Unlucky

BTS Gelombang pi ver 2.0

Updatenya kelamaan hehe. Kali ini kami zonk lagi. Ketiganya, malah keempatnya hoho. Aku, Rizki dan Maya, karya kami tidak satupun cocok dimata juri-juri. Belum ada yang bisa traktir, gitu deh. Bahkan Abi yang tahun ini kembali mengikuti olimpiade matematikanya Mathematic Championship, gagal di semifinal setelah kalah skor 75 dari SMPN 1 (Oke aku tidak merasa bangga dengan almamater smpku sama sekali, hehe).

Yah, tapi paling tidak kami berjanji dalam hati akan menggempur lagi tempat ini tahun depan.

Sampai bosan.

Atau sampai ada yang juara satu, haha

tumblr_n9ij3x2VNk1tsgjavo1_500.jpg

Iklan

Gelombang π ver 2.0

7a80cd563fee7bd68a480747044efe6c“Berapa nilai UAS matematikamu?”

Linggo berbalik, dibelakangnya nampaklah sesosok perempuan yang sedang nyengir lebar. Seseorang yang dikenalnya baik, terutama setelah kejadian tahun lalu dimana anak itu nyaris terjun dari lantai 5.

“Yang pasti jauh lebih baik darimu,” balas Linggo, memperhatikan Hara yang kini merengut kemudian memukul pelan lengannya. “Cih.”

“Pokoknya lulus kok,”

“Ah sudahlah, susah ngomong denganmu?” balas Hara sambil merengut. Linggo tersenyum kecil. Ia ingin sekali berlama-lama mengobrol dengan sahabatnya ini, apa lagi soal matematika. Yah, walaupun mereka masih rival, setidaknya bukan rival yang kejam seperti prasangka Hara dulu.

“Har, aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu ya.”

“Mau kemana? Kaukan janji traktir es? Mau kabur ya?!”

Tapi Linggo tidak menjawab, hanya berlari menjauh dan melambai meninggalkan Hara yang masih penasaran dengan nilai UAS Linggo.

***

Tiap variabel punya konstanta masing-masing,

Linggo menghentikan lari-lari kecilnya dan terdiam ditempat sesaat setelah ia sampai dibelakang sekolah.

Bodoh, tidak mungkin Panji menepati perkataannya sendiri, gumam Linggo dalam hati. Mereka hanya akan berdua saja, kata Panji 15 menit yang lalu. Nyatanya ia berdiri angkuh diantara 2 ‘pengawalnya’, menunggu Linggo datang. Apa yang ingin ia bicarakan?

“Bugh!”

Seseorang menendang Linggo dari belakang, membuatnya tersungkur dan kacamatanya terlempar entah kemana. Read More »

Chapter 2 [N.A.G.A BTS]

***Kalau udah ngampus baru balik lagi agenda nulis diatas jam 11 malam, ahahaha!

Ane mau bagi-bagi cerita tentang project unik ane nih, mau dengar nggak?

Project ini yang paling long last sepanjang hidup nih. Biasanya, saya nggak begitu suka dengan hal-hal berbau jangka panjang (kecuali pernikahan, itu beda! ups), bikin novel kalau bosan ditinggalin. Kalau dilanjutin biasanya novelnya ngawur. Atau kadang-kadang rencana 3 bulan diet eh malam cuma pas awal dan akhir saja yang membara.

Ini beda.

Berawal dari kecocokan genre antara saya dan si abang partner #summonrizki, dua duanya psiko, dua duanya jail dan iseng dan kadang-kadang juga dua duanya aneh. Atas landasan kecocokan tersebut, jadilah saya dan rizki mencetuskan ide “kenapa nggak ditulisin aja keanehan dan kegilaan ini?”
Tapi nggak mau asal basing aja, kami mau kegilaan yang terorganisir

Read More »

HIMAFI : Jangan terlalu banyak berharap

Dulunya motto diatas tadi tagline favorit saya, sebelum teori aksi=reaksi mengambil alih.


UPDATE : Kekalahan untuk HIMAFI, kami bertiga. Tak ada yang tembus, haha.


Mestinya diumumkan minggu. Sudah sedikit yakin sih, memelihara optimisme itu penting kan? Yah, begitulah. Kemudian diundur hari Kamis. Yah yah, nggak seru dong nunggunya. Akhirnyakan pas praktikum anatomi ane dan maya tersisih dan mesti nunggu kloter dua, pengennya pergi ke acara penutupan dan menanti pengunguman. Berharap salah satu trofi bergulir pada kita, dan ada uang pembinaan untuk menyokong kehidupan di Jakarta–Pengen ikut meridien cup coy. Gitu.

Tapi apa jadinya abis dari anatomi, tampang kacau balau dan bau keringat, nunggu buka puasa dan pas lihat HP diumumkan terimakasih atas partisipasinya. Apa-apaan?

Kesimpulan : nggak menang, hehe.

Begitulah. Mau bagaimana lagi. Sudahlah idenya biasa, konsepnya nggak begitu nyambung pula.

Mestinya buat kayak yang MM, giliran yang mm kemaren bikin kayak fisika, agak melow dan roman sedikit gitu.

Hem, pelajaran berharga untuk tahun depan, karena saya mengincar semua piala cerpen dari KIP, haha.

Jadi lebih semangat, kreatif dan imajinatif! Tapi ingat selalu untuk menyocokkan pemikiran dengan panitia! Wuehehehe 😀


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

De-fibri-la-tor : Fisika + Kedokteran

Niatannya pengen post setelah defibrilator, tapi ternyata delay-delay-delay, tau sendiri gabungan laptop sama tab apa hasilnya? MALAS 😀



Ini lanjutan dari post HIMAFI. udah tau lah kalo ane ada tantangan nulis sama rizki-maya, kan,  (Pengungumannya BESOK lho!) jadi mikir deh, apalah ya, tentang energi yang mau diungkit. Kalo bikin energi-energian yang bisa ngubah orang jadi mutan, beuhhh dah banyak banget. tapi kalau bukan yang semacam itu, apa lagi dong? Terus mikir lagi kan, mau gabungin masa lampau dan sekarang? Mengungkit om-om semacam thomas alfa edison dan einstein? Plis deh.

Setelah itu jadinya buntu. Padahal info lombanya udah tau sejak 3 minggu yang lalu. Ya sudahlah, fokus ujian dulu. BIOMOL mas bro! *mestinya ada post tentang Remamber BioMol atau Diary BioMol untuk mengenang Biomol. Alhamdulillah lulus meskipun sedikit paspasan. Padahal untuk survive, harus hasil maksimal. Ibaratin aja kalo lagi dalam satu ruangan padat manusia, untuk bisa bernafas harus berdiri paling tinggi *apasih.

Akhirnya dapat juga waktu senggang. Tapi apalah daya sudah kangen dengan game I Love CoffeMana lagi gravitasi yang menarik tubuh ini untuk tetap diatas tempat tidur. ckck. Padahal maunya kurusan biar di IYF bisa tampil agak kurus dikit, hiks. Tapi malah sibuk tidur malam (8 jam) tidur siang (4 jam) nah tu. Bayangkan aja, kira-kira berapa lah ya gram lemak yang berkumpul?

Pengen punya timbangan, hiks.

Hari senin bawa mobil *ayeayeayee. Terus ketemu Rizki. Ya ya, dia sudah selesai bikin cerpennya dan sudah mau mengumpulkan cerpennya (sementara laman wordku masih kosong, wkwk) Judul punya Rizki A Home Without a Cat is Just a House.

Nah sedikit highlightnya

“Kami, bangsa Electa, ditakdirkan menjadi penguasa dunia sejak Tiga Dewa Agung kami, Far-a-Day, Galvina, dan Boruta[1] melahirkan kami dengan generator, gunting bedah, kumprum dan zink mereka!”

Paragraf diatas keren ya? Sayang itu bukan inti ceritanya

Robhi lalu berjalan mendekati televisi, lalu berjongkok dan memegangi steker listrik yang bertumpuk dan dipenuhi kabel yang berseliweran tak tahu asalnya.“Terus, ini, wajar ‘kan listriknya turun? Robhi‘kan cuma menyalakan kipasnya dengan tenaga paling kecil.”

Agak nggak nyambung ya? Tapi begitulah, Rizki bilang sedang mencoba genre baru.

Mungkin gara-gara itu aku agak nggak nyambung dengan ceritanya kali?

Rizki mengingatkan kalo datelinenya hari ini.

Hari itu.

Sementara, yah kalian tahulah, kertas kosong. Pas, pas banget lagi merenung memikirkan energi macam apa yang mau diangkat, mbak Nuri (CP dari Cerpen HIMAFI), dikasih tau kalo diperpanjang jadi hari Rabu ngumpulnya. Asik asik asikk. Masih punya banyak waktu buat…

Main game 😀

*Padahal minecraftpun tak tersentuh sampai sekarang.

Oke oke, kali ini serius. Malam rabu, barulah kubuka word dan mulai mengetik. Sebentar, mau mengetik apa? Baca cerita Rizki aku jadi pengen ngungkit listrik juga. Jadi ingat jantung karena daftar MO (medical olympiad) cabang kardio-respi. Jantung-Listrik.  Aha!

Untuk tokoh-tokoh sedikit mudah, karena sudah mencanangkan kemarin mau memakai nama-nama anak Dikdok buat nama tokoh dari semua cerpen yang kutelurkan masa FK. *Ok, catat itu. *Emang dari mm kemaren udah pake Hara, Linggo. Sekarang mau pake panji dan clara. Tapi nggak tega ngasih nama mereka untuk kisah cinta, bukan kisah cinta sih karena cuma sebelah tangan, wkwk. Nah, jadinya kuganti jadi

Panji >> Enji

Clara >> Ciara.

Fair Enogh.

Terus, alurnya gimana? Ada alur kelistrikan dari jantung, yang membuat mereka bisa memompa secara teratur yang kemudian dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuh *tenang, nggak kuambil dari dorland kok terminologinya. Jadi ya, meskipun nggak bisa nemuin jalur buat nyocokin cerita asmara dengan kelistrikan, cukup kuhubungkan aja memori masa lalu dengan defibrilator. Right, gitu aja.

Jam 2 hari rabu, belum bergerak buat mandi berangkat ngirim berkas. Yah, mau gimana lagi mau bawa mobil malas bingo, bensin sekarat juga. Akhirnya ngelobi Maya buat ngumpulin berkas atau beliin pulsa biar bisa sms kak nuri buat ngumpulin Delay setelah delay. Begitu. Biar bisa ngoreksi ini itu juga. Gitu. Akhirnya lewat Fb nanyanya *maya belum belikan pulsa, hiks. sampai sekarang, hiks.

Ternyata masih boleh da diperpanjang lagi sampai jam 10. Sisa waktu dari dibilangin mbak nuri sampai jam 10 kebanyakan kugunakan buat main game lagi. Haha

Jadi begitulah. Cerpennya alhamdulillah selesai. Berterima kasih pada tokoh-tokoh dalam cerpen, Enji, Ciara, Agi, Uci dan Maya yang sudah membantu, Juga pada Allah SWT. Juga pada mbak Nuri yang sudah nunggu, dan untuk mamang2 yang sudah motongin naskah F4 jadi A4. Yah, semuanya terima kasih

*Speechnya ya ampunn, padahal pengungumannnya aja belum. Wkwk.

Tiil Sunday ya insya allah post lagi. Much love *kiss*

defib 


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

DEFIBRILATOR

Enji masuk dengan terburu-buru, menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya. Menyenggol seseorang yang sedang minum, mendorong yang lainnya.

Matanya dipenuhi amarah. Tinjunya mengepal. Lihatlah betapa marahnya ia sekarang. Enji yang tenang dan diam benar-benar berubah menjadi sosok monster yang mengerikan. Matanya merah, sedikit sembab.

“Mana Agi!” teriaknya pada seisi kelas. Semuanya terdiam.

“Brak!” Ia memukul meja dengan emosi, kemudian menarik kerah salah satu mahasiswa disana, mencengkramnya erat sampai orang itu terguncang. “Mana Agi!” tanyanya lagi.

Takut-takut, ia menunjuk kekursi paling pojok. Enji mengunci targetnya dan melepaskan orang itu. Beberapa laki-laki yang mulai merasakan hawa tidak beres, mulai bergegas mencegah Enji mendekat ke arah Agi. Agi sendiri bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri menyambut lawannya.

“Brengsek,”

Tetap saja, Enji lebih kuat dibanding mereka. Dan, “Bugh!” tinju Enji mendarat di pipi kanan Agi. Begitu kerasnya hingga Agi terhuyung kesamping.

Neng, tau defibrilator nggak?

***

Benar-benar kacau, selama 2 hari ini dia cuma tidur 7 jam kurang. Stase[1] yang melelahkan, ia bahkan tidak sadar telah tertidur di lobbi rumah sakit. Sekarang pinggangnya sakit semua. Enji meregangkan badannya, menimbulkan suara kretek-kretek yang membuat ibu-ibu keluarga pasien didepannya terkikik.

Enji tersipu malu, kemudian beranjak kearah musholla. Niatnya sih buat melanjutkan tidur, siapa tahu nanti siang ada ibu-ibu yang mau melahirkan lagi. Ia berjalan melewati lobi yang lumayan penuh dengan keluarga pasien yang menunggui saudaranya. Indonesia mah gitu. Kekeluargaannya erat sekali, satu yang sakit satu keluarga besar ikut menemani. Enji jadi senyum-senyum sendiri.

“Eh nji, sini bentar deh,” panggil Maya, teman satu stasenya. Enji mendekat, astaga, jangan-jangan disuruh follow up[2], pikirnya.

“Sudah follow up?”

Tuh kan!

“Belum, kamu ajalah ya May.. Capek nih begadang.”

“Yee, situ ngawur ya. Ga mau, sana-sana dari kamar 103,” usir Maya tanpa rasa perikemanusiaan. Enji memberengut, kemudian meraih stetoskop dan “papan LJK”nya.

Pokoknya selesaikan dulu. Secepatnya. Bantal, i miss u sooo much.

Enji memutar kenop pintu 103. Di bangsal pertama nampaklah pasien berusia 7 tahun yang sedang menonton kartun. Tidak seperti kamar-kamar lainnya yang penuh dengan keluarga, pasien ini hanya ditemani kakak perempuannya yang jatuh tertidur di samping tempat tidur adiknya.

“Pagi dik Uci…” Panggil Enji. Uci membalasnya tanpa menolehkan kepalanya dari tv. Dasar, gerutu Enji. Ia lanjut memeriksa infus dan suhu badan Uci.

“Demamnya sudah turun ya Ci…” kata Enji. Uci mengangguk-angguk saja, kemudian menertawai Upin Ipin yang dimarahi oleh kak Ros. “..kalau besok Uci sudah bisa berdiri, sudah boleh pulang ya,” lanjutnya.

“Apa, pulang?” Kakak Uci mengangkat kepalanya tiba-tiba. Enji berhenti menulis dan bersitatap dengan kakanya Uci.

Subhanallah, buset cantik bener!

Jantung Enji tiba-tiba berdegup kencang. Pikirannya membuncah, tidak bisa konsentrasi. Meskipun perempuan didepannya ini baru bangun tidur dengan muka yang belum dicuci dan rambut “singa”, tapi tampang bidadari nggak bisa menipu! Rambutnya hitam dan lebat, kontras sekali dengan wajahnya yang putih bersih. Senyumnya? Aduhai…

“I iya, pulang. Kondisinya sudah membaik, sudah bisa bilang kedokter kalau…” sahut Enji terbata-bata. Duh, jantungnya masih berdegup kencang! Ia teringat dengan pasien dua hari yang lalu, seorang ibu yang henti jantung karena kelelahan dan syok setelah melahirkan. Jantung berdegup kencang sehingga tak mampu lagi memompa. Dokter kemudian ambil tindakan dengan menggunakan Defibrilator…

“Hei?” tanya kakak Uci, menyadarkan lamunan Enji. Enji gelagapan, tadi lagi ngomong ya? Apa ya? Duh, kok jadi blank gini?. Sumpah, rasanya campur aduk.

“Neng, tahu defibrilator nggak?” kata Enji asal. Daripada kabur ngacir begitu saja membawa malu, lebih baik malu-maluin sekalian. Ngegombal.

“Eh? Defibrilator? Alat kejut jantung kan? Tahu kok. Minggu lalu baru saja belajar mekanisme kerjanya. Ada apa? Uci nggak perlu hal semacam itu, kan?”

Sial, si eneng pintar amat!

“Nggak kok, hehe. Nanya aja. Kamu anak kedokteran juga ya? Kok paham?” tebak Enji, menebak-nebak umur kakaknya Uci dalam hati.

“Bukan-bukan, aku nggak kuliah. Cuma kemarin di lembaga sosialku dapat bantuan AED,” jelas si bidadari, eh, kakaknya Uci.

“Ooh, AED yang alat kejut jantung portabel itu?”

“Iya, Automated External Defibrillator. Barangnya baru pertama kali kulihat, jadi masih inget banget.”

“Iya juga, di rumah sakit aja alat kejut jantungnya terbatas apalagi yang canggih gituan. Padahal kalo disebar di titik-titik strategis pasti bisa menyelamatkan banyak orang…” sahut Enji. Kakaknya Uci mengangguk. Tersenyum. Alamak, manis nian!

“Kakak-kakak, Uci Lapaaar!” teriak Uci cempreng.

***

Namanya Ciara. Umurnya baru 23 tahun. Pemerhati sosial. Bidadari.

“Rasanya menakjubkan bisa berkenalan dengan seorang dokter,” katanya saat berduaan denga Enji di kantin rumah sakit. Koreksi, sebenarnya kantinnya ramai, tapi dalam hati Enji sekarang hanya berdua. Cieee.

“Calon dokter ra, do’akan aja biar cepet selesai koas-nya.”

“Iya iya calon dokter,” Ciara menyeruput kopinya. “Padahal waktu kecil aku trauma lho, sama dokter.”

“Kok?” tanya Enji balik. Ngomong-ngomong, ritme jantungnya sudah kembali normal. Mungkin karena mereka tidak duduk berhadapan dan Enji lebih banyak mengalihkan pandangannya pada anak yang sedang disuapi ibunya sambil berlari-lari. Lucu sekali.

“Soalnya mereka tidak bisa menyelamatkan kedua orangtuaku.”

“…”

“Ketika itu aku hanya bisa berdiri di sudut, menyaksikan dokter hanya memeriksa nadi ayahku kemudian berkata bahwa ayah sudah nggak ada.”

“Ibumu?” tanya Enji hati-hati.

“Sudah tidak bergerak lagi saat ditemukan di TKP. Tewas ditempat.”

“Aku turut berduka cita,” ujar Enji, menepuk bahu Ciara pelan.

“Tidak apa-apa. Yang bikin aku benci dengan dokter waktu itu adalah, kenapa mereka nggak menggunakan alat kejut jantung pada Ayah dan Ibuku? Padahal mereka baru sebentar saja tidak bergerak. Dan aku yakin ayahku masih bisa diselamatkan. Nangis-nangis gitu aku minta dokternya menggunakan alat itu.”

“Tapi alat kejut jantung kan nggak bisa apa-apa lagi kalo denyutnya nggak ada Ra,” balas Enji. “Jantung itu kan punya sistem kelistrikan sendiri. Nah, sinyal listrik itu yang mengontrol rata-rata dan ritme dari detak jantng itu sendiri. Biasanya, kalo orang yang butuh defibrilasi itu orang-orang yang ritme jantungnya abnormal, jadi dengan listrik dari alat, diharapkan bisa kembali normal ritme jantungnya. Nah, buat yang sudah tidak teraba lagi ritme jantungnya, dikejutkan dengan listrikpun..”

“..tidak berpengaruh,” lanjut Ciara. Air mukanya berubah. Enji jadi salah tingkah karena sudah menjelaskan pada Ciara sepanjang lebar itu. Jangan-jangan Ciara jadi sedih.

“Maaf aku jadi melamun,” kata Ciara kemudian. “Jadi profesi dokter nggak se jahat yang kupikirkan ya? Hehe. Maaf ya.”

“Ya, begitulah. Kadang-kadang ada faktor sinetron yang biasa kita tonton juga. Mitos medis seperti defibrilator mah udah biasa,” jawab Enji. “jangan-jangan kamu hobi nonton sinetron yaaa?” goda Enji. Ciara tergelak. “Sembarangan saja kamu, nggak dong. Tapi sekali-kali sih, ada…”

“Tapi hebat ya, dengan alat itu, kita jadi punya kekuatan buat menyelamatkan nyawa orang lain,”

Enji mengangguk mengiyakan. Keduanya kemudian menyeruput kopi mereka masing-masing dengan nikmat. Pagi yang dingin, ditemani secangkir kopi panas dan seorang bidadari, benar-benar kombinasi surga!

“Tut tralalala, lalala~” handphone Ciara tiba-tiba berbunyi. Ciara mengangkatnya kemudian berbicara pada empunya suara di seberang sana. Enji berpikir-pikir apa sebaiknya ia juga memesan sarapan untuk mereka?

“Nji, aku pamit dulu ya, buru-buru nih,” kata Ciara. “Agi minta ditemanin ke rumah saudaranya. Ini dia udah didepan katanya.”

Agi?

Ciara mengambil tasnya dan bergegas membayar kopi mereka. “Deluan ya Nji!”

Enji melambai kearah Ciara yang berlari ke pintu keluar bahkan tanpa menoleh. Penasaran, Enji mengikuti Ciara sampai ke lobi depan. Sebuah mobil sport berwarna merah mengkilap terparkir disana, dan Ciara masuk kedalam dengan riang.

Laki-laki itu bukan tandingannya.

***

“Jatuh cinta lu sob?” tanya Maya. Enji mengangkat bahu. Daripada membahas soal Ciara dan Agi, dengan hipotesis-hipotesis yang ngawur dan mengada-ada, lebih baik membicarakan Uci.

Ya, adiknya Ciara ini rupanya belum bisa pulang secepat yang diperkirakan Enji. Uci rupanya kena perforasi usus[3], sehingga masih harus ditangani medis.

Jatuh cinta? Mungkin.

Semenjak pertemuan “defibrilator” Enji Ciara, mereka memang jadi akrab. Tapi alih-alih membicarakan cinta dan masa depan, Ciara lebih sering berbicara tentang lembaga sosial yang ia urus. Enji sebagai seorang medis diajaknya turut serta dalam aksi-aksi sosial. Dikatakannya bahwa apa gunanya jadi tenaga medis tapi tidak menolong sesama manusia? Enji mengangguk-angguk saja, sebenarnya ia senang dapat berbicara berdua dengan Ciara. Tapi kemudian Agi menelpon, hampir setiap hari—jika Enji tidak salah lihat.

Kemudian Ciara pergi dengan Agi. Bidadarinya pergi.

Enji galau.

Gua mau follow up dulu deh,” ucap Enji, meraih stetoskop dan spghonomanometernya[4].

Sedikit ragu-ragu antara kamar 101 atau 103 terlebih dahulu, Enji kemudian masuk ke kamar 103, menemui Uci.

Seperti biasa, Uci sedang duduk menonton Upin-Ipin dari bangsalnya. Enji mendekati Uci kemudian mengucapkan selamat pagi dan basa-basi yang tidak dibalas oleh Uci. Selesai mengecek infus dan tekanan darah, Enji menghela nafas dan kemudian berjalan kearah bangsal yang lain.

Tapi Enji penasaran dengan Agi, ia berbalik, “Ucii, kenal dengan yang namanya bang Agi nggak?”

Sebenarnya Enji tidak begitu mengharapkan respon dari Uci, yang bahkan tidak menjawab Assalamualaikumnya. Tapi kemudian Uci melepaskan pandangannya dari tv dan berkata, “kak Ciara masih bertemu dengan bang Agi?” tanyanya.

“Iya. Bang Enji lihat beberapa hari yang lalu didepan rumah sakit. Uci kenal?”

“Nggak kenal sih, bang Agi juga nggak pernah jengukin Uci. Uci pernah tanya sama kak Ciara, tapi kakak nggak pernah mau membahasnya. Tapi, tapi..” Uci berhenti, “Uci pernah lihat sms bang Agi. Dia ngancem kak Ciara, mau masukin kakak ke penjara­, mau nyelakain—Uci nggak tahu pasti, tapi kayaknya kak Ciara hutang sama bang Agi…”

“Hutang?”

“Iya. Kak Ciara kerja di LSM, tidak punya cukup uang untuk membiayai kami berdua. Apalagi, Uci sakit kan..” Uci tiba-tiba menangis. Enji jadi gelagapan.

Apa yang sedang dilakukan bidadarinya?

***

Hari lain, teka-teki lain. Hari ini Ciara datang pagi-pagi dan pamit pada Enji mau ke basecamp LSM-nya. Enji mengangguk saja—melambai pada sosok Ciara yang menjauh. Jantungnya masih saja berdegup keras seperti pertama kali bertemu. Benar-benar seperti defibrilator, tiap kali Ciara datang, ia merasa seperti dikejutkan dengan listrik 300 joule.

Entahlah, cinta itu membingungkan. Kadang-kadang ia memberimu energi untuk hidup, kadang-kadang ia mematahkan harapanmu.

Maya baru saja mengajak Enji pergi kewarung didepan rumah sakit ketika ambulans tiba dengan raungannya yang khas. Beberapa sejawat Enji dari stase gawat darurat berlari keluar dengan perawat. Sepertinya ada pasien kecelakaan. Respon mereka amat cepat dan tanggap. Seorang wanita dipindahkan masuk. Tanpa tersadar jantung Enji berdegup kencang lagi. Kali ini perasaannya tidak enak.

“Mau kemana Nji?” teriak Maya, mengikuti Enji yang sudah berlari menuju ruang gawat darurat. Sedikit ramai di ruangan itu, karena beberapa orang lain yang mengiringi ambulans juga ikut turun dan menengok kedalam ruang gawat darurat. Enji hampir dapat melihat wajah pasiennya, namun seseorang mendorongnya kebelakang. Tepatnya semua yang masuk secara ilegal sedang didorong keluar oleh perawat ruang IGD.

Kondisi pasien itu serius, dokter sudah memulai CPR[5] dan teman-teman sejawatnya menyiapkan alat kejut jantung. Enji memperhatikan baju pasien tersebut. Hijau. Ciara?

“Kecelakaan motor?” tanya seseorang dibelakangnya.

“Bukan, tabrak lari. Kami, kami sedang kampanye anti-narkoba tadi pagi. Kemudian—kemudian ada mobil merah. Menerobos kerumunan begitu saja, tanpa klakson sama sekali. Menyerempet beberapa orang, tapi dia yang paling parah.”

Jangan bidadarinya.

Enji merasakan tekanan yang kuat untuk melihat wajah pasien. Dengan cepat ia berputar kedalam rumah sakit dan masuk kedalam ruang IGD dari pintu yang lainnya.

Kakinya tidak kuasa bertahan saat melihat siapa yang terbaring diatas ranjang gawat darurat.

“200 joule, All clear?”

“Clear!”

[1] Bagian. Kalau dirumah sakit sih biasanya ada obgyn, anastesi, mata, dll. Ceritanya magang gitu, kan koas.

[2] Mengecek status pasien

[3] suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya suatu lubang pada dinding lambung, usus halus atau usus besar, yang menyebabkan kebocoran isi usus kedalam rongga perut. Penyebab perforasi saluran cerna yang lebih umum antara lain appendisitis, divertikulitis, penyakit ulkus, batu empedu atau infeksi kandung empedu.

[4] Tensi bos. Hehe

[5] Cardiopulmonary resuscitation/ Resusitasi jantung paru, pertolongan pertama terhadap pasien kasus henti jantung.


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

HIMAFI Lomba Cerpen : Let the battle begins!

Ada kalanya melihat peluang lomba menjadi amat tertarik, yaitu saat tema yang diberikan anti-mainstream. ENERGI.

Yuplah, karena itu aku berani menantang rival terberat, warrior sci-fi sekaligus penunggu lptik, si rizki buat memenangkan piala kali ini. Yah, yang asik harus dibagi-bagikan? haha.

Oleh karena itu! Bikinnya jangan main-main! Mulai sekarang sungguh-sungguh! Meskipun baru dapat semangat membara pas diumumkan pengumpulan naskah diperpanjang! HAHA! Begitulah. Kemudian mulai mengumpulkan quote yang berhubungan dengan energi. Siapa tahu dengan banyak browsing lalu dapat ide.


Sebenarnya udah mau nulis tentang Upil sih. Tapi lagi dicari yang bisa bikin jadi keren apa ya



Positive or negative energy is exchanged like a fair trade, the more you give, the more you receive—Master Jin Kwon, Martial Arts Master

The energy of the mind is the essence of life—Aristoteles

Wealth flows from energy and ideas—William Feather

Dark energy perhaps the biggest mystery in physics—Steve Allen

Unlike protons, i don’t deal with negativity—Anonim

images (3)


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11