Modul ManBen, Our Last Modul..

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(5)

sumber foto : IG @labskillfkunib

Manben, alias modul Manajemen Bencana adalah modul terakhir mahasiswa semester 7. Modul terakhir pre-klinik pendidikan dokter, yang artinya kalau skripsi dan ujian keterampilan klinis kamu juga udah kelar, artinya kamu udah mau masuk gerbang per-koas-an. Tinggal nunggu yudisium dan wisuda. Tapi tolong jangan tanya apakah saya sudah mau masuk koas awal tahun depan, karena saya belum selesai skripsi, hiks. Udahlah, lanjut bahas modul dulu hehe 😀

Modul ini adalah modul elektif. Jadi mahasiswa semester 7 pada awal semester (saat mengisi KRS) boleh memilih mau belajar apa modul terakhirnya. Pilihannya ada manajemen bencana, herbal dan manajemen puskesmas. Tapi meskipun boleh memilih, modul yang akan diselenggarakan hanya modul yang dipilih terbanyak. Mengingat keseruan kakak tingkat angkatan 2013 yang tahun lalu mengambil modul manajemen bencana juga, akhirnya kami yang mengambil modul memilih manajemen bencana juga.

Seperti namanya, yang dipelajari adalah bagaimana manajemen bencana, terutama bagaimana posisi dokter saat terjadi bencana. Durasi modulnya 2 minggu, tapi karena suatu dan lain hal ujian sumatif dan OSCEnya diundur. Kelebihan modul ini adalah.. tidak ada diskusi kelompok! Hehe. Juga beberapa kali ada praktik di lapangan, jadi boleh pake baju kaos dan celana training saja! (kegembiraan saye sebagai pecinta kaos). Kekurangannya.. ada OSCE alias Objective Structured Clinical Examination atau ujian klinis. Ngomongin OSCE rasanya ngeri-ngeri sedap gitu, apalagi kalau teringat masa-masa mendebarkan ujian OSCE. Tapi OSCEnya tidak didalam ruangan seperti biasa, tapi di lapangan. Juga tidak sendirian, satu lawan dua (OP alias orang percobaan dan Penguji). OSCEnya berkelompok, dengan menerapkan ilmu dari modul ini bagaimana kami bisa menyelamatkan korban bencana… gituuu

Sebenarnya, materi-materi yang disampaikan pas modul ini, sebagian besar sudah pernah kudapatkan saat latihan dasar dari organisasi TBM (Tim Bantuan Medis)… hehe. Tapi sudah lama banget, sekitar 3 tahun yang lalu.

10571939_1514273675517060_2545043411754845343_o.jpg

Ada simulasi evakuasi korban kecelakaan mobil 😀 (sumber : facebook TBM Averroes)

10848940_1514273098850451_3541451321590124061_o.jpg

Juga pas ngangkat pasien.. waktu itu cowoknya ga ada malah, jadi dilatih buat strong banget (sumber : facebook TBM Averroes)

Juga teringat pas pergi ke UMJ buat lomba evakuasi korban kebakaran. Hmm.. Tapi ilmunya sudah terbang melayang entah kemana haha. Mungkin karena semester 7 ini tidak membahas mengenai klinis kedokteran lagi, jadi banyak skill yang sudah lupa.

Nah, saat perkuliahan, kami banyak dapat materi tentang kebencanaan, triase dan bantuan hidup dasar. Triase itu apa? triase adalah cara pemilahan pasien berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang tersedia yang didasarkan pada  prioritas ABC (airway, breathing dan circulation). Jadi pas terjadi bencana kan, pasien banyak tapi jumlah penolong terbatas, jadi pasiennya harus dipilah berdasarkan kegawatannya. Dibagi dengan tagging Merah, Kuning, Hijau dan Hitam. Tim triase adalah orang-orang yang masuk pertama kali ke lokasi bencana setelah diberi perintah oleh komandannya, untuk mentagging korban. Jadi menyelamatkan korbannya lebih terarah.

Merah itu untuk korban yang butuh bantuan segera (semua korban sih pengennya segera ditolong, tapi kalau korban dengan tag merah itu ibaratnya hanya bisa bertahan 0-10 menit. Kalau tidak segera ditolong, resiko kematian dan kecacatannya lebih tinggi. Kuning untuk korban yang cedera sedang dan hijau cedera ringan, sementara pasien tagging hitam adalah korban meninggal. Saat menolong, akan lebih mudah bagi tim resusitasi dan tim evakuasi untuk mengenali mana yang harus ditolong terlebih dahulu. Korban tagging merah pertama, korban kuning setelahnya. Korban tagging hijau yang dapat berdiri sendiri dapat diarahkan saja ke posko, sehingga tidak perlu diangkat-angkat atau ditatalaksana di area bencana. Sementara korban dengan tagging hitam, ya juga di evakuasi tapi belakangan setelah korban hidup sudah tertolong.

Fiuh, panjang juga ya penjelasannya? Sudah kayak ngetik kuliah ini hehe.

Sebenarnya hal lain yang juga menarik untuk dijabarkan adalah bagian kuliah bantuan hidup dasar. Seperti resusitasi jantung paru (RJP/CPR), pemasangan bidai, bantuan nafas.. tapi karena alat latihan yang tersedia di kampus terbatas, jadi malas deh nulisnya hehe.

Paling asyik pas praktikum dengan BASARNAS (Badan SAR Nasional). Kalau tahun lalu, kakak tingkat kami diajari vertical rescue. Ituloh, menyelamatkan korban dari ketinggian. Hari itu aku berharap tidak hujan, tapi ternyata paginya gerimis. Huhu. Jadilah kami materi dalam ruangan dulu, belajar cara-cara evakuasi darurat dan tidak darurat. Yang paling bikin heboh adalah firefighter carry, yang digunakan buat penyelamatan ditempat yang tidak memungkinkan untuk berdiri.

Picture1

something like this hehe

Selain itu juga ada penyelamatan dengan tandu. Tandunya macam-macam, ada spinal board (papan hijau pada gambar dibawah), tandu lipat, KED, basket stretcher dan lain-lain.

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(4)

sumber foto : IG @labskillfkunib

Selesai belajar pemindahan penderita, kami dibagi 3 kelompok untuk belajar 3 materi. Pertama evakuasi korban kecelakaan dalam mobil, pemindahan korban (praktiknya) dan tali menali. Khusus yang tali menali aku sampai sekarang cuma ingat simpul 8. Yang lainnya lupa (emang ingatan jangka pendekku parah banget buat hal-hal yang begitu. Kalau boleh aku harusnya nyatat dulu gambar simpulnya, nah kalau begitu baru ingat). Untuk yang evakuasi korban, karena durasi jadi kelompok 3 digabung dengan kelompok 2, dan kemudian diadu kecepatannya hehe. Sayang tidak semua orang dalam satu kelompok bisa berpartisipasi (lah iya korban satu diserbu 15 orang hehe) jadi aku langsung minggir dan jadi penyemangat saja.

Evakuasinya seru, apalagi pas kelompok 2 tampil, kami yang menonton kan berlaku jadi masyarakat biasa, jadi sibuk teriak-teriak diluar basarnas line (mau dibilang police line tapi yang pakai basarnas) heboh sendiri liat korbannya di evakuasi. Taktik juga sih, supaya kelompok 2 evakuasinya lebih lama daripada kelompok kami yang sudah evakuasi sebelumnya.

Kelompok 3 menang! Yey. Pemenangnya bisa naik flying fox ke lantai 3 untuk coba penyelamatan dari lantai 3. Kelompok 1 yang baru selesai kelas tali menali dan pemindahan korban, bergabung dengan kelompok 2 untuk menonton kami meluncur dari atas hehe. Semuanya dipasangi APD dan harness. Naiknya harus tandem, karena ceritanya kan lagi menyelamatkan korban. Ada yang jadi penolong ada yang jadi korban. Posisinya juga ditentukan sebagaimana penyelamatan. Yang penolong harus melindungi kepala korban dan menekuk kaki diantara kaki korban, sementara korbannya melingkarkan tangan dileher penolong.

Mestinya sih gituu, tapi setelah beberapa pasangan turun, posisinya penolong dan korban pas sampai ditengah malah narsis, nyari kamera dan ckrek ckrek, foto dulu. Apalagi sama basarnasnya juga diberhentikan sebentar ditengah, jadi bisa narsis wkwk.

S__15458311

Ini yang turun aku (baju hitam) dengan uni tya. Uni tya jadi korban, tapi malah pose ke kamera wkwk

Boleh turun sendiri, tapi bayar 20rb karena jadi flying fox, kata mas-mas basarnas.

Karena tandem, jadi setelah satu orang turun, dia harus menunggu dulu di pinggir gedung dan menginjak pijakan sementara satu orang lagi keluar lewat jendela. Yah, kalau ini tindakan pertolongan beneran, harusnya dari awal si korbannya sudah digendong sih sama penolongnya.. namanya juga simulasi.

Cukup lama juga menunggu semua mahasiswa yang ambil modul manajemen bencana turun. Untungnya sesorean itu tidak turun hujan, padahal tidak ada yang panggil pawang (eh?). Setelah itu kami semua foto bersama dengan basarnas.

85760

Tapi sudah banyak yang pulang, jadi tidak lengkap. Termasuk aku yang lagi ngecas hp di ruangan satpam 😦

Last, cerita tentang ujian OSCE. Sebenarnya, ujiannya itu dijadwalkan Kamis minggu kedua, tapi jadwalnya mundur jadi Kamis minggu ketiga. Kelompoknya juga yang tadinya 3 jadi 2 (kelompok 3 kami dibubarkan dan disebar ke kelompok 1 dan 2 .-.) Padahal pas latihan dengan basarnas dan praktikum sudah pas dengan kelompok 3, huhu. Karena itu, sebelum OSCE kami hanya sempat latihan sebentar dengan formasi baru. Sebenarnya, aku pengen dapat peran jadi evakuator saja, secara badan paling bonsor diantara populasi wanita diangkatan (hehehehe). Tapi cuma sedikit yang mengajukan diri jadi tim triase dan resusitasi, jadi aku mengajukan diri jadi tim triase. Kalau kata teman, “giliran di modul ini aja, semua cewek pada ngaku gendut dan kuat biar dipilih jadi evakuator” Hehe. Padahal yang jadi pasien bisa jadi sengaja dipilih yang overweight >,<

Akhirnya hari OSCE tiba. Kelompok kami maju pertama. Yang jadi OP adalah adik tingkat angkatan 2016 yang ehm, badannya besar-besar. Aku sebagai tim triase masuk pertama. Pasien pertama yang kutemui adalah orang yang status mentalnya terganggu, jadi teriak-teriak dan nggak mau diam. Kuberi triase merah sambil memanggil ketua buat minta bantuan tim resusitasi. Kemudian aku beranjak ke pasien berikutnya. Baca soal kemudian kasih tagging. Pasiennya ada 15 dan kalau tidak salah yang kutagging hanya 3 orang karena yang lain sudah diperiksa tim triase lainnya. Sesuai kesepakatan, setelah tim triase selesai, kami masuk posko untuk berjaga-jaga. Eh taunya kami dipanggil juga untuk bantu evakuasi. Mulai dari evakuasi yang dilapangan sampai yang dari posko ke ambulans.

Pokoknya suasananya benar-benar heboh. Yang korban ada yang teriak-teriak, yang ketua memberikan perintah, yang evakuator memindahkan pasien, yang di posko minta bantuan untuk memindahkan pasien tagging merah ke ambulans.. Rame deh! Sampai 25 menit durasi yang diberikan habis, kami berhasil memindahkan beberapa pasien tagging merah ke ambulans (Sempat terjadi miskomunikasi dengan pasien pura-puranya.. harusnya ketika sudah dimasukkan ambulans, pasiennya bisa turun sendiri dan duduk dibangku diambulans saja, biar brankar ambulansnya bisa turunkan lagi. Tapi tidak begitu, jadi sempat macet pemindahan pasien ke ambulansnya). Yang tidak berhasil dipindahkan adalah korban tagging hitam (mayat) yang kebetulan diperankan oleh adik tingkat yang berat banget (ber4 mindahinnya dengan angkatan langsung juga nggak keangkat).

Kemudian kami menonton tim kelompok 1. Mereka sebelumnya di isolasi dulu sehingga tidak melihat saat kami lakukan evakuasi. Nah, disini perbedaannya otak dengan otot (istilah kami hehe, soalnya yang di kelompok kami lebih banyak yang badannya lebih besar daripada kelompok 1). Mereka melakukan evakuasi lebih tenang, padahal jam 12 siang dan mataharinya lebih terik. Mungkin mereka juga lebih untung karena pada saat itu pasiennya sudah lebih tenang dan mendalami peran daripada saat kami tangani tadi (namanya juga pasien pura-pura).

Hasilnya? ketika diumumkan kelompok kami harus remedial 😦

Remedialnya hari Jumat, atau keesokan harinya. Kesal sih, karena harus diulang. Harus belajar lagi, harus bisa lebih serius lagi menanggapi kasusnya dan harus lebih efektif lagi pembagian tugasnya. Kelompok kami lalu berembuk kembali jam 2 siang, lepas istirahat sejenak, makan siang dan sholat. Tugasnya dibagi ulang, kali ini aku dapat tugas di posko saja sementara tim triase jadi Izo, Ratu dan Suci. Tim posko jadi peran yang dihindari juga, karena pas ujian ternyata ada beberapa pasien yang setelah di anamnesis (wawancara klinis) dan secondary survey ternyata statusnya berubah. Perubahan status ini juga nantinya menentukan mana yang harus segera dirujuk kerumah sakit, mana yang berubah statusnya jadi stabil dan bisa dipindahkan jadi triase kuning. Tim evakuator masih jadi pilihan pertama, tapi posisinya sekarang sudah disesuaikan dengan tinggi dan teknik yang sesuai. Saat diskusi juga kami membicarakan beberapa trik yang dipakai kelompok satu, dan menambahkan beberapa kesepakatan misalnya setelah tim evakuasi selesai mengantarkan satu pasien ke posko (dan ke ambulans kalau yang pasien gawat), harus tunggu instruksi ketua dulu, mau menyelamatkan yang mana lagi. Soalnya pas ujian siang tadi, fokus evakuator terpecah karena begitu banyak panggilan.

Selesai diskusi, kami tidak langsung pulang, tapi mengadakan sedikit simulasi, supaya besok tidak berisik lagi, hehe. Karena tidak punya OP, kami memakai tas sebagai teman imajinasi kami yang sedang butuh pertolongan, hehe. Tasnya bergelimpangan dengan kertas kecil berisi kasus yang kami buat sendiri (hehehe).

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(9)

Tas-tas bergelimpangan di lapangan belakang kampus.

Dan karena tugas baruku di posko, jadi pas simulasi aku tidak dapat banyak peran. Apalagi posko yang kujaga adalah posko kuning-hijau. Setelah simulasi pertama dilakukan, aku menyadari bahwa kepala posko (Nancy) yang menjaga posko merah tidak dapat menghitung korban yang ada karena terlalu sibuk. Oleh karena itu, aku mengajukan diri untuk mencatat dan menghitung korban yang masuk ke posko dan ditransfer.

Screenshot-2017-12-20 Loreniko13 on Instagram “Latihan buat remedial osce tadi sore Bersama op tas hehe” • Instagram.png

Saking gabutnya, aku bisa ngerekam latihan remedial osce! Hehe. Mau diupload ke youtube, tapi sinyal tidak mendukung. Yah, kapan-kapan deh

Hari H-Remedial. Kali ini OP-nya teman-teman kelompok 1. Jadi yang jadi korban itu Imam, Tara, Pusan, Clara dan lain-lain hehe. Yang paling lucu (karena aku cuma jaga posko dan mencatat korban plus bantu-bantu evakuasi ke ambulans, jadi bisa mengamati tingkah teman-teman yang jadi korban) itu Yayak. Teman satu sekre pas KKNku ini menghayati banget jadi korban dengan status mental terganggu. Teriak-teriak dan mukul diri sendiri. Juga Imam, yang jadi korban fraktur dan cidera servikal, berteriak-teriak seolah beneran sakit.

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(2)

Diserbu tim evakuator. Yang baju merah bukan korban pura-pura, tapi korban beneran hehe (Mas Aris staff FKIK UNIB kakinya lagi sakit, ikut memantau OSCE) sumber foto : IG @labskillfkunib

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(3)

Cla.. kamu kenapa 😦 sumber foto : IG @labskillfkunib

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(6)

Pasien tagging merah dalam posko sumber foto : IG @labskillfkunib

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(7)

Evakuasi pasien ke ambulans. Yang ini timnya bukan evakuator, tapi penjaga posko, resusitator dan tim ambulans. sumber foto : IG @labskillfkunib

Screenshot-2017-12-19 Fira Firdaus ( firafirdaus13) • Instagram photos and videos(8)

Pasien dengan tagging hitam yang menunggu diselamatkan.. yang pake jaket merah itu mas supri, salah satu staff FKIK UNIB 😀 sumber foto : IG @labskillfkunib

Tim evakuasi dan resusitasinya lebih efisien daripada kemarin, kerjanya lebih rapi karena untuk tempat peralatan dan ambulans sudah kami atur sehingga lebih mudah mengambil dan memindahkannya. Dari hitunganku, korban dengan tagging merahnya banyak banget, sampai 8 orang. Korban tagging kuning satu, tagging hijau satu dan tagging hitam 2. Sampai waktunya habis, semua pasien di posko bahkan sudah dirujuk semua ke ambulans, juga sempat laporan ke komandan. Alhamdulillah. Oleh penguji, ada beberapa hal yang terlewat dan harus diperbaiki, tapi tim kami sudah lebih baik daripada sebelumnya. Dan yah, lulus 😀

Alhamdulillah endingnya baik (kalau gagal, mesti ulang akhir tahun 2018 nanti 😥 ) Dengan berakhirnya remedial OSCE, berakhir pula modul terakhir semester 7. Bakal kangen dengan masa-masa modul, dari pengantar sampai ujian sumatif.. diskusi kelompok dan kkd, segala macamnya kuliah dan praktikum, tugas dan jurnal.. hm, selanjutnya kami angkatan 2014 bakal terpecah 😥 yang sudah selesai semua urusan pre-klinik, siap-siap masuk klinik (koas), yang belum selesai skripsi bakal lanjut penelitian, yang masih mengulang modul akan mengulang modul tanpa suasana kelas 2014, yang belum kelar OSCE (bukan yang manben) harus menunggu ujian OSCE tahun depan.. Yah semoga semuanya dilancarkan dan kita sama-sama bisa mengejar cita-cita kita ya gengs. 3,5 tahun belajar dan berjuang bersama kalian, nggak akan kulupakan :’) Sayang banget nggak semua modul bisa kutulis lengkap-lengkap ceritanya di blog ini, semoga kenangan kita bersama masih bisa terus diingat masing-masing, bahwa kita sudah melewati banyak hal, suka dan duka. Semoga BEYOND’14 tetap solid!

Screenshot-2017-12-20 Loreniko13 on Instagram “Selesai modul terakhir Skripsi (ಥ_ಥ)” • Instagram.png

Foto bareng kelompok 2 setelah remedial 🙂

Screenshot-2017-12-20  karissafaraski on Instagram “ ketua “Baik semua siap ” “Siap ketua ” “ Tim triase masuk” tim triase [...].png

Foto bareng kelompok 1 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.