Pluviophile

Aku jatuh. Bukan ketanah hanya keatas aspal hitam nan keras. Kudengar suara krak dari dalam kepalaku sendiri. Besar sekali seperti mendengar suara petir. Karena momentum, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali kaget. Kalian tahu kan, reaksi macam apa yang hadir ketika kaget? Benar, tubuhmu tiba-tiba akan kaku dalam sekejap, dan rasanya ratusan saraf ditubuhmu akan segera menyalurkan rangsangan secara mendadak ke otak sehingga rasanya pikiranmu jadi beku. Tidak bisa bergerak.

Sesaat setelah momentum itu, aku berteriak.

Keras-keras.

Meskipun suaranya hanya berakhir didalam mulutku. Leherku tercekat. Aku tidak bisa bersuara. Sekelilingku yangbersuara. Mereka mewakili teriakan panikku. Beberapa bergegas mendatangiku.

Hmm.. bau amis darah.

Lalu kemudian hujan. Seakan tuhan benci pada darahku yang telah mengotori jalanan-Nya, Ia menyapu setiap titik darahku yang tertumpah disini.

Semuanya benci padaku.

Diantara kegelapan yang mulai merasuki pengelihatanku, aku mencium aroma lain. Petrichor?

Dari rintik-rintik air yang membilas tubuhku dari luka, kurasakan bau damai dibawah sini. Kamu tidak tahu, karena kamu sibuk berteriak mengamankan lukaku, leherku, dari cedera yang lebih parah. Kalian tidak mengerti, sebelum badanku diangkat beramai-ramai di tengah hujan begitu, aku sedang menikmati hawa hangat yang memelukku dari rasa ketakutan. Juga aroma yang khas itu, seakan bilang padaku,

“Berdansalah dengaku.”

Lalu kuhirup dalam-dalam semua rasa yang tertumpah bersama hujan itu, kemudian melangkah keatas lantai dansa.

***

“Kamu memang laki-laki gila. Sudah kubilang aku hanya bisa ditemui Kamis depan,” gerutu Intan dari ujung sambungan. Aku selalu rindu dengan suaranya. Maka meskipun dikatai gila, tetap saja kubalas begini,

“Aku memang gila mencintaimu, sayang.”

Jangan menggombal, aku tidak akan balas.”

Aku menggenggam erat mawar yang baru saja kupetik, nampak indah dan menawan. Seperti Intan. Ah, perempuan mana yang tidak suka dipuja?

“Kalau begitu balas saja perasaanku,” kataku sebelum sambungan diputuskannya. Begitu perangai sang mawar merah tajam bukan main. Meskipun ia tunanganku, dan akhir minggu ini akan menikah, dia masih seperti itu.

Ini karena dia tidak senang diganggu disela-sela pekerjaan kantornya. Aku yakin. Kamis depan? Terlalu lama untuk membiarkan sebatang mawar layu. Oleh karena itu, aku duduk didepan gedung kantornya. Menunggu dibawah langit mendung yang tak lama lagi menguraikan cintanya pada bumi lewat tetes-tetes hujan.

Duhai mawar, lekaslah keluar.

Belum lama menunggu, kulihat sosoknya begitu anggun menuruni tangga lobi. Kantor notaris itu menggunakan kaca tembus pandang, sehingga aku dapat mengenalinya dibalik balutan blezer abu-abu satin itu.

“Intan!” panggilku. Kemudian menyeberangi jalan tanpa berpikir.

Seketika itu, kulihat sosok tinggi dengan pakaian yang tak kalah necisnya, memeluknya dari belakang, kemudian mencium lehernya.

Dan kebetulan, sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi menghantamku dan melemparkanku lebih tujuh meter dari hadapannya.

***

Hujan.

Kamu membuatku lupa rasa sakit

Membuatku ingat akan kenangan lalu yang indah.

Bagaimana kalau kau jadi kekasihku saja?

 

banner-giveaway-cerita-hujan1.jpg

Giveaway “Cerita Hujan”
Merupakan cerpen yang dibikin malam-malam jam 00.52, tanpa berpikir panjang, hanya berasal dari sebuah kata rindu yang dibikin hujan setiap turun menyapa penggemarnya. Pun setelah dibikin nggak kubaca lagi XD. *benar-benar tulisan kilat. Ikut partisipasi aja di acaranya Bang Agung 😀
Terima kasih telah mengingatkan saya dengan aroma itu, perasaan itu, dan juga orang itu 🙂

Iklan

5 thoughts on “Pluviophile

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s