Golden Wings

You think you have normal wings, right?
An ordinary self (with hidden talent)
You’ll know once you spread them
Those things sparkling gold


Kalau senja bisa diajak ngomong, mungkin dia akan bertanya padaku mengapa aku selalu berdiri dipinggir jembatan menatapnya dengan mata berlinang.

Tapi mungkin pula dia tidak akan bertanya apa-apa, duduk disana menunggu waktunya berganti dengan malam tanpa mengabaikanku yang terus menangis mempertanyakan kebodohanku.

“Aku bodoh, dan semua orang tahu itu,” bisikku dalam hati.

Tidak lulus modul. Nilai ujian selalu dibawah rata-rata. Bukan hanya di modul kardio tapi juga respirasi. Menghitung dosis maksimum tidak bisa, membedakan osteoarthitis dan rheumatoid arthitis saja terbata.

Ah, aku memang sudah tidak pantas jadi dokter.

Dan memang tidak pantas bagiku untuk bercita-cita menjadi seorang penyembuh.

Hp-ku kemudian bergetar. Cukup aneh juga jam segini ada yang mengirimku sms. Aku yang penyendiri ini tidak punya banyak teman. Mungkin operator yang ingin memberitahu bahwa pulsaku barusan tidak cukup untuk mengirim pesan terakhirku untuk orangtuaku.

Intan, aku punya kabar gembira untukmu—“

Dari Nadia? Tumben sekali dia sms.

Orang ini bukannya yang selalu menertawakan wajah gugupku jika dipanggil dosen? Apa maksudnya kabar gembira?

Ah, mungkin ia sudah tahu nilai ujianku siang tadi. Tahu bahwa aku bahkan tidak bisa membedakan mana pasien yang mesti diberikan allopurinol dan mana yang seharusnya minum Metrotreksat. Mengingat bagian-bagian soal itu membuatku mual. Seolah Nadia dan seluruh dunia sedang berada didepanku untuk menertawakan kebodohanku—menertawakan aku.

Aku mengabaikan smsnya dan menaruh Hp-ku kembali kesaku. Kemudian kuedarkan pandangan kearah mobil dan motor yang melintas tanpa menyadari aku yang berdiri dipinggir jembatan sendirian. Jelas saja mereka berlalu tanpa berpaling, mereka punya urusan masing-masing, kesibukan sendiri. Bahkan semua orang punya tujuan mereka masing-masing yang ingin dikejar, kecuali aku.

Tujuan hidupku sudah berakhir. Mungkin sudah waktunya aku mengubur kesedihan ini, dan mungkin sudah saatnya melepaskan beban berat orangtuaku, karena aku sudah lahir menjadi manusia tidak berguna.

Aku sudah siap untuk melompat keluar dari jembatan. Kaki-kakiku sudah mengayun bebas diatas pagar jembatan. Aku duduk layaknya orang yang sedang menikmati senja ditepi pantai. Tidak seperti orang yang putus asa karena gagal dikedokteran.

Apa? Kalian tidak mau melihatku mati dicerita ini? Baik. Berikan alasan untukku agar tetap hidup.

Masa depan bagus? Ayolah, kalian bisa lebih daripada itu. Sudah kubilang nilaiku amat mengecewakan dan tidak mungkin aku bisa menamatkan pendidikan ini dengan waktu 5 tahun.

Pikirkan perjuanganmu selama ini! Aku sangat menyukai alasan ini, namun aku tidak mau mengulang 20 tahun kehidupanku lagi dengan kegagalan yang sama.

Banyak orang yang mencintaimu! Tapi banyak juga orang yang membenciku dan berpikir bahwa kehadiranku mengganggu mereka. Juga banyak yang tidak menganggapku ada didunia.

Belum terlambat untuk mengambil jurusan lain, kan? Benar. Tapi dengan semua pengorbanan waktu, harta, tenaga dan segalanya yang sudah kucurahkan untuk mendapat titel itu, mungkin sudah tidak ada waktu lagi…

Cukup sudah. Kau mulai membuatku ragu. Keputusanku sudah bulat.

Aku akan melompat.

Driiiiit… Oh astaga, Hpku bergetar lagi. Sial, ternyata Cuma operator, yang benar-benar mengsmsku hanya untuk mengingatkan bahwa pulsaku sudah masuk masa tenggang, sehingga orangtuaku harus membayar sms-nya jika mau membaca pesan itu.

Yah, aku hanya mengirimkan kata ‘maaf’ sih. Cukup simple untuk ukuran…

Siapa lagi sekarang?

Aku tidak tahu ini nomormu yang benar atau bukan. Yang jelas aku susah sekali mendapatkannya dari teman-teman. Hei! Selamat! Poster ilmiahmu yang tentang syaraf itu—yang kutertawai tempo hari itu masuk dalam 10 karya terbaik! Nanti kalau ikut final di Padang bawain aku kripik sanjay ya! o.o P.S : kuakui sekarang, kamu genius! Haha, dasar, si cupu sekarang sudah go nasional!”

Kau tahu? Sebaiknya aku pulang saja.


To the ones with golden wings
Just soar freely in the sky
To the end of faraway dreams
Surely, you can reach it

 




Ahaha, absurd banget ya cerpennya. Aku sendiri nggak percaya bahwa dalam satu jam ini bisa bikin cerpen 2 halaman (mungkin harus lebih banyak dipraktekkan kedepannya, hihi ^ ^)

Dan aku juga nggak percaya bahwa cerpen ini merupakan cerpen final yang kukirim ke BPN. Untuk tugas magang lho. Dengan pedenya kukirim pada mereka. Aih, bisa diulang nggak ya satu jamnya untuk bikin cerpen yang lebih berkualitas lagi?!?!?!? *frustated

Yang jelas ini bikin pelajaran bagiku biar nggak mikir macam-macam dulu pas minggu ujian. Ide yang keluar malah yang putus asa kayak gini. Padahal sebenarnya lirik lagu di prolog dan epilognya itu lagu ceria dan penyemangat, Lirik dari lagu Kin No Hane Wo Motsu Hito Yo- To the ones with golden wingsnya  AKB48. Lagu di single kuchibiru be my baby tipe C- yang nyanyiin rombongan kizaki yuria, mayuyu sama yukirin. Dududuh, malah jadi serem kayak gitu cerpennya. Haha. AKB48 -42nd Single- Kin no Hane wo Motsu Hito yo (Team B) [H264].mp4_snapshot_01.09_[2015.12.09_22.18.27].jpg

Doakan saya besok review anatomi ya!

Semangat, para hansips!

 

@firafirdaus

http://www.firafirdaus.wordpress.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s