Kendari Day 5!

15/10/16 Ah leganya sudah lombaaaa!

Pagi inipun bingung mau kemana. Rasanya malas beranjak. Tapi karena ingat sarapan hotel ini sungguhlah terbatas, maka aku cepat-cepat bergerak dan mandi!!

Betul dugaanku, pas keluar rupanya sudah habis telurnya. Setengah potong cuma yang tersisa, dan langsung kuselamatkan dalam piring. Mbak Lingce malah nggak dapat apa-apa, cuma teh 😥 Di resto bertemu Dea, Novi, Kak Putri dan Bang Denis. Sehabis sarapan, aku buru-buru ikut mobil yang akan mengantar Dea monolog. Cus!

P_20161015_085533.jpg
Panggung monolog sebelum lampu dimatikan! luas bingo!

Sampai ke auditorium. Tempatnya keren, disetting super gelap dengan kain hitam. Diatas panggung sudah ada toilet (?), properti dari penampil pertama mungkin. Juga, lampu sorotnya keren! Mungkin karena aku belum liat panggung dangdut, pop dan juga puisi jadi nggak bisa membandingkan.

P_20161015_092751.jpg
satu
P_20161015_102324.jpg
tiga

Dea tampil keempat, jadi ada 3 performance yang bisa kutonton (setelahnya pengen kabur maksudnya. Hehe). Nah, keempat monolog yang ditampilkan semuanya berbeda-beda. Yang pertama abangdari Aceh yang menceritakan kisah wanita tanpa mulut. Dia tampil cuma dengan handuk pink melingkar di pinggang. Masuknya dengan joget cantik, rambutnya yang panjang sempat bikin aku pangling. Tapi mana mungkin cewek kalau pake handuk di pinggang! XD. Berikutnya tentang TKW, penampil dari Banten. Jawanya mendok bangeeet 😀 Selanjutnya dari Maluku (lupa) dia membawakan tokoh laki-laki bejat yang bejat (?) Aku kurang mengerti, dan dia juga sebenarnya adalah perempuan. Kasihan suaranya sudah serak, mesti berteriak karena di panggung tidak memakai mic.

P_20161015_103703.jpg

Wah

Wah

Aku ngerekam. 20 menit. Tapi terlalu besar untuk kumasukkan kesini. Lagipula aku nggak tahu apa Dea mau penampilannya kemarin disiarkan. Karena kalau aku jadi Dea, aku nggak akan mau. Malu!

Salut untuk Dea yang sudah berjuang sekuat tenaga memerankan Sarinah dan membuat banyak orang yang menangis!

Kemudian kami keluar. Didepan pintu auditorium, sudah ada cetakan poster dan foto-foto dari peserta fotografi. Wih keren-keren. Yang mbak Lingce juga ada. Tangan mbak Ling yang putih benar-benar ngeblend dengan batu-batuannya yang cantik! Meskipun terlihat sederhana, tapi desainnya segar dan nggak bikin sakit mata! Kerenlah pokoknya.

Untuk karya yang lain, aku ga tau.. belum ditempel sih. Tapi karena itu sudah jam 11, dan lapar, maka kami mohon izin makan di cafetaria dekat auditorium. Makanannya biasa, tapi mengenyangkan. Aku agak sakit perut setelah itu, dan kemudian mencari wc. Lama berputar-putar disana aku nggak liat wc. Adanya tempat keran-keran. Kutanya pada orang-orang, memang bangunan krem inilah wcnya. Sayangnya hanya ada satu pintu terbuka, dan dari sana laki-laki dan perempuan bergantian masuk. Tidak usah dipikir negatif, yang jelas baru kali inilah kulihat toilet campur XD. Dan karena sudah geli-geli ngilu melihat kondisi Wcnya, sakit perutku hilang sudah. Dan saat kembali, mbak Lingce katanya sudah selesai ke WC juga yang didekat auditorium. Duh!

Selanjutnya ke expo. Pengen belanja baju peksiminas. Harganya masih mahal, 75 ribu. Beli barang-barang musiman kayak gitu memang seharusnya pada hari terakhir (dijamin obral!). Buktinya, Kak Putri aja belinya 100 rb, lha yang pas kami ditawarin cuma 75. Itu juga masih bisa dibawa turun.

Namun, karena panas, kami membatalkan transaksi dan jalan-jalan saja keliling expo. Cuacanya panas menyengat gitu, menyeramkan sekali berdiri dibawah matahari. Akhirnya kami buru-buru kabur. Eh sebelum itu, kami berfoto di latar spanduk peksiminas besar beserta cabang-cabang lombanya. Difotoin polisi :D.

Kemana kita? Ngemall! Buat beli baju khas kendari, tapi belinya di Matahari! Haha. Soalnya beli 3 gratis 2. Artinya 70 rbx3, 210 rb, dapat 5. 42 ribu satunya! Yey. Mujur juga sih, kan kalau di toko sovenir malah bisa lebih mahal. Ke Lippo naik angkot, seorang 5000 rupiah. So hot! Setelah itu makan di mokko dulu. Dan karena pengen donat (dalam hati aja pengennya, ngomongnya pengen minum), aku membujuk mbak Lingce buat beli Frappe. Harganya 34 ribu. Bonus 3 donat. Yang kusesali kemudian adalah, 2 frappe 68 ribu. Donat satuannya 7,5, sekitar 22,5 ribu. Artinya segelas minumnya itu 21 ribu. Termasuk mahal boi! Ya udahlah, yang penting donatnya enak!

Jpeg
Kak Lingce-Poster

Setelah itu jalan ke Bravo. Disana barulah membeli oleh-oleh yang macam-macam. Karena orang seIndonesia kayaknya kesana (maksudnya banyak peserta peksiminas juga), jadi barang-barangnya cepat abis, apalagi yang murah XD. Kain tenun khas Tolaki aja yang murah tinggal 2. Yang lainnya 98 ribu keatas. Syal tinggal satu, dibeli Dwiki jadi abis. Aku membuka-buka etelase dan terpikat pada 2 pajangan jari yang keren. Beli-beli-beli, sudah habis hampir 400 _-_. Uang Dwiki sampai habis, dan terpaksa ambil uang lagi, wkwk. Masing-masing akhirnya bawa dua kantor ke hotel.

Karena Mbak Lingce sudah janjian sama temannya ke Bokori, jadi didepan hotel sudah stand by dua motor. Aku nggak ikut. Bukannya nggak diajak, tapi kan kemarin sudaaah. Aku ga tahan lamanya itu lho, apalagi aku ngantukkan. Jadi setelah drop barang-barang, Mbak Lingce dan Dwiki langsung pergi meninggalkanku yang dasar kebo langsung tidur hehe.

Tertidur cukup lama, ternyata sudah jam 6-an. Aku mandi dan ganti baju. Rencananya, saat mereka berdua pulang, kami akan kembali ke Expo lagi dan beli merch. Sekalian nonton Mbak Riska dan Widya (dangdut dan pop). Tapi ternyata show keduanya sudah dimajukan, dan nggak ada penampilan malam ini. Malah, rombongan penyanyi tersebut sudah pergi jalan-jalan pula ke Nambo dll. Sementara itu Kak Lingce dan Dwiki nungguin sunset (yang ternyata tenggelam dibalik bukit, bukan pantai seperti di Bengkulu :D). Di lobi cuma ada Kak Sahara dan Bang Meiza yang sedang melukis sepatu kets kak Sahara.

Menunggu lama lagi, aku mulai bosan sendiri dan lapar. Mereka berdua juga ternyata langsung mampir ke Expo, jadi aku tinggal nitip aja, belinya pake uang Dwiki dulu. Hmmmm sedih T.T

Abis itu, untuk menambah kesedihan, saat turun dan ngajak kak Sahara dan Bang Meiza makan, rupanya mereka sudah makan!! Huhu. Jadilah aku makan sendirian di Warung Bunda, plus hape mati. Tapi aku jadi bisa ngobrol dengan Bunda dan Bapak, dan menikmati nasigoreng ayam lagi. Meskipun awalnya ada pasangan yang makan didepanku, tak lama kemudian mereka minggat. Dua orang lagi yang datang berbeda waktu ternyata juga njomblo :P. Jadi kayak mendapat kekuatan dari teman-teman seperjuangan, wkwk.

P_20161015_212055.jpg
Warung bunda dimana-mana

Pulangnya, Mbak Ling dan Dwiki sudah ada. Kami kemudian membagi oleh-oleh. Lalu pulang ke kasur masing-masing. Tapi kemudian aku bosan lagi, jadi turun lagi kebawah. Dibawah masih sibuk ngobrol-ngobrol. Om Heri banyak curhat mengenai peksiminas ini dan yang sebelum-sebelumnya. Akhirnya aku dapat gagasan untuk mengeluarkan tensimeter dan stetoskop yang sudah kusimpan berhari-hari. Mulailah pemeriksaan. Rata-rata normal sih, meskipun banyak perokok -_-. Om Heri darah tinggi, sementara Bang Wira darah rendah. Tidak begitu banyak edukasi yang bisa kuberikan, duh maafkaan 😦

Day 5 selesai! Mari Packing dan mulai mengucapkan selamat tinggal pada bumi Haluoleo! 🙂

Iklan

9 thoughts on “Kendari Day 5!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s