Siapa Fira?

Mungkin agak aneh kalau di kolom about.me ada dua tulisan, tapi rasanya sayang kalau menghapus intro 2015, akhirnya dipindah saja kesini.

Fira Firdaus, nama pena mahasiswi kedokteran salah satu universitas di Indonesia. Saking seringnya memakai nama pena, sampai dosen saja sampai pangling, kamu bukannya yang namanya Fira Firdaus yah di facebook? Hehe. Biar profesional, mengingat Fira Firdaus sudah menerbitkan buku sejak SMP. Kan susah fans nyarinya di medsos. #idih

P_20160526_110950_BF.jpg
Kalau nyari Firafirdaus terus namanya banyak yang muncul, cari aja yang mirip ini 😛

Blog ini awalnya dibuat untuk menjaga produktifitas tulis-menulis saya, karena abah (dan beberapa orang lainnya) sempat menegur, kok waktu kuliah malah nurun nulisnya. Bukannya ga mau nulis, tuh setiap modul semua anak fkik mengumpulkan satu buku logbook yang ditulis tangan! Sampai akhir tingkat 2 ini saja artinya sudah nulis 16 buku ukuran double folio! Kurang produktif apa coba hehe.

Diatas jam 11 – blog berisi tulisan-tulisan ngawur seorang anak kedokteran yang bersikeras bahwa diatas jam 11 adalah waktu paling efektif untuk melakukan dua hal bersamaan : mengerjakan tugas sekaligus bermimpi.

Kira-kira begitu. Pada akhirnya tidak menjurus ke peminatan apapun seperti fasion/food/travel/dll, malah jadi custom, dengan sebagian besar tulisan menjurus ke tiga topik yaitu Review, Curcol dan Karya (banyak cerpen-cerpen asik disini).

Meskipun keseluruhannya masih berantakan, mimpi kedepannya agar blog ini bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat orang-orang!

soon : http://www.firafirdaus.com!


Siapapun boleh nyepam ke email, fira juga suka berkirim surat, tapi untuk alamat supaya ditanya sendiri ya 🙂

Email : firaaksel7@gmail.com

No.Hp : 085368647136

Menerima curhatan masalah kepenulisan dan penerbitan, yuk kita sharing 😀

Iklan

Blogger Bengkulu!

Saat mencoba untuk aktif kembali ngeblog, tujuanku cuma buat mengalahkan Maya dalam kompetisi kecil-kecilan bikinan kami. Sebulan penuh siapa yang paling banyak ngepost. Maka pada bulan itu juga aku sibuk membagi novelku (FIRCHAYALA, yang belum juga dijadikan penerbitnya dan akhirnya jadi dokumen pribadi saja) jadi tulisan pendek-pendek. Setelah mendapatkan cukup banyak stok tulisan (yang pasti bikin Maya K.O), aku mulai berpikir, selanjutnya apa?

Punya blog punya banyak keuntungan. Mulai dari memproduktifkan karya, memperbanyak teman dan juga menghasilkan uang (meskipun yang terakhir belum juga tercapai, haha). Tapi aku sempat ragu apakah aku bisa menulis rutin, mengingat proyek novel duetku bersama cricket guy sudah berjalan lebih tiga tahun dengan prognosis dubia 😀Read More »

Gelombang π ver 2.0

7a80cd563fee7bd68a480747044efe6c“Berapa nilai UAS matematikamu?”

Linggo berbalik, dibelakangnya nampaklah sesosok perempuan yang sedang nyengir lebar. Seseorang yang dikenalnya baik, terutama setelah kejadian tahun lalu dimana anak itu nyaris terjun dari lantai 5.

“Yang pasti jauh lebih baik darimu,” balas Linggo, memperhatikan Hara yang kini merengut kemudian memukul pelan lengannya. “Cih.”

“Pokoknya lulus kok,”

“Ah sudahlah, susah ngomong denganmu?” balas Hara sambil merengut. Linggo tersenyum kecil. Ia ingin sekali berlama-lama mengobrol dengan sahabatnya ini, apa lagi soal matematika. Yah, walaupun mereka masih rival, setidaknya bukan rival yang kejam seperti prasangka Hara dulu.

“Har, aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu ya.”

“Mau kemana? Kaukan janji traktir es? Mau kabur ya?!”

Tapi Linggo tidak menjawab, hanya berlari menjauh dan melambai meninggalkan Hara yang masih penasaran dengan nilai UAS Linggo.

***

Tiap variabel punya konstanta masing-masing,

Linggo menghentikan lari-lari kecilnya dan terdiam ditempat sesaat setelah ia sampai dibelakang sekolah.

Bodoh, tidak mungkin Panji menepati perkataannya sendiri, gumam Linggo dalam hati. Mereka hanya akan berdua saja, kata Panji 15 menit yang lalu. Nyatanya ia berdiri angkuh diantara 2 ‘pengawalnya’, menunggu Linggo datang. Apa yang ingin ia bicarakan?

“Bugh!”

Seseorang menendang Linggo dari belakang, membuatnya tersungkur dan kacamatanya terlempar entah kemana. Read More »

Firchayala Jilid 2!

Sore-sore yang cerah. Akhirnya bisa liat langit Bengkulu biru, lho!

Curcol sedikit tentang cerita tadi sore. Ada panggilan butuh darah B, untuk ibu yang perdarahan setelah melahirkan. Agak telat datangnya, jadi udah siap berkantong-kantong tuh darah, hehe. Padahal juga bukan keluarga alias cuma dengar dari teman aja ada yang butuh darah. Akhirnya saya (dan Clara, yang menjemput karena khawatir saya pulang sendiri setelah mendonor) akhirnya jalan-jalan seputar rumah sakit. Mirip-mirip jjs cantik tapi kami mutarin RS gitu. RSUD M.Yunus sore hari terlihat sepi, nggak ada kegawatan yang terlihat, malah bisa dibilang adem-adem aja. Lewat ICU dan ICCU memang ramai, tapi tidak begitu histeris. Akhirnya kami pulang dan aku mulai membuka laptop, hehe.

Lanjutkan tulisan-tulisan di blog dan untuk lomba. Tunggu postingan Kegilaan Oktober ya! Hehe.

Nah, jadi, apa yang membuat saya bikin postingan ini adalah saya menemukan draft firchayala jilid 2 di laptop! Lupa-lupa ingat pernah mengerjakan project ini, surprise juga karena pernah terpikir untuk melanjutkan novel firchayala yang bahkan tidak pernah terbit, hehe.

Pengen sih ngelanjutinnya karena kangen, kangen ceritanya yang bisa dibikin segila apa-apa yang kubayangkan dan kangen karakternya. Apalagi di firchayala jilid dua cerita romancenya! Wihihi.

Anyway, coba dibaca dulu nih, siapa tahu kalian bisa kasih saran gimana kelanjutan Firchayala jilid 2!

Baca juga >> Firchayala 1


Prolog-Ayah, Dimana Engkau?

Liburan bagi Aya adalah waktunya menyisingkan lengan baju dan bekerja lebih keras. Waktunya berbakti pada orang tua. Pada ibunya, yang sakitnya sekarang makin menjadi-jadi.

Kata dokter, ibu sakit TBC. Setiap hari harus minum obat rutin, tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran. Pekerjaan-pekerjaan yang berlebihan bisa memperpendek umurnya. Karena itulah Aya yang menggantikannya bekerja. Setidaknya ia bisa memastikan keluarganya makan dengan cukup setiap harinya. Ia, Kak Gilang, sepasang pedang mereka yang kondang; Kak Rio, Kak Tio. juga Ibu. Hanya 5 orang saja.

Seorang pelanggan meminta Aya mengambilkan pasangan sepatu yang sudah ia coba sebelumnya. Ya, kali ini ia bekerja di toko sepatu.

“Sepatu fans ukuran 42 habis ya?” tanya Aya ketika tidak dapat menemukan barang yang ia cari. Apeng, teman kerjanya mengangkat bahu. “Bukannya yang cek persediaan kemarin malam itu kamu? Abang nggak tahu,” jawabnya sambil berlalu dengan kotak sepatu ditangan.Read More »

HIMAFI : Jangan terlalu banyak berharap

Dulunya motto diatas tadi tagline favorit saya, sebelum teori aksi=reaksi mengambil alih.


UPDATE : Kekalahan untuk HIMAFI, kami bertiga. Tak ada yang tembus, haha.


Mestinya diumumkan minggu. Sudah sedikit yakin sih, memelihara optimisme itu penting kan? Yah, begitulah. Kemudian diundur hari Kamis. Yah yah, nggak seru dong nunggunya. Akhirnyakan pas praktikum anatomi ane dan maya tersisih dan mesti nunggu kloter dua, pengennya pergi ke acara penutupan dan menanti pengunguman. Berharap salah satu trofi bergulir pada kita, dan ada uang pembinaan untuk menyokong kehidupan di Jakarta–Pengen ikut meridien cup coy. Gitu.

Tapi apa jadinya abis dari anatomi, tampang kacau balau dan bau keringat, nunggu buka puasa dan pas lihat HP diumumkan terimakasih atas partisipasinya. Apa-apaan?

Kesimpulan : nggak menang, hehe.

Begitulah. Mau bagaimana lagi. Sudahlah idenya biasa, konsepnya nggak begitu nyambung pula.

Mestinya buat kayak yang MM, giliran yang mm kemaren bikin kayak fisika, agak melow dan roman sedikit gitu.

Hem, pelajaran berharga untuk tahun depan, karena saya mengincar semua piala cerpen dari KIP, haha.

Jadi lebih semangat, kreatif dan imajinatif! Tapi ingat selalu untuk menyocokkan pemikiran dengan panitia! Wuehehehe 😀


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

DEFIBRILATOR

Enji masuk dengan terburu-buru, menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya. Menyenggol seseorang yang sedang minum, mendorong yang lainnya.

Matanya dipenuhi amarah. Tinjunya mengepal. Lihatlah betapa marahnya ia sekarang. Enji yang tenang dan diam benar-benar berubah menjadi sosok monster yang mengerikan. Matanya merah, sedikit sembab.

“Mana Agi!” teriaknya pada seisi kelas. Semuanya terdiam.

“Brak!” Ia memukul meja dengan emosi, kemudian menarik kerah salah satu mahasiswa disana, mencengkramnya erat sampai orang itu terguncang. “Mana Agi!” tanyanya lagi.

Takut-takut, ia menunjuk kekursi paling pojok. Enji mengunci targetnya dan melepaskan orang itu. Beberapa laki-laki yang mulai merasakan hawa tidak beres, mulai bergegas mencegah Enji mendekat ke arah Agi. Agi sendiri bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri menyambut lawannya.

“Brengsek,”

Tetap saja, Enji lebih kuat dibanding mereka. Dan, “Bugh!” tinju Enji mendarat di pipi kanan Agi. Begitu kerasnya hingga Agi terhuyung kesamping.

Neng, tau defibrilator nggak?

***

Benar-benar kacau, selama 2 hari ini dia cuma tidur 7 jam kurang. Stase[1] yang melelahkan, ia bahkan tidak sadar telah tertidur di lobbi rumah sakit. Sekarang pinggangnya sakit semua. Enji meregangkan badannya, menimbulkan suara kretek-kretek yang membuat ibu-ibu keluarga pasien didepannya terkikik.

Enji tersipu malu, kemudian beranjak kearah musholla. Niatnya sih buat melanjutkan tidur, siapa tahu nanti siang ada ibu-ibu yang mau melahirkan lagi. Ia berjalan melewati lobi yang lumayan penuh dengan keluarga pasien yang menunggui saudaranya. Indonesia mah gitu. Kekeluargaannya erat sekali, satu yang sakit satu keluarga besar ikut menemani. Enji jadi senyum-senyum sendiri.

“Eh nji, sini bentar deh,” panggil Maya, teman satu stasenya. Enji mendekat, astaga, jangan-jangan disuruh follow up[2], pikirnya.

“Sudah follow up?”

Tuh kan!

“Belum, kamu ajalah ya May.. Capek nih begadang.”

“Yee, situ ngawur ya. Ga mau, sana-sana dari kamar 103,” usir Maya tanpa rasa perikemanusiaan. Enji memberengut, kemudian meraih stetoskop dan “papan LJK”nya.

Pokoknya selesaikan dulu. Secepatnya. Bantal, i miss u sooo much.

Enji memutar kenop pintu 103. Di bangsal pertama nampaklah pasien berusia 7 tahun yang sedang menonton kartun. Tidak seperti kamar-kamar lainnya yang penuh dengan keluarga, pasien ini hanya ditemani kakak perempuannya yang jatuh tertidur di samping tempat tidur adiknya.

“Pagi dik Uci…” Panggil Enji. Uci membalasnya tanpa menolehkan kepalanya dari tv. Dasar, gerutu Enji. Ia lanjut memeriksa infus dan suhu badan Uci.

“Demamnya sudah turun ya Ci…” kata Enji. Uci mengangguk-angguk saja, kemudian menertawai Upin Ipin yang dimarahi oleh kak Ros. “..kalau besok Uci sudah bisa berdiri, sudah boleh pulang ya,” lanjutnya.

“Apa, pulang?” Kakak Uci mengangkat kepalanya tiba-tiba. Enji berhenti menulis dan bersitatap dengan kakanya Uci.

Subhanallah, buset cantik bener!

Jantung Enji tiba-tiba berdegup kencang. Pikirannya membuncah, tidak bisa konsentrasi. Meskipun perempuan didepannya ini baru bangun tidur dengan muka yang belum dicuci dan rambut “singa”, tapi tampang bidadari nggak bisa menipu! Rambutnya hitam dan lebat, kontras sekali dengan wajahnya yang putih bersih. Senyumnya? Aduhai…

“I iya, pulang. Kondisinya sudah membaik, sudah bisa bilang kedokter kalau…” sahut Enji terbata-bata. Duh, jantungnya masih berdegup kencang! Ia teringat dengan pasien dua hari yang lalu, seorang ibu yang henti jantung karena kelelahan dan syok setelah melahirkan. Jantung berdegup kencang sehingga tak mampu lagi memompa. Dokter kemudian ambil tindakan dengan menggunakan Defibrilator…

“Hei?” tanya kakak Uci, menyadarkan lamunan Enji. Enji gelagapan, tadi lagi ngomong ya? Apa ya? Duh, kok jadi blank gini?. Sumpah, rasanya campur aduk.

“Neng, tahu defibrilator nggak?” kata Enji asal. Daripada kabur ngacir begitu saja membawa malu, lebih baik malu-maluin sekalian. Ngegombal.

“Eh? Defibrilator? Alat kejut jantung kan? Tahu kok. Minggu lalu baru saja belajar mekanisme kerjanya. Ada apa? Uci nggak perlu hal semacam itu, kan?”

Sial, si eneng pintar amat!

“Nggak kok, hehe. Nanya aja. Kamu anak kedokteran juga ya? Kok paham?” tebak Enji, menebak-nebak umur kakaknya Uci dalam hati.

“Bukan-bukan, aku nggak kuliah. Cuma kemarin di lembaga sosialku dapat bantuan AED,” jelas si bidadari, eh, kakaknya Uci.

“Ooh, AED yang alat kejut jantung portabel itu?”

“Iya, Automated External Defibrillator. Barangnya baru pertama kali kulihat, jadi masih inget banget.”

“Iya juga, di rumah sakit aja alat kejut jantungnya terbatas apalagi yang canggih gituan. Padahal kalo disebar di titik-titik strategis pasti bisa menyelamatkan banyak orang…” sahut Enji. Kakaknya Uci mengangguk. Tersenyum. Alamak, manis nian!

“Kakak-kakak, Uci Lapaaar!” teriak Uci cempreng.

***

Namanya Ciara. Umurnya baru 23 tahun. Pemerhati sosial. Bidadari.

“Rasanya menakjubkan bisa berkenalan dengan seorang dokter,” katanya saat berduaan denga Enji di kantin rumah sakit. Koreksi, sebenarnya kantinnya ramai, tapi dalam hati Enji sekarang hanya berdua. Cieee.

“Calon dokter ra, do’akan aja biar cepet selesai koas-nya.”

“Iya iya calon dokter,” Ciara menyeruput kopinya. “Padahal waktu kecil aku trauma lho, sama dokter.”

“Kok?” tanya Enji balik. Ngomong-ngomong, ritme jantungnya sudah kembali normal. Mungkin karena mereka tidak duduk berhadapan dan Enji lebih banyak mengalihkan pandangannya pada anak yang sedang disuapi ibunya sambil berlari-lari. Lucu sekali.

“Soalnya mereka tidak bisa menyelamatkan kedua orangtuaku.”

“…”

“Ketika itu aku hanya bisa berdiri di sudut, menyaksikan dokter hanya memeriksa nadi ayahku kemudian berkata bahwa ayah sudah nggak ada.”

“Ibumu?” tanya Enji hati-hati.

“Sudah tidak bergerak lagi saat ditemukan di TKP. Tewas ditempat.”

“Aku turut berduka cita,” ujar Enji, menepuk bahu Ciara pelan.

“Tidak apa-apa. Yang bikin aku benci dengan dokter waktu itu adalah, kenapa mereka nggak menggunakan alat kejut jantung pada Ayah dan Ibuku? Padahal mereka baru sebentar saja tidak bergerak. Dan aku yakin ayahku masih bisa diselamatkan. Nangis-nangis gitu aku minta dokternya menggunakan alat itu.”

“Tapi alat kejut jantung kan nggak bisa apa-apa lagi kalo denyutnya nggak ada Ra,” balas Enji. “Jantung itu kan punya sistem kelistrikan sendiri. Nah, sinyal listrik itu yang mengontrol rata-rata dan ritme dari detak jantng itu sendiri. Biasanya, kalo orang yang butuh defibrilasi itu orang-orang yang ritme jantungnya abnormal, jadi dengan listrik dari alat, diharapkan bisa kembali normal ritme jantungnya. Nah, buat yang sudah tidak teraba lagi ritme jantungnya, dikejutkan dengan listrikpun..”

“..tidak berpengaruh,” lanjut Ciara. Air mukanya berubah. Enji jadi salah tingkah karena sudah menjelaskan pada Ciara sepanjang lebar itu. Jangan-jangan Ciara jadi sedih.

“Maaf aku jadi melamun,” kata Ciara kemudian. “Jadi profesi dokter nggak se jahat yang kupikirkan ya? Hehe. Maaf ya.”

“Ya, begitulah. Kadang-kadang ada faktor sinetron yang biasa kita tonton juga. Mitos medis seperti defibrilator mah udah biasa,” jawab Enji. “jangan-jangan kamu hobi nonton sinetron yaaa?” goda Enji. Ciara tergelak. “Sembarangan saja kamu, nggak dong. Tapi sekali-kali sih, ada…”

“Tapi hebat ya, dengan alat itu, kita jadi punya kekuatan buat menyelamatkan nyawa orang lain,”

Enji mengangguk mengiyakan. Keduanya kemudian menyeruput kopi mereka masing-masing dengan nikmat. Pagi yang dingin, ditemani secangkir kopi panas dan seorang bidadari, benar-benar kombinasi surga!

“Tut tralalala, lalala~” handphone Ciara tiba-tiba berbunyi. Ciara mengangkatnya kemudian berbicara pada empunya suara di seberang sana. Enji berpikir-pikir apa sebaiknya ia juga memesan sarapan untuk mereka?

“Nji, aku pamit dulu ya, buru-buru nih,” kata Ciara. “Agi minta ditemanin ke rumah saudaranya. Ini dia udah didepan katanya.”

Agi?

Ciara mengambil tasnya dan bergegas membayar kopi mereka. “Deluan ya Nji!”

Enji melambai kearah Ciara yang berlari ke pintu keluar bahkan tanpa menoleh. Penasaran, Enji mengikuti Ciara sampai ke lobi depan. Sebuah mobil sport berwarna merah mengkilap terparkir disana, dan Ciara masuk kedalam dengan riang.

Laki-laki itu bukan tandingannya.

***

“Jatuh cinta lu sob?” tanya Maya. Enji mengangkat bahu. Daripada membahas soal Ciara dan Agi, dengan hipotesis-hipotesis yang ngawur dan mengada-ada, lebih baik membicarakan Uci.

Ya, adiknya Ciara ini rupanya belum bisa pulang secepat yang diperkirakan Enji. Uci rupanya kena perforasi usus[3], sehingga masih harus ditangani medis.

Jatuh cinta? Mungkin.

Semenjak pertemuan “defibrilator” Enji Ciara, mereka memang jadi akrab. Tapi alih-alih membicarakan cinta dan masa depan, Ciara lebih sering berbicara tentang lembaga sosial yang ia urus. Enji sebagai seorang medis diajaknya turut serta dalam aksi-aksi sosial. Dikatakannya bahwa apa gunanya jadi tenaga medis tapi tidak menolong sesama manusia? Enji mengangguk-angguk saja, sebenarnya ia senang dapat berbicara berdua dengan Ciara. Tapi kemudian Agi menelpon, hampir setiap hari—jika Enji tidak salah lihat.

Kemudian Ciara pergi dengan Agi. Bidadarinya pergi.

Enji galau.

Gua mau follow up dulu deh,” ucap Enji, meraih stetoskop dan spghonomanometernya[4].

Sedikit ragu-ragu antara kamar 101 atau 103 terlebih dahulu, Enji kemudian masuk ke kamar 103, menemui Uci.

Seperti biasa, Uci sedang duduk menonton Upin-Ipin dari bangsalnya. Enji mendekati Uci kemudian mengucapkan selamat pagi dan basa-basi yang tidak dibalas oleh Uci. Selesai mengecek infus dan tekanan darah, Enji menghela nafas dan kemudian berjalan kearah bangsal yang lain.

Tapi Enji penasaran dengan Agi, ia berbalik, “Ucii, kenal dengan yang namanya bang Agi nggak?”

Sebenarnya Enji tidak begitu mengharapkan respon dari Uci, yang bahkan tidak menjawab Assalamualaikumnya. Tapi kemudian Uci melepaskan pandangannya dari tv dan berkata, “kak Ciara masih bertemu dengan bang Agi?” tanyanya.

“Iya. Bang Enji lihat beberapa hari yang lalu didepan rumah sakit. Uci kenal?”

“Nggak kenal sih, bang Agi juga nggak pernah jengukin Uci. Uci pernah tanya sama kak Ciara, tapi kakak nggak pernah mau membahasnya. Tapi, tapi..” Uci berhenti, “Uci pernah lihat sms bang Agi. Dia ngancem kak Ciara, mau masukin kakak ke penjara­, mau nyelakain—Uci nggak tahu pasti, tapi kayaknya kak Ciara hutang sama bang Agi…”

“Hutang?”

“Iya. Kak Ciara kerja di LSM, tidak punya cukup uang untuk membiayai kami berdua. Apalagi, Uci sakit kan..” Uci tiba-tiba menangis. Enji jadi gelagapan.

Apa yang sedang dilakukan bidadarinya?

***

Hari lain, teka-teki lain. Hari ini Ciara datang pagi-pagi dan pamit pada Enji mau ke basecamp LSM-nya. Enji mengangguk saja—melambai pada sosok Ciara yang menjauh. Jantungnya masih saja berdegup keras seperti pertama kali bertemu. Benar-benar seperti defibrilator, tiap kali Ciara datang, ia merasa seperti dikejutkan dengan listrik 300 joule.

Entahlah, cinta itu membingungkan. Kadang-kadang ia memberimu energi untuk hidup, kadang-kadang ia mematahkan harapanmu.

Maya baru saja mengajak Enji pergi kewarung didepan rumah sakit ketika ambulans tiba dengan raungannya yang khas. Beberapa sejawat Enji dari stase gawat darurat berlari keluar dengan perawat. Sepertinya ada pasien kecelakaan. Respon mereka amat cepat dan tanggap. Seorang wanita dipindahkan masuk. Tanpa tersadar jantung Enji berdegup kencang lagi. Kali ini perasaannya tidak enak.

“Mau kemana Nji?” teriak Maya, mengikuti Enji yang sudah berlari menuju ruang gawat darurat. Sedikit ramai di ruangan itu, karena beberapa orang lain yang mengiringi ambulans juga ikut turun dan menengok kedalam ruang gawat darurat. Enji hampir dapat melihat wajah pasiennya, namun seseorang mendorongnya kebelakang. Tepatnya semua yang masuk secara ilegal sedang didorong keluar oleh perawat ruang IGD.

Kondisi pasien itu serius, dokter sudah memulai CPR[5] dan teman-teman sejawatnya menyiapkan alat kejut jantung. Enji memperhatikan baju pasien tersebut. Hijau. Ciara?

“Kecelakaan motor?” tanya seseorang dibelakangnya.

“Bukan, tabrak lari. Kami, kami sedang kampanye anti-narkoba tadi pagi. Kemudian—kemudian ada mobil merah. Menerobos kerumunan begitu saja, tanpa klakson sama sekali. Menyerempet beberapa orang, tapi dia yang paling parah.”

Jangan bidadarinya.

Enji merasakan tekanan yang kuat untuk melihat wajah pasien. Dengan cepat ia berputar kedalam rumah sakit dan masuk kedalam ruang IGD dari pintu yang lainnya.

Kakinya tidak kuasa bertahan saat melihat siapa yang terbaring diatas ranjang gawat darurat.

“200 joule, All clear?”

“Clear!”

[1] Bagian. Kalau dirumah sakit sih biasanya ada obgyn, anastesi, mata, dll. Ceritanya magang gitu, kan koas.

[2] Mengecek status pasien

[3] suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya suatu lubang pada dinding lambung, usus halus atau usus besar, yang menyebabkan kebocoran isi usus kedalam rongga perut. Penyebab perforasi saluran cerna yang lebih umum antara lain appendisitis, divertikulitis, penyakit ulkus, batu empedu atau infeksi kandung empedu.

[4] Tensi bos. Hehe

[5] Cardiopulmonary resuscitation/ Resusitasi jantung paru, pertolongan pertama terhadap pasien kasus henti jantung.


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

Meh, 2015

Katniss Everdeen memandang langit malam arena yang amat pekat, mencoba untuk tidur.

Kemudian ia mendengar suara meriam ditembakkan.

Sekali.

Dua kali. Kemudian terus menerus hingga ia tidak dapat menghitungnya lagi. Suaranya amat memekakkan telinga dan membuat hatinya tersentak. Berapa peserta lagi yang masih hidup?

Katniss berusaha menyumbat telinganya dengan tangan, tapi meriam itu tidak jua berhenti. Apa yang sedang terjadi?

Selamat tahun baru!

=.=

Entah kenapa setiap melewati malam tahun baru, cerita itu terus berputar dikepalaku. Lucu, humor. Tapi begitu kuceritakan pada orang lain *yang tahu hunger games, mereka cuma akan menarik otot senyumnya sedikit, kemudian berlalu.

Yah mau bagaimana lagi, subjektifkan? Meskipun begitu tak apa. Hidup ini terlalu singkat untuk diambil pusing 😀

Dah, desember yang penuh. Seperti perut kalau kebanyakan makan. Tidak produktif. Lihat sudah ada ide cerita yang mestinya disusun. Tapi terbengkalai. Terlalu banyak menyia-nyiakan.

Padahal tadi baca nusantaranger terakhir. TER-AKH-IR *salahpenggal. terakhir lho. Meskipun terlalu pendek menurutku, tapi timnya sudah menunjukkan konsistensi besar yang benar-benar patut ditiru bagi mahasiswa labil yang pengen jadi dokter-penulis di fase hidupnya selanjutnya. Setiap tanggal 1 dan 15 update. Begitu terus sampai ceritanya tamat. Dihitung-hitung setahun penuh full. Menanamkan cinta dengan kasih yang terus menerus ditaburkan secara berkala. Halahfirabicaracinta. Begitu pokoknya.

Bikin resolusi 2015! Setiap hari update! Nggak harus jam 11, tapi berkelanjutan. Juga bikin grand design baru buat web! Sekaligus cita-cita follower 20 orang sampai akhir 2015! Bisa kah?

Ya, begitu! 2015!

Sema-ng-at!


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

Serial Diatas Jam 11

Karena keseringan melamun dan menggalau, entah karena apa, mungkin karena bingung chapter dua mau dilanjutkan bagaimana #eh, jadinya malah terinspirasi bikin serial khusus untuk blog ini. Sesuai juga dengan nama blognya yaitu diatas jam 11, tapi nggak sekedar batas mimpi dan nyata. Juga jam yang baik untuk mengobrol tentang mimpi-mimpi yang akan kita raih kelak. Haiya 😀

Serial ini hanya seperti cerita seri biasa, dengan cerita yang fleksibel ganti prespektif. Tokohnya 4 orang gadis kuliahan. Satunya sih nggak, tapi kadang-kadang dia suka nyelonong aja di dalam kelas dan gedung kuliah orang. Siapa dia? Nantilah sambil berjalan kuperkenalkan mereka, gadis-gadis luar biasaku.

Membayangkan mereka benar-benar akan muncul membuat adrenalinku terpompa malam ini. Mengarangnya tadi pagi di tengah keheningan pagi kampus membuatku bahagia. Semoga mereka berempat bisa membantuku keluar dari masa labil.

Bukan hanya membantuku, tapi juga kalian. Kalian yang kebetulan membaca blogku :3

Sering-sering mampir ya 😀


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

Matematika Punya Cerita~

Update :::: Gelombang phi dapat juara teman-teman 😀

Jadi cerita-ceritanya, abis typing contest (ditantang Rizki. Lalu ketika saya menang dengan 53, dia tak terima lalu mencoba lagi. Lalu menang dengan 57. Curang! Haha) kami nunggu pengunguman lomba menulis cerpen di GB3. Rame disana, soalnya mathematic championship sendiri merupakan ajang yang udah 19 tahun berjalan. Bertiga dengan Maya lalu.

Pengamatanku tentang acaranya, azek. Meskipun cuma penutupan. 80 lah, untuk keseluruhan meskipun ngaret -_-. Panggungnya lucu batik-batik, ada himpunan kosong juga. Dekat pialanya ada lampu-lampu *Yaampun, lampu aja diomongin!. Susunan kursi diruangan ini adalah susunan yang paling kusukai. Sistem tribun, semua penonton dapat melihat panggung dengan jelas. Yah, mungkin esok-esok, pinjam gedung ini aja buat acara 😀

Lalu, sambutan. Bla bla bla. Paduan suaraaaa, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Lalu setelah penutupan ditutup *wkwk, tampilah padus lagi trus beat box. Para beatboxer itu pada santai ngeDJ pake mic yang-kayaknya-ga-bakal-dipakai-lagi-oleh-orang-orang, tanpa menghiraukan pandangan para peserta lomba yang nggak sabar lagi dengar pengunguman. Aku sih.

Lamaaaaa berselang, *bagi-bagi piala dulu sih, untuk anak olimpiade. Adekku juga sih, akhirnya tiba pengunguman. Puisi dulu. Maya belum berhasil. Jangan menyerah maya! Kita hantam terus lomba-lomba di UNIB ini nanti! Maya kuaaaat! *Aku sibuk memberi semangat, tapi dalam hati. Hehe. Soalnya lagi nahan pipis juga, mana deg degan.

Akhirnya tiba pengunguman. Juara 3.

#Yaah #Alhamdulillah

Juara 2 anak carolus yang juga juara di cipta puisi. Juara 1?

Bukan sin-thing, sayangnya.

Kemudian penyerahan hadiah. Yah, dari kami bertiga… Berarti aku harus menepati janji yang kubuat sendiri, Huwalaaa

Tak pape lah. Semangat Maya! Rizki! Kita gempur lagi esok sama-sama!

Pulangnya buka insta dari hp abah. Liat postingan Maya…

asda

Jaya FKIK!


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

Gelombang Phi – sebuah cerpen darurat

Yah, ada alasan mengapa saya – *yang bingung kenapa postnya aku, saye, saya, fira, biasa je lah. Anak labil juga! Hehe – tidak ngepost pada tanggal 13 14 15, Yah, itu karena saya lagi ngerjain sebuah cerpen! Yang baru dikasih tahu Maya kehadiran lombanya pada tanggal 11.. Mendadak banget, mana temanya matematika lagi. Fiuh.

Tapi saya suka tantangan!

Akhirnya mulai memikirkan ide. Pikir, pikir, pikir, rampunglah ide soal gelombang phi! Tau phi kan? Itu loh, yang 22 dibagi 7, yang melahirkan banyak anak yang kemudian beranak pinak! *benar nggak nih konotasinya? Lalu, kenapa judulnya gelombang phi?

Awalnya pengen dibuat mesin, tapi kemudian sadar kalau bukan anak mesin lah, diriku. Ilmu kedokteranpun belum dapat, hiks, padahal MM nya sudah dilupakan. Jadilah, terpikir tentang mesin teleportasi. Tapi, mau kemana? Nemuin Aristoteles atau Fibonacci gitu? Ah, mainstream!

Lalu teringat dengan kata gelombang *entah kenapa teringat dengan judul novelnya Dee Lestari *aku belum baca loh. Gitu.

Akhirnya dapat judul deluan daripada alur. Lalu yang keren cuma judul doang..

Trus kepikiran tentang nama-nama karakternya. Pengalamanku nulis cerpen yang lalu-lalu, karena ngasih namanya teman-teman, jadi lebih semangat nulisnya,dan promonya. Ya iyalah, karena merasa terlibat dengan ceritanya, beberapa orang yang namanya dipakai jadi tokoh biasanya jadi lebih antusias dengar ceritanya.

Walaupun sebenarnya, tokoh yang dipakaikan nama-nama mereka didalam cerita dapat nasib yang tragis….

Wihihi. Maafkan saya, mon amiii

Sudah dapat alur dan judul dan tokoh, mencari waktu mengetik!

Kata Maya, ngumpulnya hari jum’at tenggarnya. Kamis. Glek, mau ngerjainnya sambil DK ya? Tak mungkin lah, mana ada 2 tugas bikin makalah. All iz well. All iz well. All iz well

Akhirnya ngerjain disela-sela kuliah, dan istirahat makan siang..

*Bunda will miss me :’) Kehilangan si tukang makan..

Bay the way, kenapa aku ngotot banget ikut lomba ini, karena aku ditantang Rizki! Karena chapter 2 ditolak, aku buka bahasan baru. Makan. Tantangan! Aku suka ditantang! eh, Es dogan!

Dan, siapa yang menang bakal traktir satunya lagi.

Yeah, bakso!

*UPDATE Tanggal 22 Nov 2014*

Masa’, sore-sore lagi ngepel abahku sms,

“Mengapa Hara harus bunuh diri?”

Glek. Kenapa abah bisa tahu gelombang phi? Apa jangan-jangan abah salah satu jurinya? Habislah sayaaa


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11