Perpustakaan Kita

Dari mana ngejelasinnya ya? Supaya bisa dicerna baik-baik dan dipertimbangkan nasihat yang sebenarnya mau saya kemukakan sebenarnya?

Hari ini saya mau cerita tentang akun instagram perpustakaan universitas saya sendiri. @unib.library. Saya sudah follow akunnya sejak beberapa minggu lalu. Akunnya sudah punya follower 2060 akun dan memfollow 1474 akun. Postingannya lumayan banyak dibandingkan akun instagram perpustakaan universitas lainnya. 475.

Screenshot-2017-12-23 UPT PERPUSTAKAAN UNIB ( unib_library) • Instagram photos and videos

Pada awalnya, saya hanya lihat sekilas saja. Oh, akun ini nge-share judul-judul skripsi/tesis agroindustri yang masuk. Wah, update juga nih akun, pikir saya. Jujur, selama ini saya jarang sekali ke perpustakaan universitas, bahkan tidak punya kartu pinjam universitas, padahal saya dari SD-SMA paling suka nongkrong di perpus. Kenapa? Pertama cukup jauh dari kampus kedokteran dan saya nggak punya motor. Bisa sih jalan kaki, tapi alasan kedua, buku-buku kedokteran di perpustakaan kampus lebih lengkap daripada perpustakaan universitas. Apa aja ada, tinggal tanya pak Mau, hehe.

(Dan beberapa alasan lainnya, tapi malas lah dijabarkan disini)

Iseng, saya swipe ke kanan beberapa postingannya hmm, isinya tesis. Swipe lagi ke kanan, oh ada abstrak. Swipe lagi, halaman pertama bab 1, swipe lagi, halaman pertama bab 2, *swipe swipe* eh, ada halaman hasil dan pembahasan juga 😀

Gimana ya, sebagai orang yang lagi nyusun skripsi, lagi ngerasain bagaimana susahnya ngumpulin data, baca jurnal bahasa inggris bermalam-malam, ngetik panjang-panjang buat tugas akhir, aku merasa kesal pihak admin akun ini mengisi feed instagramnya dengan halaman-halaman itu. Biar kalian lebih paham lagi kenapa aku kesal, yang di share itu screenshoot-an NASKAH SKRIPSI/TESIS, bukannya naskah publikasi. Beda lho antara naskah publikasi dan naskah skripsi. Pihak perpustakaan pasti ngerti dong ya? Kalau mau lihat naskah publikasi diakun itu, cari aja tulisan jurnal kedokteran rafflesia.

Penasaran, aku coba browsing akun perpustakaan lain, apakah juga ngeshare naskah skripsi di akun media sosial seperti instagram?

Screenshot_2017-12-23-08-03-12

Sharing pengunguman dan kegiatan perpustakaan

Screenshot_2017-12-23-08-02-45

Share kuis supaya peminat IG perpus makin banyak

Screenshot_2017-12-23-08-02-17

Paduan pinjam, jam buka, paduan buat pengunjung luar

Screenshot_2017-12-23-08-02-36

Sharing kegiatan perpustakaan

Kebayang kan, ekspektasi media sosial perpustakaan kayak gimana?

Saya bukannya tidak suka perpustakaan, saya cinta perpustakaan. Di SD dan SMA saya selalu dapat penghargaan pengunjung terbaik. Meskipun banyak buku dirumah, saya juga suka meminjam di perpustakaan. Selain lebih hemat, juga lebih praktis karena nggak menuhin rak buku. Saya juga suka perpustakaan digital, bulan ini rasanya tiada malam saya habiskan tidak di pubmed (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/) saya suka keseruan mencari jurnal, yang kadang bisa diakses kadang tidak. Kenapa ada yang tidak bisa diakses? Karena ada hak cipta publisitas beberapa sumber, sehingga untuk diakses harus membeli biaya keanggotaan yang berjuta-juta harganya. Harga yang cukup mahal tersebut sepadan karena penelitian juga bukan hal yang murah. Contoh kecilnya, coba saja bertanya berapa harga berlangganan jurnal ilmiah? Ehm, seratus juta? Cuma untuk 1 eksemplar tiap bulan?

Saya pikir, jika tidak saya yang memberi komentar ke admin, maka mungkin tidak ada orang lain yang peduli. Orang-orang awam mana ngerti susahnya bikin penelitian. Mahasiswa yang memfollow akun itu juga tidak ada yang berkomentar. Jangankan komen, yang ngelike saja, dari follower ribuan itu tidak ada yang sampai 100 orang. Menarikkah postingan seperti itu? Sayangnya tidak. Adakah yang saat scroll instagram, terus tiba-tiba berkata “wah, ini sesuai dengan judul penelitian saya!” kemudian langsung akses link yang diberi? Saya rasa juga tidak. Boro-boro baca isinya, ada juga langsung pusing teringat tugas akhir yang nggak selesai-selesai, hehe. Salah platform, maksud saya.

Atau, setidaknya kalau memang mau share sesuatu yang berkaitan dengan penelitian, sebarkanlah saja abstraknya. Biarkanlah halaman-halaman depan itu menjadi publisitas yang eksklusif, hanya bisa kalian lihat di repository. Hanya bisa diakses kalau kalian akses website. Yah, meskipun kemungkinannya kecil juga sih.

Tapi sepertinya komentar saya ditolak mentah-mentah oleh admin perpustakaan yang merasa punya seluruh hak atas naskah yang ada di perpustakaan. Naskah yang harus diserahkan mahasiswa sebagai syarat wisuda. Benar hak publikasinya milik perpustakaan, tapi apakah dengan begitu admin boleh menyebarkannya sembarangan? Bukankah unib sudah punya portalnya sendiri untuk publikasi?

Screenshot_2017-12-23-08-12-17Screenshot_2017-12-23-08-12-27Screenshot_2017-12-23-08-12-31

Screenshot_2017-12-23-08-12-36

Malah ngomongin akun instagram saya sendiri dan blog. Nggak marah sih, malah bersyukur pengunjungnya nambah hehehe. Akun individu di monetize, blog di monetize? Nggak ngaruh kesitu, saya sekolah nggak dibiayain UNIB, malah bayar UKT kedokteran yang berkali lipat daripada mahasiswa fakultas lain :D. Terakhir, adminnya bilang jangan protes kesana, ok saya tidak akan balas lagi komentarnya,karena pembicaraan yang mereka katakan berputar2 seputar admin berhak publikasi, tidak menjawab beberapa pertanyaan saya dan tidak menghiraukan saran saya. Katanya jangan protes, tidak dilayani, lha yang daritadi balas komentarnya siapa? 😀 langsung ke perpustakaan menemui siapa? Adminnya? Kepala perpus? Nanti lah ya, saat saya menyerahkan naskah publikasi, pesan, tolong jangan naskah saya di share ke instagram, wkwk.

Sok tau dan malu? Baiklah admin. Saya diam saja. Saya diam dan akan ngetik lebih dari 750 kata mengabadikan percakapan kita di blog saya sendiri, siapa tau nanti admin mampir dan dengan kepala dingin mau membaca curahan hati saya yang peduli dengan akun perpustakaan kampus tercinta. Bukannya saya benci dengan perpustakaan kampus tapi saya hanya ingin menjadikan perpustakaan jadi lebih baik. Agar kampus kita dikenal orang luas bukan karena ngeshare hal yang ‘mungkin berguna buat follower’ tapi karena memang akunnya berguna bagi dunia pendidikan.

P.S : Saya masih mahasiswa

 

Iklan

21 thoughts on “Perpustakaan Kita

  1. Wah kalo di indo masalah seperti ini masih belum diperhatikan. Bahkan saya pernah baca hasil penilitian dari skripsi diklaim dosen pembimbingnya dan dipresentasikan dalam suatu acara tanpa minta ijin mahasiswanya.

    Oh ya…. kalau mau mengakses jurnal2 luar yang bagus, coba nyari teman yg sekolah di luar negeri. Di kampus2 tertentu biasanya dikasih akses gratis. Saya dulu pas kuliah dapat akun dan password di sebuah blog. Katanya akun2 dari mahasiswa indonesia yang kuliah diluar negeri dan dapat mengunduh jurnal dan karya ilmiah secara gratis. 😀

    Disukai oleh 1 orang

    • Wah terima kasih bang masukannya. Benar itu belum diperhatikan, memberi masukan dibilangnya saya yang tidak ngerti aturan bang. Sedih ngeliatnya, padahal kampus sendiri.

      Bang, mau tanya. Tadi kan saya baca2 blog abang, kok beberapa nggak bisa dikomen?

      Terima kasih udah mampir bang 😃

      Suka

      • Iya… soalnya fokus menyelesaikan one day one post selama setahun. Tinggal sedikit lagi. Akan selesai di akhir januari 2018. Sengaja komentar saya tutup soalnya nggak enak hati klo banyak yg komen dan saya nggak komen balik ke blog mereka.

        Klo jumlah yg komen buanyak, saya nggak bisa males komentar mereka dan kehabisan waktu. Sudah sejauh ini masak gagal ODOP setahunnya. 😀

        Suka

  2. Panas-panas-panas hahaha
    Di tempatmu ada bedanya kah perpustakaan kampus dan perpustakaan universitas? Rada bingung sama yang ini

    Btw mungkin pembelaan mereka tentang hak cipta itu benar, tapi tidak etis untuk membagikan isi skripsi dan peneletian via medsos. Kecuali pihak universitas sudah membangun sistem respiratori, yang dari sana baik mahasiswa atau pihak umum dapat mengunduh skripsi serta penelitian lainnya dalam bentuk pdf secara gratis. Apa perpustakaan itu mencoba membuat terobosan? Saya pikir caranya kurang tepat kalau begitu. Tujuan medsos, yang seringkali untuk lebih mengenalkan diri dan pemberitahuan terupdate, menjadi kurang tercapai kalau cuma dipakai buat membocorkan skripsi.

    Setuju banget sama positifnya. Setidaknya mereka jadi kepo sama blogmu 😂

    Suka

    • Mungkin nanti fira perbaiki lagi bang, kalau yg kampus itu maksudnya perpus fkik, kalau perpus univ itu perpus UNIB.
      Iya saya setuju dengan bagian pembangunan repository dengan promo di medsos, tapi tolonglah judul dan abstraknya saja, halaman lain tidak perlu..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.