Paragraf Satu

Jadi—Jerman lagi.

“Permisi,” panggil seseorang dibelakangku. Membuatku berbalik. Suara lembut itu berasal dari seorang gadis kecil dengan dandanan antik. Kaos hitam gotik dengan tutu pink. Rambutnya dikuncir dua mengingatkanku dengan Raisa, keponakanku yang berumur tujuh. Tapi riasannya—dengan eyeliner tebal itu, membuat wajahnya lebih tua, mungkin delapan belas.
“Anda menjatuhkan ini,” katanya, mengancungkan paspor hijauku. Aku tergagap, mengucapkan terima kasih. Ia balas tersenyum, dengan bibirnya yang berlipstik ungu.
Aku berbalik, mempercepat langkahku menuju konter imigrasi.
“Om, oom arsitek ya?”

Iklan

10 thoughts on “Paragraf Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s