Pemicu 1 Metabolik Endokrin Part 1 [Apa Itu PBL?]

Ny. Husnul, 40 tahun ke dokter dengan keluhan sering mengantuk dan lelah sejak 3 bulan terakhir. Ia sering tertidur saat menonton teve, mendengkur saat tidur, dan kedua lututnya nyeri sehingga sulit berdiri dari posisi duduk. Berat badannya berlebih sejak sebelum menikah dan terus bertambah setiap hamil. Ia pernah menggunakan kb suntik setelah melahirkan anak pertama selama 5 tahun. Ny. Husnul tidak berkerja, sehari-hari dibantu dua orang pembantu. Ia memiliki 2 orang anak, laki-laki (13 tahun) dan perempuan (6 tahun). Keduanya hobi main game dan sering ngemil. Didalam keluarga Ny. Husnul dan suaminya tidak ada riwayat sakit kolesterol dan kegemukan. Suami Ny. Husnul seorang karyawan swasta yang berkerja dari pagi hingga malam sehingga tidak ada waktu berolahraga.


 

Liburnya mahasiswa sudah usai! Saatnya masuk kuliah kembali! Mulai semester ini, saya ingin memperkenalkan cara belajar kampus tercinta yang menurut saya unik dan efektif.

CYMERA_20160906_190503.jpg

Namanya PBL, Program Based Learning. Jadi setiap minggu kami, para mahasiswa, akan diberikan satu skenario kasus (pemicu) yang wajib didiskusikan bersama dalam satu kelompok kecil yang dibimbing oleh seorang dosen (dokter). Pemicu yang diberikan berkaitan dengan pokok bahasan yang akan dibahas, misalnya ketika modul kardiovaskuler (jantung) kami akan membahas masalah hipertensi, angina, dll. Atau pada modul ini, metabolik endokrin kami akan membahas masalah hormon dan metabolisme (biokimia gitu…) jadi kasusnya seputar diabetes, tiroid, dll.

Dalam satu minggu ada dua kali diskusi dan satu pleno. Pada diskusi pertama, kelompok kecil tadi (10-11 orang) akan memilih ketua dan sekretaris terlebih dahulu, kemudian mulai mendiskusikan kasus tadi (seperti contoh pada pemicu diatas) dengan urutan seperti berikut :

  1. Terminologi > mencari kata-kata sulit dalam pemicu. Maksudnya agar saat diskusi sudah tahu apa sih maksud katanya. Misalnya kolesterol, atau obesitas.
  2. Keyword > kata kunci.
  3. Identifikasi masalah > mencari pokok permasalahan yang dibahas
  4. Analisis masalah > biasanya satu orang menggambar bagan berisi pokok permasalahan, keluhan, hasil pemeriksaan, dan mencoba menghubungkannya dengan pokok bahasan. Langkah keempat ini biasanya makan waktu paling lama, karena disini mahasiswa harus benar-benar mendiskusikan masalah ini. Mesti berpikir kritis, mengapa begini, itu kok dimasukin ke sana, kenapa garisnya mengarah kesana? saling lempar pertanyaan dan jawaban, juga pendapat. Meskipun pada tahap ini kami masih belum punya pengetahuan mendalam mengenai masalah tersebut, tetap harus berdiskusi semampunya. Pertanyaan dan dugaan kemudian dicatat pada langkah berikutnya, yang akan didiskusikan pada jadwal diskusi berikutnya.
  5. Hipotesis > dugaan. Bisa apa saja (tapi yang berbobot lah) Misalnya Pasien tsb menderita obesitas tipe II yang diakibatkan oleh pemakaian KB Suntik
  6. Pertanyaan terjaring > mengajukan pertanyaan untuk menjawab hipotesis namun harus sesuai dengan analisis masalah. Biasanya dilema, mau banyak-banyak takut tidak terjawab, tapi kalau tidak ditanyakan jadi penasaran (hehe). Setelah itu pertanyaannya dibagi-bagi perpertanyaan harus dibahas oleh minimal 2 orang pada diskusi berikutnya

 

Pada diskusi berikutnya (biasanya 2 hari kemudian), dengan kelompok yang sama, mahasiswa akan mendiskusikan hasil pertanyaan yang sudah dicari sebelumnya. Hasil tersebut mesti didapat dari buku dan jurnal yang relevan, yang terpercaya, yang tahun terbitnya 5 tahun sebelumnya, ga boleh dari jurnal lampau, wkwk.

Rasanya singkat saja ya? Tapi biasanya diskusi dua jadi sangat paaaanjaaaang, karena setiap mahasiswa pasti punya hasil pencarian masing-masing dari sumber yang berbeda-beda. Semuanya aktif menjelaskan dan bertanya. Fungsinya pembimbing? mengawasi jalannya diskusi dan meluruskan beberapa hal. Kadang-kadang kalau sudah kelewatan waktunya akan diperingatkan biar dipercepat.

Begitu deh. Setelah terbahas semua akhirnya dicapai kesepakatan apakah hipotesisnya diterima atau ditolak.

Tapi tidak sampai disitu! Hasil diskusi perkelompok akan dibawa ke meja yang lebih besar lagi, yaitu pleno! Disana, dua kelompok yang beruntung  akan menyampaikan hasil diskusi mereka, yang kemudian akan dipertanyakan oleh kelompok-kelompok lainnya. Pernah sih sampai debat, dan pernah juga jadi ajang balas dendam (huehehe becanda, ga separah itu kok) oleh beberapa individu yang bertanya dengan pertanyaan yang hanya tuhan dan dokter spesialis yang tahu, haha.

Asyik kan, PBLnya? Menurutku sih, banget! Setiap diskusi rasanya intens! Juga benar-benar efektif, apalagi semua yang dibahas tadi harus dicatat dalam buku dewa yang kami sebut logbook. Memang sih, banyak love and hate nya, tapi sistem belajar ini dapat memboost pengetahuan kami, mahasiswa-yang-banyak-nggak-tahunya. Tanpa mesti disuapi dengan pengetahuan, bisa mencari sendiri!

Penasaran dengan hasil pemecahan kasus diatas? Esok setelah diskusi 2 dan pleno akan kuuraikan semuanya! Tunggu ya 🙂

Eh tapi, menurut kalian masalah utama kasusnya apa ya?

 

*ayo yang mau belajar PBL anak kedokteran 😀

Iklan

2 thoughts on “Pemicu 1 Metabolik Endokrin Part 1 [Apa Itu PBL?]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s