Ranking Satu

Jujur aku belum pernah ranking satu. Kecuali juara cerpen. Dulu sewaktu masih titel pelajarpun, aku tidak pernah dapat juara satu untuk lomba apapun. Memang pada dasarnya aku yang manusia biasa ini tidak pernah mengerti kenapa orang-orang super genius bisa tinggal di dunia dan belajar seperti manusia biasa. 😀

Dari tiga bersaudara, hanya Dinda yang pernah cicip juara satu. Itu juga pas kelas tiga SD. Aku ingat karena saat itu dia dibelikan sepeda. Sepeda pink dengan keranjang. Aku iri karena sepeda terakhirku adalah sepeda kecil anak lima tahunan. Tapi setelah itu dia tidak pernah lagi juara. Aku juga. Si Abi, adik bungsuku yang hobi baca komik tapi genius matematika, berulang kali dapat tawaran menyenangkan dari Mama, agar dia sedikit bersemangat belajar. Mulai dari buku sampai jalan-jalan ke Jakarta. Macam-macam deh.

Pada dasarnya adik-adikku punya otak yang lebih encer untuk pelajaran, cuma gara-gara aku saja yang lahir deluan jadi sering ngibulin mereka XD. Tapi beneran lho, mereka kalau ujian nggak kelihatan belajar. Kalau aku? wuih seluruh kertas dan buku bertebaran diatas meja! Bisa sampai begadang! Karena aku parno kalau mengerjakan ujian tanpa bekal.

Malas, itu sebenarnya kekurangan mereka berdua. Yang satu hobi sosmed (aku juga sih, tapi kan sudah kuliah jadi lebih ke organisasi dan jaringan), yang satu suka ngomik (dan akhir-akhir ini suka bikin meme (baca: mim pokoknya bukan hal kotor ya)).

Nah, awal semester lalu ceritanya, aku bilangin sama si Abi yang sudah masuk sepuluh besar di kelasnya  (kira-kira begini)

Aku (K) : Ah sepuluh besar ajo

Abi (A) : Nanti juga naik

K : Dak mungkinlah Abi juara satu. 

A : Awas yo kalau Abi kelak juara satu

K : Mana mungkin lah, Abi kan malas sukanya min hape aja. Gini lah, kalau Abi juara satu, nanti kakak kasih seluruh uang jajan kakak ke Abi. 

A : Serius kak?

K : Tapi mana mungkinlah, haha

A : Awas yo kelak kalau Abi juara satu.

Aku yang meremehkan sebenarnya berharap si Abi terpacu (atau malah terbakar?). Dan waktu itu, mama yang melihat percakapan kami ikutan mengedip-ngedipkan matanya padaku. Soal duit hadiahnya bereslah (iyalah mau fotokopi LTM setiap minggu pake duit apa kalau semuanya buat Abi? wkwk)

Yang tidak kutahu, dari hari itu Abi sudah terbakar, atau setidaknya, memori tentang aku meremehkannya sudah masuk dalam pusat memori otaknya.

Pada pembagian rapot tengah semester, dia juara 2.

Hari ini, saat pembagian rapot dia juara 1 dikelasnya.

.

.

Good bye 500.000.

106452.jpg

P.S : foto ini dia bagikan di snapgram IGnya. Setelah lihat foto itu, segera kutelpon mama dengan harapan bantuan sponsor hadiah untuk Abi (karena dompetku yang sekarang sudah hampa seperti luar angkasa, cuma isi struk belanja aja). Si Mama ketawa aja, dia bilang “coba minta sama Abah, kan uang royalti buku kakak sama Abah…”

Lha berarti benar-benar pakai uangku sendiri nih? Omaigat.

Jual cepat ginjal dimana ya? 😛

*becanda. Aku sayang ginjalku 😀

Iklan

8 thoughts on “Ranking Satu

  1. haaha, gak usah jual ginjal juga kali mbak, wkwkwkw
    pinjem dompetnya doraemon, siapa tahu ada “alat penarik uang otomatis” wkwkwkw
    kalau aku, kayaknya SD sering deh dapet juara 1, lumayan dapet uang jatah buat contekan PR. pas SMP dan SMA kayaknya otakku mulai lelah dan mulai malas buat mikir.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s