Tuan Mei

Terinspirasi dari tulisan di blog Maya, Tuan Oktober šŸ˜€

*Akhirnya setelah sekian lama, dia bikin tulisan lagi di blognya, haha.


Aku tidak tahu harus menujukan tulisan ini padamu atau tidak, tidak peduli ini kau baca atau tidak, pun apabila terbaca, akupun tidak mengharapkan apa-apa.

Dan kuharap ini tidak terlihat seperti surat cinta, haha.

Bagaimana ya mengatakannya?

Hampir sebulan di modul reproduksi, membuat hampir semua orang jadi galau. Termasuk saya. Bukan karena materi tentang xx yang menjadi landasan teori fisiologis dan anatomis, tapi pokok bahasan mengenai kehidupan dewasa, menikah, dan seterusnya. Di modul ini kami belajar banyak. Dan menyenangkan. Semua ilmu terasa penting, bukan hanya untuk mengedukasi pasien tapi juga jadi catatan penting untuk pribadi masing-masing.

Berbagai resiko yang diterangkan pada pasangan tua sebenarnya sudah dijelaskan pada modul tumbuh kembang pada semester 3 lalu, tapi untuk resiko tumor dan kanker baru diterangkan di modul ini. Diam-diam, pemikiran itu membuatku ingin mengubah rencana cari pasangan nanti-nanti dan menepis misi “menikah setelah spesialis”. Ya tuhan aku tidak sanggup ngitung berapa tahun dan berapa biaya yang mesti keluar untuk mencapai tingkatan itu, wkwk.

Yah, semua itu mengarah pada satu bahasan, pasangan.

Aku tidak bisa mengatakan sejak kapan aku mengagumimu. Dan tidak bisa alasannya apa. Toh jika dipikir-pikir, mungkin karena galau-masa-puber. Atau mungkin ketika itu aku hanya kepengen punya bahan omongan yang bisa kuceritakan pada teman-temanku. Mungkin itu.

Bicara denganmu seru, meskipun rasanya aku hanya membicarakan apa yang kupikir akan membuatmu tertarik. Yah, soalnya kita tidak satu daerah. Darimanakah perempuan ini dapat keberanian untuk mengontakmu? Aku juga tidak tahu. Dan kalau dipikir-pikir, konyol juga caraku menarik perhatianmu. Hehe.

Mungkin kamu bisa menyalahkan teman-temanku yang terus menggoda, kapan fira bicara cinta?

Orang-orang mungkin gemas padaku yang tidak pernah bicara apa-apa soal masalah ini. Adanya juga menggoda orang yang lagi galau. Atau sibuk nyomblangin si ini dengan si itu, sibuk ikut-ikutan dengar gosip kenapa dia putus dengan orang ini dan kenapa orang itu cepat sekali dapat pacar baru, padahal akunya sendiri tidak tahu apa-apa. Penonton. Pun dalam kisah-kisah yang kubuat, aku juga hanya duduk sebagai pengamat, memperhatikan apa yang tokoh-tokohku perbuat dalam dunia imaji.

Aku juga mau membicarakan itu, tapi rasanya belum saatnya. Pun juga untuk membicarakan Tuan Mei, aku juga tidak yakin. Seperti wanita milenium lainnya, aku juga dilanda kebingungan untuk menyatakan atau menunggu. Tapi diatas dua pilihan tersebut, aku pikir lebih baik untuk tidak melakukan keduanya.

Menyatakan hanya akan membuat kisahnya berlangsung pendek, tidak ada jaminan kisah itu memiliki ending. Juga menunggu hanya akan membuatmu membaca satu halaman kisah berulang-ulang kali.

Jadi Tuan Mei,

Kubiarkan kenangan tentangmu kututup dalam-dalam dulu. Kutumpuk diatas buku-buku lama, dan tak kubiarkan orang lain menemukan keberadaanmu. Aku juga akan berhenti membicarakanmu ditengah-tengah pembicaraan kosong. Aku ingin terus menebak-nebak, tanpa membayangkan, apa yang akan terjadi kelak. Sampai saat itu tiba, jadilah orang yang benar untuk orang yang tepat, yang digariskan pada kita masing-masing.

 

-Fira


Mudah-mudahan sehabis ini saya tidak galau lagi šŸ˜€

Juga, saya akan berhenti jadi stalker. Entah untuk jaman ujian saja, atau seterusnya, wehehe. Maaf ya sudah mengamatimu diam-diam.

Iklan

7 thoughts on “Tuan Mei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s