Tidak Ada Cerita Hari Ini

Penulis yang sedang tidak menulis. Itu saye. Malah kayaknya lupa pernah jadi penulis kalau nggak diingatkan tiap 4 bulan sekali oleh surat laporan royalti buku dari Dar! Mizan. Buku-buku zaman kapan lah itu.. Haha.

Cerita dikit ah soal masa-masa jadi penulis 😀 Supaya ingat dan termotivasi buat nulis lagi.

Aku sudah menulis sejak kelas 2 SD. Belajar membaca menulis sudah dari TK tapi lancarnya pas kelas 1. Ini karena aku hobi baca majalah Bobo dan buku-buku lain yang dibawakan Abah. Zaman SD aku sudah nggak minta mainan lagi, tapi buku. Jadi kalau sekarang ditanya mau kado apa, seharusnya sudah tau kalau jawabannya standar, buku.

Selain baca majalah, aku juga senang mengisi halaman-halaman kosong. Apalagi yang halamannya warna-warni. Nulis deh. Banyak yang ngenyel, nggak jelas, tapi apa yang bisa diharapkan dari anak kelas 2 SD kan ya? Nah, beruntungnya aku punya Abah yang mendukung apa yang kulakukan, plus dia juga kerjanya di Koran, jadi ceritaku yang masih acak-acakan itu sampai bisa debut di kolom anak.

 

Duh, Fira kelas 2 SD hebat ya. Aku (Fira yang mahasiswa) sekarang nulis belum pernah diterbitkan koran lagi, haha.

P_20170618_232711.jpg

Naik kelas, Fira kecil mulai nulis di buku normal (nggak warna-warni alay karena yang warna-warni disimpan buat tukeran binder AHAHA JAMAN APA ITU MASIH TUKARAN BINDER). Aku benar-benar menikmati nulis di kelas 3 dan 4 karena teman-teman juga lagi senang-senangnya cari bahan bacaan. Cerita-cerita polos tentang sekolah imajinasiku dengan teman-teman sekelas menjadi tokohnya jadi bacaan semua orang. Aih asiknya. Tapi waktu itu, aku belum pernah menang lomba menulis apapun, haha. Mungkin karena apa yang aku tulis tidak sesuai dengan tipikal pemenang lomba. Atau memang ceritanya sama sekali tidak menarik. Haha.

P_20170618_232852.jpg

Capture

Kelas 5 dan 6, aku mulai kenal laptop dan mencoba untuk menulis disana. Lawak ban

get kalau diingat-ingat, nulisnya masih pake font Comic Sans yang alay. Cerpenku sudah jadi panjang karena bacaan juga sudah berubah jadi novel-novel terbitan Dar!Mizan. Waktu itu favoritku novel-novel buatan Sri Izzati, juga Sekar Maya. Dari sanalah aku mulai bermimpi untuk jadi penulis cilik.

Mimpi yang konyol. Tapi aku yang sekarang benar-benar berterima kasih dengan Fira kecil yang berani bermimpi seperti itu. Mungkin juga Fira kecil kalau bertemu denganku sekarang bakal marah-marah kenapa Fira besar yang punya semua gadget untuknya sendiri, punya ratusan buku dan Internet tanpa batas, tidak bisa mewujudkan fantasinya dalam bentuk buku.

Yah, orang dewasa memang pengecut.

Singkat cerita, Fira kecil yang awalnya cuma anak kurus dan tidak pernah ranking jadi penulis nasional 😀

Jaman SMP-SMA sudah ada internet, tapi karena pemakaiannya masih terbatas (paling banter juga Facebook) makanya masih bisa menulis. Pas SMP ikut lomba dan akhirnya menang. Cuma juara 2 sih, tapi itu terasa nomor satu karena akhirnya aku bisa membuat diriku diakui sebagai penulis. Pernah coba ikut seleksi FL2SN sekolah bidang cerpen kan ya, tapi entah apa yang ada dipikiranku waktu itu, bikin cerpen sampai 30 halaman 😀 Satu cuma koreksi dari guru bahasa dulu, cerpen itu untuk dibaca sekali duduk Fira. Haha. Yah, mungkin waktu itu aku terlalu yakin bahwa cerpenku sangat menarik sehingga yang baca bisa tahan baca 30 halaman langsung wkwk.

Dan dari cerpen 30 halaman itulah, Fira kecil kembangkan jadi satu novel utuh berjudul D Ryan’O. Novel selanjutnya itu The Soccer Girl, trio sama Tessia sama Marshela. Lucu sih, sama Marshela tidak sekalipun pernah berbicara tapi dia bisa melanjutkan ceritaku (aku dapat bagian tengah, Tessia awal dan Marshela terakhir). Novel Magic Writing School ditulis pas SMA, terbitnya bareng sama kumcer Jawa Jejawen. Ah waktu itu girang sekali diajak nulis untuk kumcer. Kepikiran untuk bikin 30 halaman lagi XD tapi Fira yang waktu itu sudah paham kalau nulis sepanjang itu tidak logis. Apalagi dengan kondisi tangan kanan cedera.

Lalu Fira kuliahan apa kabar? Masih menulis?

Aku mudah saja mengelak, ngampus di jurusan ini susah dapat waktu senggang. Tapi nyatanya masih sempat buka youtube dan lain-lain. Mengelak lagi, toh beberapa kali sempat ikut lomba cerpen dan memang, pernah mewakili kampus untuk membuat cerita.. Tapi apa puas hanya dengan cerpen, bukannya menerbitkan novel? Ngeblog? Berapa banyak memangnya yang baca? Fira kecil mungkin sedang geleng-geleng kepala. Memangnya teman-teman kampus kakak baca? Tanyanya.

Sedih sih kalah dengan diri sendiri. Rasanya rugi.

Tidak ada cerita hari ini. Dulu ada.

Apa yang ada sekarang? Skripzi terror, haha.

Menjadi Angin

Kenapa seseorang bisa merasa kesepian?

Mungkin karena dia terlalu banyak melamun

Atau terlalu banyak mengecek media sosial

Membayangkan orang lain dengan teman-temannya

Sedangkan ia saat itu sedang sendiri

Lalu ia berpikir, apakah ia yang menjauh atau orang lain yang berlalu

Read More »