Kendari Day 4!

14/10/16

D-Day!

Pagi ini aku, Kak Putri, Kak Lingce sudah bersiap dari pagi! Kalau dari kemarin lihat teman-teman penampil bagitu bersemangat untuk berlatih, juga para pemburu visual telah mengawasi Kendari dengan hati-hati agar mendapat ide, saatnya kami bertiga yang injuk gigi!

P_20161014_075548_BF.jpg
“Pasti goyang”, “nggak kok, bisa!”, “nah kan, bagus!”.. iya kalau dilihat sekilas kak… hehe

πŸ˜€

Jam delapan semuanya sudah diantar. Pas naik tangga agak ngos-ngosan, apalagi paha dan betis agak nyeri diajak jalan seharian kemarin. Lha iya, aku yang selama ini duduk berjam-jam diruang kuliah dan dirumah kali ini dibawa trip, seharian lagi!

Tapi karena memang jam delapan belum dimulai, aku ogah duduk-duduk (yang sudah pasti akan kulakukan 8 jam berikutnya) jadi aku keluar dan mengobrol dengan pembimbingnya Melly (soalnya pembimbingku sibuk, hehe) dan kak … seorang seksi dokumentasi dari fisip (maaf fira lupa namanya kak..). Kagum dengan ceritaku yang sudah menerbitkan buku, kakaknya ingin mewawancarai XD. Tapi setelah lomba saja ceritanya. *Yang akhirnya nggak jadi, karena aku nggak punya nomornya buat konfirmasi (atau ganti jadwal) dan aku baru selesai nulis jam 4 sore

P_20161014_082024.jpg
Didepan : Wika-Jogja!

 

Jpeg
Nadia-Palu. Lebih muda dariku. Suka bilang : Piu~

Ok. Jam delapan. Kami semua masuk ruangan dan bertemu kembali dengan ketiga juri. Dan temanya adalah…

Menjaga Keseimbangan Semesta Laut.

Dan, tahu yang kupikir pertama kali apa?

Poseidon.

 

Kemudian artikel di majalah Lion Air tentang kapal selam Uni Soviet.

Memang agak aneh. Dan tidak terlalu nyambung. Lagipula siapa yang kepikiran tentang laut saat imajinasi tertinggal di mangrove -_-

Internetnya sedikit bermasalah pada awalnya, jadi aku harus pakai hape. Itu juga yang dicari random banget.

Cerpenku selesai pada 16.00. Hanya 6 halaman, berjudul Anak-anak Poseidon.

Aku sendiri kalau cerpennya dipikirkan sampai sekarang, maunya diganti saja :/ Mulanya aku membuat kerangka konsep manusia rakus yang pindah ke laut setelah nuklir. Inginnya berbeda dengan orang lain yang menspesifikkan ke terumbu karang, ikan atau sebagainya, tapi juga sekaligus berbeda dengan cakupan tema yang diminta.

Duh 😦

Karena proses pembuatannya bebas, ada-ada saja kelakuan kami para cerpenis. Aku dan Nadia, dan beberapa kakak yang lain (mereka disudut lain) duduk lesehan. Bang Ile juga lesehan, tapi beberapa kali dia push-up saat ditanyai Nadia sudah berapa lembar XD

*yang ga sempat difoto wkwk

Bang James juga ada-ada saja, dia mondar mandir kemana-mana, kadang-kadang singgah ditempatku dan Nadia bertanya sudah halaman berapa. Karena sudah kebanyakan ditanya seperti itu, jawabanku cuma satu,

“Mestinya yang ditanya itu bukan halamannya bang. Tapi apakah ceritanya sudah mencapai puncak atau belum.” -sok menguliahi padahal dirinya sendiri ga tau ceritanya sudah puncak atau belum.

Sebelum pulang, aku sempat bagi-bagi buku lagi. Sisa ada empat, kuberikan pada Kak Widi (LO cerpen), Bang Ile (Ambon), Bang James (Kupang), dan Nadia (Palu). Teman-teman yang lain maaf ya kalau tidak dapat, Fira bawanya hanya sedikit >.<

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan cerita sebelum pulang lainnya adalah, aku ga dijemput juga sampai magrib -_-

Untung Bang Ile juga belum pulang. Jadi kami duduk didepan FMIPA UHO sambil ngobrol sedikit. Kuotaku habis jadi nggak bisa mengontak teman-teman kontingen. Jadi kutelpon saja Dwiki. Hanya saja, aku lupa mengenalkan diri, jadi Dwiki ga tau bahwa yang nelpon itu aku :O Menit demi menit berlalu, Bang Ile sibuk menyapa anak-anak cewek MIPA yang lewat, Assalamualaikum… katanya. *Kok jadi aku yang malu, wkwk

Ternyata Bang Indra (LO kami nyari aku di teknik! Nyariin kak Lingce, padahal yang belum pulang tuh aku! Hehe).

Ok, bye bye Bang Ile! (sehabis ini nggak tau apa bakal ketemu lagi dengan Bang Ile, Nadia dan lainnya, karena ada yang sudah akan pulang. Aku sendiri pulang hari Minggu dan nggak ikut penutupan). Semoga kita semua bisa bertemu kembali. Pun kalau tidak, supaya tulisan-tulisan kita dapat bersatu menyusun sebuah kumcer nan komplit.

Menyatukan suara dari akal dan pikiran se-nusantara πŸ˜€

Sampai di hotel sudah maghrib lewat, capek banget. Di kamar ada Mbak Lingce dan Dwiki. Kami mengobrol dikit kemudian Wiki pamit mau ikutan nonton Bang Bakri (atau Bang Agung ya?) tampil malam ini. Aku dan Mbak Lingce nggak mau ikut, kami lelah pikiran ._. Dan karena lapar bukan main (tadi sengaja nggak makan siang karena ribet dan jauh) akhirnya kami berdua pesan KFC delivery πŸ˜€

Mulanya aku yang nelpon pake hpku. Tapi abang-abang KFCnya ngomong lambat banget. Udah dibilangin ‘BANG KAMI LAPAR’ juga ‘BANG CEPETAN PULSANYA UDAH MAU ABIS’ masih nawarin paket lain dan bonus 😦 Akhirnya pulsaku habis sebelum sempat ditanya jam berapa sampai dan berapa harganyaaa

Parah banget pulsa abis kuota abis.

Lanjut ditelpon pake hp kak Lingce (kak atau mbak, kadang-kadang aku labil milih yang mana :D). Akhirnya selesai juga pesanan. Tapi ga dikasih tau totalnya berapa, dan berapa fee pengirimannya. Ah sudahlah kan udah lapar!

Tok tok, pintu diketuk

Itu Dwiki, bukan abang-abang KFC Kendari. Katanya dia ditinggal rombongan pas cuci muka, hahahahhahahahha.

Ngobrol lagi, kemudian datang si Abang KFC nagihnya 135 ribu. Buset mahal ngets. Tapi apa boleh buat. Lapar! Dwiki ditawarin nggak mau. Katanya sudah terlalu banyak lemak di perut πŸ˜€

Setelah itu kami kekenyangan dan menyisahkan banyak makanan. Dwiki juga sudah pamit. Aku mulai mencicil tulisan blog (meskipun nyelesaikannya baru tanggal 17 :P) ketika mendengar suara teriak-teriak dari resto. Kupikir anak-anak Medan lagi latihan, karena beberapa hari sebelumnya mereka berkumpul di resto dan unjuk bakat (showcase?). Tapi setelah Mbak Lingce balik masuk ke kamar, katanya si Dea yang lagi teriak-teriak. Lho?

Ternyata benar si Dea. Sedang membawakan monolog dengan judul naskah Sarinah Menggugat. Duh penampilannya bikin merinding. Kak Putri dan Novi mengajakku nonton juga. Dari yang kuamati, monolog ini sulit banget. Kamu mesti ngapalin naskah durasi 20 menitan, ngomong sendiri, atur tempo sendiri, atur nafas sendiri, emosi, perasaan, mana lagi gerak gerik dan penampilan juga mesti diingat dan disesuaikan dengan monolognya. Duh luar biasa Dea! Good luck!

Sayangnya, ketika bagian penuturan Sarinah saat dia diperkosa (yang mengharuskan penampil mengerang-erang) anak Medan pada naik keatas dengan gaduhnya. Mereka pikir ada yang kesurupan. Hei hei, ini masih belum seberisik kalian ketika tampil! Demi mendengar hal tersebut, Dea jadi sesunggukan di lantai (yang kupikir masih dalam skenario). Baru setelah Bang Denis dan Kak Putri berlari menghampirinya, aku sadar bahwa Dea hilang fokus. Mesti ditenangkan dulu.

Monolog beneran susah deh!

Kebalikannya, cerpen adalah yang termudah. Itu sih menurutku. Iyalah paling gampang, kan memang spesialisasi saya πŸ˜›

Hari sudah malam, mari kita akhiri! Daaah!

 

Jpeg

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s