MELTED

[Short story]

Selalu terlambat, gumamku sambil memandang jam tangan. Gadis yang baru saja muncul dari balik pintu kaca itu menyatukan kedua tangannya didepan dada, minta maaf dengan cengirannya yang khas. Aku hanya memutar bola mata, begitu terbiasa dengan keterlambatannya pada setiap pertemuan. Sejak SMA.

“Ngomong OTW-nya aja udah dari setengah jam yang lalu. Mampir kemana aja?” cetusku. Dua kantong kresek yang diletakkannya diatas meja menjadi bukti bahwa dia memang singgah ke suatu tempat.

“Oh ini,” ia mengeluarkan sesuatu dari kantong yang pertama, yang lebih besar, “kue.”

Sebelum aku sempat berkomentar, dia sudah menyibukkan diri dengan memasang lilin pada kue itu. Bukan lilin angka dua dan nol seperti usianya tahun ini, tapi hanya satu lilin. Dia lalu menyalakan lilinnya.Read More »

Kendari Day 6! (LAST)

16/10/16

! Warning ! Banyak foto-foto narsis!!

Pulang! Ah, rasanya masih mau disini. Makan, tidur, jalan-jalan dan lomba. Kerjaan rumah yang dilakukan palingan cuma nyapu kamar, itupun gantian dengan Kak Lingce dan room service. Hidup foya-foya memang selalu menyenangkan :v

Dan lagi, kali ini perginya di minggu keenam. Yang biasanya hanya dihabiskan dirumah, menggerutu dalam hati karena tidak bisa kemana-mana dan hanya punya jadwal harian beres-beres rumah. Nggak keren kalau ditulis di blog. Makanya kali ini aku bersyukur sekali diberi kesempatan berkompetisi sekaligus jalan-jalan ke pulau yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Makasih semuanya 😀

IMG_20161014_171112.jpg

*Mama, Abah, Bagian kemahasiswaan di Rektorat dan yang lain-lain.

Karena check out-nya jam 10 pagi, maka Kak Lingce dan lainnya (yang kayaknya begadang tadi malam) bisa packing dulu. Aku juga, memastikan tidak ada barang-barang yang ketinggalan. Kan repot kalau mau ngambilnya, Sulawesi lho!

P_20161016_083927.jpg

Kemudian jam sepuluh lewat, kami berdua dipanggil kebawah. Rupanya semuanya sudah siap, koper-koper berserakan di lobi yang penuh asap rokok. Bus dan mobil sudah stand by didepan hotel, tinggal naik saja. Tinggal menunggu kami berdua turun, juga. Haha. Padahal yang ditunggu tidur-tiduran saja di kamar, mwehehee.Read More »

Kendari Day 5!

15/10/16 Ah leganya sudah lombaaaa!

Pagi inipun bingung mau kemana. Rasanya malas beranjak. Tapi karena ingat sarapan hotel ini sungguhlah terbatas, maka aku cepat-cepat bergerak dan mandi!!

Betul dugaanku, pas keluar rupanya sudah habis telurnya. Setengah potong cuma yang tersisa, dan langsung kuselamatkan dalam piring. Mbak Lingce malah nggak dapat apa-apa, cuma teh 😥 Di resto bertemu Dea, Novi, Kak Putri dan Bang Denis. Sehabis sarapan, aku buru-buru ikut mobil yang akan mengantar Dea monolog. Cus!

P_20161015_085533.jpg
Panggung monolog sebelum lampu dimatikan! luas bingo!

Sampai ke auditorium. Tempatnya keren, disetting super gelap dengan kain hitam. Diatas panggung sudah ada toilet (?), properti dari penampil pertama mungkin. Juga, lampu sorotnya keren! Mungkin karena aku belum liat panggung dangdut, pop dan juga puisi jadi nggak bisa membandingkan.

P_20161015_092751.jpg
satu
P_20161015_102324.jpg
tiga

Dea tampil keempat, jadi ada 3 performance yang bisa kutonton (setelahnya pengen kabur maksudnya. Hehe). Nah, keempat monolog yang ditampilkan semuanya berbeda-beda. Yang pertama abangdari Aceh yang menceritakan kisah wanita tanpa mulut. Dia tampil cuma dengan handuk pink melingkar di pinggang. Read More »

Air Mata

Hus! Jangan diketawain!”

Rira cepat-cepat menutup mulutnya, tapi masih terkikik dengan matanya. Dan yang melihatnya hanya bisa melemparkan pandangan kesal. Kok bisa ya, ada cewek yang ga punya perasaan seperti ini.

Padahal Dina, teman sekelas mereka sedang menangis di tengah-tengah sahabaynya. Dicampakkan pacarnya sesaat sebelum kelulusan. Katanya sih, karena beda universitas.

Mungkin memang tidak semua orang harus menanggapi berita ini serius, toh kasus Dina putus-nyambung seperti ini sudah ketiga kalinya dalam tahun terakhir mereka di SMA. Tapi, saat mendengar tawa Rira tadi, rasanya siapapun akan mengira Rira sedang menjelekkan Dina.

Meskipun memang kenyataannya begitu.

Merasa menjadi pusat perhatian, Rira ngacir keluar ruangan, yang kemudian diikuti oleh Dan.

“Gara-gara nggak pernah pacaran kali ya, kamu ga punya perasaan kayak gitu,” komentar Dan. Rira mengambil duduk di bangku,  nyengir.

“Ga jugaaaaa….”

“Aku jadi penasaran, kalau kamu nangis gimana,” ujar Dan berikutnya. Rira malah menjulurkan lidah, “aku nggak akan pernah nangis didepanmu lah, week.”

“Soalnya aku tau bakal diketawain, hahaha!”

Dan ngedumel dalam hati, kapan ya, anak ini bisa serius?

“Oh iya, minggu depan aku udah bimbel di Jakarta.”

“Lah, nggak disini aja?”

“Ada tempat bimbingan alumni yang bagus, ya, sekalian cari pengalaman.”

Rira meletakkan tangannya didagu. “Kita ga ketemu lagi dong. SBMPTN juga disana?”

“Iya. Sekaligus.”

“Sekaligus diterima kuliah disana?”

“Yang itu belum tahu,” ujar Dan, mengangguk pada adik tingkat yang menyapanya. “Tapi maunya sih begitu.”

“Yah…”

“Kamu nangis, aku ga jadi pergi deh,” ucap Dan tiba-tiba.

Rira berpose seperti detektif conan, mengeluarkan suara hmmmm tanda ia sedang berpikir. “Ga mauuu…”

***

Kemarin, berbeda dengan hari ini.

Dan menemukan Rira berdiri mematung, badannya bergetar lemah, kemudian terdengar isakan darinya.

Tiba-tiba saja ia merasa bersalah telah meminta Rira menangis.

Kukira aku bisa mengusap air matamu.. dan itu akan jadi sangat romantis.

Bulir-bulir air mata bergulir bergantian dipipinya. Sesekali Rira harus mengelap hidungnya, yang ikut-ikutan basah, dengan bunyi srooot  yang mengganggu. Sekarang ia menangis keras, lebih keras daripada pelayat lainnya.

Aku tidak ingin pergi…

Bayangan Dan yang berusaha menggapai pipi Rira kemudian menipis dan hilang…

 

Bengkulu, 8 September 2016


Cerpen ini sekali tulis aja kemaren. Ga pake mikir. Makanya kalau ada kesamaan tokoh dan tempat atau sejenisnya jangan dibawa baper, plis 😀

Aku masih belum bisa eksperimen ke judul. Ada yang mau bantu kasih tips judul atau perbaiki judul yang ini?? 😀

 

Te rima kasih!

P.S : tadi masuk SMS dari orang rektorat, katanya anak-anak peksiminas bisa mengukur baju di penjahit. Ih cie ada baju kompakannya. Kegiatan ini sudah didepan mata!!

 

Ruang Kosong

“Nge-chat siapa sih?” Mia melongokkan kepala ke kolong meja Gina, yang dengan terburu-buru (dan mencurigakan), melempar hpnya ke sudut paling dalam, sekaligus menimpuk hp yang tidak bersalah itu dengan buku Fisika Kuantum.

“Bukan siapa-siapa.”

“Alaaah, biasanya juga aku yang ngebalesin chat-chat di line kamu..” paksa Mia. Wajah sahabatnya tidak bisa berbohong. Pasti ada yang disembunyikan.

Dan pasti tentang cinta, cieeh.

Gina mendorong Mia kembali ketempat duduknya, “yang ini beda lah…”

“Akhirnya ada yang menarik hati, begitu?” tanya Mia, bertopang dagu sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.

“Maunya sih…”Read More »

Kado Ulang Tahun

Bayangan itu menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, tanpa suara. Memanfaatkan kelamnya malam dan sunyinya lelah untuk mengintai. Dimana-mana pintu tertutup, lampu dimatikan, hanya neon papan reklame yang berkedip-kedip di jalan itu.

Berjalan diam-diam dengan kondisi awas, bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah teropong kecil. Dengan itu, ia mengamati kondisi medan yang ia akan masuki. Atau tidak masuk, karena tugasnya hanya mengamati. Menyelidiki pergerakan.

“Kak?”

Bayangan tadi separuh terlonjak karena kekagetannya, ditemukannya wajah familier menatapnya dibawah pencahayaan seadanya. Adiknya.

“Kenapa kamu disini? Kakak sedang berkerja!”

Rindu menarik sesuatu dari belakang punggungnya, “Selamat ulang tahun!”

Sepotong kue cupcake dengan lilin berdiri diatasnya disodorkan pada Adit. Rindu memantik api, yang kemudian langsung ditiup Adit sebelum dapat membakar sumbunya.  “Terima kasih ya. Tapi kalau begini terus, kakak bisa ketahuan!”

“Ini dibuka dulu!” paksa Rindu, “aku sudah bela-belain ngikutin kakak dari tadi!”Read More »