Demi Buku [Family Trip, Mei 2016 part 2]

Ingatkan ada BBW alias Bad Big Wolf sale awal Mei lalu?

Yang sanking menggemparkannya, gemanya sampai ke Bengkulu lewat jaringan book loversnya Abah. Padahal disini ga ada satupun selebaran atau spanduk tentang itu.

*ya iyalah neng, secara kamu tinggal di kota kecil. Lagian ngapain pasang iklan di Bengkulu, kan jualannya di tangerang, haha.

Aku masih ingat, gara-gara Abah ngeliatin broadcast pesan itu, aku sampai ngeluh-ngeluh nggak jelas, tentang kenapa aku tinggalnya di kota kecil kayak gini, dan kakak belum pernah sekalipun-padahal seorang pecinta buku-pergi ke bazzar buku besar…

hiks.

Yah mau bagaimana lagi, minat baca disini masih kecil. Mungkin selain aku kalau teman-teman dikampus ditanya dimana perpustakaan daerah, bakal sedikit yang tau. Sudahlah minat bacanya rendah, diserah arus globalisasi oleh handphone pula. Ya mana ada yang sempat baca buku kan? #pesimis #padahalsendirinyaitupenulis #generasimudamestibertindak

Realitanya begitu.

Sekarang sudah ada kesempatan, makanya schedule pertama kami yang kuajukan  adalah,

Pergi ke BBW!

Turun dari pesawat (kayak terjun payung aja ngomongnya turun langsung, hehe), kami ga singgah dulu untuk makan di bandara soekarno hatta sepertiyangbiasakulakukankalaujalansendiri,foyafoya tapi kami langsung naik Bus damri ke mall wtc matahari? apa ya lupa. Yang jelas lewat Mall Alam Sutera, yang dibelakangnya ada stage ninja warrior (Jangan ditanya, itu acara favorit kami sekeluarga!!) tapi ga keliatan, hehe. Oh ya, di damri pagi itu  cuma ada kami  ber 6 plus satu bapak-bapak. Jadi kayak nyewa bus, haha. Sehabis itu mau nyari sarapan. Tapi ga tau dimana, mall masih tutup. Akhirnya kami nyebrang dan makan di rumah makan padang :D. Rasanya lucu aja gitu penampilan backpacker, muka lusuh (bukan seperti kebanyakan bule-bule gitu atau kalaupun ada backpacker lokal kayaknya bukan Jakarta daerah tujuannya, hehe).

Sehabis sarapan, Dinda memanggil jemputan lewat uber *promosi lagi.

Aku yang mengaku paling top dalam teknologi di keluarga, langsung kalah! Dinda dengan lihainya memanggil seorang driver untuk kemudian mengantar kami ke BSD, ICE!

Wooow

*lebay deh kakak – Dinda (kayaknya, kalau dia baca ini, hehe)

Tapi pengalaman kami naik uber pertama kali tidak semenyenangkan itu, karena kami ini diajak nyasar sama drivernya. Padahal ICE pasti gedung ukuran mega atau giga, eh diajak masuk gang sempit kecil. P_20160506_095400.jpg

Huwaduh, masa BBW yang kupuja-puja ternyata cuma dalam gedung toko buku satu lantai biasa?

Ternyata emang nyasar. Mana mungkin dong kan. Pas sampai ditempatnya, aku langsung terbelalak aja lihat gedung-gedung besar itu, dan antrian mobil yang sepanjang itu, dan kantong-kantong plastik belanjaan sebesar itu.

Dan juga orang-orang jakardah dan sekitarnya (padahal di tangerang ngomongnya jakarta terus, maaf maaf saya ga ngerti pembagian daerahnya, taunya jakarta doangg) yang modis menurut gaya mereka sendiri.

Dan mobil-mobil para liputan langsung, ada metro tv, trans..

Dan bule, haha

*ampuni kealayan saya.

IMG-20160506-WA0032.jpg

*Suasana didalam bazzar BBW. Rame tak terkira. Cuma untuk BUKU!

IMG-20160506-WA0034.jpg

Bisa-bisanya orang sebanyak ini ngantri… ckckck

Aku dan Abi langsung masuk. Abah juga. Tapi Mama, Chaca, dan Dinda lebih memilih mengundurkan diri dan duduk diluar daripada berbaur dengan kutu buku kayak kami. (yang membuatku sedih. Itu artinya aku beli buku pake dana sendiri dong… hiks..).

Kalau kata mama, “Hari ini puasin lah yang mau cari buku, besok jangan ngeluh ya nemanin mama

Lama aku dan abi berputar-putar, akhirnya bisa ngerti juga skema ruangan besar ini seperti apa. Oke. Hall ini fokus ke buku-buku impor yang disale murah *meskipun bagiku segitu juga masih mahal buat kantongku. Kedua, buku-buku bazzar-an mizan ada di pintu sebelah kiri pertama. Sip. Ketiga, section kiri itu isinya buku random, masaklah, anaklah, juga kardus-kardus yang banyak sudah dirobek sanking ganasnya orang-orang sini. Keempat, antrian bayar dari ujung sampai ke ujung pintu masuk udah full memenuhi lorong-lorong.

Whaaaat?!

Itu sudah menyurutkan banyak niatku untuk berbelanja. Meskipun ditanganku sudah ada beberapa buku yang sudah kucari-cari, tapi tetap saja rasanya tidak sebanding dengan waktu berhargaku di Jakarta yang cuma 2 hari.

Tapi kemudian Abi merelakan dirinya untuk mengantri pertama. Yes! Dengan perjanjian aku juga ngebayarin buku yang dia beli. Tidak masalah. Toh yang dia beli cuma komik obralan mizan, cuma 5 rb hihi.

Kemudian abi menelpon-nelpon, katanya dia mesti sholat Jumat.

Aish.

Ya sudah akhirnya aku berdiri diantrian yang panjang luar biasa, setengah membenci keputusan untuk singgah jauh-jauh kesini. Padahal masih mau keliling. Tapi bayarnya itu loh, males. Jadi kebayang Gramedia Bengkulu yang sepi dan bisa ngobrol sama kasirnya, haha.

“Mbak, bukunya sini dititipin ke keranjang saya,” kata seseorang dibelakang. Aku berbalik, melihat seorang gadis, mungkin sepantaran, menawarkan keranjangnya.

“Oh iya, terima kasih,” kataku. Dia kemudian menawarkan hal serupa pada gadis berjilbab dibelakangnya.

Asik, ada orang baik! Pikirku. Aku tanya-tanya orang mana dan dengan siapa (udah kayak penjahat ini nanya-nanya aku nya, haha). Dia sendirian. Begitu juga dengan mbak berjilbab tadi. Yang dicari juga beda-beda, meskipun mereka ga keliatan ngeborong, sama lah kayak aku. Bertiga aja muat satu keranjang,

Abis itu aku izin sama mbaknya buat keliling-keliling lagi (ga sopan! wkwk) Untung mbaknya bersedia menjagakan tempat antriku.

Lumayan juga, ketika section anak diubek-ubek ketemu buku How To Train Your Dragon seri terakhir. Wi di Bengkulu carinya susah banget! Edisi Inggris lagi! Sip. Pas aku balik, antrian kami masih ditengah. Terus aku liat suster yang antri dibelakang buru-buru maju kedepan. Aku cek, ternyata emang ada antrian yang lebih pendek. Langsung dong aku tawarin sama teman-teman baruku untuk maju ke antrian tersebut.

P_20160506_122601.jpg
Isi keranjang kami bertiga

Abis maju, kami kemudian kenalan nama (mungkin tadi masih belum percaya sama orang yang ga dikenal). Fira, Luthfi, Muthia.

Pas mau bayar, tiba-tiba suster depan kami rusuh. Mereka bilang, kayaknya antrian yang ini debit only. Lho, iya kah? Mereka juga langsung pindah ke antrian sebelah yang PANJANG KAYAK ULAR NAGA. Aku sama Muthia dan Luthfi ikut panik kan, masa iya kami ngantri lagi sepanjang itu. Mulailah membuka dompet masing-masing sambil menyembutkan isinya (untung ga sekalian pinnya, ahha). Aku terbanyak, tapi masalahnya kartuku itu.. ga ada tulisan visanya gitu. Aku juga ga pernah pake untuk bayar debit, pernahnya ya ambil uang diatm doang sama nabung. Kami bertiga kemudian mulai stress karena tanpa kartuku, uangnya kagak mungkin cukup.

Aku yang merasa memberatkan, langsung membuang komik titipan abi dari tumpukan. Luthfi juga. Pokoknya daripada ngantri ulang lebih baik beli pas-pasan!

Rasanya udah kompak bener kami kemarin, kayak 3 orang teman jalan-jalan ke BBW terus uangnya di kartu ga cukup, sampai minta di talangin dulu haha.

Tapi untunglah, pas tanya sama kasirnya, boleh pake CASH! Yeaaah! Aku langsung buru-buru ngambil buku-buku yang dibuang, punya Luthfi sama Muthia juga kuambilkan. Kami bertiga ketawa-tawa, mas kasirnya juga bilang, “untung ditanya dulu tadi”. Kan repot juga kalau mesti ganti uang dari kartunya Luthfi.

Keluar dari sana, kami berpisah. Padahal aku mau ngajakin foto, tapi mereka menolak halus. Mungkin ga tau kali aku mau masukin ceritanya ke wordpress. Atau mungkin masih seram dengan penampilanku yang giga, padahal ngakunya masih 18 tahun, hihi.

Yah begitulah perjuangan saya demi buku. Tapi masih belum selesai! esoknya pas nemanin mama belanja di thamrin city, aku borong buku sampai 1 kardus di kwitang!

 

P_20160507_123406.jpg

 

Iklan

12 thoughts on “Demi Buku [Family Trip, Mei 2016 part 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s