MELTED

[Short story]

Selalu terlambat, gumamku sambil memandang jam tangan. Gadis yang baru saja muncul dari balik pintu kaca itu menyatukan kedua tangannya didepan dada, minta maaf dengan cengirannya yang khas. Aku hanya memutar bola mata, begitu terbiasa dengan keterlambatannya pada setiap pertemuan. Sejak SMA.

“Ngomong OTW-nya aja udah dari setengah jam yang lalu. Mampir kemana aja?” cetusku. Dua kantong kresek yang diletakkannya diatas meja menjadi bukti bahwa dia memang singgah ke suatu tempat.

“Oh ini,” ia mengeluarkan sesuatu dari kantong yang pertama, yang lebih besar, “kue.”

Sebelum aku sempat berkomentar, dia sudah menyibukkan diri dengan memasang lilin pada kue itu. Bukan lilin angka dua dan nol seperti usianya tahun ini, tapi hanya satu lilin. Dia lalu menyalakan lilinnya.Read More »

Iklan

Tidak Ada Cerita Hari Ini

Penulis yang sedang tidak menulis. Itu saye. Malah kayaknya lupa pernah jadi penulis kalau nggak diingatkan tiap 4 bulan sekali oleh surat laporan royalti buku dari Dar! Mizan. Buku-buku zaman kapan lah itu.. Haha.

Cerita dikit ah soal masa-masa jadi penulis 😀 Supaya ingat dan termotivasi buat nulis lagi.

Aku sudah menulis sejak kelas 2 SD. Belajar membaca menulis sudah dari TK tapi lancarnya pas kelas 1. Ini karena aku hobi baca majalah Bobo dan buku-buku lain yang dibawakan Abah. Zaman SD aku sudah nggak minta mainan lagi, tapi buku. Jadi kalau sekarang ditanya mau kado apa, seharusnya sudah tau kalau jawabannya standar, buku.

Selain baca majalah, aku juga senang mengisi halaman-halaman kosong. Apalagi yang halamannya warna-warni. Nulis deh. Banyak yang ngenyel, nggak jelas, tapi apa yang bisa diharapkan dari anak kelas 2 SD kan ya? Nah, beruntungnya aku punya Abah yang mendukung apa yang kulakukan, plus dia juga kerjanya di Koran, jadi ceritaku yang masih acak-acakan itu sampai bisa debut di kolom anak.

 

Duh, Fira kelas 2 SD hebat ya. Aku (Fira yang mahasiswa) sekarang nulis belum pernah diterbitkan koran lagi, haha.

P_20170618_232711.jpg

Read More »

Menjadi Angin

Kenapa seseorang bisa merasa kesepian?

Mungkin karena dia terlalu banyak melamun

Atau terlalu banyak mengecek media sosial

Membayangkan orang lain dengan teman-temannya

Sedangkan ia saat itu sedang sendiri

Lalu ia berpikir, apakah ia yang menjauh atau orang lain yang berlalu

Read More »

Anak-anak Poseidon (Cerpen PEKSIMINAS)

​Sudah 1 bulan lewat dari lomba tingkat nasional pertamaku. Hm, rasanya rindu berjalan-jalan di Kendari, naik perahu kecil ke Bokori juga lari-larian dan manjat di Wisata Mangroovenya.

Selepas acara tersebut, teman-teman dari tangkai lomba cerpen dan aku masih tetap berkomunikasi. Lalu Robi, dari Bandung berinisiatif untuk mengumpulkan karya cerpen kami. Wow. Ide bagus. Aku juga pengen banget baca karya-karya para pemenang. Biar tau bagaimana jenis karya yang mencuri hati para juri. Hehe. FYI saya belum beruntung kemarin, tidak ada peringkatnya juga jadi belum bisa membanggakan provinsi saya 😦

Sebulan kemudian, hari ini, Robi akhirnya mengirim cerpen yang sudah di kompilasikan ke email kami masing-masing. Sayang sekali baru 17 yang mengirim. 9 orang lagi hilang kontak, bang Ile juga yang tidak masuk grup line tapi ada di bbm pas dikontak ternyata iya-iya nya hanya janji-janji. Huft. Padahalkan, kalau lengkap bisa dijadikan kumcer dan diterbitkan. Hm.

Kan nambah satu karya yang diterbitkan 😀

Cerpenku berjudul Anak-anak Poseidon. Lain daripada yang lain, ketika yang lain bikin cerita dengan setting di kendari atau pesisir pantai (karena temanya menjaga ekosistem laut) aku bikin didalam laut. Wuahahaha (sekendaknyo bae). Tentang masa depan. Ketika daratan sudah menjadi abu.

Kupikir bagian yang itu bagus. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa tidak lautan saja yang mengering? Atau berubah jadi keruh, jadi laut mati. Ditambah chaos gila-gilaan, pasti keren. Semuanya tentang penyesalan.

Out of the box itu yang pemikiran utama yang kujadikan dasar rangka cerpen. Melupakan bahwa ini adalah acara nasional, dan diajak hunting hari sebelumnya pasti punya maksud tertentu (tidak benar-benar lupa sih, 4 jam setelah menulis Anak-anak Poseidon, aku sudah mulai kepikiran. Tapi dengan pedenya aku menepis pemikiran tersebut sambil makan cokelat, ah begini juga bagus). Setelah introspeksi dan belajar dari cerpen-cerpen pemenang, baru aku sadar bahwa mengambil fokus rakyat itu juga bagus. Apalagi pas dialognya memakai bahasa asli daerah. Makin kerasa feelnya, dan nggak terasa bahwa sang penulis itu bukan orang sana.

Baru setelah baca cerpen peserta lain, aku mengambil kesimpulan bahwa lawan-lawanku memang kuat. Jika dalam perlombaan lokal aku bisa menebak mana yang menang dari susunan kata dan eyd, juga dari margin dan font, kali ini tidak bisa! Mungkin karena notabene peserta adalah anak jurusan bahasa di kampus masing-masing dan tentunya sudah mengikuti seleksi daerah, maka kemampuannya menyusun kalimat dan paragraf tidak usah diragukan lagi.

Apalagi untuk jalan cerita dan prespektifnya. Meskipun satu tema dan amanahnya kurang lebih sama mari jaga laut! Tapi kemampuan mengarangnya pada jago. Pun dengan cerita yang slow (istilah kusendiri, maksudnya jalan ceritanya nggak tap-tap-tap cepat tapi ngalir saja begitu -apaan sih. Maaf kalau tidak mengerti), ceritanya tetap menarik untuk dibaca.

Aku paling suka punya Wika. Si pendiam (pas hunting pendiam, di Line ribut banget dengan sticker khasnya (wkwk wikaaah :D) ini adalah juara satunya peksiminas kemarin. Ceritanya pahit, menyedihkan, tentang anak bajo yang kehilangan mama dan bapak. Kemampuannya menuturkan kisah kuancungi jempol. Kayaknya terlalu lama membaur dengan anak-anak kampung bajo (sampai hampir ditinggal bus) membuatnya fasih bahasa sana, padahal dianya dari Jogja. Salut! Read More »

Air Mata

Hus! Jangan diketawain!”

Rira cepat-cepat menutup mulutnya, tapi masih terkikik dengan matanya. Dan yang melihatnya hanya bisa melemparkan pandangan kesal. Kok bisa ya, ada cewek yang ga punya perasaan seperti ini.

Padahal Dina, teman sekelas mereka sedang menangis di tengah-tengah sahabaynya. Dicampakkan pacarnya sesaat sebelum kelulusan. Katanya sih, karena beda universitas.

Mungkin memang tidak semua orang harus menanggapi berita ini serius, toh kasus Dina putus-nyambung seperti ini sudah ketiga kalinya dalam tahun terakhir mereka di SMA. Tapi, saat mendengar tawa Rira tadi, rasanya siapapun akan mengira Rira sedang menjelekkan Dina.

Meskipun memang kenyataannya begitu.

Merasa menjadi pusat perhatian, Rira ngacir keluar ruangan, yang kemudian diikuti oleh Dan.

“Gara-gara nggak pernah pacaran kali ya, kamu ga punya perasaan kayak gitu,” komentar Dan. Rira mengambil duduk di bangku,  nyengir.

“Ga jugaaaaa….”

“Aku jadi penasaran, kalau kamu nangis gimana,” ujar Dan berikutnya. Rira malah menjulurkan lidah, “aku nggak akan pernah nangis didepanmu lah, week.”

“Soalnya aku tau bakal diketawain, hahaha!”

Dan ngedumel dalam hati, kapan ya, anak ini bisa serius?

“Oh iya, minggu depan aku udah bimbel di Jakarta.”

“Lah, nggak disini aja?”

“Ada tempat bimbingan alumni yang bagus, ya, sekalian cari pengalaman.”

Rira meletakkan tangannya didagu. “Kita ga ketemu lagi dong. SBMPTN juga disana?”

“Iya. Sekaligus.”

“Sekaligus diterima kuliah disana?”

“Yang itu belum tahu,” ujar Dan, mengangguk pada adik tingkat yang menyapanya. “Tapi maunya sih begitu.”

“Yah…”

“Kamu nangis, aku ga jadi pergi deh,” ucap Dan tiba-tiba.

Rira berpose seperti detektif conan, mengeluarkan suara hmmmm tanda ia sedang berpikir. “Ga mauuu…”

***

Kemarin, berbeda dengan hari ini.

Dan menemukan Rira berdiri mematung, badannya bergetar lemah, kemudian terdengar isakan darinya.

Tiba-tiba saja ia merasa bersalah telah meminta Rira menangis.

Kukira aku bisa mengusap air matamu.. dan itu akan jadi sangat romantis.

Bulir-bulir air mata bergulir bergantian dipipinya. Sesekali Rira harus mengelap hidungnya, yang ikut-ikutan basah, dengan bunyi srooot  yang mengganggu. Sekarang ia menangis keras, lebih keras daripada pelayat lainnya.

Aku tidak ingin pergi…

Bayangan Dan yang berusaha menggapai pipi Rira kemudian menipis dan hilang…

 

Bengkulu, 8 September 2016


Cerpen ini sekali tulis aja kemaren. Ga pake mikir. Makanya kalau ada kesamaan tokoh dan tempat atau sejenisnya jangan dibawa baper, plis 😀

Aku masih belum bisa eksperimen ke judul. Ada yang mau bantu kasih tips judul atau perbaiki judul yang ini?? 😀

 

Te rima kasih!

P.S : tadi masuk SMS dari orang rektorat, katanya anak-anak peksiminas bisa mengukur baju di penjahit. Ih cie ada baju kompakannya. Kegiatan ini sudah didepan mata!!

 

Ruang Kosong

“Nge-chat siapa sih?” Mia melongokkan kepala ke kolong meja Gina, yang dengan terburu-buru (dan mencurigakan), melempar hpnya ke sudut paling dalam, sekaligus menimpuk hp yang tidak bersalah itu dengan buku Fisika Kuantum.

“Bukan siapa-siapa.”

“Alaaah, biasanya juga aku yang ngebalesin chat-chat di line kamu..” paksa Mia. Wajah sahabatnya tidak bisa berbohong. Pasti ada yang disembunyikan.

Dan pasti tentang cinta, cieeh.

Gina mendorong Mia kembali ketempat duduknya, “yang ini beda lah…”

“Akhirnya ada yang menarik hati, begitu?” tanya Mia, bertopang dagu sambil mengedip-ngedipkan matanya genit.

“Maunya sih…”Read More »

Kado Ulang Tahun

Bayangan itu menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya, tanpa suara. Memanfaatkan kelamnya malam dan sunyinya lelah untuk mengintai. Dimana-mana pintu tertutup, lampu dimatikan, hanya neon papan reklame yang berkedip-kedip di jalan itu.

Berjalan diam-diam dengan kondisi awas, bayangan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah teropong kecil. Dengan itu, ia mengamati kondisi medan yang ia akan masuki. Atau tidak masuk, karena tugasnya hanya mengamati. Menyelidiki pergerakan.

“Kak?”

Bayangan tadi separuh terlonjak karena kekagetannya, ditemukannya wajah familier menatapnya dibawah pencahayaan seadanya. Adiknya.

“Kenapa kamu disini? Kakak sedang berkerja!”

Rindu menarik sesuatu dari belakang punggungnya, “Selamat ulang tahun!”

Sepotong kue cupcake dengan lilin berdiri diatasnya disodorkan pada Adit. Rindu memantik api, yang kemudian langsung ditiup Adit sebelum dapat membakar sumbunya.  “Terima kasih ya. Tapi kalau begini terus, kakak bisa ketahuan!”

“Ini dibuka dulu!” paksa Rindu, “aku sudah bela-belain ngikutin kakak dari tadi!”Read More »

Paragraf Delapan

“Dalam beberapa hari ini, apa kau tidak menemuinya?”

Aku tergelak. Semua parameter ini, sambutan menengangkan dari mereka, kartu nama ini, benar benar membuat perutku tergelitik. Aku tertawa besar-besar, sambil memperhatikan wajah mereka yang tiba-tiba jadi lucu.

“Aku bahkan baru mendarat tuan,” kataku, masih tertawa. “Kalian hebat sekali menghubungkanku dengan penusukan itu. Tapi saking hebatnya kalian bahkan tidak mengecek catatan perjalananku? Tuan tuan, aku baru saja mendarat disini beberapa menit lalu. Sebelumnya aku menikmati nikmatnya sinar matahari tropis Bali. Dan kalau kalian cek paspor ku, terakhir kali aku berpergian keluar negeri adalah enam bulan yang lalu..”

“Brak!” Albert memukul meja. Aku berhenti tertawa, baru menyadari raut mukanya yang berubah.

Paragraf Satu

Jadi—Jerman lagi.

“Permisi,” panggil seseorang dibelakangku. Membuatku berbalik. Suara lembut itu berasal dari seorang gadis kecil dengan dandanan antik. Kaos hitam gotik dengan tutu pink. Rambutnya dikuncir dua mengingatkanku dengan Raisa, keponakanku yang berumur tujuh. Tapi riasannya—dengan eyeliner tebal itu, membuat wajahnya lebih tua, mungkin delapan belas.
“Anda menjatuhkan ini,” katanya, mengancungkan paspor hijauku. Aku tergagap, mengucapkan terima kasih. Ia balas tersenyum, dengan bibirnya yang berlipstik ungu.
Aku berbalik, mempercepat langkahku menuju konter imigrasi.
“Om, oom arsitek ya?”