukul meja. Aku berhenti tertawa, baru menyadari raut mukanya yang berubah.

Paragraf Satu

Jadi—Jerman lagi.

“Permisi,” panggil seseorang dibelakangku. Membuatku berbalik. Suara lembut itu berasal dari seorang gadis kecil dengan dandanan antik. Kaos hitam gotik dengan tutu pink. Rambutnya dikuncir dua mengingatkanku dengan Raisa, keponakanku yang berumur tujuh. Tapi riasannya—dengan eyeliner tebal itu, membuat wajahnya lebih tua, mungkin delapan belas.
“Anda menjatuhkan ini,” katanya, mengancungkan paspor hijauku. Aku tergagap, mengucapkan terima kasih. Ia balas tersenyum, dengan bibirnya yang berlipstik ungu.
Aku berbalik, mempercepat langkahku menuju konter imigrasi.
“Om, oom arsitek ya?”

Demi Buku [Family Trip, Mei 2016 part 2]

Ingatkan ada BBW alias Bad Big Wolf sale awal Mei lalu?

Yang sanking menggemparkannya, gemanya sampai ke Bengkulu lewat jaringan book loversnya Abah. Padahal disini ga ada satupun selebaran atau spanduk tentang itu.

*ya iyalah neng, secara kamu tinggal di kota kecil. Lagian ngapain pasang iklan di Bengkulu, kan jualannya di tangerang, haha.

Aku masih ingat, gara-gara Abah ngeliatin broadcast pesan itu, aku sampai ngeluh-ngeluh nggak jelas, tentang kenapa aku tinggalnya di kota kecil kayak gini, dan kakak belum pernah sekalipun-padahal seorang pecinta buku-pergi ke bazzar buku besar…

hiks.

Yah mau bagaimana lagi, minat baca disini masih kecil. Mungkin selain aku kalau teman-teman dikampus ditanya dimana perpustakaan daerah, bakal sedikit yang tau. Sudahlah minat bacanya rendah, diserah arus globalisasi oleh handphone pula. Ya mana ada yang sempat baca buku kan? #pesimis #padahalsendirinyaitupenulis #generasimudamestibertindak

Realitanya begitu.

Sekarang sudah ada kesempatan, makanya schedule pertama kami yang kuajukan  adalah,

Pergi ke BBW!Read More »