Gelombang π ver 2.0

7a80cd563fee7bd68a480747044efe6c“Berapa nilai UAS matematikamu?”

Linggo berbalik, dibelakangnya nampaklah sesosok perempuan yang sedang nyengir lebar. Seseorang yang dikenalnya baik, terutama setelah kejadian tahun lalu dimana anak itu nyaris terjun dari lantai 5.

“Yang pasti jauh lebih baik darimu,” balas Linggo, memperhatikan Hara yang kini merengut kemudian memukul pelan lengannya. “Cih.”

“Pokoknya lulus kok,”

“Ah sudahlah, susah ngomong denganmu?” balas Hara sambil merengut. Linggo tersenyum kecil. Ia ingin sekali berlama-lama mengobrol dengan sahabatnya ini, apa lagi soal matematika. Yah, walaupun mereka masih rival, setidaknya bukan rival yang kejam seperti prasangka Hara dulu.

“Har, aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu ya.”

“Mau kemana? Kaukan janji traktir es? Mau kabur ya?!”

Tapi Linggo tidak menjawab, hanya berlari menjauh dan melambai meninggalkan Hara yang masih penasaran dengan nilai UAS Linggo.

***

Tiap variabel punya konstanta masing-masing,

Linggo menghentikan lari-lari kecilnya dan terdiam ditempat sesaat setelah ia sampai dibelakang sekolah.

Bodoh, tidak mungkin Panji menepati perkataannya sendiri, gumam Linggo dalam hati. Mereka hanya akan berdua saja, kata Panji 15 menit yang lalu. Nyatanya ia berdiri angkuh diantara 2 ‘pengawalnya’, menunggu Linggo datang. Apa yang ingin ia bicarakan?

“Bugh!”

Seseorang menendang Linggo dari belakang, membuatnya tersungkur dan kacamatanya terlempar entah kemana. Linggo mendongak, kemudian mendapati Randi sudah ada berjongkok disampingnya, tersenyum menyeringai mengerikan. Linggo mengerti sekarang, ia diundang untuk pesta—

—yaitu untuk menghajarnya sampai puas.

Nilai keempat orang ini buruk sekali, dan sekarang mereka akan melampiaskannya padanya. Tapi sebelum Linggo bisa mengambil ancang-ancang kabur dan pergi makan es didepan sekolah bersama Hara, kedua pengawal Panji sudah mengangkatnya bangun dan mengunci tangannya.    

“Bangsat! Anak setan!”

Panji menendang perutnya, dan Linggo sama sekali tidak bisa melawan, kedua tangannya ditahan kebelakang oleh Rizki dan Angga. Panji menggulung lengan bajunya, mempersiapkan tinju.

“Kau tahu Linggo, betapa mudahnya berkerja sama denganku,” kata Panji melepaskan jam tangannya kemudian memasangnya diantara tinjunya yang terkepal, “hanya untuk memberikan sontekan saja kau pongah bukan main.”

“Bugh!” sekarang tulang pipi Linggo yang jadi sasaran. Ia langsung merasakan nyeri berdenyut disekitar wajahnya. Tapi Panji nampak belum puas menghancurkan mukanya. Dianggapnya orang lainlah yang pantas menjadi alasan atas hancurnya nilai UASnya.

“Aku sebenarnya mau belajar,” ungkap Panji, “Matriks, Vaktor, Intragral…”

“Integral,” koreksi Linggo.

Panji memukulnya lagi, “apapun itu! Tapi semua hal sampah itu tidak akan berguna buatku dimasa depan!”

Wajah Linggo memerah, Panji sudah kelewatan.

“Marah?” ejek Panji, menamparnya kemudian menahan rahangnya. Mata mereka bertemu. “Seharusnya kau pikir-pikir lagi sebelum memutuskan untuk jadi musuhku!”

Linggo mendengus, “siapa juga yang mau jadi temanmu.”

Panji menggeretakkan giginya. “Kau mau mati ya? Heh!? Dasar anak sombong! Pegangi dia!”

Angga dan Rizki mempererat kunciannya. Linggo berusaha melepaskan diri dengan meronta, tapi dua orang ini kuat sekali. Masing-masing berbobot lebih dari 70 kilo dan berperawakan seperti bodyguard daripada anak SMA.

“Rasakan ini!”

***

Di titik itu, Linggo berpikir ia akan mati sendirian dibelakang sekolah.

Wajahnya babak belur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ia meringis menahan sakit di perutnya, yang ditinju lebih dari 5 kali. Belum lagi tulang tangan kirinya yang terasa mati rasa karena tadi sempat lolos dan nyaris balik meninju tapi malah terhantam tendangan Panji.

Linggo berbaring telentang menghadap langit senja yang mulai gelap. Dunia ini menyakitkan, penuh dengan iri dan benci. Apalagi untuk orang sepertinya yang menolak masuk dalam himpunan.

Disaat-saat seperti itu, ia memilih untuk menghitung nilai π.

“3,1415926535897932384626433832..”

Kalau memang realitas dunia seperti ini, manusia, apakah boleh memilih kehidupan paralel?

***

“Linggo!” Pekik Hara, mendapati sahabatnya itu tergeletak—mungkin pingsan—di belakang sekolah.

Tadinya ia hanya akan mencari Linggo, penasaran apakah urusan yang dikatakan Linggo barusan berarti mau ‘nembak’ Rasti (wanita idaman Linggo, anak itu mengatakannya sendiri saat mereka belajar bersama untuk UAS) atau bukan.

Tidak mungkin Rasti sudah berubah menjadi ganas dan menghancurkan Linggo seperti ini setelah Linggo mengatakan “I love you”

Bisa jadi sih, tapi… Ah, apa yang kau pikirkan Har!

Ia mencari nadi karotis Linggo dan merasakan denyutnya. Masih hidup. Hara menepuk-nepuk pipi Linggo, kemudian mencubitnya. Mulanya pelan, tapi kemudian sekeras yang Hara bisa. Biasanya Linggo akan langsung melompat kesakitan, tapi tidak ada reaksi sama sekali.

Jangan-jangan ia masuk ke gelombang π?

Tapi berapa ratus angka yang dirapalnya hingga tidak sadarkan diri seperti ini?

Jadi… apakah ia harus menunggu Linggo sadar dan kemudian menanyainya?

Hara memandangi wajah sahabatnya yang babak belur, meringis melihat memar di tangan kirinya. Ada alasan mengapa Linggo memilih untuk masuk ke π daripada bangkit dan mencari pertolongan.

Hei, bagaimana kalau aku ikut masuk?

***

Setiap bilangan irasional memiliki kekuatan magisnya masing-masing, salah satunya π. Linggo menemukan bahwa setiap angka desimal pi disebutkan, maka mereka dapat memasuki realitas paralel. Ia berhasil memecahkan ketidakmungkinan tersebut dan memanfaatkan ketidakterbatasan pi.

Hara bebas dari tarikan pi dan tersadar ia sedang berada di koridor sekolah.

“Hei, lihat Linggo atau tidak?” Hara menyetop salah seorang teman sekelasnya.

“Tidak, coba tanya dengan Panji.”

“Oke, terima kasih…”

Hara berjalan melewati korridor sekolah. Banyak tersenyum pada orang-orang di realitas paralel ini. Mereka benar-benar ramah, tentu saja. Realitas paralel membolak-balik sifat dan karakter seseoran. Seperti ganjil dan genap. Yang mana yang di dunia nyata banyak menggerutu dan pemarah, di dunia ini menjadi lebih baik dan ramah…

“Linggo!”

“Hai Har, apa kabar?” tanya Linggo. Hara terperangah melihat wajah sahabatnya yang bersih tanpa luka apapun.

“Kenapa memandangiku seperti itu?”

Ah, ini dunia paralel, kan?

“Sudah berapa lama kau disini?” tanya Hara tanpa basa-basi. Ia teringat hari sudah sore dan mereka harus segera pulang kerumah masing-masing.

“Berjalan-jalan di koridor ini? Baru satu menit yang lalu. Ada apa?”

“Pulanglah ke dunia nyata, aku akan merawat luka-lukamu,” ajak Hara.

Raut muka Linggo menyiratkan bahwa ia benar-benar terkejut. “Tunggu, kau bukan ilusi? Hara, kau mengikutiku lewat pi?” tanyanya tidak percaya.

“Ya aku mengikutimu. Buat apa kau masuk kesini? Risti menolak cintamu?” goda Hara.

Tapi yang digoda tidak tersenyum sama sekali. Mukanya berubah masam dan mulai berkacak pinggang. “Kau saja yang pulang,”

“Apa maksudmu?” tanya Hara kebingungan. Linggo tidak menjawab dan malah berjalan melewatinya. Ada apa dengan Linggo? Kenapa dia tidak ingin pulang?

Hara berlari dan menarik pundak Linggo untuk mencegatnya.

“Hei, hei, jangan bercanda. Kau akan pulang ketika pi-mu habis kan?” kata Hara, teringat dengan jumlah pi yang dirapalnya tadi. 42 angka memberinya waktu 40 menit, 100 angka sekitar 2 jam kurang. Berapa banyak yang Linggo sebutkan sehingga ia dengan sombongnya berkata tidak mau pulang?

Linggo berbalik, “pulanglah.”

“Tidak tanpamu.”

“Aku bilang pulang sana!” bentak Linggo. Hara terkejut, begitu pula dengan Dwickey dan Agatha yang sedang lewat dibelakang mereka.

“Tidak ada apa-apa, kalian deluanlah,” kata Hara pada mereka. Dwickey menepuk pundaknya kemudian berjalan melewati mereka.

Kemudian mereka terdiam. Linggo menunjukkan raut wajah ingin mengatakan sesuatu, mungkin hipotesisnya, tapi tidak jadi. Hara memperhatikan sahabatnya dengan hati-hati.

“Kumohon Hara, biarkan aku tinggal disini.”

Tinggal… di realitas paralel?

“Bagai—bagaimana kau bisa tinggal disini?” Hara tergagap. Ini tidak mungkin. Apa nasib raga Linggo yang tertinggal di dunia nyata? Koma?

“Kalau kuberitahu, kau akan mengizinkanku tinggal disini..” ujar Linggo.

“Tidak mau. Kau harus pulang!”

“Kau ini keras kepala!” teriak Linggo, seakan-akan mereka berada dilapangan luas, seakan-akan tidak ada manusia lain yang akan mendengar mereka. “Seakan-akan tidak tahu betapa sulitnya aku bertahan di sana. Kau lihat mukaku bonyok? Kau tidak tahu sudah berapa kali aku dipukuli mereka? Orang-orang itu.. Seenaknya saja memukul hanya karena aku lemah dan miskin. Benar, aku tahu yang ada dipikiranmu. Aku sudah jadi lemah seperti mereka karena menganggap dunia tidak adil. Tapi setidaknya jika aku disini, aku bisa memutar balikkan dunia paralel dan menyeleksi karakter..”

Linggo berhenti sebentar kemudian mendekat ke Hara.

“Dengar, aku sedang mencoba menciptakan himpunan yang lebih baik. Kau tidak perlu tahu bagaimana, tapi kalau kau memang sahabatku, seharusnya kau senang aku berada di tempat yang lebih baik..”

Hara terdiam. Juga Linggo, matanya berkaca-kaca.

“Jadi… kau sudah mati. Begitukah?”

“Ya.”

Panji dan Angga menghampiri mereka. Panji merangkul Linggo. “Kucari kau kemana-mana, baru darimana saja? Kami menunggumu di kantin!”

“Menemui Hara, akan kususul kalian nanti,” jawab Linggo.

“Tidak, pergilah kalau itu memang pilihanmu,” kata Hara kemudian. Linggo terkejut. Hara tersenyum kemudian melangkah mundur.

Melepas sahabat baiknya begitu saja? Tapi ini pilihan Linggo. Tiba-tiba saja air matanya menetes. Ini perpisahan, dan Linggo memilih mati didunia nyata. “Aku akan merindukanmu, kalau begitu…”

Bersamaan dengan kata-kata itu, sosok hara berkelebat menjadi partikel-partikel vertikal dan memutih, kemudian tertarik keatas dan menghilang menjadi diskret-diskret energi yang akan menghantarkannya ke realitas nyata.

***

Hara tertarik ke realitas nyata dengan sempurna, merutuk dirinya kenapa tidak menggunakan argumen lain untuk membawa Linggo kembali. Kehidupan memang menyebalkan dan sesekali menyakitkan, tapi pasti ada hal yang membuat kita kuat untuk bertahan.

Matematika! Ya, matematika salah satu hal yang membuat Hara bertahan. Selama bertahun-tahun terpana dengan sifat infinity—tidak terbatasnya matematika, alogaritma dan kalkulus, bilangan irrasional..

Seharusnya Linggo bertahan untuk matematika.

Hara memandangi tubuh sahabatnya yang masih tergolek ditanah. Air matanya mengalir lagi.

“Uhuk uhuk,” Linggo terbatuk. Hara terkejut, “kamu kembali?!”

Linggo menggeliat untuk duduk, Hara membantunya. Ia memegangi perutnya yang sakit dan tangan kanannya menyeka sudut bibirnya yang berdarah.

“Yah, bisa dibilang begitu.. Aduh!”

“Kok? Katanya kau menemukan cara untuk disana selamanya? Mau mengubah realitas paralel menjadi lebih baik?”

“Awalnya begitu, aku memperlambat waktunya dengan merapal angka pi—lagi dan lagi. Dengan begitu aku bisa mengulang kehadiranku disana sekaligus bertemu dengan karakter acak—bukan kebalikan. Dengan peluang terjadinya himpunan orang-orang baik lebih banyak, pada awalnya. Tapi kemudian terjadi hal-hal aneh, peluang orang-orang baik tidak muncul lagi. Malah tergantikan dengan populasi hitam…”

“Karena kau bukan tuhan, kau tidak bisa memilih takdir, itu intinya. Maafkan aku Hara, aku yang egois.”

Hara menggigit bibir, lega temannya yang satu ini kembali. Karena gemas ia mencubit pipi Linggo.

“Aih, sakittt!”

***


Dibuat dalam rangka mengikuti lomba cerpen yang diselenggarakan oleh Hima pendidikan matematika FKIP UNIB. Posternya bisa dilihat dibawah~

12065497_967568053289701_979268431854808708_n.jpg

Lomba ini udah kayak event tahunan Rizki-Fira-Maya. Tahun ini (alhamdulillah) walaupun ngumpulnya telat setelat-telatnya deadline hehe, tapi kami bertiga berhasil mengumpulkan karya kami, yey!

Selalu berharap yang terbaik, mudah-mudahan tahun ini ketiganya tembus dan menjadi juara, aamiin ^ ^

Looking forward to 23 November guys!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s