MELTED

[Short story]

Selalu terlambat, gumamku sambil memandang jam tangan. Gadis yang baru saja muncul dari balik pintu kaca itu menyatukan kedua tangannya didepan dada, minta maaf dengan cengirannya yang khas. Aku hanya memutar bola mata, begitu terbiasa dengan keterlambatannya pada setiap pertemuan. Sejak SMA.

“Ngomong OTW-nya aja udah dari setengah jam yang lalu. Mampir kemana aja?” cetusku. Dua kantong kresek yang diletakkannya diatas meja menjadi bukti bahwa dia memang singgah ke suatu tempat.

“Oh ini,” ia mengeluarkan sesuatu dari kantong yang pertama, yang lebih besar, “kue.”

Sebelum aku sempat berkomentar, dia sudah menyibukkan diri dengan memasang lilin pada kue itu. Bukan lilin angka dua dan nol seperti usianya tahun ini, tapi hanya satu lilin. Dia lalu menyalakan lilinnya.

“Kenapa kamu yang beli sendiri kuenya? Kan kamu yang ulang tahun?” tanyaku, merasa bersalah. Aku tidak menyangka dia sampai harus menyiapkan kue, padahal makanan yang akan dipesan juga merupakan traktiran darinya.

Nia nyengir lagi, “memangnya tidak boleh aku membeli kue untuk diriku sendiri?”

“Yah, terserahmu lah.”

“Nah, kalau begitu kamu tolong nyanyikan lagu selamat ulang tahun!”

“Eh, aku?”

“Happy birthday to me..” Nia mulai bernyanyi tanpa memperdulikan protesku. Yah, maksudku kami bukan anak-anak lagi, rasanya lagu seperti itu..

Tapi ya sudahlah. Akupun mengikutinya bernyanyi. Meski kemudian aku hanya lip-sync suara Nia, ketika melihat orang-orang mulai memperhatikan kami.

Untuk kalian ketahui, aku dan Nia bukan pacar. Kami hanya teman dekat. Rasanya aku juga ingin mengatakan hal ini pada pengunjung restoran lainnya yang mulai berbisik-bisik melihat kami berdua. Hei, lagipula ulang tahun Nia sudah lewat dua hari! Dan, seharusnya ada satu orang lagi yang ikut traktiran ini. Hanya saja, dia sedang ada urusan.

“Kamu mau coba?” Nia mengulurkan kuenya dengan sendok. Melihatnya ingin menyuapiku, bisa kudengar beberapa orang mengatakan “cieee”. Aku merasakan pipiku panas. Nia tergelak melihat kepalaku yang refleks mundur kebelakang. “Biar.. biar aku suap sendiri.”

“Memangnya aku mau menyuapimu? Hahaha,” tawa Nia. Dia pasti memperhatikan air mukaku yang berubah. Ya, biasanya kami memang tidak sedekat ini. Hanya bertemu pada hari-hari penting saja, tidak seperti waktu sekolah dulu. Itupun hanya membahas buku dan lomba. Bisa dibilang kami dekat karena sama-sama kutu buku. Nia berbeda dengan anak-anak perempuan lain yang suka bergosip, dia lebih suka membicarakan karakter-karakter di buku dan komik.

Selanjutnya, kami sibuk menikmati makanan yang dihidangkan. Aku yang memesankan, tapi Nia yang membayar. Yah, lagipula mana sanggup aku membayar makanan ditempat ini. Aku sempat khawatir Nia tidak datang, takut aku disuruh mencuci piring! Haha.

Kami makan dalam diam. Nia asyik sekali makan, begitu lahap sampai-sampai ia memesan hidangan lain.

“Udah nggak diet lagi Ni?”

“Masa bodoh dengan diet,” jawab Nia sambil nyengir.

“Tak ada yang memperhatikan juga,” tambahnya dengan suara pelan, tapi masih terdengar olehku.

Tidak hanya menghabiskan makan siangnya, Nia juga menghabiskan seloyang kuenya sendiri (aku hanya makan satu sendok) dengan rakus. Rasanya Nia satu semester lalu tidak sebuas ini, haha.

“Oh iya, ini hadiah.”

Nia menerima kado dariku dengan berbinar-binar. “Makasih Rai! Tumben!” katanya saat melihat bungkus kadonya yang (kali ini) kubungkus dengan kertas kado yang bagus.

“Tunggu, kamu nggak ngasih kado DIY lagi kayak tahun lalu kan?” tanyanya. Aku memandang keluar jendela, pura-pura lupa dengan kado seadanya yang kuberkan tahun lalu. “Tahun lalu boneka kaleng kan? Haha kaleng sprite!”

“Susah itu bikinnya. Kamu ini menertawakan saja.”

“Iya iya, makasih ya,” jawabnya. Tapi masih tertawa, sampai membuatku kesal. Siapa yang tidak malu ditertawakan didepan umum seperti ini. Kalian juga tidak tahu betapa keras dan uniknya suara tertawa Nia. HAHAHAK, HAHAHAK seperti itu. Kalau sudah seperti itu biasanya dia sampai cegukan.

“Hik.. hik!” kan, baru juga dibilangin, sudah cegukan.

“Nih minum.. “ kusodorkan minumnya. Ia berhenti tertawa, tapi sepertinya raut mukanya masih ingin menertawaiku. Seakan-akan boneka kaleng tahun lalu ada diatas meja kami. “Kado tahun ini bukanya nanti saja dirumah, tertawanya dirumah saja.”

“Oke oke..” jawab Nia. “Terima kasih ya.”

Nia menimbang nimbang kado yang kuberikan, sebuah senyum terlukis diwajahnya, membuatku ikut tersenyum juga. Aku memang jarang melihatnya, tapi beberapa teman memberitahuku kalau situasi keluarganya sedang tidak baik. Kupikir hari ini Nia yang cerewet akan curcol panjang lebar. Tapi kelihatannya tidak begitu.

“Hadi nitip salam sama ucapan selamat ulang tahun,” kataku.

“Huh apanya pakai titip-titip salam. Bilang Rai, salamnya nggak diterima kalau nggak diucapkan langsung. Dia kayak nggak tahu aja, aku ulang tahun setahun cuma sekali.”

“Ya kali bisa ulang tahun dua kali setahun. Lagi sibuk dia.”

“Sibuk sih sibuk, apalah artinya 15 menit sama sahabat sendiri. Mungkin aja tahun depan nggak bisa ketemu lagi.”

“Hush, ngomongnya,” tukasku, “anak ini bukannya berdoa umurnya panjang malah ngomong yang nggak-nggak.”

“Cuma kamu yang doain aku umur panjang, doanya nggak cukup banyak Rai, haha.”

Nia tertawa melihatku bicara serius seperti itu. Mungkin tujuannya ia ingin bertemu hanya ingin menertawakanku.

Dasar.

“Ah, aku nggak bisa lama-lama,” Nia terkejut sendiri melihat jam dihandphonenya. “Rai, maaf ya aku deluan.”

Aku hanya mengangguk. Nia bangkit dari kursinya sambil membawa kantung hadiah dariku.

“Jangan lupa bayar ke kasir Ni!”

Nia berbalik sambil meleletkan lidah. Ih dasar orang itu. Kupikir dia mau kabur saja meninggalkanku dengan bon makanan, tapi ternyata dia tidak lupa dan berjalan santai ke kasir.

Kantung plastik yang ia bawa tadi ternyata lupa dibawanya. “Ni, ini ada yang ketinggalan!”

Karena penasaran, kuintip isinya. Rupanya berisi obat. Banyak sekali. Apa ini? Bukannya antibiotik atau obat-obat batuk pilek yang sering kulihat, obat alergi? Obat tidur?

Tiba-tiba saja, Nia merampas kantung plastik itu, raut mukanya berubah. Marah, menakutkan. Dan, baru saat ini aku menyadari kantung matanya yang menebal dan riasannya yang tidak biasa. Nia yang kukenal tidak pernah memakai make up. Aku tambah terkejut melihat kain putih yang ada dipergelangan tangan kirinya itu bukan manset tangan melainkan kain kasa yang dibalutkan sembarangan.

“Nia, apa-apaan?” kutarik tangannya yang ingin melarikan diri. Kantung plastik tadi kurampas. Kulempar kemeja. Lalu kupeluk sahabatku ini. Biar saja pengunjung lain berbicara apa saja.

“Jangan…” bisikku.

Nia menangis. Curahan hatinya hari itu sudah tak bisa diucapkannya lagi dengan kata-kata.


Terinspirasi saat dengar lagu Melted-Akdong Musician.

Sudah lama nggak nulis cerpen. Blog update sih, tapi nulis cerpen terakhir 2 bulan yang lalu lho! Pun ada puisi singkat yang kutulis di blog ini, itu juga sudah 1 bulan yang lalu.

Trivia yang tidak menarik ya? Biar kuperjelas, aku rindu menulis..

Menulis tiga halaman hanya karena mendengar musik rasanya asyik sekali, tidak sadar sudah satu jam saja. Coba menulis skripsi, 15 menit saja aku sudah asyik dengan HP, antara tidak peduli dengan pusing dengan tata cara penulisan riset yang berbelit.

Maaf kalau cerpennya jelek. Kebiasaan saya kalau menulis hanya sekali lewat. Tidak dikoreksi lagi, langsung post (sekali lagi tidak seperti skripsi yang mesti berulang-ulang dibaca, direvisi..).

Ah, btw seharusnya saya sudah berada di Pulau Enggano hari ini. Tapi kapalnya tidak jadi berlayar karena cuaca buruk. Bisa dibilang untung 😛 masih bisa ngetik di charlotta (nama laptop saye). Sesuai post beberapa hari yang lalu Tidak Usah Bawa Laptop? saya akhirnya memutuskan untuk tidak bawa laptop. Terima kasih saran-sarannya teman-teman blogger 😀

Iklan

3 thoughts on “MELTED

  1. Wah, berarti ini post terakhir dong, nunggu selama KKN usai..
    Dan juga Selamat ulang tahun Nia
    Masih 20, ah kalian masih muda banget, aku jadi kekihatan sedikit lebih… Ah sudahlah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s