Anak-anak Poseidon (Cerpen PEKSIMINAS)

​Sudah 1 bulan lewat dari lomba tingkat nasional pertamaku. Hm, rasanya rindu berjalan-jalan di Kendari, naik perahu kecil ke Bokori juga lari-larian dan manjat di Wisata Mangroovenya. 

Selepas acara tersebut, teman-teman dari tangkai lomba cerpen dan aku masih tetap berkomunikasi. Lalu Robi, dari Bandung berinisiatif untuk mengumpulkan karya cerpen kami. Wow. Ide bagus. Aku juga pengen banget baca karya-karya para pemenang. Biar tau bagaimana jenis karya yang mencuri hati para juri. Hehe. FYI saya belum beruntung kemarin, tidak ada peringkatnya juga jadi belum bisa membanggakan provinsi saya 😦 

Sebulan kemudian, hari ini, Robi akhirnya mengirim cerpen yang sudah di kompilasikan ke email kami masing-masing. Sayang sekali baru 17 yang mengirim. 9 orang lagi hilang kontak, bang Ile juga yang tidak masuk grup line tapi ada di bbm pas dikontak ternyata iya-iya nya hanya janji-janji. Huft. Padahalkan, kalau lengkap bisa dijadikan kumcer dan diterbitkan. Hm. 

Kan nambah satu karya yang diterbitkan 😀

Cerpenku berjudul Anak-anak Poseidon. Lain daripada yang lain, ketika yang lain bikin cerita dengan setting di kendari atau pesisir pantai (karena temanya menjaga ekosistem laut) aku bikin didalam laut. Wuahahaha (sekendaknyo bae). Tentang masa depan. Ketika daratan sudah menjadi abu. 

Kupikir bagian yang itu bagus. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kenapa tidak lautan saja yang mengering? Atau berubah jadi keruh, jadi laut mati. Ditambah chaos gila-gilaan, pasti keren. Semuanya tentang penyesalan. 

Out of the box itu yang pemikiran utama yang kujadikan dasar rangka cerpen. Melupakan bahwa ini adalah acara nasional, dan diajak hunting hari sebelumnya pasti punya maksud tertentu (tidak benar-benar lupa sih, 4 jam setelah menulis Anak-anak Poseidon, aku sudah mulai kepikiran. Tapi dengan pedenya aku menepis pemikiran tersebut sambil makan cokelat, ah begini juga bagus). Setelah introspeksi dan belajar dari cerpen-cerpen pemenang, baru aku sadar bahwa mengambil fokus rakyat itu juga bagus. Apalagi pas dialognya memakai bahasa asli daerah. Makin kerasa feelnya, dan nggak terasa bahwa sang penulis itu bukan orang sana. 

Baru setelah baca cerpen peserta lain, aku mengambil kesimpulan bahwa lawan-lawanku memang kuat. Jika dalam perlombaan lokal aku bisa menebak mana yang menang dari susunan kata dan eyd, juga dari margin dan font, kali ini tidak bisa! Mungkin karena notabene peserta adalah anak jurusan bahasa di kampus masing-masing dan tentunya sudah mengikuti seleksi daerah, maka kemampuannya menyusun kalimat dan paragraf tidak usah diragukan lagi.

Apalagi untuk jalan cerita dan prespektifnya. Meskipun satu tema dan amanahnya kurang lebih sama mari jaga laut! Tapi kemampuan mengarangnya pada jago. Pun dengan cerita yang slow (istilah kusendiri, maksudnya jalan ceritanya nggak tap-tap-tap cepat tapi ngalir saja begitu -apaan sih. Maaf kalau tidak mengerti), ceritanya tetap menarik untuk dibaca. 

Aku paling suka punya Wika. Si pendiam (pas hunting pendiam, di Line ribut banget dengan sticker khasnya (wkwk wikaaah :D) ini adalah juara satunya peksiminas kemarin. Ceritanya pahit, menyedihkan, tentang anak bajo yang kehilangan mama dan bapak. Kemampuannya menuturkan kisah kuancungi jempol. Kayaknya terlalu lama membaur dengan anak-anak kampung bajo (sampai hampir ditinggal bus) membuatnya fasih bahasa sana, padahal dianya dari Jogja. Salut! 

Nah, itu tadi pengantarnya. Cerpennya ada dibawah ini. Aku minta saran dan kritik dari teman-teman, mudah-mudahan bisa turut membangun kemampuan saya dalam merangkai cerpen pada kemudian hari. Selamat membaca 😀

 *nulisnya pake hape. Jadi kalau ada yang salah mohon diingatkan 🙂


Timur membuka tasnya sekali lagi, memastikan alat peledak itu tidak tertinggal. 

Ia baru berumur lima belas tepat tiga hari yang lalu, dan siang ini ia akan mengakhiri hidupnya—

—juga kehidupan seluruh umat manusia lainnya. 

***

Ah, apakah kalian sudah tahu bahwa generasi sekarang tinggal dibawah laut?

Sudah seratus tahun berlalu sejak perang dunia ketiga. Banyak sekali yang berubah. Salah satunya adalah kegagalan umat manusia mempertahankan daratan, yang tak kuasa menahan puluhan nuklir yang saling dijatuhkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. 

Kemudian manusia yang tersisa, dengan sedikit kepintaran dan banyak keberuntungan, membangun suaka baru dibawah laut. Kami menyebut dunia baru ini sebagai surga bawah laut.

Disini surga, meskipun setiap hari kau akan berjalan ketempat yang sama bahkan dihari libur karena memang tidak ada yang bisa dikunjungi. Juga meskipun kamu harus makan ikan setiap hari. Yang jelas, tidak akan ada orang yang menghadangmu dengan pistol hanya karena kau berbeda pendapat dengannya, tidak ada radioaktif yang bisa membuat sel-sel tubuhmu bermutasi menjadi kanker, dan yang lebih penting, tidak ada yang membeda-bedakanmu hanya kau punya kulit hitam atau percaya bahwa Tuhan cuma satu.

Karena bagaimanapun, kami telah lolos dari perang. Juga dari kiamat-kiamat yang dihasilkan oleh perang itu.   

Semuanya bilang begitu, kecuali Timur.  

“Timur dimana?” panggil Bu Aiko, guru biologi kami. Beberapa teman sekelasku menggeleng tidak tahu. Beberapa berpendapat bahwa anak itu ketiduran di ruang ganti sehabis olahraga tadi.  

“Semuanya tenang!” tegur Bu Aiko tegas. “Buka buku kalian, halaman 107.”

Yah, tentang ikan lagi. 

Tidak seperti Timur yang setiap hari menghabiskan sebagian besar oksigennya untuk berdiam didalam air bersahabat dan biota laut—kerjaannya yang tidak berguna itu—aku lebih suka belajar. Apalagi sains, fisika.  

Kita pintar. Meskipun daratan sudah luluh lantak sekalipun, manusia masih bisa hidup dibawah air. Bukankah itu hebat?

“Psst, Ar!” 

Aku menoleh, dibelakangku Rinta mengulurkan secarik kertas yang terlipat dua. “Dari siapa?” tanyaku sambil membuka lipatannya. 

“Nggak tau dari siapa. Kutemukan dilaciku tapi tertulis untukmu,” sahutnya agak kesal. “Bilang pada kekasihmu agar tidak salah kirim lagi.”

“Sembarangan saja kamu Rin…” Ucapanku menggantung dilangit-langit, ketika kulihat tulisan didalamnya. 

Meskipun kamu melarang, keputusanku sudah bulat. 

Anak itu!

*** 

Kamu tahu bagaimana caranya menjaga keseimbangan alam?   

Musnahkan saja manusia. 

Nuklir sudah melakukan sebagian besar tugasnya, sekarang tinggal orang-orang sok yang berpikir mereka bisa membodohi alam—dengan bertingkah menyerupai ikan. 

Timur melangkah dengan yakin, tujuannya cuma satu.

***

Aku ingat, idealisme Timur ini berawal ketika mereka menonton Poseidon O2 Project dari dekat. Kelas 6 Sekolah Dasar. Anak itu menangis sambil memukul-mukul pembatas kaca, tidak tega melihat ratusan ikan mati lemas didepannya. 

“Ini tidak adil! Kenapa cuma manusia yang dibiarkan hidup?!”

Demi mendengar pernyataan itu, tidak ada petugas maupun guru yang menjawab. Anak-anak lain hanya menatap Timur dan ikan-ikan tak bersalah itu bergantian, tidak tahu harus melakukan apa. Pemikiran polos mereka ikut bertanya hal serupa. Kenapa manusia se-egois itu? Alih-alih mendapatkan jawaban, Timur malah diseret keluar ruangan untuk ditenangkan.

Untuk mendapatkan oksigen, manusia harus mengumpulkannya dari air dan menambahkannya dengan atom-atom unsur lainnya. Karena masih kecil, kami tidak dijelaskan bagaimana proses lengkapnya. Tapi satu hal yang pasti, hanya dengan alat itulah kami masih bisa bernafas sampai sekarang.

Ikan-ikan itu berada tepat dibawah pembuangan limbah pabrik.

Semestinya para petugas tidak memperlihatkan bagian itu pada kami. 

***

“Hei, kamu mau kemana?”

Timur menghentikan langkahnya. Ia berbalik, seorang petugas keamanan sudah berdiri disana.

“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk! Kamu tidak melihat tandanya?”

“Maaf pak, saya…”

***

Selama datang di Akuarium. 

Harapan terakhir umat manusia. 

Kita boleh gagal bermukim di mars, 

tapi kita tetap tidak boleh kalah.

***

“Kita boleh gagal bermukim di mars, tapi kita tetap tidak boleh kalah,” senandung Timur. Aku menemukannya, duduk didepan kaca pembatas antara kota dengan lautan. Matanya menatap kosong kearah lautan. 

Ia mengikuti nada yang terdengar dari kejauhan. Lapangan mulai ramai dengan orang-orang yang akan merayakan hari kemenangan. 

“Lirik lagu itu lagi,” jawabku. 

“Hari ini adalah hari yang menandai seratus tahun kemenangan umat manusia. Apa kamu tidak mau menyanyikan lagu kebangsaan?”

Aku tersenyum kecil. Timur kemudian menepukkan lantai disebelahnya, menyuruhku duduk. Kami berdua kemudian duduk bersisian memandangi kedalaman laut. Sudah lama sekali tidak ada ikan yang melintas diperairan ini. Warna airnya yang biru tua itu menyiratkan kegundahan dan keputusasaan. 

Sejak kecil, aku dan Timur sering kesini. Dan Timur akan selalu menanyakan hal yang sama, 

“Bagaimana ya, rasanya hidup diatas permukaan?”

“Pasti menyenangkan…”

“Yang namanya matahari itu seperti apa ya?” gumam Timur. 

Selalu, karena dimatanya akulah yang terpintar. 

Meskipun aku lebih sering mendiamkan pertanyaannya itu, seperti sekarang. 

“Ar, aku sudah gagal.”

“Artinya keputusanmu belum bulat betul,” jawabku sekenanya, “Dan dengan begitupun, kamu sudah membuktikan sekali lagi bahwa kita ini benar-benar makhluk yang tidak berdaya.”

“Benar.”

“Lalu dimana peledaknya?”

“Direbut oleh penjaga. Tapi dia pikir itu cuma mainan.” Timur meremas tangannya kuat. 

“Ar, aku muak. Muak sekali. Semua hal dalam dunia bawah laut ini, semuanya. Kemenangan ini benar-benar menjijikkan. Kita mengambil nafas mereka, memakan mereka, bahkan menghancurkan ekosistem mereka. Bagaimana seseorang bisa menang dengan begitu banyak hutang dalam menunjang hidupnya? Semua ini omong kosong Ar. Aku tidak tahu kenapa aku masih hidup dengan keadaan memalukan begini!”

Matanya benar-benar dipenuhi rasa frustasi. Tidak terhitung berapa kali ia menyerahkan tuntutan pada pemerintah, pada para ilmuan, pada semuanya, mengenai kehidupan laut yang mereka abaikan. Tentang komunitas lain yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri. 

Aku menarik Timur dalam dekapanku, memberikannya pelukan yang amat kuat. Kuusap rambut Timur yang acak-acakan, mencoba memberikan dukungan baginya. 

Isakannya perlahan mulai melemah, kemudian pelukannya, lalu nafasnya. 

Kami berdua, tidak, seluruh populasi manusia yang hidup didalam akuarium kemudian tercekik dan tidak sadarkan diri. 

Suara ledakan pada pipa-pipa udara itu..

..hanya aku saja yang mendengarnya. 

***
Bonus foto foto dari pantai Bengkulu. Provinsi saya 😀

Meskipun rindu Kendari, saya tidak begitu rindu dengan pantainya. Karena disana pantainya tidak punya ombak. Di sana lautnya cenderung tenang. Sini coba main ke Bengkulu, lihat pantainya penuh dengan ombak bergulung-gulung. Seperti mau ditelan. Haha. Lah matahari saja ditelan apalagi manusia. #ngejoke, tapi garing. Hehehehe 

Btw tolong dikomen ya cerpennya. Salah satu kekuatan yang bisa mendorong saya untuk tetap menulis sampai sekarang, itu adalah kritik dari pembaca. Kalau kata-kata semangat saja, ga mempaaan. 

*malah guling-guling nonton youtube di kamar, wehehe. 

Iklan

21 thoughts on “Anak-anak Poseidon (Cerpen PEKSIMINAS)

  1. Di bagian akhir saat ‘surga di bawah laut itu akhirnya meledak’, mungkin kalo diberi sedikit lebih banyak narasi, bagaimana ledakan itu menghancurkan tempat tinggal ‘terakhir’ manusia, mungkin akan lebih greget, dan lebih terasa tragic momentnya.
    Ini hanya sedikit pendapat saja…atau mungkin bagian dari imajinasi saya sendiri.hehehe
    Well, terlepas dari itu, ide cerpen kamu, saya suka. Asli. 😁

    Suka

    • Fira sering bikin ending menggantung karena cuma disitu bisa dibiarkan pembaca berimajinasi. *dan karena itu juga sering dikomentarin tidak bisa bikin ending 😅. Mungkin kedepannya bakal diperbaiki 😀 makasih ya kakk

      Disukai oleh 1 orang

      • Ya..beberapa penulis memang punya ciri khas nya sendiri. It’s okay kalo itu sudah jadi khas kamu membuat ending sebuah cerita.
        Pada akhirnya, semua kembali kepada penulis. Meskipun bnyak menerima pendapat, tetapi penulis yg memutuskan dan menentukan segala sesuatu pada karyanya sendiri, 😊

        Suka

  2. cerpennya ya? idenya out of the box! kalau boleh kasih saran, mungkin perbanyak show daripada tell nya. 🙂
    “Untuk mendapatkan oksigen, manusia harus mengumpulkannya dari air dan menambahkannya dengan atom-atom unsur lainnya. Karena masih kecil, kami tidak dijelaskan bagaimana proses lengkapnya. Tapi satu hal yang pasti, hanya dengan alat itulah kami masih bisa bernafas sampai sekarang.”
    ini misalnya, mungkin bisa diganti dengan.
    “Galon- galon besar berjajar di ujung aquarium. Berbunyi meraung di waktu tertentu, sebut saja pagi, karena kami tak mengenal konsep terbenam dan terbitnya mentari. Gelontoran air laut masuk dari cerobong satu keluar ke cerobong lain di sisi luar. Sementara bagian yang menghadap jendela kelasku dua buah baling- baling besar berputar perlahan. Guru ipa bilang disana oksigen dihasilkan dan karbondioksida diuraikan.”
    *sok sok an banget sayaah.

    Suka

  3. soal cerpen sy tdk bisa ngasih komentar krn sy jg masih awam soal beginian, tp sy asal kendari, 🙂 pantai Kendari memang tdk mempunyai ombak yg bergulung” kyak dibengkulu, bkn berarti tdk punya ombak. mungkin krn km cuman berkunjung di satu lokasi sj, pantai di Kendari punya ombak tp tdk sebesar pantai di sekitaran daerah lain. bukan belain, Kendari memang tdk terkenal dengan pantainya tp terkenal dengan surga bawa lautnya letaknya di Wakatobi. hmm salam kenal sj dari sy ^^ semoga komentar teman2 diatas bisa menjadi masukan dan jadi motivasi 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s