SARJI TERROR

Benar-benar tak terasa sudah modul terakhir semester 5. Modul Syaraf Jiwa. Bisa disebut semester yang tersingkat, berlalu tanpa jejak. Tidak seperti semester satu yang penuh dengan ‘senior-things’ atau semester 2 yang penuh ketakjuban akan modul sains yang membuatmu berpikir “kupikir kita masuk fk, bukannya masuk mipa jurusan biologi” atau semester 3 dengan keheranan karena modul tingkat pertama beda rasa dengan modul-modul yang benar-benar tentang medis. Juga tidak bisa dibandingkan, antara semester 5 ini dengan semester 4 yang benar-benar penuh, padat, dan membuatmu tidak bisa pulang kampung dengan tenang pada hari raya.

Semester ini berlalu cepat, mungkin karena ada sesuatu yang membuatmu tergesa untuk melewatinya. Seperti di modul Meten, ada agenda PEKSIMINAS pada minggu ke enam, membuatmu pengen cepat-cepat kelar karena “kapan lagi berangkat keluar kota gratis pas jadi mahasiswa?”. Juga saat di modul Repro, ada agenda magang BPN, acara BEM dan Seminar Nasional Fi-Madina yang harus dikerjakan persiapannya. Membuatmu tidak merasakan bahwa hari-hari berlalu begitu saja.

Metamorfosa ini kadang kali membuatku tak siap. Sudah tingkat tiga, tahun ketiga. Nama-nama penyakit yang lewat di telingamu sudah semakin familiar. Mungkin dari seluruh tubuh manusia, yang belum dipelajari sama sekali dasarnya hanya bagian penginderaan. 3 lagi modul mayor yang harus dilewati, Penginderaan, Imunologi dan Hemato-onkologi. Selebihnya modul minor pada tahun keempat.

 

*Sesi cerita sarji jadi sesi curhat. Ya, semacam metode psikiatri untuk menghilangkan stress. Tidak-tidak, saya tidak sedang stress. Dasar medical-student disease, selalu membandingkan penyakit yang dirasakannya dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.

Akhir-akhir ini aku sering merasa sepi sendiri. Juga menahan sesuatu yang ingin kukatakan. Pernah aku posting sesuatu tentangΒ yang tak terkatakan. Itu juga bagian dari rasa sepi. Juga jika minggu-minggu ini aku sering mengontak teman lama, itu karena ya.. mungkin aku sedang shock dengan transisi ini. Tidak terasa sudah mau skripsi. Wow. Rasanya aneh sekali.

 

Anyway, dari sekian banyak modul yang kuambil (sudah 100 sks lho :D) modul ini bisa dibilang modul yang santai. Dan menyenangkan. Senang, karena tidak ada mata pelajaran anatomi, histologi, fisiologi, biokimia.. Yeah πŸ˜€ Karena semua sudah dibahas di modul neurosains (semester dua), jadi kami tinggal mengulang dengan bahasan yang lebih spesifik. Katakan halo pada stroke, epilepsi, kejang, parkinson.. juga tumor-tumor otak dan bagaimana membaca hasil radiologinya. Keren banget, menurutku, meskipun pada kenyataannya aku masih sering menguap saat kuliah (ya ya, aku tahu itu artinya ngantuk. Tapi itu tetap bukan salahku begadang, itu salah sarafku yang menyuruh untuk tidur (*ngeles))

Praktikumnya juga, hanya parasit dan mikrob yang mengharuskan kami turun ke lab. Selebihnya diterangkan lewat LCD. Kampus tercinta masih kekurangan banyak sumber daya sampel, dan alat-alat. Mudah-mudahan ditahun-tahun selanjutnya bahan peraga semakin banyak, sehingga kami bisa belajar bahwa kuliah di fk ini serius, dan bukan sekedar lulus karena menghapal gambar di slide kuliah saja.

Yang paling menarik tentu saja pelajaran tentang jiwa yang akhirnya kami dapatkan pada tahun ini. Buku kecil PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) yang sudah kumiliki sejak lama akhirnya bisa dipakai juga :D. Diagnosis gangguan jiwa ternyata tidak hanya dari satu-dua masalah, banyak sekali wawancara medis yang harus dilakukan, dan bukan hanya dengan pasien tapi juga dengan keluarganya. Kalau yang kupelajari dari ruangan keterampilan klinis, ada sekitar 15 halaman form isian yang diisi selama wawancara. Banyak, tapi menyenangkan. Yah, mungkin karena belum berhadapan dengan pasien asli, sih. #gakebayang.

Bicara soal keterampilan klinis, selain wawancara dengan pasien suspect gangguan jiwa alias konseling psikiatri, ada tiga tes pemeriksaan fisik untuk menunjang diagnosis penyakit saraf. Seperti pemeriksaan keseimbangan, pemeriksaan kekuatan motorik dan refleks ekstremitas, juga pemeriksaan nervus kranialis. Nervus kranialis itu apa? Adalah 12 nervus/saraf yang langsung dari otak, tidak seperti saraf lain yang jalurnya melewati medula spinalis atau sumsum tulang belakangmu. Belum mengerti? Hehe tidak apa-apa. Karena kalau dijelaskan disini aku harus melampirkan powerpoint sekalian biar cepat menerangkannya πŸ™‚

Baik, kujelaskan sedikit. Nervus kranialis ini sebagian besar mempersyarafi organ di wajah. Nervus satu atau olfaktorius untuk penghindu, nervus dua optikus untuk melihat, nervus tiga, empat dan enam untuk menggerakkan bola mata, nervus tujuh sebagai sensori wajahmu, nervus delapan vestibulokoklearis untuk keseimbangan, lalu nervus sembilan, sepuluh, sebelas, duabelas..

Pemeriksaannya asyik. Yah, seperti tes keseimbangan. Kalian akan segera tahu apakah pasienmu mengalami vertigo atau tidak hanya dengan menyuruhnya menutup mata dengan posisi tertentu. Atau merasakan sensasi aneh yang rasanya bukan dari dirimu tapi dari dirimu sendiri saat dipukul palu refleks? Amazing. Betapa otak diciptakan Allah dengan begitu sempurna. Kau akan segera tahu bagian kabel yang mana yang rusak dengan melihat bagian luarnya, tanpa harus mengubek-ubek pusat dayanya.

Ah, membuatku ingin sekali membuat buku tentang mahasiswa kedokteran. Eh, kenapa tidak?

Berkecimpung didunia medis tidak membuatku hilang kesempatan untuk mengejar mimpi, kan? πŸ˜€

Oh satu lagi. Kalau tahun lalu pertama kali aku mengenal Niko dan Corridor Digital, bulan ini aku baru saja berkenalan dengan yang namanya Grey Anatomi. Dari 292 episode baru kutonton 27. Masih banyak amunisi untuk liburan semester ini dan liburan semester selanjutnya, haha :D. Drama korea lewat deh dari serial tv ini. Lewat Grey juga, aku jadi terinspirasi bagaimana memulai suatu cerita, membaginya dalam ketegangan dosis tertentu dan selanjutnya tahu bagaimana mengakhirinya dengan akhir yang tak dapat ditebak (mereka tidak main-main dengan nyawa, benar-benar diperhitungkan dari sisi medis dan bukan karena oh dia pemeran utama, dia nggak akan mati. No no.

Sampai ketemu di Penginderaan terror πŸ˜€

Aku agak galau untuk memilih apakah yang satu ini bisa dibilang terror atau tidak, karena dari atas kudeskripsikan sebagai modul yang baik. Tapi, terror masih menang, karena aku masih khawatir apakah bisa melewati ujian dengan baik. Ini sudah mau minggu keempat tapi aku belum punya persiapan. Besok juga formatif. HELPPP πŸ˜€

 

s__125468685
Leader camp! Baca di Sabtu Ceria, Upgrading Pengurus BEM! [LEADER CAMP BEM KBM FKIK UNIB 2016]
IMG_3684.JPG
Foto lainnya tentang seminar nasional akan menyusul dengan tulisan selanjutnya πŸ˜€ *aku punya seluruh fotonya. Tebak saja siapa seksi pubdekdoknya πŸ™‚

 

Iklan

7 thoughts on “SARJI TERROR

  1. Dalam pelajaran komunitas saya, ada kaidah yang berbunyi: kamu boleh jadi anak Teknik, tapi kamu tidak boleh gagap filsafat, sosial, politik, agama, seni budaya, literasi, pendidikan, dll.

    Semangat, Fir πŸ˜ƒ

    Disukai oleh 1 orang

  2. Luar biasa.. tapi jgn lupa pd modul yg membawa pencerahan yg tentu modul terbaik dr sekalian modul yg ada, semakin banyak membacanya semakin menambah keasyikan, ratusan sks-nya akan semakin membuat jiwa lapang..hehe

    Lanjutkan perjuangan πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s