Kita, Putus!

“Prang!”

Dessy terkejut dan menjatuhkan pena yang sedang ia pegang. “Suara apa tadi?”

“Tidak ada apa-apa. Kenapa?” jawab Clara, sama bingungnya dengan Dessy.

“Oh, tidak.. Mungkin aku salah dengar lagi. Tapi yang kali ini benar-benar seperti nyata,” kata Dessy sambil mengambil penanya yang terjatuh. Clara menatap sahabatnya, ini sudah ketiga kalinya Dessy bertanya ada suara apa. Padahal kelas masih hening, baru dua—lima orang yang masuk kelas. Entah memang Dessy yang salah dengar atau dia yang agak budek.

“Kau sakit ya?” tanya Clara menyorongkan tangannya ke dahi Dessy.

“Ga tau.. Dari tadi malam aku mendengar suara-suara aneh.”

Clara menghela nafas. Berarti bukan aku yang budek. “Lagi kepikiran Bumi kali!” goda Clara. Dessy tersenyum tipis, “kamu ini ada-ada aja. Ngapain mikirin Bumi, kita kan mau ujian.”

“Benar juga, mungkin karena mau ujian praktikum..”

Dessy mengangguk-anggukkan kepalanya setuju kemudian memandang kosong kedepan. Diotaknya sedang menari-nari bayangan Bumi dan tulang-tulang rangka manusia yang akan diujikan besok…

***

“Prang!”

Lagi? Tanya Dessy dalam hati. Kali ini ia mencoba menelusuri tiap penjuru restoran dengan hati-hati, mencoba mencari kiranya gelas atau piring yang tergelincir. Tidak ada. Malah ia kecewa sendiri karena mendapati mantan pacarnya sedang duduk dipojokan bersama pacar barunya—yang lebih cantik.

Sambil mendengus kesal—karena pacar baru mantannya dan karena suara gaib itu kian menghantui pendengarannya—ia mencoba kembali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.

Sambil

“Ah, coba lihat ini Des,” panggil Clara. Dessy menggeser duduknya lebih dekat dengan Clara. “Yang mana?” tanyanya. Clara menunjuk satu foto dari akun instagram softpink­_yuri. Satu foto muncul dilayar, menampilkan wajah-wajah gembira dari sekelompok anak remaja, mungkin anak gaul kampus. Dessy mengerinyitkan kening. “Siapa…”

Dessy mengenali laki-laki paling ujung yang berpose santai dengan tanda V ditangannya. Bumi. Yang membikin ia shock adalah seorang perempuan yang merangkul Bumi dengan mesranya.

“A..Apa-apaan ini?” Dessy merebut hp Clara dan mencoba melihat caption dari foto itu—Geng serigala reunited! Baru sehari pisah udah pengen bilang miss you guys! XD. Tipikal status anak gaul. Kemudian ia mencoba untuk melihat siapa saja yang di tag… siapa tahu matanya membohonginya, karena kangen dengan Bumi ia jadi salah lihat.

Sial, bahkan si softpink ini nge-tag seluruh orang yang ada di foto, termasuk Bumi.

“Prang!”

—Suara itu lagi.

“Aku tahu kamu bakal kaget, tapi mau bagaimana lagi. Kamu akhir-akhir ini masih telponan sama Bumi kan?”

Dessy mengembalikan hp Clara dengan kecewa, “masih sih.. Tapi hanya menanyakan kabar begitu saja.. Terakhir kali ia menelponku, dia cuma bilang belajarnya yang semangat ya.. Ah, aku nggak tau deh Cla, jadi baper-an kan aku sekarang.”

“Anak jakarta emang gitu deh, liat cowok ganteng dikit aja udah langsung rangkul. Pokoknya Des, kalau aku jadi kamu, aku bakal telpon Bumi lama-lama dan tanyain kebenaranya dari dia. Jangan sampai dia keenakan seling—“

“Bumi nggak mungkin kayak gitu Cla! Udah deh, sekarang kamu yang malah bikin aku emosi.”

“Maaf deh Des, maaf maaf, yang jomblo kayak aku ini emang ga paham masalah gituan,” kata Clara menyesal. Dessy ikut-ikutan merasa bersalah sudah memarahi sahabatnya. Mau bagaimana lagi, orang lagi pusing juga mikirin ujian dan—suara-suara aneh dikepalanya, harus memikirkan pacar yang jauh disana? Capek!

“Hei kalian!” panggil Izo, berjalan mendekat ke meja Clara dan Dessy kemudian duduk didepan mereka. Ia baru saja selesai praktikum rupanya. Terihat dari jas lab yang masih dikenakannya, terlalu lapar untuk peduli dengan penampilannya. “Apa jadwal kalian nanti?”

“Mata kuliah biokimia. Haduh, bikin ngantuk saja belajar biokimia jam satu siang,” gerutu Clara. Dessy mengangguk mengiyakan kemudian mulai makan kembali. Ayolah Dessy, paling tidak selesaikan makanmu dulu. Kamu butuh energi untuk menuntaskan masalahmu! Dia masih tidak habis pikir soal Bumi, kenapa ia mau-maunya dirangkul dengan perempuan itu. Juga kenapa mereka makan di restoran yang menyerupai bar begitu? Aneh-aneh saja.

Tanpa disadarinya, kedai makan itu mulai hening dan bahkan suara Izo dan Clara yang sedang bercakap tidak terdengar. Diam sesaat kemudian terulang lagilah suara-suara itu..

“Prang!”

Apa kabar permirsa silet dimanapun anda berada. Bersama saya feni roose selama satu jam—”

“Hooi!”

“Meong.. meong…”

“Kita putus!”

Dessy terkejut. Suara siapa tadi?

Izo dan Clara masih sibuk mengobrol tentang laporan praktikum mereka, dan tidak mungkin ada yang berteriak putus! Pun didalam kedai makan ini tidak ada orang yang berpasangan—mantan pacarnya tadi sudah pergi.

Jadi siapa?

Apa mungkin ia teringat dengan masa-masa putus dengan pacar lamanya? Tapi mana mungkin? Suara itu begitu lantang seperti baru saja diteriakkan didepan telinganya. Suara laki-laki.

Jangan-jangan itu suara Bumi dari masa depan yang menginginkan mereka putus?

Oh sudahlah Dessy, kau hari ini sedang tidak fokus. Cobalah untuk lebih peduli dengan ujianmu lusa!

Tapi setidaknya ia harus menelpon Bumi paling tidak sekali. Untuk memastikan bahwa tuduhan Clara tadi tidak tepat.

***

“Halo.. Bumi?”

Ya… Ada gerangan apa menelponku, des?”

Masa menelpon pacar sendiri tidak boleh?” tanya Dessy, disambut dengan tawa kecil dari Bumi di seberang sana. “Oke-oke, ada apa pacar?”

“Kamu kapan pulang?”

Tiga hari lagi, pesawat jam 3. Pacar mau jemput?”

“Naik apa, hahaha,” Dessy tertawa garing, “Mau aku jemput pake sepeda?”

Haha.. boleh juga..”

“Bum, aku mau tanya nih,”

Tanya apa pacar?”

“Kamu ga ngedekatin cewek lain kan di Jakarta?”

Untuk beberapa saat hening. Dessy benci hening begini. Rasa-rasanya ia mendengar suara pecahan gelas itu lagi, yang kemudian akan berakhir dengan kata-kata terkutuk itu. “Nggak kok. Memangnya ada apa?”

“Nggak ada apa-apa sih, haha,” Dessy menggigit bibirnya gelisah, “Mungkin aku yang terlalu khawatir, kan cewek-cewek Jakarta pada bening-bening, cantik-cantik…”

Kamu liat foto-foto pas kami reuni ya?” tanya Bumi tiba-tiba.

“Clara yang kasih liat, bukan aku yang cari.”

Kan sudah kubilang kamu percaya aja sama aku,”suara Bumi terdengar sedikit meninggi. “Kupikir kamu menelpon karena rindu, eh rupanya mau cemburu-cemburuan. Aku nggak suka cewek yang suka cemburu.”

“Maaf Bum, aku cuma mau tahu aja… temanmu kan temanku juga.”

“Tut.. tut…” sambungan telepon itu kemudian terputus. Dessy memandangi layar hpnya, yang backgroundnya foto siluet mereka berdua di pantai panjang. Ia jadi menyesal sudah menelpon Bumi untuk menanyakannya tentang foto itu, tentang semuanya..

Air matanya meleleh. Kali ini ia benar-benar galau.

Dan diantara suara isak tangisnya, ia mendengar beberapa suara yang kini familier…

“Prang!”

Apa kabar permirsa silet dimanapun anda berada. Bersama saya feni roose selama satu jam—”

“Hooi!”

“Meong.. meong…”

“Kita putus!”

“Brukk!”

***

Setelah malam itu, Dessy mencoba untuk fokus dengan pelajarannya saja. Mengejar lulus modul, itu saja. Soal Bumi, mau dia pulang hari ini kek, mau nggak pulang kek, terserah dia. Juga untuk suara-suara itu, meskipun tambah lama tambah aneh saja yang didengarnya, tapi ia tidak peduli.

Sebenarnya niat itu bagus juga, meluapkan kekecewaan menjadi kekuatan untuk sungguh-sungguh belajar. Tapi rasanya tidak rela ia dimarahi tanpa alasan seperti itu oleh Bumi.

“Ya ampun, ternyata selesai jugaaaaa!” teriak Clara begitu keluar kelas. Yang lainnya jadi kaget.

“Belum selesai tau, besok juga udah ada remedial. Dasar nih, yang nggak remed,” serbu Annis dari belakang Clara.

“Iya! Mentang deh ya, yang jagooo!” timpal Intan sambil mencubit pipi Clara. “Eh Des, nanti kita makan dimana?”

“Dimana aja deh. Aku lagi lapar,” sahut Dessy.

“Des, coba kamu liat siapa yang datang..” kata Annis, menunjuk kearah belakang Dessy.

Bumi!

“Hai pacar..”

Kenapa dia ada disini? Bukannya dia baru pulang besok?!

Tapi matanya tidak berbohong, Bumi berdiri disana, didepannya. Cowok itu masih sama seperti terakhir kali seperti saat mengantarnya pulang kerumah sebelum berangkat ke Jakarta. Memakai hijau lumut kesukaannya, dengan aroma yang sama. Dessy mau tidak mau tersenyum melihat sosok yang dirindukannya ini. Tapi…

“Prang!” suara pecahan gelas-gelas itu terdengar lagi. Dessy yang sudah terbiasa dengannya tidak bereaksi, tapi Annis, Clara dan Bumi mendengarnya, sedikit merasa terkejut.

“Suara apa itu?” tanya Annis, melongokkan kepalanya kearah kantin. Suara? Pikir Dessy. Jadi kali ini bukan suara gaib itu lagi? Untunglah…

“Ada yang main bola dikantin, itu tiga gelas yuk mar pecah tuh,” timpal Burlian dari belakang.

“Ooh, gitu. Makasih ya!” teriak Annis riang. Dessy kembali menatap Bumi, “Kamu udah pulang?”

“Masa hantu sih,” canda Bumi, “Ya sudah pulang lah. Kamu nggak kangen nih? Ya udah aku pergi aja lagi.”

“Kangen tapi takut kena marah Bumi…” jawab Dessy sedikit manja. Bumi mencubit pipinya gemas. “Yuk makan. Aku lapar nih,” ajaknya. Dessy berpaling kearah kedua temannya. Annis dan Clara sibuk menganggukkan kepala dan memberi isyarat mengusir. Cepat sana sebelum diputusin Bumi, cowok ganteng jangan disia-siain! mungkin begitu artinya.

Bumi menyodorkan helm pada Dessy, kemudian melambai pada Clara dan Annis.

“Aku nggak beli oleh-oleh loh, tapi ya,” celetuk Bumi ketika mereka mulai berjalan menuju parkiran.

“Wah jahatnyaa..” Dessy meninju tangan Bumi pelan, “Kalau begitu aku nggak jadi kangen.”

“Begitu ya, haha.”

Aku kangen kamu, Bumi.

***

Mereka sampai direstoran favorit mereka berdua. Koreksi, mungkin lebih tepatnya rumah makan padang. Bumi suka sekali makan dengan porsi besar, jadi disinilah mereka.

Apa kabar permirsa silet dimanapun anda berada. Bersama saya feni roose selama satu jam—”

“Kok acara gosip terus ya?” tanya Bumi. Dessy memutar badan dan melihat tayagan Silet sedang diputar di televisi rumah makan. Ia mengangkat bahu, mana kutahu?.

“Hooi!” seseorang berteriak didepan Dessy. Tapi bukan untuknya, untuk orang dibelakangnya. Orang itu kemudian datang tergopoh-gopoh ke sumber suara. Mungkin dia pelayan dan yang memanggil tadi bosnya. Kelihatannya begitu. Laki-laki bersuara lantang tadi kemudian memerintahkan orang itu mengambil kembali plastik pembungkus dari belakang.

“Gimana ulangannya, Des?” tanya Bumi disela-sela makannya.

“Baik-baik aja kok. Kayaknya aku sama Clara nggak remedial apa-apa deh.”

“Bagus dong. Kita jalan-jalan yuk.”

“Kemana? Kamukan baru aja pulang?”

Bumi meraih gelas teh manisnya dan minum sedikit. “Kamu kan butuh hiburan. Lagian kita udah lama nggak jalan bareng.”

“Boleh sih, nanti kutanya mama…”

Meong.. Meong…

Kucing?

Oh baiklah. Kali ini kucing beneran—yang sedang sibuk mengelus kakinya meminta ayam barang sepotong—setelah sekian lama mendengarkan suara kucing gaib di rumahnya yang bebas binatang peliharaan, ia kini bisa mendengarkan suara itu dari wujud aslinya.

Tunggu, sudah berapa banyak suara gaib yang didengarnya barusan?

Suara gelas pecah, pembawa berita silet, seseorang berteriak, dan kucing… dalam satu waktu?

Jangan-jangan yang didengarnya selama ini adalah suara dari masa depan? Dan, suara-suara itu berasal dari hari ini?

Kalau begitu, suara selanjutnya…

Dessy menutup telinganya. Seperti deja vu. Semestinya dia sudah sadar dari suara pecahan kaca tadi. Apa mungkin Bumi mengajaknya kesini untuk.. Mengakhiri hubungan mereka?

“Kita putus!”

Eh?

Bumi masih sibuk melahap makanannya. Bukan dia yang bicara. Dessy berpaling dan mendapati seorang laki-laki dimeja seberangnya sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang. Dari pacarnya mungkin. Dan dialah yang berteriak tadi.

“Edan benar, memutuskan pacarnya sendiri lewat telepon. Laki-laki macam apa,” komentar Bumi. Dessy terdiam, benar-benar bersyukur bahwa teriakan tadi bukan untuknya. Tidak ada yang akan terjadi padanya dan Bumi. Bumi menjumpainya bahkan sampai mempercepat jadwal pulangnya, itu sudah jadi bukti bahwa Bumi juga rindu padanya.

Ia mestinya tahu itu.

“Kamu kenapa? Kok pucat begitu?”

Dessy tersenyum, “Ah, tidak ada apa-apa. Oh iya, aku minta maaf ya soal teleponku waktu itu.”

“Aku juga,” timpal Bumi sungguh-sungguh. “Aku lagi sensitif hari itu, dompetku hilang, bukan, disembunyikan dengan teman-teman. Karena kamu menelpon disaat yang tidak tepat, malah kamu yang kena batunya. Maaf ya.”

Dessy dan Bumi bertatapan.

Saling rindu.

“Bagaimana kalau kubelikan eskrim?” tanya Bumi memecah suasana. Dessy menangguk. “Cornetto caramel ya.”

“Satu aja tapi ya. Kalau mau dobel beli sendiri,” goda Bumi.

“Apaan sih, kamu tuh yang rakus,” balas Dessy. Bumi melambai kemudian keluar dari rumah makan dan berlari-lari kecil menuju toko waserba yang ada diseberang jalan.

Berarti suara-suara itu muncul karena sedang galau dan stress saja.. Yah, mungkin aku tidak seharusnya baper-baperan kayak gitu ya? gumam Dessy. Bagaimanapun juga, ia lega bahwa saat ini—

“Bruk!”

Bu…mi?

***

http://www.firafirdaus.wordpress.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s