Social Media Detox (30 Days Challenge)

www.firafirdauss.com

Hari ini adalah hari kesepuluh bulan Februari, hari ini juga adalah hari kesepuluh aku tidak menyentuh sosial media-ku.

Well, mungkin nggak semua sosial media. Cause you know lah blog juga termasuk “media-sosial” hehe. Whatsapp dan line juga termasuk pengecualian karena aku masih membutuhkan layanan panggilan dan pesan gratis. Mungkin judul yang lebih tepat adalah Detox instagram, twitter dan facebook.

Social-Media-Ideas

Trio pemecah konsentrasi

Ketiganya adalah aplikasi yang menurutku paling bikin candu. Pengennya liat sebentar tapi keterusan sampai lupa waktu. Atau malah ikut war di kolom komentar, mengikuti debat kusir yang tidak nampak ujungnya. Mungkin, kalau boleh menyalahkan sesuatu karena kegagalan hidup di tahun 2018, sosial media ini adalah kambing hitamku.

Tahun lalu, saat mencoba jadi influencer dan buzzer (amatir), fokusku berpusat pada 3 sosial media tadi.

Bagaimana caranya dapat follower yang banyak, engagement yang tinggi. Bagaimana caranya nulis caption yang menarik dan mengedit foto secara optimal. Bagaimana merapikan feed? Bagaimana menarik follower untuk meretweet dan berkomentar?

Siang malam ku selalu, menatap layar terpaku. Aku online, online~ (Saykoji – Online)

Hehe.

Aku banyak melakukan trial and error, mencoba berbagai metode dan belajar dari para influencer yang sudah punya nama. Tapi sulit. Pertama, karena aku tidak percaya diri. Ingin terkenal tapi aku tidak yakin ingin terkenal. Kedua, aku tidak suka feed seperti online shop, harus bertema dan rapih seperti yang diinginkan beberapa brand. Aku mulai menarik kesimpulan kalau aku tidak punya bakat dan kemauan yang kuat untuk menjadi buzzer dan influencer. Aku ingin kembali menulis blog saja, memposting konten yang kusukai.

Alasan lain yang mendukungku untuk berhenti main medsos adalah.. aku ingin berhenti membandingkan diri dengan orang lain. 

Awalnya aku tidak sadar telah membandingkan diri dengan orang lain. Scrolling berjam-jam (terutama di instagram) ternyata berefek dalam alam bawah sadarku. Aku jadi rendah diri dan pesimis. Aku malu memposting foto diriku atau mengunggah kegiatanku karena aku nyatanya sekarang cuma pengangguran yang bikin susah. Tanpa sadar aku mulai menganggap penting like dan komen. Nggak penting banget yah?

social-media-anxiety-disorders-brain-neuroscience

Social Media Detox. Aku sudah sering dengar ide ini dari mana-mana, tapi baru serius ingin mencobanya setelah melihat video berjudul The 30 Day Social Media Detox dan I Quit Social Media for 30 Days dari channel youtube Matt D’avelia. Matt adalah film maker dan seorang minimalis. Kontennya di youtube sebagian besar tentang self-improvement, yang dikemas secara minimalis (?) dan rapi.

Kenapa tidak mencoba melakukannya juga? Aku tidak ingin 2019 berakhir se-mengenaskan 2018. Aku sudah punya banyak janji yang ingin kupenuhi sebelum tahun berganti. Terutama janji buat lulus kuliah S1.

IMG-20181219-WA0070

Dipinjemin Hara toga. “Supaya Fira cepat nyusul,” katanya

Oh iya, sebenarnya aku sudah mulai mencobanya saat akhir tahun lalu. Tapi gagal… haha. Payah ya? Tapi kali ini aku mungkin punya motivasi yang lebih kuat untuk menjalani tantangan 30 hari tanpa Sosmed ini (yang mungkin kuperpanjang jadi 6 bulan kalau bulan ini berhasil mendapat manfaat), yaitu… sahabatku lulus kuliah.

Belum diwisuda sih, tapi sebentar lagi diyudisium, dan setelah itu dia akan menjalani masa ko-as di rumah sakit universitasnya. Yang artinya dia bakal sibuk, dan mungkin nggak bakal pulang ke Bengkulu sampai masa koasnya selesai. Hem.

Meskipun banyak temanku yang lain sudah masuk koas, baru kali ini aku merasa kalah dan tertampar dengan kenyataan. Kami lulus bersama di SMA, dan masuk kuliah di waktu yang bersamaan. Kami juga sama-sama stuck di skripsi tapi dia awal tahun ini berhasil lolos. Kenapa aku belum bergerak juga? Apa yang salah?

Ya, aku tidak serius. Aku terlalu banyak bermimpi jadi orang lain dan lupa dengan prioritas. Aku terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain dan memikirkan hal yang tidak penting. Satu-satunya yang harus kupikirkan harusnya Uji aktivitas ekstrak methanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dalam menurunkan kadar glukosa mencit (Mus musculus) yang diinduksi sukrosa*.

Aku jadi ingat, dulu waktu mau ujian nasional SMA, aku dan sahabatku ini pernah melakukan “tukaran password facebook” (waktu itu aku cuma punya akun medsos facebook aja) sehingga kami tidak bisa mengakses akun sendiri sampai selesai ujian. Kali ini, aku tidak mungkin minta tukar password lagi, dia sudah punya banyak kesibukan (yang ada nanti dia lupa password yang diganti terus akunku hilang wkwk). Karena itu, aku jadi yakin untuk melakukan social media detox.

Doakan berhasil ya, sekarang tinggal 2/3 jalan lagi 😀

.

* : judul skripsiku

 

Iklan

15 thoughts on “Social Media Detox (30 Days Challenge)

  1. Bgs ni kak.. sy jga lagi melakukan detox fb dlu hehe tpi detoxnya beda kak cma hri ahad sja boleh main fb hri yg lain tdk boleh dn lumyn berhasil.. 😄😄
    Sepertinya sy setuju dgn tdk jdi diri sendiri soalnya sy jdi ikutan ganti feed IG biar kece haha.. setelah bca ini jdi tercerahkan..🤭🤭 makasih kak👍🏻🌹

    Suka

    • Hehe terima kasih balik karena udah baca 😀
      Memang enaknya ada satu hari cutinya sih, jadi nggak ketinggalan update kan ya. Tapi aku sekali buka sosmed bisa berjam-jam, jadi ya.. mending dihindari sekaligus.

      Feed rapi itu bagus, tapi kadang kalau ga bisa ngisi kontennya seragam jadi membosankan

      Suka

  2. Entahlah, aku malah tak tertarik dengan gemerlapnya social media. sejak buat akun FB 2008 silam, sepertinya aku jarang update status. eh pernah sih sedikit menggila main fb karena main affilasi dulu, tapi sekarang udah enggak, ketiga media social langsung aku hapus di smartphone semenjak pertama kali beli, wkwkwkw

    Suka

  3. Wah… Menarik ini… Aku jg pernah bikin challenge tp ga ada bates waktunya. Paling maksimal bertahan seminggu.. Emg buang waktu bgt sih medsos tuh. Ayo semangat skripsweet.annya… Pasti bisa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.