Tidak Ada Cerita Hari Ini

Penulis yang sedang tidak menulis. Itu saye. Malah kayaknya lupa pernah jadi penulis kalau nggak diingatkan tiap 4 bulan sekali oleh surat laporan royalti buku dari Dar! Mizan. Buku-buku zaman kapan lah itu.. Haha.

Cerita dikit ah soal masa-masa jadi penulis 😀 Supaya ingat dan termotivasi buat nulis lagi.

Aku sudah menulis sejak kelas 2 SD. Belajar membaca menulis sudah dari TK tapi lancarnya pas kelas 1. Ini karena aku hobi baca majalah Bobo dan buku-buku lain yang dibawakan Abah. Zaman SD aku sudah nggak minta mainan lagi, tapi buku. Jadi kalau sekarang ditanya mau kado apa, seharusnya sudah tau kalau jawabannya standar, buku.

Selain baca majalah, aku juga senang mengisi halaman-halaman kosong. Apalagi yang halamannya warna-warni. Nulis deh. Banyak yang ngenyel, nggak jelas, tapi apa yang bisa diharapkan dari anak kelas 2 SD kan ya? Nah, beruntungnya aku punya Abah yang mendukung apa yang kulakukan, plus dia juga kerjanya di Koran, jadi ceritaku yang masih acak-acakan itu sampai bisa debut di kolom anak.

 

Duh, Fira kelas 2 SD hebat ya. Aku (Fira yang mahasiswa) sekarang nulis belum pernah diterbitkan koran lagi, haha.

P_20170618_232711.jpg

Naik kelas, Fira kecil mulai nulis di buku normal (nggak warna-warni alay karena yang warna-warni disimpan buat tukeran binder AHAHA JAMAN APA ITU MASIH TUKARAN BINDER). Aku benar-benar menikmati nulis di kelas 3 dan 4 karena teman-teman juga lagi senang-senangnya cari bahan bacaan. Cerita-cerita polos tentang sekolah imajinasiku dengan teman-teman sekelas menjadi tokohnya jadi bacaan semua orang. Aih asiknya. Tapi waktu itu, aku belum pernah menang lomba menulis apapun, haha. Mungkin karena apa yang aku tulis tidak sesuai dengan tipikal pemenang lomba. Atau memang ceritanya sama sekali tidak menarik. Haha.

P_20170618_232852.jpg

Capture

Kelas 5 dan 6, aku mulai kenal laptop dan mencoba untuk menulis disana. Lawak ban

get kalau diingat-ingat, nulisnya masih pake font Comic Sans yang alay. Cerpenku sudah jadi panjang karena bacaan juga sudah berubah jadi novel-novel terbitan Dar!Mizan. Waktu itu favoritku novel-novel buatan Sri Izzati, juga Sekar Maya. Dari sanalah aku mulai bermimpi untuk jadi penulis cilik.

Mimpi yang konyol. Tapi aku yang sekarang benar-benar berterima kasih dengan Fira kecil yang berani bermimpi seperti itu. Mungkin juga Fira kecil kalau bertemu denganku sekarang bakal marah-marah kenapa Fira besar yang punya semua gadget untuknya sendiri, punya ratusan buku dan Internet tanpa batas, tidak bisa mewujudkan fantasinya dalam bentuk buku.

Yah, orang dewasa memang pengecut.

Singkat cerita, Fira kecil yang awalnya cuma anak kurus dan tidak pernah ranking jadi penulis nasional 😀

Jaman SMP-SMA sudah ada internet, tapi karena pemakaiannya masih terbatas (paling banter juga Facebook) makanya masih bisa menulis. Pas SMP ikut lomba dan akhirnya menang. Cuma juara 2 sih, tapi itu terasa nomor satu karena akhirnya aku bisa membuat diriku diakui sebagai penulis. Pernah coba ikut seleksi FL2SN sekolah bidang cerpen kan ya, tapi entah apa yang ada dipikiranku waktu itu, bikin cerpen sampai 30 halaman 😀 Satu cuma koreksi dari guru bahasa dulu, cerpen itu untuk dibaca sekali duduk Fira. Haha. Yah, mungkin waktu itu aku terlalu yakin bahwa cerpenku sangat menarik sehingga yang baca bisa tahan baca 30 halaman langsung wkwk.

Dan dari cerpen 30 halaman itulah, Fira kecil kembangkan jadi satu novel utuh berjudul D Ryan’O. Novel selanjutnya itu The Soccer Girl, trio sama Tessia sama Marshela. Lucu sih, sama Marshela tidak sekalipun pernah berbicara tapi dia bisa melanjutkan ceritaku (aku dapat bagian tengah, Tessia awal dan Marshela terakhir). Novel Magic Writing School ditulis pas SMA, terbitnya bareng sama kumcer Jawa Jejawen. Ah waktu itu girang sekali diajak nulis untuk kumcer. Kepikiran untuk bikin 30 halaman lagi XD tapi Fira yang waktu itu sudah paham kalau nulis sepanjang itu tidak logis. Apalagi dengan kondisi tangan kanan cedera.

Lalu Fira kuliahan apa kabar? Masih menulis?

Aku mudah saja mengelak, ngampus di jurusan ini susah dapat waktu senggang. Tapi nyatanya masih sempat buka youtube dan lain-lain. Mengelak lagi, toh beberapa kali sempat ikut lomba cerpen dan memang, pernah mewakili kampus untuk membuat cerita.. Tapi apa puas hanya dengan cerpen, bukannya menerbitkan novel? Ngeblog? Berapa banyak memangnya yang baca? Fira kecil mungkin sedang geleng-geleng kepala. Memangnya teman-teman kampus kakak baca? Tanyanya.

Sedih sih kalah dengan diri sendiri. Rasanya rugi.

Tidak ada cerita hari ini. Dulu ada.

Apa yang ada sekarang? Skripzi terror, haha.

Menjadi Angin

Kenapa seseorang bisa merasa kesepian?

Mungkin karena dia terlalu banyak melamun

Atau terlalu banyak mengecek media sosial

Membayangkan orang lain dengan teman-temannya

Sedangkan ia saat itu sedang sendiri

Lalu ia berpikir, apakah ia yang menjauh atau orang lain yang berlalu

Read More »

Anak-anak Poseidon (Cerpen PEKSIMINAS)

​Sudah 1 bulan lewat dari lomba tingkat nasional pertamaku. Hm, rasanya rindu berjalan-jalan di Kendari, naik perahu kecil ke Bokori juga lari-larian dan manjat di Wisata Mangroovenya. 

Selepas acara tersebut, teman-teman dari tangkai lomba cerpen dan aku masih tetap berkomunikasi. Lalu Robi, dari Bandung berinisiatif untuk mengumpulkan karya cerpen kami. Wow. Ide bagus. Aku juga pengen banget baca karya-karya para pemenang. Biar tau bagaimana jenis karya yang mencuri hati para juri. Hehe. FYI saya belum beruntung kemarin, tidak ada peringkatnya juga jadi belum bisa membanggakan provinsi saya 😦 

Sebulan kemudian, hari ini, Robi akhirnya mengirim cerpen yang sudah di kompilasikan ke email kami masing-masing. Sayang sekali baru 17 yang mengirim. 9 orang lagi hilang kontak, bang Ile juga yang tidak masuk grup line tapi ada di bbm pas dikontak ternyata iya-iya nya hanya janji-janji. Huft. Padahalkan, kalau lengkap bisa dijadikan kumcer dan diterbitkan. Hm. 

Kan nambah satu karya yang diterbitkan 😀

Cerpenku berjudul Anak-anak Poseidon. Lain daripada yang lain, ketika yang lain bikin cerita dengan setting di kendari atau pesisir pantai (karena temanya menjaga ekosistem laut) aku bikin didalam laut. Wuahahaha (sekendaknyo bae). Tentang masa depan. Ketika daratan sudah menjadi abu. 

Kupikir bagian yang itu bagus. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa tidak lautan saja yang mengering? Atau berubah jadi keruh, jadi laut mati. Ditambah chaos gila-gilaan, pasti keren. Semuanya tentang penyesalan. 

Out of the box itu yang pemikiran utama yang kujadikan dasar rangka cerpen. Melupakan bahwa ini adalah acara nasional, dan diajak hunting hari sebelumnya pasti punya maksud tertentu (tidak benar-benar lupa sih, 4 jam setelah menulis Anak-anak Poseidon, aku sudah mulai kepikiran. Tapi dengan pedenya aku menepis pemikiran tersebut sambil makan cokelat, ah begini juga bagus). Setelah introspeksi dan belajar dari cerpen-cerpen pemenang, baru aku sadar bahwa mengambil fokus rakyat itu juga bagus. Apalagi pas dialognya memakai bahasa asli daerah. Makin kerasa feelnya, dan nggak terasa bahwa sang penulis itu bukan orang sana. 

Baru setelah baca cerpen peserta lain, aku mengambil kesimpulan bahwa lawan-lawanku memang kuat. Jika dalam perlombaan lokal aku bisa menebak mana yang menang dari susunan kata dan eyd, juga dari margin dan font, kali ini tidak bisa! Mungkin karena notabene peserta adalah anak jurusan bahasa di kampus masing-masing dan tentunya sudah mengikuti seleksi daerah, maka kemampuannya menyusun kalimat dan paragraf tidak usah diragukan lagi.

Apalagi untuk jalan cerita dan prespektifnya. Meskipun satu tema dan amanahnya kurang lebih sama mari jaga laut! Tapi kemampuan mengarangnya pada jago. Pun dengan cerita yang slow (istilah kusendiri, maksudnya jalan ceritanya nggak tap-tap-tap cepat tapi ngalir saja begitu -apaan sih. Maaf kalau tidak mengerti), ceritanya tetap menarik untuk dibaca. 

Aku paling suka punya Wika. Si pendiam (pas hunting pendiam, di Line ribut banget dengan sticker khasnya (wkwk wikaaah :D) ini adalah juara satunya peksiminas kemarin. Ceritanya pahit, menyedihkan, tentang anak bajo yang kehilangan mama dan bapak. Kemampuannya menuturkan kisah kuancungi jempol. Kayaknya terlalu lama membaur dengan anak-anak kampung bajo (sampai hampir ditinggal bus) membuatnya fasih bahasa sana, padahal dianya dari Jogja. Salut! 

Nah, itu tadi pengantarnya. Cerpennya ada dibawah ini. Aku minta saran dan kritik dari teman-teman, mudah-mudahan bisa turut membangun kemampuan saya dalam merangkai cerpen pada kemudian hari. Selamat membaca 😀

 *nulisnya pake hape. Jadi kalau ada yang salah mohon diingatkan 🙂


Timur membuka tasnya sekali lagi, memastikan alat peledak itu tidak tertinggal. 

Ia baru berumur lima belas tepat tiga hari yang lalu, dan siang ini ia akan mengakhiri hidupnya—

—juga kehidupan seluruh umat manusia lainnya. 

***

Ah, apakah kalian sudah tahu bahwa generasi sekarang tinggal dibawah laut?

Sudah seratus tahun berlalu sejak perang dunia ketiga. Banyak sekali yang berubah. Salah satunya adalah kegagalan umat manusia mempertahankan daratan, yang tak kuasa menahan puluhan nuklir yang saling dijatuhkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. 

Kemudian manusia yang tersisa, dengan sedikit kepintaran dan banyak keberuntungan, membangun suaka baru dibawah laut. Kami menyebut dunia baru ini sebagai surga bawah laut.

Disini surga, meskipun setiap hari kau akan berjalan ketempat yang sama bahkan dihari libur karena memang tidak ada yang bisa dikunjungi. Juga meskipun kamu harus makan ikan setiap hari. Yang jelas, tidak akan ada orang yang menghadangmu dengan pistol hanya karena kau berbeda pendapat dengannya, tidak ada radioaktif yang bisa membuat sel-sel tubuhmu bermutasi menjadi kanker, dan yang lebih penting, tidak ada yang membeda-bedakanmu hanya kau punya kulit hitam atau percaya bahwa Tuhan cuma satu.

Karena bagaimanapun, kami telah lolos dari perang. Juga dari kiamat-kiamat yang dihasilkan oleh perang itu.   

Semuanya bilang begitu, kecuali Timur.  

“Timur dimana?” panggil Bu Aiko, guru biologi kami. Beberapa teman sekelasku menggeleng tidak tahu. Beberapa berpendapat bahwa anak itu ketiduran di ruang ganti sehabis olahraga tadi.  

“Semuanya tenang!” tegur Bu Aiko tegas. “Buka buku kalian, halaman 107.”

Yah, tentang ikan lagi. 

Tidak seperti Timur yang setiap hari menghabiskan sebagian besar oksigennya untuk berdiam didalam air bersahabat dan biota laut—kerjaannya yang tidak berguna itu—aku lebih suka belajar. Apalagi sains, fisika.  

Kita pintar. Meskipun daratan sudah luluh lantak sekalipun, manusia masih bisa hidup dibawah air. Bukankah itu hebat?

“Psst, Ar!” 

Aku menoleh, dibelakangku Rinta mengulurkan secarik kertas yang terlipat dua. “Dari siapa?” tanyaku sambil membuka lipatannya. 

“Nggak tau dari siapa. Kutemukan dilaciku tapi tertulis untukmu,” sahutnya agak kesal. “Bilang pada kekasihmu agar tidak salah kirim lagi.”

“Sembarangan saja kamu Rin…” Ucapanku menggantung dilangit-langit, ketika kulihat tulisan didalamnya. 

Meskipun kamu melarang, keputusanku sudah bulat. 

Anak itu!

*** 

Kamu tahu bagaimana caranya menjaga keseimbangan alam?   

Musnahkan saja manusia. 

Nuklir sudah melakukan sebagian besar tugasnya, sekarang tinggal orang-orang sok yang berpikir mereka bisa membodohi alam—dengan bertingkah menyerupai ikan. 

Timur melangkah dengan yakin, tujuannya cuma satu.

***

Aku ingat, idealisme Timur ini berawal ketika mereka menonton Poseidon O2 Project dari dekat. Kelas 6 Sekolah Dasar. Anak itu menangis sambil memukul-mukul pembatas kaca, tidak tega melihat ratusan ikan mati lemas didepannya. 

“Ini tidak adil! Kenapa cuma manusia yang dibiarkan hidup?!”

Demi mendengar pernyataan itu, tidak ada petugas maupun guru yang menjawab. Anak-anak lain hanya menatap Timur dan ikan-ikan tak bersalah itu bergantian, tidak tahu harus melakukan apa. Pemikiran polos mereka ikut bertanya hal serupa. Kenapa manusia se-egois itu? Alih-alih mendapatkan jawaban, Timur malah diseret keluar ruangan untuk ditenangkan.

Untuk mendapatkan oksigen, manusia harus mengumpulkannya dari air dan menambahkannya dengan atom-atom unsur lainnya. Karena masih kecil, kami tidak dijelaskan bagaimana proses lengkapnya. Tapi satu hal yang pasti, hanya dengan alat itulah kami masih bisa bernafas sampai sekarang.

Ikan-ikan itu berada tepat dibawah pembuangan limbah pabrik.

Semestinya para petugas tidak memperlihatkan bagian itu pada kami. 

***

“Hei, kamu mau kemana?”

Timur menghentikan langkahnya. Ia berbalik, seorang petugas keamanan sudah berdiri disana.

“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk! Kamu tidak melihat tandanya?”

“Maaf pak, saya…”

***

Selama datang di Akuarium. 

Harapan terakhir umat manusia. 

Kita boleh gagal bermukim di mars, 

tapi kita tetap tidak boleh kalah.

***

“Kita boleh gagal bermukim di mars, tapi kita tetap tidak boleh kalah,” senandung Timur. Aku menemukannya, duduk didepan kaca pembatas antara kota dengan lautan. Matanya menatap kosong kearah lautan. 

Ia mengikuti nada yang terdengar dari kejauhan. Lapangan mulai ramai dengan orang-orang yang akan merayakan hari kemenangan. 

“Lirik lagu itu lagi,” jawabku. 

“Hari ini adalah hari yang menandai seratus tahun kemenangan umat manusia. Apa kamu tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan?”

Aku tersenyum kecil. Timur kemudian menepukkan lantai disebelahnya, menyuruhku duduk. Kami berdua kemudian duduk bersisian memandangi kedalaman laut. Sudah lama sekali tidak ada ikan yang melintas diperairan ini. Warna airnya yang biru tua itu menyiratkan kegundahan dan keputusasaan. 

Sejak kecil, aku dan Timur sering kesini. Dan Timur akan selalu menanyakan hal yang sama, 

“Bagaimana ya, rasanya hidup diatas permukaan?”

“Pasti menyenangkan…”

“Yang namanya matahari itu seperti apa ya?” gumam Timur. 

Selalu, karena dimatanya akulah yang terpintar. 

Meskipun aku lebih sering mendiamkan pertanyaannya itu, seperti sekarang. 

“Ar, aku sudah gagal.”

“Artinya keputusanmu belum bulat betul,” jawabku sekenanya, “Dan dengan begitupun, kamu sudah membuktikan sekali lagi bahwa kita ini benar-benar makhluk yang tidak berdaya.”

“Benar.”

“Lalu dimana peledaknya?”

“Direbut oleh penjaga. Tapi dia pikir itu cuma mainan.” Timur meremas tangannya kuat. 

“Ar, aku muak. Muak sekali. Semua hal dalam dunia bawah laut ini, semuanya. Kemenangan ini benar-benar menjijikkan. Kita mengambil nafas mereka, memakan mereka, bahkan menghancurkan ekosistem mereka. Bagaimana seseorang bisa menang dengan begitu banyak hutang dalam menunjang hidupnya? Semua ini omong kosong Ar. Aku tidak tahu kenapa aku masih hidup dengan keadaan memalukan begini!”

Matanya benar-benar dipenuhi rasa frustasi. Tidak terhitung berapa kali ia menyerahkan tuntutan pada pemerintah, pada para ilmuan, pada semuanya, mengenai kehidupan laut yang mereka abaikan. Tentang komunitas lain yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri. 

Aku menarik Timur dalam dekapanku, memberikannya pelukan yang amat kuat. Kuusap rambut Timur yang acak-acakan, mencoba memberikan dukungan baginya. 

Isakannya perlahan mulai melemah, kemudian pelukannya, lalu nafasnya. 

Kami berdua, tidak, seluruh populasi manusia yang hidup didalam akuarium kemudian tercekik dan tidak sadarkan diri. 

Suara ledakan pada pipa-pipa udara itu..

..hanya aku saja yang mendengarnya. 

***
Bonus foto foto dari pantai Bengkulu. Provinsi saya 😀

Meskipun rindu Kendari, saya tidak begitu rindu dengan pantainya. Karena disana pantainya tidak punya ombak. Di sana lautnya cenderung tenang. Sini coba main ke Bengkulu, lihat pantainya penuh dengan ombak bergulung-gulung. Seperti mau ditelan. Haha. Lah matahari saja ditelan apalagi manusia. #ngejoke, tapi garing. Hehehehe 

Btw tolong dikomen ya cerpennya. Salah satu kekuatan yang bisa mendorong saya untuk tetap menulis sampai sekarang, itu adalah kritik dari pembaca. Kalau kata-kata semangat saja, ga mempaaan. 

*malah guling-guling nonton youtube di kamar, wehehe. 

Air Mata

Hus! Jangan diketawain!”

Rira cepat-cepat menutup mulutnya, tapi masih terkikik dengan matanya. Dan yang melihatnya hanya bisa melemparkan pandangan kesal. Kok bisa ya, ada cewek yang ga punya perasaan seperti ini.

Padahal Dina, teman sekelas mereka sedang menangis di tengah-tengah sahabaynya. Dicampakkan pacarnya sesaat sebelum kelulusan. Katanya sih, karena beda universitas.

Mungkin memang tidak semua orang harus menanggapi berita ini serius, toh kasus Dina putus-nyambung seperti ini sudah ketiga kalinya dalam tahun terakhir mereka di SMA. Tapi, saat mendengar tawa Rira tadi, rasanya siapapun akan mengira Rira sedang menjelekkan Dina.

Meskipun memang kenyataannya begitu.

Merasa menjadi pusat perhatian, Rira ngacir keluar ruangan, yang kemudian diikuti oleh Dan.

“Gara-gara nggak pernah pacaran kali ya, kamu ga punya perasaan kayak gitu,” komentar Dan. Rira mengambil duduk di bangku,  nyengir.

“Ga jugaaaaa….”

“Aku jadi penasaran, kalau kamu nangis gimana,” ujar Dan berikutnya. Rira malah menjulurkan lidah, “aku nggak akan pernah nangis didepanmu lah, week.”

“Soalnya aku tau bakal diketawain, hahaha!”

Dan ngedumel dalam hati, kapan ya, anak ini bisa serius?

“Oh iya, minggu depan aku udah bimbel di Jakarta.”

“Lah, nggak disini aja?”

“Ada tempat bimbingan alumni yang bagus, ya, sekalian cari pengalaman.”

Rira meletakkan tangannya didagu. “Kita ga ketemu lagi dong. SBMPTN juga disana?”

“Iya. Sekaligus.”

“Sekaligus diterima kuliah disana?”

“Yang itu belum tahu,” ujar Dan, mengangguk pada adik tingkat yang menyapanya. “Tapi maunya sih begitu.”

“Yah…”

“Kamu nangis, aku ga jadi pergi deh,” ucap Dan tiba-tiba.

Rira berpose seperti detektif conan, mengeluarkan suara hmmmm tanda ia sedang berpikir. “Ga mauuu…”

***

Kemarin, berbeda dengan hari ini.

Dan menemukan Rira berdiri mematung, badannya bergetar lemah, kemudian terdengar isakan darinya.

Tiba-tiba saja ia merasa bersalah telah meminta Rira menangis.

Kukira aku bisa mengusap air matamu.. dan itu akan jadi sangat romantis.

Bulir-bulir air mata bergulir bergantian dipipinya. Sesekali Rira harus mengelap hidungnya, yang ikut-ikutan basah, dengan bunyi srooot  yang mengganggu. Sekarang ia menangis keras, lebih keras daripada pelayat lainnya.

Aku tidak ingin pergi…

Bayangan Dan yang berusaha menggapai pipi Rira kemudian menipis dan hilang…

 

Bengkulu, 8 September 2016


Cerpen ini sekali tulis aja kemaren. Ga pake mikir. Makanya kalau ada kesamaan tokoh dan tempat atau sejenisnya jangan dibawa baper, plis 😀

Aku masih belum bisa eksperimen ke judul. Ada yang mau bantu kasih tips judul atau perbaiki judul yang ini?? 😀

 

Te rima kasih!

P.S : tadi masuk SMS dari orang rektorat, katanya anak-anak peksiminas bisa mengukur baju di penjahit. Ih cie ada baju kompakannya. Kegiatan ini sudah didepan mata!!

 

Ruang Kosong

“Nge-chat siapa sih?” Mia melongokkan kepala ke kolong meja Gina, yang dengan terburu-buru (dan mencurigakan), melempar hpnya ke sudut paling dalam, sekaligus menimpuk hp yang tidak bersalah itu dengan buku Fisika Kuantum.

“Bukan siapa-siapa.”

“Alaaah, biasanya juga aku yang ngebalesin chat-chat di line kamu..” paksa Mia. Wajah sahabatnya tidak bisa berbohong. Pasti ada yang disembunyikan.

Dan pasti tentang cinta, cieeh.

Gina mendorong Mia kembali ketempat duduknya, “yang ini beda lah…”

“Akhirnya ada yang menarik hati, begitu?” tanya Mia, bertopang dagu sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.

“Maunya sih…”Read More »

Kado Ulang Tahun

Bayangan itu menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, tanpa suara. Memanfaatkan kelamnya malam dan sunyinya lelah untuk mengintai. Dimana-mana pintu tertutup, lampu dimatikan, hanya neon papan reklame yang berkedip-kedip di jalan itu.

Berjalan diam-diam dengan kondisi awas, bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah teropong kecil. Dengan itu, ia mengamati kondisi medan yang ia akan masuki. Atau tidak masuk, karena tugasnya hanya mengamati. Menyelidiki pergerakan.

“Kak?”

Bayangan tadi separuh terlonjak karena kekagetannya, ditemukannya wajah familier menatapnya dibawah pencahayaan seadanya. Adiknya.

“Kenapa kamu disini? Kakak sedang berkerja!”

Rindu menarik sesuatu dari belakang punggungnya, “Selamat ulang tahun!”

Sepotong kue cupcake dengan lilin berdiri diatasnya disodorkan pada Adit. Rindu memantik api, yang kemudian langsung ditiup Adit sebelum dapat membakar sumbunya.  “Terima kasih ya. Tapi kalau begini terus, kakak bisa ketahuan!”

“Ini dibuka dulu!” paksa Rindu, “aku sudah bela-belain ngikutin kakak dari tadi!”Read More »

Cek FiraFirdaus di Wattpad!

Liburan hampir usai. Mestinya novel yang dikerjakan juga rampung. Nyatanya nggak 😛

Terlalu banyak ide membuat tidak fokus, apalagi unlimited internet bikin gampang streaming. Daripada ngetik aku malah lebih sering ngegoogle “gimana cara bikin video di youtube”, dsb, ga guna. Toh nanti pas balik ngampus ga bakalan ada waktu buat bikin video main-main. Pun kalau bikin vlog siapa juga yang mau nonton. Nanti aja kali yak kalau udah punya asisten editor video, haha.

BTW, sudah setahun serial Firchayala diupload di blog ini. Mengingat tahun lalu masih amat sepi, dan aku berusaha keras menaikkan jumlah postingan dengan memasukkan konten dari potongan-potongan novelku. Novel lama yang belum diterbitkan, karena berbagai kondisi dan alasan.

Ingat banget waktu itu cuma mbak ayumie yang ngelike, haha.

Ya iyalah waktu itu aku ga promosi kemana-mana, follower wp juga dikit banget.

Kemudian datanglah liburan kali ini, memberiku ide untuk upload di wattpad.

*yang sebenarnya mengulang luka lama ga ada yang baca, kan followernya cuma 1-2 orang, haha. Parah.

Udah tau gitu, aku masih pengen mencoba. Mungkin kalau di blog susah membacanya, dan lagipula kata beberapa orang tamplate blogku berat kalau dibuka lewat hp. Jadilah kupilih wattpad, yang lagi seru dikalangan anak muda. Wattpad udah kayak perpustakaan buku teenlit dan romance, yang gratis tis is s.

#kertasmahal.Read More »

Paragraf Delapan

“Dalam beberapa hari ini, apa kau tidak menemuinya?”

Aku tergelak. Semua parameter ini, sambutan menengangkan dari mereka, kartu nama ini, benar benar membuat perutku tergelitik. Aku tertawa besar-besar, sambil memperhatikan wajah mereka yang tiba-tiba jadi lucu.

“Aku bahkan baru mendarat tuan,” kataku, masih tertawa. “Kalian hebat sekali menghubungkanku dengan penusukan itu. Tapi saking hebatnya kalian bahkan tidak mengecek catatan perjalananku? Tuan tuan, aku baru saja mendarat disini beberapa menit lalu. Sebelumnya aku menikmati nikmatnya sinar matahari tropis Bali. Dan kalau kalian cek paspor ku, terakhir kali aku berpergian keluar negeri adalah enam bulan yang lalu..”

“Brak!” Albert memukul meja. Aku berhenti tertawa, baru menyadari raut mukanya yang berubah.

Paragraf Satu

Jadi—Jerman lagi.

“Permisi,” panggil seseorang dibelakangku. Membuatku berbalik. Suara lembut itu berasal dari seorang gadis kecil dengan dandanan antik. Kaos hitam gotik dengan tutu pink. Rambutnya dikuncir dua mengingatkanku dengan Raisa, keponakanku yang berumur tujuh. Tapi riasannya—dengan eyeliner tebal itu, membuat wajahnya lebih tua, mungkin delapan belas.
“Anda menjatuhkan ini,” katanya, mengancungkan paspor hijauku. Aku tergagap, mengucapkan terima kasih. Ia balas tersenyum, dengan bibirnya yang berlipstik ungu.
Aku berbalik, mempercepat langkahku menuju konter imigrasi.
“Om, oom arsitek ya?”