Kendari Day 3!

13/10/16

Hunting!

Sebenarnya dalam rundown biasa, ga ada acaranya anak cerpen hunting. Technical meeting hari Rabu, kemudian lomba delapan jam di FMIPA UHO. Begitu saja, selebihnya (mungkin) akan kuhabiskan dalam kamar hotel seharian atau mendukung teman-teman yang lain tampil. Tapi ketika TM, diberitahukan bahwa kami akan HUNTING kebeberpa tempat tourisme di Kendari!

Uyeah!

Jadi, pagi itu dengan semangat yang membara (cieh) aku bersiap, serta berkali-kali ngecek ke arah restoran (lapar broh!). Tapi baru jam setengah delapan lah, sarapannya disajikan. Aku cepat-cepat makan lalu berangkat bersama bang Wira (Fotografi hitam putih) dan bang Meiza (Lukis) yang akan hunting juga.

Sampai di FMIPA, aku menyapa peserta lain yang belum kukenal. Rupanya mereka peserta penulisan lakon. Lho dimana yang cerpen? Sudah di bus! Haha.

Jadi pada hari itu, lokasi pertama yang dikunjungi adalah… Universitas Haluoleo. Bercanda ding, cuma lewat saja dengan Kak Widi sebagai MC mendeskripsikan lokasi yang akan dikunjungi. Kemudian selama perjalanan itu, dimulai perkenalan masing-masing peserta dengan menyebutkan asal dan hal yang unik dari diri mereka. Aku yang tanpa berpikir panjang asal sebut “ga suka mikir” buat menjadi deskripsi. -_- padahal hal tersebut kurang spesifik dibandingkan “suka oren” atau “fans berat niko :P” atau “ingatan pendek” atau “sering beruntung”. Selain itu jadi imej negatif buat orang-orang, duh duh.

P_20161013_090501.jpg
RUNDOWN!

Selama perkenalan, aura yang kurasakan positif, namun beberapa pasang mata mengincar bagaikan elang. Bagaimanapun ini kompetisi, kan? Dan akupun merasakan tekanan yang luar biasa (nggak keliatan aja) ketika sebagian besar dari mereka menyebutkan prodi bahasa dan sastra. Lha aku ini siapa nyasar dimana XD. Cuma belajar otodidak yang suka ngarang cerita, sama sekali tidak pernah memperhatikan EYD atau majas-majasan. Yang kutahu hanya cerita itu harus bikin pembaca berdebar!

(Ingin menulis beberapa paragraf keputusasaan. Tapi nanti malah bikin pembaca (khususnya yang mengkhawatirkan saya dirumah) ikut pesimis XD)

Tracking Mangrove Pulau Bangkutoko, adalah tempat wisata yang pertama kami datangi. Lokasi wisata ini terletak jauh dari pusat kota, dengan jalan yang sedikit tidak rata dan kepala bus yang sering menabrak dahan yang rendah (wkwk). Baru dibuka 20 Januari lalu. Tapi melihat jembatannya yang cerah dan warna-warni, aku jadi tertarik dan mendahului kawan-kawan untuk eksplorasi. Sambil mengenang perjalananku di mangrove Sungai Hitam, aku berlari-lari kecil (iya, terlalu semangat). Panjang tempat trekkingnya sekitar 500 meter, dengan beberapa gazebo dibeberapa tikungan. Satu hal yang paling membuatku terkesima yaitu menara 15 meter ditengah-tengah area tersebut.

P_20161013_090835.jpg

P_20161013_091411.jpg

Nah, yang bikin unik adalah… jalan masuknya ditutup pake kayu! Sempat ragu apakah naik atau tidak, tapi akhirnya aku naik, dengan sedikit gerakan akrobatik. Tapi rupanya dengan ketinggian itu masih belum strategis untuk memperhatikan burung-burung dipucuk pohon dan peserta lainnya. Kulihat Bang Ile melintas dari kejauhan dan kulambaikan tangan. Mungkin awalnya ia pikir ia salah liat, karena balas melambai dengan ragu. Tapi setelah aku turun (iyalah, bosan diatas sendirian, apalagi pas liat diatas banyak pasangan-pasangan yang mengukir nama mereka :<) Bang Ile menyusul ternyata. Akhirnya ada yang motretin :D. Kami naik lagi, kemudian turun setelah mempertimbangkan beberapa baut yang terlihat longgar.

P_20161013_092347.jpg

Tidak banyak yang bisa dilihat, selain mangrove dan burung (yang akupun tidak mengetahui spesies apa). Karena itu, untuk membunuh waktu aku ikut-ikut jalan ke jalan masuk. Bang Ile dan beberapa orang lain sedang mewawancarai ibu penjaga tempat ini. Asik juga ngobrolnya, ibu-ibu itu baik dan mengajarkan beberapa kosakata, seperti ma kesi-kesi (cantik) dan beberapa lagi yang terlupa beberapa detik kemudian.

P_20161013_102127.jpg

Selanjutnya, kami mampir di Pelabuhan Bangkukoto, yang juga baru diresmikan. Disana masih sepi, jadi benar-benar bagus dijadikan objek foto (view alam membentang indah, infrastruktur yang baru rampung dan ketiadaan manusia lain yang selfie : PERFECT). Aku baru mau menyatukan diri dengan lokasinya sebelum disuruh naik ke bus lagi. Karena belum ada rekaan kejadian lalu di tempat itu (baru dibangun) makanya aku cuma bisa membayangkan jalannya jadi tempat lepas landas terbang makhluk fantasi XD

P_20161013_104254.jpg

P_20161013_104910.jpg

Jalan panjang ini membuat lapar. Kak Widi bilang kami akan menyantap Songgi, makanan khas Sulawesi Utara, tapi nyatanya sebagian besar peserta makan makanan prasmanan yang disediakan XD. Aku duduk dekat Meli yang kurang sehat (yang dibujuk berulang kali oleh pembimbingnya untuk pulang ke hotel untuk beristirahat).

Sejujurnya aku menyesal karena tidak jadi makan Songgi/Sinonggi. Padahal kalau habis ide bikin aja tokohnya chef Songgi 😀

Lokasi selanjutnya adalah Masjid Agung melewati pasar buah. Tidak spesifik pasar buah yang mana, dan menjual buah apakah, karena yang jelas kami hanya menumpang shalat ditempat itu. Plus istirahat sejenak. Aku memilih tidur, meski kemudian dibangunkan =.=. Dengan kondisi ngantuk seperti itu kami jalan lagi, kali ini lebih lama dan panjang. Perjalanan dilakukan dengan menyusuri sepanjang jalan pantai, seperti di Bengkulu namun tanpa pantai.

Rupanya kami tidak mendatangi Kota Lama seperti dalam rundown. Kami pergi ke Desa Wisata Bokori. Ini toh daerah yang disebut-sebut Kak Lingce! Rumah Nelayannya biasa saja, malah cenderung kotor dengan sampah dan lumpur. Seperti di Perlis, Sumatera Utara pada 2014 lalu. Aku bingung mau ngapain, karena konsep cerpen yang kupikirkan tertinggal di mangrove dan menolak untuk pindah setting. Tapi kemudian Kak Widi ajak untuk pergi ke PULAU BOKORI.

P_20161013_142909.jpg

P_20161013_144437.jpg

Eh beneran? Berapa?

20 ribu. 15 ribu untuk kapal, dan 5 ribu untuk pemeriharaannya.

Terpujilah para dewan juri dan panitia yang mengusulkan sekaligus mengizinkan kami singgah di pulau cantik tersebut.

Pulaunya kecil, dan terlihat bagian belakangnya masih dalam tahap penyelesaian. Tapi pasir putihnya yang penuh kerang, kepiting, keong dan biota cantik lainnya, juga air lautnya yang jernih bukan main bikin jatuh cinta. Setelah sesi selfie yang tidak lama (karena hampir semua hpnya sudah mati), kami mulai menjelajah pulau. Tidak lama sih, dan aku juga tidak sempat melakukan wawancara seputar masalah pariwisata daerah ini. Kami sudah harus pulang!

P_20161013_151954_BF.jpg

P_20161013_153019_BF.jpg

P_20161013_153011.jpg

P_20161013_154554.jpg

Perjalan balik juga sama serunya dengan kedatangan. Karena air telah surut, maka kami harus berjalan kaki dari daerah dangkal ke dermaganya. Basah dong! Kupikir cuma selutut, tapi ternyata lebih dari itu! Waduh, jadi pamer kaki dong 😛

P_20161013_155725_BF.jpg

P_20161013_155705.jpg
Bang arif dari sulawesi

P_20161013_155640_BF.jpg

P_20161013_160753.jpg
Semua cowok yang turun ke air, yang nggak kutahu selanjutnya adalah, itu kapalnya ditarikin sama bapaknya, jadi yang pake rok ga perlu berbasah-basahan -_-
P_20161013_160844.jpg
Its ok, pengalaman berharga!
P_20161013_160856_BF.jpg
Bang Jem dari NTB!
P_20161013_161038.jpg
Show off kaki!

Sebelum pulang dari desa itu juga, ada insiden. Salah seorang peserta hilang. Iya, dia adalah Wika dari Jogja, yang dari perkenalan dan sesi ngobrol singkat begitu misterius. Rupanya si Wika sudah dijadikan anak oleh penduduk, eh, maksudnya keasyikan ngobrol dan membantu anak-anak desa tersebut mengerjakan tugas XD. Hebat ya, nggak kayak aku yang lincah sana sini lompat-lompat hehe.

Ada banyak juga orang-orang yang bisa dicontoh. Seperti bang Robi yang aktif bertanya dan mencatat, terutama saat masalah pernikahan antar suku. Sulawesi Tenggara memiliki 4 suku besar yaitu Button, Mona, Tolaki dan Morenene. Buatku yang tidak paham adat istiadat suku, semuanya terdengar baru. Apalagi pas tau ternyata banyak pola bahasa dan adatnya.

Selanjutnya, kami pergi di museum. Jam sudah menunjukkan pukul 5.20 WITA saat sampai ke museum. Bus para pendamping yang sudah mendahului kami saat di Bokori juga sudah tidak ada (saking lamanya kami tertinggal). Setelah parkir kami cepat-cepat masuk ke museum dan mencari informasi tambahan.

P_20161013_172945.jpg

P_20161013_174016.jpg

Didepan museum, ada Idea Project.

P_20161013_174712.jpg

Seperti rumah baca dan tempat berkembangnya seni dan kebudayaan manusia di Sulawesi Tenggara. Tempat kumpulnya seniman. Banyak rak buku, disusun dengan rapi dan bergaya kayu. Saat kami masuk, langsung disambut dengan ramah dengan Pak Galih dan Pak Gani. Kami kemudian berfoto bareng. Iseng, kutanya darimana sumber buku-buku sastra tersebut? Pak Gani menjawab bahwa buku-buku tersebut bersumber dari swadaya, sukarela orang-orang. Dan dengan iseng lagi, kutawarkan satu-satunya buku yang kubawa hari itu, D Ryan O.

“Ayok tukaran kalau begitu,” sahut Pak Gani, kemudian dengan cepat mengeluarkan buku Bunga Rampai Karya Sastra Baru Tolaki.

P_20161013_175210.jpg

Luckyy!!!

Letih, tapi sangat bahagia. Malamnya kuhabiskan dengan mengetik tulisan ini sambil berulang kali browsing dan mencocokkan banyak EYD (yang sama sekali tidak pernah kulakukan sebelumnya). Akhirnya tulisan ini selesai jam 0:25 XD.

Semoga besok perut saya tidak terlalu melilit karena cemas 😀

Bawa asik aja 😀

P_20161013_200954.jpg
Outfit buat cari makan malam 😀 Itu masih ada donat kemaren punya kak Lingce
P_20161013_203101.jpg
Kasus, mamang jual nasi uduk didepan hotel. Bukan goiter tapi diracun. Jadinya kayak kumpulan lemak, bukan kelenjar tiroid yang membesar. Semoga bapaknya masih sehat sampai sekarang..
Iklan

3 thoughts on “Kendari Day 3!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s