Modul IKK dan ETIKA

Kembali lagi ke terror the series review modul yang ada di FKIK UNIB 😀

Yeiyy

Mulai dari awal semester tujuh ini, modul yang pertama dijumpai adalah IKK atau Ilmu Kedokteran Komunitas dengan beban sks 6, kemudian dilanjutkan dengan modul-modul dengan beban 2 sks seperti Etika, Hukum, CPD, EBM dan kegawatdaruratan.

Modul semester 7 ini berbeda dengan modul-modul yang ada di semester 2-6, karena sudah tidak membahas manusia dengan sudut pandang organ (contoh: modul respirasi (paru), modul kardiologi (jantung)). Modulnya jadi mirip modul semester pertama yang ada modul EBP3KH, Riset dan P2K2, tapi yang semester 7 lebih advance karena mahasiswanya dianggap sudah menguasai pemahaman dasar sebagai dokter. Semester 7 ini juga bisa dibilang sebagai persiapan untuk masuk klinik (a.k.a koass). Semakin dekat dengan gelar s.ked (uhuk :D)

Karena terasa seperti balik ke semester 1, modulnya jadi terasa lebih menyenangkan. Selamat tinggal buku anatomi, fisiologi, patofisiologi dan kawan-kawannya. Untuk sementara waktu, sih bukan selamat tinggal :D. Lagian kan ada tugas akhir (baca: skripsi) yang mesti dikerjakan (say hello lagi fir, dengan buku-buku tadi).

Makanya, kali ini postingannya bukan terror the series, tapi review modul. Belum sempat terasa gregetnya, tiba-tiba berakhir sudah (yang 2 sks hanya 2 minggu, sementara 6 sks artinya 6 minggu).

IKK

Modul pertama di semester tujuh! Sehari setelah kembali dari Enggano! Haha. Mujur tidak badai, sehingga kapal dari Bengkulu bisa sampai ke Pelabuhan Kahiyapu dengan selamat dan tidak delay, sehingga perjalanan pulang jadi on time. FYI, kalau kata orang sana, kapal dari Bengkulu yang biasanya terhadang badai dan harus putar balik (atau tidak jadi berangkat) karena melawan arah angin Samudera Hindia, sedangkan kalau dari Enggano jadi lebih mudah karena didorong balik. Jadi kalau mau berangkat besar kemungkinan tidak berangkat jika musim badai, tapi kalau pulang sudah pasti kalau ada kapal (nunggu kapal dari Bengkulu dulu). Dan beruntungnya hari Sabtunya kapal masuk, jadi sorenya kami bisa pulang.

Kalau naik kapalnya baru pertama kali, mungkin pas awal modul kami semua masih pusing dan terasa bergoyang-goyang. Untungnya sudah terbiasa daripada perjalanan pergi ke Enggano (dan untungnya pas pulang tidak badai sehingga pas di kapal jauh lebih nyaman, tidak seperti waktu berangkat). Teman-teman yang punya riwayat mabuk laut juga sudah lebih dahulu pulang naik pesawat, jadi semuanya sehat walafiat pas hari pertama 😀

Di modul IKK/ Ilmu Kedokteran Komunitas ini, kami punya 5 minggu belajar dan hanya 1 minggu ujian. Ujiannya hanya 2, sumatif satu dan dua, tidak ada praktikumnya. Meskipun tidak ada ujian praktikum, kami tetap harus mengerjakan laporan praktek lapangan. Ya, di modul ini kami tidak praktikum di lab tapi langsung turun ke puskesmas dan perusahaan. Seperti magang lah, tapi disana kami hanya akan observasi saja, sesuai dengan tujuan modulnya. Memahami manajemen puskesmas dan upaya kesehatan masyarakat saat di puskesmas, dan observasi k3 dan penerapannya saat di perusahaan. Asik nih, belajarnya tidak di kampus!

Jadi secara garis besar, pembelajaran di modul ini terbagi menjadi :

2 minggu awal kuliah dan diskusi kelompok di kampus

1 minggu turun ke puskesmas pagi-siang, jam 1 sudah di kampus untuk kuliah/diskusi

1 minggu turun ke perusahaan, jam 1 sudah di kampus untuk kuliah/diskusi

1 minggu akhir mengejar kuliah yang belum disampaikan, dan diskusi pemicu 5

1 minggu ujian (cuma 2 hari), kalau tidak remedial bisa libur seminggu~

Secara keseluruhan, modul ini seru karena bisa turun langsung dan anamnesis. Aku dan kelompokku dapat di Puskesmas Kampung Bali yang lokasinya tepat didalam kuburan. Nggak percaya? Percaya aja dong ya. Nanti kalau kamu jalan-jalan ke Bengkulu terus mau membuktikan dimanakah lokasi puskesmas ini, silahkan minta diantar ke simpang Kampung Bali, lalu masuk ke gang kecil kedalam kuburan, sampai deh. Kukatakan didalam kuburan karena memang didalam pagar kuburan, parkirnya dikuburan. Lebih gokil lagi kalau tahu didepan puskesmas ini ada Paud. Apa tidak serem ya sekolah didalam kuburan?

Mungkin paranoidku tentang sesuatu yang berkaitan dengan horror, mistis, itu belum hilang juga.

Apalagi sehari sebelum turun ke puskesmas (minggu), aku sempat bertanya ke Abah dimana lokasi puskesmasnya. Jujur selama 15 tahun tinggal di Bengkulu dan bersekolah didaerah ini (lumayan dekat lah Kampung Bali dengan jalan sudirman ya kan) belum pernah melihat papan nama puskesmas Kampung Bali. Kalau Puskesmas Sukamerindu tahu lah, pas semester 1 lalu studi kesana (modul EBP3KH) mana puskesemas itu besar dan dipinggir jalan pula. Lah, kalau Puskes Kampung Bali dimana? Oleh Abah, rasa penasaranku langsung dijawab dengan jurit malam dadakan ke tpu kampung bali. Padahal baru jam 8 dan simpang Kampung Bali juga masih ramai, tapi jantungku tetap berdegup kencang, dan tidak kulepaskan ujung baju Abah. Iya iya ini yang nulis memang penakut sekali.

1507306013687.jpg

Puseksmas kampung bali siang hari. Pagar kuning itu pagar paud.

Pas pagi harinya ternyata kesan menyeramkan tidak ada sama sekali, malah jadi ceria karena nyanyian kecil anak-anak Paud sebelum masuk kelas. Aku yang datang terlalu pagi (karena bareng ngantar si Abi dan Dinda yang jam 7 sudah mesti di sekolah) jadi menonton anak-anak. Di depan Paud ada yang jual sarapan (yang kemudian akan jadi tempat sarapan kami selama seminggu disini hehehe ketahuan anak FK nggak ada yang masak kalau pagi). Puskesmas juga, ketika aku datang cs-nya masih bersih-bersih.

Selain observasi, di puskesmas kami juga dibolehkan untuk melakukan wawancara dengan tim pelaksana program ukm-nya. Misalnya yang mau observasi tentang gizi atau tentang kesehatan ibu anak (KIA) boleh melakukan wawancara tentang program masing-masing. Selama tidak mengganggu kegiatan puskesmas tapi ya. Karena satu kelompok terdiri dari 13 orang dan puskesmas ini luasnya kecil, jadi tidak bisa masuk bersama-sama dan memenuhi kursi untuk pasien. Jadinya yah, agak berpencar.

Di puskesmas lain ada juga yang diberikan tugas standar seperti masuk ke poli farmasi atau poli-poli lainnya untuk membantu (sekalian observasi maksudnya) dan tugas yang unik seperti membuat video senam.

Sedangkan untukku sendiri, ada tugas khusus dari puskesmas Kampung Bali. Membantu tim promosi kesehatan (promkes) untuk membuat poster. Tidak sengaja sih, orang promkes puskesmasnya bertanya, “apa ada yang bisa desain grafis”, yang kemudian langsung teman-teman sekelompok nunjuknya ke aku. Lalu aku di brief sendiri, sedangkan yang lain mengerjakan tugas kelompok. Intinya tim promkes akan berangkat mengikuti lomba di pusat mengenai program kesehatan. Aku lupa judul acaranya (lha wong memang bukan aku yang ikut hehe) dan karena judul program puskesmasnya panjang, jadi.. ya lupa. Yang jelas tentang rokok pada remaja.

IMG_20171006_230832_799.jpg

Itu posternya yang dibelakang! 😀

Membuatnya tidak sulit, karena garis besarnya sudah ada, datanya juga lengkap sehingga tugasku mungkin cuma sebatas mengatur tata letak dan menambahkan sedikit sehingga posternya lebih enak dilihat.

Eh beberapa minggu kemudian (modul IKK sudah selesai) aku dapat kabar kalau puskesmas Kampung Bali juara dua 😀

Penghargaan pertama (yang tidak secara tidak langsung kudapatkan) pada tahun ini!

Mendengar kabar itu, aku jadi ingat 3 posterku yang pernah kuikutkan lomba tapi tidak pernah menang. Barangkali aku tidak terlalu serius menggarapnya, atau karena isi poster yang kami buat tidaklah besar impactnya bagi masyarakat, dari segi kebermanfaatan dan kebaharuan. Kedepannya harus bisa!

Kalau di perusahaan, kami datang dan observasi kemudian menemukan diagnosis berkaitan dengan pekerjaan (seperti yang ada didalam 7 langkah plant survey). Kelompokku dapat yang di perusahaan penghasil es balok. Meskipun di perusahaan es, tapi tidak dingin (hehe iyalah Bengkulu kan panas, di pinggir pantai pula perusahaannya). Yang dingin cuma es-nya, yang tersimpan dalam cetakan dibawah lantai. Untuk mengeluarkannya digunakan kotrol yang dikontrol mesin sehingga intervensi pekerja hanya ketika es-nya mau dimasukkan ke mobil/truk pengangkut. Meskipun licin tapi tetap saja capek menunduk dan mengarahkan arah es-nya meluncur.

1507305993946.jpg

Perusahaan es dan mobil angkutnya yang terbuka lebat

Setelah kedua observasi itu selesai, balik lagi ke kampus, belajar…. lalu ujian 😀

Alhamdulillah lancar. Plus, dihari kedua ujian IKK aku juga ujian proposal.

Yeiyy (selangkah lebih maju kata teman-teman).

Waktunya liburan! Mau ngerjain revisi tapi wifi lagi rusak dan keluarga besar lagi ramaaai sekali dirumah.

 

ETIKA

Duh ternyata panjang juga cerita modul IKK (sudah 1200 kata! mudah-mudahan belum bosan ya). Selanjutnya ada modul etika kedokteran yang hanya 2 sks. Materinya dipadatkan, mulai dari Kode Etik Kedokteran (KODEKI), sejarah etik kedokteran, Sumpah Dokter, etika penelitian dan tidak lupa membahas kasus yang berkaitan dengan etik salah satunya Euthanasia.

Materi euthanasia yang paling membekas. Euthanasia atau mati secara baik adalah satu kata yang mengandung begitu banyak arti dan begitu banyak diperdebatkan. Mati secara baik yang dimaksud dalam euthanasia adalah pengakhiran kehidupan yang dilakukan karena kasih sayang untuk mengakhiri penderitaan penderitanya. Contoh gampangnya adalah pasien koma yang sudah lama dirawat tanpa ada kemajuan. Apakah akan menunggu sadar atau memilih untuk mengakhiri perawatan? Dan bagaimana kita sebagai dokter menanggapinya?

Wah ini materi tidak main-main. Pun juga bukan kasus langka karena di Indonesia sendiri pasti sering dijumpai kasus seperti ini. Alasan kedua selain tidak tega dengan kondisi pasien adalah alasan biaya. Mahalnya biaya perawatan yang terlihat tanpa akhir juga jadi bahan pertimbangan. Yang jadi masalah disini, dalam kode etik kedokteran dan dalam UU yang berlaku, praktek euthanasia itu dilarang. Dokter yang melakukannya akan melanggar etik dan melanggar undang-undang. Aku ingat beberapa pasal (karena ujiannya baru 2 hari lalu) tentang menyengsarakan orang lain 304 dan 306 (2) KUHP serta 340 (pembunuhan berencana). Lha kalau begitu bagaimana dong? Meskipun alat-alat di zaman sekarang bisa memperpanjang kehidupan seseorang, tapi belum ada teknologi yang bisa membangunkan orang dari koma, kan? (CMIIW).

Euthanasia sendiri dinegara lain juga banyak menjadi perdebatan. Terutama pada pasien penyakit terminal yang sudah tidak bisa disembuhkan lagi namun masih bisa bertahan hidup sampai sekarang dengan banyak bantuan medis (obat, operasi, perawatan). Ternyata ada juga yang memilih euthanasia aktif dengan menggunakan obat yang akan membuat pasien tertidur lalu mati. Negara-negara yang memperbolehkan contohnya Belanda. Tapi tentu saja dengan aturan yang ketat dan diketahui oleh tim medis yang menanganinya. Tidak sembarang bunuh diri, begitu. Kenapa kubilang bunuh diri? Dari video euthanasia langsung dan atas permintaan pasien sendiri yang ada di youtube, pasien meminum obat itu sendiri. Lalu tak lama kemudian ngorok dan mati. Menonton video itu membuatku merinding. Satu menit yang lalu masih sempat berbicara dan mengatakan kata-kata terakhir, tapi kemudian sudah tiada, tepat didepan orang tersayang.

Setelah banyak membahas kasus dan menerima ilmu dari kuliah, 2 hari lalu kami ujian modul ETIKA. Aku agak merasa kecewa dengan hasilnya, karena ternyata aku bahkan tidak berhasil mencapai target nilai yang dibutuhkan untuk mendapatkan A.

T.T

Yah begitulah cerita modul IKK dan ETIKA. Etika berlalu cepat sekali sampai kelompok kami belum sempat berfoto bersama, haha. Tapi untungnya modul setelah ini line up perkelompoknya tetap sama 😀

1507306001164.jpg

Kelompok IKK 8/13 berfoto bersama kepala puskesmas

Stay tune ke tulisan berikutnya geng 😉

 

 

 

 

 

 

Iklan

One thought on “Modul IKK dan ETIKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.