Anak-anak Poseidon (Cerpen PEKSIMINAS)

​Sudah 1 bulan lewat dari lomba tingkat nasional pertamaku. Hm, rasanya rindu berjalan-jalan di Kendari, naik perahu kecil ke Bokori juga lari-larian dan manjat di Wisata Mangroovenya. 

Selepas acara tersebut, teman-teman dari tangkai lomba cerpen dan aku masih tetap berkomunikasi. Lalu Robi, dari Bandung berinisiatif untuk mengumpulkan karya cerpen kami. Wow. Ide bagus. Aku juga pengen banget baca karya-karya para pemenang. Biar tau bagaimana jenis karya yang mencuri hati para juri. Hehe. FYI saya belum beruntung kemarin, tidak ada peringkatnya juga jadi belum bisa membanggakan provinsi saya 😦 

Sebulan kemudian, hari ini, Robi akhirnya mengirim cerpen yang sudah di kompilasikan ke email kami masing-masing. Sayang sekali baru 17 yang mengirim. 9 orang lagi hilang kontak, bang Ile juga yang tidak masuk grup line tapi ada di bbm pas dikontak ternyata iya-iya nya hanya janji-janji. Huft. Padahalkan, kalau lengkap bisa dijadikan kumcer dan diterbitkan. Hm. 

Kan nambah satu karya yang diterbitkan 😀

Cerpenku berjudul Anak-anak Poseidon. Lain daripada yang lain, ketika yang lain bikin cerita dengan setting di kendari atau pesisir pantai (karena temanya menjaga ekosistem laut) aku bikin didalam laut. Wuahahaha (sekendaknyo bae). Tentang masa depan. Ketika daratan sudah menjadi abu. 

Kupikir bagian yang itu bagus. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa tidak lautan saja yang mengering? Atau berubah jadi keruh, jadi laut mati. Ditambah chaos gila-gilaan, pasti keren. Semuanya tentang penyesalan. 

Out of the box itu yang pemikiran utama yang kujadikan dasar rangka cerpen. Melupakan bahwa ini adalah acara nasional, dan diajak hunting hari sebelumnya pasti punya maksud tertentu (tidak benar-benar lupa sih, 4 jam setelah menulis Anak-anak Poseidon, aku sudah mulai kepikiran. Tapi dengan pedenya aku menepis pemikiran tersebut sambil makan cokelat, ah begini juga bagus). Setelah introspeksi dan belajar dari cerpen-cerpen pemenang, baru aku sadar bahwa mengambil fokus rakyat itu juga bagus. Apalagi pas dialognya memakai bahasa asli daerah. Makin kerasa feelnya, dan nggak terasa bahwa sang penulis itu bukan orang sana. 

Baru setelah baca cerpen peserta lain, aku mengambil kesimpulan bahwa lawan-lawanku memang kuat. Jika dalam perlombaan lokal aku bisa menebak mana yang menang dari susunan kata dan eyd, juga dari margin dan font, kali ini tidak bisa! Mungkin karena notabene peserta adalah anak jurusan bahasa di kampus masing-masing dan tentunya sudah mengikuti seleksi daerah, maka kemampuannya menyusun kalimat dan paragraf tidak usah diragukan lagi.

Apalagi untuk jalan cerita dan prespektifnya. Meskipun satu tema dan amanahnya kurang lebih sama mari jaga laut! Tapi kemampuan mengarangnya pada jago. Pun dengan cerita yang slow (istilah kusendiri, maksudnya jalan ceritanya nggak tap-tap-tap cepat tapi ngalir saja begitu -apaan sih. Maaf kalau tidak mengerti), ceritanya tetap menarik untuk dibaca. 

Aku paling suka punya Wika. Si pendiam (pas hunting pendiam, di Line ribut banget dengan sticker khasnya (wkwk wikaaah :D) ini adalah juara satunya peksiminas kemarin. Ceritanya pahit, menyedihkan, tentang anak bajo yang kehilangan mama dan bapak. Kemampuannya menuturkan kisah kuancungi jempol. Kayaknya terlalu lama membaur dengan anak-anak kampung bajo (sampai hampir ditinggal bus) membuatnya fasih bahasa sana, padahal dianya dari Jogja. Salut! 

Nah, itu tadi pengantarnya. Cerpennya ada dibawah ini. Aku minta saran dan kritik dari teman-teman, mudah-mudahan bisa turut membangun kemampuan saya dalam merangkai cerpen pada kemudian hari. Selamat membaca 😀

 *nulisnya pake hape. Jadi kalau ada yang salah mohon diingatkan 🙂


Timur membuka tasnya sekali lagi, memastikan alat peledak itu tidak tertinggal. 

Ia baru berumur lima belas tepat tiga hari yang lalu, dan siang ini ia akan mengakhiri hidupnya—

—juga kehidupan seluruh umat manusia lainnya. 

***

Ah, apakah kalian sudah tahu bahwa generasi sekarang tinggal dibawah laut?

Sudah seratus tahun berlalu sejak perang dunia ketiga. Banyak sekali yang berubah. Salah satunya adalah kegagalan umat manusia mempertahankan daratan, yang tak kuasa menahan puluhan nuklir yang saling dijatuhkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. 

Kemudian manusia yang tersisa, dengan sedikit kepintaran dan banyak keberuntungan, membangun suaka baru dibawah laut. Kami menyebut dunia baru ini sebagai surga bawah laut.

Disini surga, meskipun setiap hari kau akan berjalan ketempat yang sama bahkan dihari libur karena memang tidak ada yang bisa dikunjungi. Juga meskipun kamu harus makan ikan setiap hari. Yang jelas, tidak akan ada orang yang menghadangmu dengan pistol hanya karena kau berbeda pendapat dengannya, tidak ada radioaktif yang bisa membuat sel-sel tubuhmu bermutasi menjadi kanker, dan yang lebih penting, tidak ada yang membeda-bedakanmu hanya kau punya kulit hitam atau percaya bahwa Tuhan cuma satu.

Karena bagaimanapun, kami telah lolos dari perang. Juga dari kiamat-kiamat yang dihasilkan oleh perang itu.   

Semuanya bilang begitu, kecuali Timur.  

“Timur dimana?” panggil Bu Aiko, guru biologi kami. Beberapa teman sekelasku menggeleng tidak tahu. Beberapa berpendapat bahwa anak itu ketiduran di ruang ganti sehabis olahraga tadi.  

“Semuanya tenang!” tegur Bu Aiko tegas. “Buka buku kalian, halaman 107.”

Yah, tentang ikan lagi. 

Tidak seperti Timur yang setiap hari menghabiskan sebagian besar oksigennya untuk berdiam didalam air bersahabat dan biota laut—kerjaannya yang tidak berguna itu—aku lebih suka belajar. Apalagi sains, fisika.  

Kita pintar. Meskipun daratan sudah luluh lantak sekalipun, manusia masih bisa hidup dibawah air. Bukankah itu hebat?

“Psst, Ar!” 

Aku menoleh, dibelakangku Rinta mengulurkan secarik kertas yang terlipat dua. “Dari siapa?” tanyaku sambil membuka lipatannya. 

“Nggak tau dari siapa. Kutemukan dilaciku tapi tertulis untukmu,” sahutnya agak kesal. “Bilang pada kekasihmu agar tidak salah kirim lagi.”

“Sembarangan saja kamu Rin…” Ucapanku menggantung dilangit-langit, ketika kulihat tulisan didalamnya. 

Meskipun kamu melarang, keputusanku sudah bulat. 

Anak itu!

*** 

Kamu tahu bagaimana caranya menjaga keseimbangan alam?   

Musnahkan saja manusia. 

Nuklir sudah melakukan sebagian besar tugasnya, sekarang tinggal orang-orang sok yang berpikir mereka bisa membodohi alam—dengan bertingkah menyerupai ikan. 

Timur melangkah dengan yakin, tujuannya cuma satu.

***

Aku ingat, idealisme Timur ini berawal ketika mereka menonton Poseidon O2 Project dari dekat. Kelas 6 Sekolah Dasar. Anak itu menangis sambil memukul-mukul pembatas kaca, tidak tega melihat ratusan ikan mati lemas didepannya. 

“Ini tidak adil! Kenapa cuma manusia yang dibiarkan hidup?!”

Demi mendengar pernyataan itu, tidak ada petugas maupun guru yang menjawab. Anak-anak lain hanya menatap Timur dan ikan-ikan tak bersalah itu bergantian, tidak tahu harus melakukan apa. Pemikiran polos mereka ikut bertanya hal serupa. Kenapa manusia se-egois itu? Alih-alih mendapatkan jawaban, Timur malah diseret keluar ruangan untuk ditenangkan.

Untuk mendapatkan oksigen, manusia harus mengumpulkannya dari air dan menambahkannya dengan atom-atom unsur lainnya. Karena masih kecil, kami tidak dijelaskan bagaimana proses lengkapnya. Tapi satu hal yang pasti, hanya dengan alat itulah kami masih bisa bernafas sampai sekarang.

Ikan-ikan itu berada tepat dibawah pembuangan limbah pabrik.

Semestinya para petugas tidak memperlihatkan bagian itu pada kami. 

***

“Hei, kamu mau kemana?”

Timur menghentikan langkahnya. Ia berbalik, seorang petugas keamanan sudah berdiri disana.

“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk! Kamu tidak melihat tandanya?”

“Maaf pak, saya…”

***

Selama datang di Akuarium. 

Harapan terakhir umat manusia. 

Kita boleh gagal bermukim di mars, 

tapi kita tetap tidak boleh kalah.

***

“Kita boleh gagal bermukim di mars, tapi kita tetap tidak boleh kalah,” senandung Timur. Aku menemukannya, duduk didepan kaca pembatas antara kota dengan lautan. Matanya menatap kosong kearah lautan. 

Ia mengikuti nada yang terdengar dari kejauhan. Lapangan mulai ramai dengan orang-orang yang akan merayakan hari kemenangan. 

“Lirik lagu itu lagi,” jawabku. 

“Hari ini adalah hari yang menandai seratus tahun kemenangan umat manusia. Apa kamu tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan?”

Aku tersenyum kecil. Timur kemudian menepukkan lantai disebelahnya, menyuruhku duduk. Kami berdua kemudian duduk bersisian memandangi kedalaman laut. Sudah lama sekali tidak ada ikan yang melintas diperairan ini. Warna airnya yang biru tua itu menyiratkan kegundahan dan keputusasaan. 

Sejak kecil, aku dan Timur sering kesini. Dan Timur akan selalu menanyakan hal yang sama, 

“Bagaimana ya, rasanya hidup diatas permukaan?”

“Pasti menyenangkan…”

“Yang namanya matahari itu seperti apa ya?” gumam Timur. 

Selalu, karena dimatanya akulah yang terpintar. 

Meskipun aku lebih sering mendiamkan pertanyaannya itu, seperti sekarang. 

“Ar, aku sudah gagal.”

“Artinya keputusanmu belum bulat betul,” jawabku sekenanya, “Dan dengan begitupun, kamu sudah membuktikan sekali lagi bahwa kita ini benar-benar makhluk yang tidak berdaya.”

“Benar.”

“Lalu dimana peledaknya?”

“Direbut oleh penjaga. Tapi dia pikir itu cuma mainan.” Timur meremas tangannya kuat. 

“Ar, aku muak. Muak sekali. Semua hal dalam dunia bawah laut ini, semuanya. Kemenangan ini benar-benar menjijikkan. Kita mengambil nafas mereka, memakan mereka, bahkan menghancurkan ekosistem mereka. Bagaimana seseorang bisa menang dengan begitu banyak hutang dalam menunjang hidupnya? Semua ini omong kosong Ar. Aku tidak tahu kenapa aku masih hidup dengan keadaan memalukan begini!”

Matanya benar-benar dipenuhi rasa frustasi. Tidak terhitung berapa kali ia menyerahkan tuntutan pada pemerintah, pada para ilmuan, pada semuanya, mengenai kehidupan laut yang mereka abaikan. Tentang komunitas lain yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri. 

Aku menarik Timur dalam dekapanku, memberikannya pelukan yang amat kuat. Kuusap rambut Timur yang acak-acakan, mencoba memberikan dukungan baginya. 

Isakannya perlahan mulai melemah, kemudian pelukannya, lalu nafasnya. 

Kami berdua, tidak, seluruh populasi manusia yang hidup didalam akuarium kemudian tercekik dan tidak sadarkan diri. 

Suara ledakan pada pipa-pipa udara itu..

..hanya aku saja yang mendengarnya. 

***
Bonus foto foto dari pantai Bengkulu. Provinsi saya 😀

Meskipun rindu Kendari, saya tidak begitu rindu dengan pantainya. Karena disana pantainya tidak punya ombak. Di sana lautnya cenderung tenang. Sini coba main ke Bengkulu, lihat pantainya penuh dengan ombak bergulung-gulung. Seperti mau ditelan. Haha. Lah matahari saja ditelan apalagi manusia. #ngejoke, tapi garing. Hehehehe 

Btw tolong dikomen ya cerpennya. Salah satu kekuatan yang bisa mendorong saya untuk tetap menulis sampai sekarang, itu adalah kritik dari pembaca. Kalau kata-kata semangat saja, ga mempaaan. 

*malah guling-guling nonton youtube di kamar, wehehe. 

Kendari Day 6! (LAST)

16/10/16

! Warning ! Banyak foto-foto narsis!!

Pulang! Ah, rasanya masih mau disini. Makan, tidur, jalan-jalan dan lomba. Kerjaan rumah yang dilakukan palingan cuma nyapu kamar, itupun gantian dengan Kak Lingce dan room service. Hidup foya-foya memang selalu menyenangkan :v

Dan lagi, kali ini perginya di minggu keenam. Yang biasanya hanya dihabiskan dirumah, menggerutu dalam hati karena tidak bisa kemana-mana dan hanya punya jadwal harian beres-beres rumah. Nggak keren kalau ditulis di blog. Makanya kali ini aku bersyukur sekali diberi kesempatan berkompetisi sekaligus jalan-jalan ke pulau yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Makasih semuanya 😀

IMG_20161014_171112.jpg

*Mama, Abah, Bagian kemahasiswaan di Rektorat dan yang lain-lain.

Karena check out-nya jam 10 pagi, maka Kak Lingce dan lainnya (yang kayaknya begadang tadi malam) bisa packing dulu. Aku juga, memastikan tidak ada barang-barang yang ketinggalan. Kan repot kalau mau ngambilnya, Sulawesi lho!

P_20161016_083927.jpg

Kemudian jam sepuluh lewat, kami berdua dipanggil kebawah. Rupanya semuanya sudah siap, koper-koper berserakan di lobi yang penuh asap rokok. Bus dan mobil sudah stand by didepan hotel, tinggal naik saja. Tinggal menunggu kami berdua turun, juga. Haha. Padahal yang ditunggu tidur-tiduran saja di kamar, mwehehee.Read More »

Kendari Day 5!

15/10/16 Ah leganya sudah lombaaaa!

Pagi inipun bingung mau kemana. Rasanya malas beranjak. Tapi karena ingat sarapan hotel ini sungguhlah terbatas, maka aku cepat-cepat bergerak dan mandi!!

Betul dugaanku, pas keluar rupanya sudah habis telurnya. Setengah potong cuma yang tersisa, dan langsung kuselamatkan dalam piring. Mbak Lingce malah nggak dapat apa-apa, cuma teh 😥 Di resto bertemu Dea, Novi, Kak Putri dan Bang Denis. Sehabis sarapan, aku buru-buru ikut mobil yang akan mengantar Dea monolog. Cus!

P_20161015_085533.jpg
Panggung monolog sebelum lampu dimatikan! luas bingo!

Sampai ke auditorium. Tempatnya keren, disetting super gelap dengan kain hitam. Diatas panggung sudah ada toilet (?), properti dari penampil pertama mungkin. Juga, lampu sorotnya keren! Mungkin karena aku belum liat panggung dangdut, pop dan juga puisi jadi nggak bisa membandingkan.

P_20161015_092751.jpg
satu
P_20161015_102324.jpg
tiga

Dea tampil keempat, jadi ada 3 performance yang bisa kutonton (setelahnya pengen kabur maksudnya. Hehe). Nah, keempat monolog yang ditampilkan semuanya berbeda-beda. Yang pertama abangdari Aceh yang menceritakan kisah wanita tanpa mulut. Dia tampil cuma dengan handuk pink melingkar di pinggang. Read More »

Kendari Day 3!

13/10/16

Hunting!

Sebenarnya dalam rundown biasa, ga ada acaranya anak cerpen hunting. Technical meeting hari Rabu, kemudian lomba delapan jam di FMIPA UHO. Begitu saja, selebihnya (mungkin) akan kuhabiskan dalam kamar hotel seharian atau mendukung teman-teman yang lain tampil. Tapi ketika TM, diberitahukan bahwa kami akan HUNTING kebeberpa tempat tourisme di Kendari!

Uyeah!

Jadi, pagi itu dengan semangat yang membara (cieh) aku bersiap, serta berkali-kali ngecek ke arah restoran (lapar broh!). Tapi baru jam setengah delapan lah, sarapannya disajikan. Aku cepat-cepat makan lalu berangkat bersama bang Wira (Fotografi hitam putih) dan bang Meiza (Lukis) yang akan hunting juga.

Sampai di FMIPA, aku menyapa peserta lain yang belum kukenal. Rupanya mereka peserta penulisan lakon. Lho dimana yang cerpen? Sudah di bus! Haha.

Jadi pada hari itu, lokasi pertama yang dikunjungi adalah… Universitas Haluoleo. Bercanda ding, cuma lewat saja dengan Kak Widi sebagai MC mendeskripsikan lokasi yang akan dikunjungi. Kemudian selama perjalanan itu, dimulai perkenalan masing-masing peserta dengan menyebutkan asal dan hal yang unik dari diri mereka. Aku yang tanpa berpikir panjang asal sebut “ga suka mikir” buat menjadi deskripsi. -_- padahal hal tersebut kurang spesifik dibandingkan “suka oren” atau “fans berat niko :P” atau “ingatan pendek” atau “sering beruntung”. Selain itu jadi imej negatif buat orang-orang, duh duh.

P_20161013_090501.jpg
RUNDOWN!

Selama perkenalan, aura yang kurasakan positif, namun beberapa pasang mata mengincar bagaikan elang. Bagaimanapun ini kompetisi, kan? Dan akupun merasakan tekanan yang luar biasa (nggak keliatan aja) ketika sebagian besar dari mereka menyebutkan prodi bahasa dan sastra. Lha aku ini siapa nyasar dimana XD. Cuma belajar otodidak yang suka ngarang cerita, sama sekali tidak pernah memperhatikan EYD atau majas-majasan. Yang kutahu hanya cerita itu harus bikin pembaca berdebar!Read More »

Kendari H-1

10/10/16

Selepas keluar dari ruang ujian tadi, perasaan begitu lega. Alhamdulillah sumatif duanya juga sudah lulus. Artinya tinggal menunggu pengunguman nilai ujian praktikum.

Tapi tunggu dulu. Jam satupun belum bisa pulang dan packing. Masih ada KKD 2, ujian keterampilan klinisnya. Dengan perasaan yang campur aduk, sekaligus belum tenang karena mau-nggak-mau besok harus berangkat. Tadi malam setelah memposting mengenai Kendari H-2, Mama langsung ngajak ngomong. Beliau baca tulisanku, dan, tentu saja ada nasihat yang diberikan.

Lupain dulu Kendari, pikirin Ujian.

Biar lega bukan nonton Node, mestinya doa yang banyak sama Allah!

*glup.

Meskipun resikonya tidak lulus, itu sudah kakak pilih sendiri!

Beberapa teman yang kuceritakan tentang rencana ini banyak yang memuji, namun, banyak juga yang menyangsikan betapa beresikonya pilihan ini.

“Kalau ambo jadi kau sih, amb milih dak ikut…”Read More »

KENDARI H-2

09/10/16

Mungkin ada baiknya aku hela nafas panjang dulu.

Hirup dari hidung, keluarkan dari mulut. Biar rileks.

Mungkin nonton Node beberapa episode bisa mengusir kegundahan yang terlukis di wajah (mehehehe).

Iya, sekarang sudah minus dua hari keberangkatan. Galauku memuncak pada jam-jam seperti ini, seperti irama sirkadian korisol yang memuncak pada jam delapan pagi dan menurun setelahnya. Mungkin setelah mengetikkan beberapa kata ini, aku bisa fokus lagi ke persiapan ujian.

Bisa dikatakan aku memang sudah gila ambil resiko pergi lomba di minggu ke enam modul.

Nggak seperti fakultas lain yang hanya terbentur UTS dan UAS, kami di kedokteran punya jadwal yang cukup ketat dan peraturan yang mencekik orang-orang sepertiku yang masih punya mimpi lulus tepat waktu. Ya, seperti yang pernah kubilang pada post-post sebelumnya, sistem di FK kami tercinta ini adalah satu modul itu berjalan 6 minggu. 4 minggu belajar dan 2 minggu untuk ujian dan remedial. Setiap awal modul dimulai dengan membicarakan kontrak peraturan modul yang akan ditanda tangani diatas materai 3000. Peraturan yang paling kuingat tentu saja kehadiran kuliah sebanyak 80%, diskusi 75%, pleno 75%, ketidakhadiran yang diperbolehkan bukan bolos, tapi izin yang syar’i. Seperti sakit, izin kemahasiswaan dan izin keperluan keluarga.

Selama ini aku sudah beberapa kali pergi melancong menggunakan izin kegiatan kemahasiswaan. Yaitu pergi ke Medan (Baksoswil 1, 2014), Jakarta (Meridien Cup,2015), Semarang (IMSS, 2016). Selama tiga kali pergi itu, aku pergi diantara waktu 4 minggu belajar tadi dengan mematuhi peraturan persen-persenan tadi. Tentu saja dengan surat izin yang ditandatangani bagian kemahasiswaan dan sudah dapat izin ketua modul.

Masalahnya muncul ketika peksiminas ini berlangsung pada minggu keenam.

Antara lega dan menyesal ketika tahu acaranya di minggu keenam. Lega karena sebelum-sebelum ini biasanya dapat libur seminggu (alhamdulillah :)))) alias nggak ada remed. Menyesalnya, bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?

Sekarang sudah hari minggu sebelum minggu keenam.(ohmaygod)

Progress untuk keberangkatan : tinggal packing. Tiket dan uang saku beres.

Progress modul : ujian praktiikum sudah semua, tapi BELUM ADA YANG DIUMUMKAN. Untuk menambah galau, aku lulus pas-pasan sumatif 1. Itupun karena bantuan soal bonus. Aku masih ga tau bagaimana kelanjutan nilai yang sebenarnya nggak lulus tapi lulus karena bonus. Seperti tadi, belum ada pengunguman resminya juga. Sumatif dua pun baru esok hari, membuat tanganku ikut bergetar saat mengetik ini.

Tiga dokter (dosen) yang kutemui dan kuceritakan kronologi ini semuanya cuma bilang satu kalimat yang sama.

KALAU BEGITU JANGAN REMED

T.T

Nggak ada yang memberitahukan plan-B nya. Karena memang tidak ada plan B.

Kalau sudah sampai titik ini, mau membuat plan B dengan ga jadi berangkat sudah terlalu riskan. Tiket sudah dipesan, sudah pelepasan, uang saku dari rekrorat sudah ditangan, sudah ketemu kontingen lainnya, sudah janjian dengan kak lingce buat sekamar, sudah masuk grup kontingen, sudah dibilangin sampai ketemu sama delegasi dari daerah lain, sudah ini, sudah itu..

P_20160602_082233.jpg
Ini dokumentasi pertengahan 2016 pas seleksi. Panggungnya untuk nyanyi pop dan dangdut
P_20161006_143928.jpg
pelepasan oleh warek kemahasiswaan.. di depan juga ada pak andris sebagai ketua rombongan
P_20161006_151630_BF.jpg
Smanli skuad!!! Puisi, cerpen dan poster!

Batal berangkat karena remedial? Bisa-bisa aku jadi buron di UNIB. 😀

Sebenarnya kalau dipikirkan lagi, ucapan ketiga dokter itu berlaku untuk plan C yang (amit-amit jangan sampai) terlintas di benakku. Jangan remed. Pergi aja walaupun remed. Biar mengulang tahun depan sajalah modul ini.

T.T Kenapa kedengarannya lebih buruk daripada jadi buronan?

Sudah minggu keenam, lima minggu sudah belajar keras bikin pening sendiri karena bagi waktu belajar sama persiapan. Selain itu apakah salah aku ingin berkompetisi dan (aamiin) menang di kejuaraan nasional? Aku juga ingin bikin bangga fakultas dan universitasku!

Ga sanggup lagi ngomong karena suara sekarang sudah ikut bergetar.

Makanya semuanya kutulis.

Sticky notes sudah bertebaran dimana-mana, pengingat buat persiapan, dan pengingat rumus-rumus dan materi buat besok!

Kalau sudah begini ingat kata kak Rizki.

Belajar keras, serahkan pada Allah SWT.

Ayo fokus lageeeeeeeeeeeh!

Peksiminas H-2.

P.S : Sebenarnya H-1 ding. Kontingen Bengkulu semuanya berangkat besok. Jam delapan pagi. Pada jam yang sama ketika pesawat mereka berangkat, aku akan duduk manis di ruang ujian, mengerjakan soal-soal.

Iya, aku ditinggal rombongan dan berangkat hari selasa.

Duh perjuangan banget :’)

Semoga dapat hasil yang terbaik 😀

P.S.S : Untuk adik-adik FKIK, meskipun cerita diatas sangat menyeramkan, jangan pernah takut untuk mencoba pengalaman pergi ke Event-event nasional/wilayah ya. Karena meskipun semuanya perlu pengorbanan, pengalamannya selalu asik dan keren!

P.S.S.S : Iya iya, aku belajar sekarang! 😀

Air Mata

Hus! Jangan diketawain!”

Rira cepat-cepat menutup mulutnya, tapi masih terkikik dengan matanya. Dan yang melihatnya hanya bisa melemparkan pandangan kesal. Kok bisa ya, ada cewek yang ga punya perasaan seperti ini.

Padahal Dina, teman sekelas mereka sedang menangis di tengah-tengah sahabaynya. Dicampakkan pacarnya sesaat sebelum kelulusan. Katanya sih, karena beda universitas.

Mungkin memang tidak semua orang harus menanggapi berita ini serius, toh kasus Dina putus-nyambung seperti ini sudah ketiga kalinya dalam tahun terakhir mereka di SMA. Tapi, saat mendengar tawa Rira tadi, rasanya siapapun akan mengira Rira sedang menjelekkan Dina.

Meskipun memang kenyataannya begitu.

Merasa menjadi pusat perhatian, Rira ngacir keluar ruangan, yang kemudian diikuti oleh Dan.

“Gara-gara nggak pernah pacaran kali ya, kamu ga punya perasaan kayak gitu,” komentar Dan. Rira mengambil duduk di bangku,  nyengir.

“Ga jugaaaaa….”

“Aku jadi penasaran, kalau kamu nangis gimana,” ujar Dan berikutnya. Rira malah menjulurkan lidah, “aku nggak akan pernah nangis didepanmu lah, week.”

“Soalnya aku tau bakal diketawain, hahaha!”

Dan ngedumel dalam hati, kapan ya, anak ini bisa serius?

“Oh iya, minggu depan aku udah bimbel di Jakarta.”

“Lah, nggak disini aja?”

“Ada tempat bimbingan alumni yang bagus, ya, sekalian cari pengalaman.”

Rira meletakkan tangannya didagu. “Kita ga ketemu lagi dong. SBMPTN juga disana?”

“Iya. Sekaligus.”

“Sekaligus diterima kuliah disana?”

“Yang itu belum tahu,” ujar Dan, mengangguk pada adik tingkat yang menyapanya. “Tapi maunya sih begitu.”

“Yah…”

“Kamu nangis, aku ga jadi pergi deh,” ucap Dan tiba-tiba.

Rira berpose seperti detektif conan, mengeluarkan suara hmmmm tanda ia sedang berpikir. “Ga mauuu…”

***

Kemarin, berbeda dengan hari ini.

Dan menemukan Rira berdiri mematung, badannya bergetar lemah, kemudian terdengar isakan darinya.

Tiba-tiba saja ia merasa bersalah telah meminta Rira menangis.

Kukira aku bisa mengusap air matamu.. dan itu akan jadi sangat romantis.

Bulir-bulir air mata bergulir bergantian dipipinya. Sesekali Rira harus mengelap hidungnya, yang ikut-ikutan basah, dengan bunyi srooot  yang mengganggu. Sekarang ia menangis keras, lebih keras daripada pelayat lainnya.

Aku tidak ingin pergi…

Bayangan Dan yang berusaha menggapai pipi Rira kemudian menipis dan hilang…

 

Bengkulu, 8 September 2016


Cerpen ini sekali tulis aja kemaren. Ga pake mikir. Makanya kalau ada kesamaan tokoh dan tempat atau sejenisnya jangan dibawa baper, plis 😀

Aku masih belum bisa eksperimen ke judul. Ada yang mau bantu kasih tips judul atau perbaiki judul yang ini?? 😀

 

Te rima kasih!

P.S : tadi masuk SMS dari orang rektorat, katanya anak-anak peksiminas bisa mengukur baju di penjahit. Ih cie ada baju kompakannya. Kegiatan ini sudah didepan mata!!

 

Ruang Kosong

“Nge-chat siapa sih?” Mia melongokkan kepala ke kolong meja Gina, yang dengan terburu-buru (dan mencurigakan), melempar hpnya ke sudut paling dalam, sekaligus menimpuk hp yang tidak bersalah itu dengan buku Fisika Kuantum.

“Bukan siapa-siapa.”

“Alaaah, biasanya juga aku yang ngebalesin chat-chat di line kamu..” paksa Mia. Wajah sahabatnya tidak bisa berbohong. Pasti ada yang disembunyikan.

Dan pasti tentang cinta, cieeh.

Gina mendorong Mia kembali ketempat duduknya, “yang ini beda lah…”

“Akhirnya ada yang menarik hati, begitu?” tanya Mia, bertopang dagu sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.

“Maunya sih…”Read More »

Kado Ulang Tahun

Bayangan itu menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, tanpa suara. Memanfaatkan kelamnya malam dan sunyinya lelah untuk mengintai. Dimana-mana pintu tertutup, lampu dimatikan, hanya neon papan reklame yang berkedip-kedip di jalan itu.

Berjalan diam-diam dengan kondisi awas, bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah teropong kecil. Dengan itu, ia mengamati kondisi medan yang ia akan masuki. Atau tidak masuk, karena tugasnya hanya mengamati. Menyelidiki pergerakan.

“Kak?”

Bayangan tadi separuh terlonjak karena kekagetannya, ditemukannya wajah familier menatapnya dibawah pencahayaan seadanya. Adiknya.

“Kenapa kamu disini? Kakak sedang berkerja!”

Rindu menarik sesuatu dari belakang punggungnya, “Selamat ulang tahun!”

Sepotong kue cupcake dengan lilin berdiri diatasnya disodorkan pada Adit. Rindu memantik api, yang kemudian langsung ditiup Adit sebelum dapat membakar sumbunya.  “Terima kasih ya. Tapi kalau begini terus, kakak bisa ketahuan!”

“Ini dibuka dulu!” paksa Rindu, “aku sudah bela-belain ngikutin kakak dari tadi!”Read More »