Selamanya Sejawat

Namaku Suci, 22 tahun.

Mahasiswa semester sembilan fakultas kedokteran Universitas Bengkulu.

Oke, oke, aku tahu apa yang ada dalam pikiran kalian sekarang. Aku memang termasuk mahasiswi tua—nyaris dapat julukan mahasiswi abadi karena belum juga menyandang gelar S.Ked. Empat tahun setengah sudah kulewati dengan berputar-putar di kampus, memperhatikan teman-temanku lalu-lalang mengurus skripsi atau malah ujian UKDI[1] terakhir—maksudnya ujian terakhir yang harus dilangkahi untuk menjadi seorang dokter.

Tapi apa boleh buat, kecelakaan yang terjadi padaku tahun lalu membuatku harus mengulang beberapa modul[2]. Bersama adik tingkat tentunya. Karena malu, aku biasanya duduk paling belakang.

Seperti saat ini.

Memperhatikan warna-warni mobil yang terparkir didepan gedung kedokteran, mengabaikan dokter[3] yang sedang kuliah tentang biokimia. Wajahku ditiup angin semilir pendingin ruangan. Ketika aku hampir meletakkan pipi di meja, dokternya sudah bilang assalamualaikum, pamit. Serentak tanpa dikomando peserta kuliah lain langsung bergerak berdiri dari kursinya dan satu persatu pulang. Wajar saja, sekarang sudah jam 4 sore. Dokternya kadang suka keasyikan.

Dan lagi, beberapa hari terakhir ini anak-anak baru lagi seru-serunya ngobrol tentang hantu.

Katanya ada hantu di gedung ini.

Tapi aku tidak begitu peduli. Sudah dari jaman junior kudengar cerita mengenai suasana mistis di gedung paling ujung dan terisolir dari kampus lain ini. Katanya didekat ruang anatomi dibawah jam 5 sore pasti ada kenampakan. Atau diruang kuliah ini. Mereka bilang dibelakang suka ada hantu berwujud wanita.

Lho kok aku jadi merinding sendiri? Hehe.

Tapi ada satu orang yang tidak pulang. Dia duduk didepan kelas, mungkin sedang bersiap-siap pulang. Tidak juga, dia sedang menggambar. Mungkin. Soalnya dia tidak sedang ketiduran atau baca buku. Toh fisiologi guyton[4] tergeletak begitu saja disampingnya, nganggur. Aku mengemas buku-buku dan menyambar kardigan kremku—yang entah kenapa ada bercak-bercaknya merah (mungkin karena aku tidak sengaja menempatkannya sembarang di laboratorium tadi siang)—kemudian berjalan mendekatinya.

Benar kan? Dia sedang menggambar! Mensketsa rupanya. Gedung asrama orchid yang berdiri kokoh di sebelah jalan jadi objeknya. Pintar juga dia. Dia terlalu serius sampai-sampai tidak merasakan kehadiranku. Aku meraih kertas-kertas A5 yang tergeletak di kursi sampingnya. Ada gambar GSG—gedung serbaguna, ada musholla shelter, juga rektorat. Widih, dia mau ini mahasiswi kedokteran atau anak teknik sipil?

“Hei, kalian kenapa belum pulang?”

Aku berbalik, cewek itu juga ikutan berbalik. Kaget dong, siapa juga teriak-teriak di sore yang sepi kayak gini. Aku menggerutu tapi si cewek gambar hanya tertawa, eh nyengir. Ia meraih sketsa-sketsanya, termasuk yang kupegang dan mengemasnya di dalam map.

Kemudian ia langsung berjalan keluar tanpa pamit denganku.

Buset, anak itu ga ada hormat-hormatnya sama senior?![5]

Awas deh ya, besok kubikin pelajaran.

***

Pagi ini, baru mau manggil si maba yang sombong, eh dia malah nabrak aku dari depan!

Apa mau dikata, si cewek maba berkuncir kuda itu berjalan menunduk sambil menahan kacamatanya agar tidak melorot. Jelas sekali dia tidak melihatku berdiri didepannya sambil melipat tangan.

Tapi kemudian aku memperhatikan ia berjalan lebih menunduk lagi, bahkan pada saat bertemu dengan teman sekelasnya yang lain malah dia berjalan lebih cepat.

Emosiku tiba-tiba jadi hilang lho. Malah dadaku berdesir, anak ini sepertinya sama denganku dulu.

Dulu aku orangnya pemalu dan penakut, sedikit-sedikit menggerutu karena tidak bisa ikut sekolah penerbangan. Bersungut-sungut ketika biokimia mantul-mantul keluar dari otak atau marah-marah sendiri karena terlalu banyak istilah anatomi yang harus kukenal.

Karena penasaran, kuikuti dia.

Aku ikut naik keatas, lantai dua, keruang kuliah. Baru ada dia dan 4 orang lainnya. Aku mengambil tempat dudukku diujung kelas seperti biasa, lalu memperhatikannya.

“Hai Muth,” sapanya saat salah satu anak tak sengaja bertemu pandang dengannya. Anak yang dipanggil Muth (kalau tidak salah namanya muthia). Masih satu angkatan dengan cewek-berkacamata-hobi-gambar-dan-pemalu.

Oh iya aku lupa siapa nama maba yang kuikuti ini.

“Eh, um, hai juga, err, Lina?” jawab Muth sekenanya, meringis lalu memalingkan kepala kembali mengobrol bersama dua temannya dibangku sebelahnya. Masing-masing memegang iphone masing-masing. Yang dipanggil Lina menunduk lagi menatap sketsanya,

“Namakukan, Nina,” ucapnya lirih. Lirih sekali seperti angin lewat. Tapi aku mendengarnya, dan sedikit merasakan aura kesepiannya.

Bayangkan teman, sudah hampir dua semester mereka sekelas! Modul kali ini adalah modul terakhir tingkat satu, paling tidak mereka sudah pernah menyebut nama cewek itu paling tidak saat DK[6] atau pleno[7]! Mestinya ingat dong.

Ini keterlaluan. Mereka bakal jadi sejawat kelak dimasa depan. Harus saling bantu dan saling menghargai! Kalau dari awal begini saja mereka sudah berani membully teman (entah kenapa hanya dengan melihat adegan barusan aku sudah mendiagnosis seperti itu. Bullying) bagaimana nanti mereka saat menjadi dokter?

Alih-alih ingin memberi pelajaran pada Nina, Aku jadi ingin menasihati Muthia dan teman-temannya. Tapi kelas sudah bertambah ramai sekarang. Kuputuskan untuk menemui mereka sore nanti atau… pas makan siang?

Setidaknya tidak didepan orang banyak. Ingat kata orang bijak, jangan tegur kesalahan mereka di muka umum.

***

Gedung kedokteran adalah gedung paling nyaman seuniversitas. Warna catnya putih menyejukkan, serasi dengan jas-jas lab (bukan jas dokter ya, hihi) yang dipakai dengan bangga oleh anak-anak kuliahan. Setiap sisinya terawat, bahkan untuk kamar mandinya. Tirainya warna ungu seperti lambang fakultas. Anak-anaknya rapi dan klimis, yang perempuan walaupun punya banyak baju ngetrend dan high fashion kalau ke kampus tetap memakai kemeja dan rok saja. Yang laki-laki pakai pantofel, rapi seperti fresh graduate yang baru mau melamar kerja.

Kadang-kadang lucu juga memperhatikan bawaan anak kedokteran. Kadang-kadang setiap kamis mereka menenteng buku logbook dengan selipan tumpukan kertas hasil fotokopi. Kalau mereka sudah menenteng buku itu aku jadi ingat hari ini hari kamis. Atau kalau sudah ada yang bawa jas lab di tangan, artinya nanti siang akan ada praktikum. Nah, kalau siang ini, jadwalnya KKD[8]. Semuanya sudah pakai jas lab rapi dan mengobrol satu sama lain, memegang buku penuntun dan duduk dimasing-masing ruangan perkelompok.

Lebih seru lagi kalo membicarakan malam ujian atau minggu ujian, semuanya benar-benar bikin kangen. Dari yang nggak pernah tahu materi tiba-tiba jadi pintar pas pagi ujian, haha. Tapi sekarang bagusnya aku ke toilet dulu.

Ke-be-tul-an

Aku bertemu si Muthi dan salah satu temannya di toilet. Satunya sedang berkaca sedangkan satunya lagi sambil memegang iphonenya sedang membaca pesan singkat. Aku berani bertaruh mereka sedang menunggui teman mereka yang seekor lagi.

“Tadi malam nonton bukan empat mata nggak?” tanya Muthi. Temannya menggeleng tanpa mengangkat kepalanya dari iphone.

Ah, mereka belum melihatku. Bagus.

“Kamu doyan nonton tukul?” tanya si gadis berjilbab dengan iphone.

“Nggak kalo talkshownya. Tapi kalau yang jalan-jalan itu suka. Kadang-kadang nontonnya pas ngerjain tugas,” jawab Muthi, “yang tadi malam seru banget, mereka keliling bekas rumah sakit.”

“Yang dijawa itu?”

“Lupa sih. Pokoknya serem. Nggak pake ngopi aja tahan kalo nontonin itu.”

“Lebih serem mukanya si Lina sih, haha.”

“Bener juga, ra, haha!”

Aku meremas tanganku sendiri. Apa sih masalah mereka?

“Kalian—“ aku mendobrak masuk. Si gadis iphone sanking kagetnya sampai menjatuhkan handphonenya. Aku tersenyum, biar saja dia takut liat senior marah-marah. Tapi kemudian aku merasakan ada yang mencengkram tanganku.

“Kak, jangan,” pinta Nina.

***

“Mereka nggak keterlaluan kak,” jawab Nina saat kutanyai pendapatnya mengenai teman-temannya yang suka ngomongin dari belakang. Kini kami duduk di angin-angin[9] kampus, duduk menghadap gedung kuliah bersama 5 yang disinari cahaya mentari sore. Nina seperti biasa membawa sketsa-sketsanya yang belum selesai.

“Apalagi namanya membicarakan orang dari belakang itu?”

“Aku maklum kok kak. Aku memang menyeramkan,” jawab Nina. Aku jadi makin kasihan.

“Tapi kok mau-maunya dijauhin teman-teman kayak gitu? Ingat loh Nin, kamu tu sekolah kedokteran. Ini bidang keilmuan yang lebih sosialis daripada fisipol—maksudnya kamu harus lebih tau cara berinteraksi dengan orang lain disini. Lha gimana mau tau gimana caranya komunikasi sama pasien kalau sama sejawat aja kamu udah kayak gitu?”

Nina menaruh sketsanya, “akunya sebenarnya nggak mau kak. Tapi teman-teman kakak yang bikin aku begini,” jawabnya. Wajahnya muram. Seperti mau menangis.

“Loh, loh, temanku yang mana? Cup cup, jangan nangis…” panik karena melihat Nina nyaris meneteskan airmata. Maksudnya yah, sekarang matanya berkaca-kaca dan mukanya memerah. Duh kayaknya aku yang terlalu jahat karena sudah ngomel-ngomel.

“Nggak kak, aku ga nangis kok,” kata Nina kemudian, setelah melihat wajahku yang panik sekaligus bingung. “Bukan salah teman-teman kakak, tapi memang salahnya Nina. Nina yang terlalu menutup diri sehingga dijatuhkan banyak orang. Pernyataan barusan lupain aja kak,” lanjutnya.

“Karena memang dari dulu aku ga tau caranya berteman. Masuk FK karena keinginan ibu yang pengen aku jadi kayak kakak. Aku lulus SBM karena nilaiku tinggi, tinggi karena matematika dan fisika kujawab sempurna. Daripada berteman aku lebih suka menggambar. Manalagi di fk kan, sibuk…”

“Harus cari cara dong! Kuliah kedokteran jangan dijadiin alasan buat jadi kuper!”Gemes aku liat si Nina yang pemalu. “Sering-sering ngobrol dengan teman sebelum kuliah, puji pakaian mereka, katakan jokes yang lucu, ajak mereka ngomongin korea…”

“Tapi aku ga bisa..”

“Dibiasain aja! Kalau topik mainstream tadi ga kamu kuasai, coba aja dulu dengan ngomongin hal-hal yang Nina suka. Seperti ngegambar, atau matematika. Atau yang lain. Angkat aja dagumu dan mulai berkenalan. Berkenalan kayak kalian nggak pernah ketemu sebelumnya. Atau kalau perlu, ganti penampilan!” seruku. Tampang Nina yang sebenarnya cantik tapi kusam ini benar-benar menarik untuk di make-over. Atau sekedar jadi uji-coba fashionku, haha.

“Mungkin akan kucoba…” katanya ragu.

“Yang mana yang dicoba? Ganti penampilan?” sahutku berbinar-binar. Jadi ingat film korea yang pernah kutonton, pas adegan make-over , tokohnya jadi charming banget! Keren deh!

“Nggak, coba untuk bergaul. Entah kenapa ngobrol sama kakak memberikan Nina sedikit pencerahan,” katanya tulus. Aku tersenyum.

“Kamu tahu Nin, kalau nanti sudah jadi sejawat, teman sesama dokter itu ikatannya sama kayak saudara kandung. Ibaratnya kamu dan teman-temanmu itu mesti saling membantu, saling peduli dan saling percaya satu sama lain. Jadi mulai sekarang kalau kamu sudah putus asa dan menutup diri, bagaimana nanti ketika kamu membutuhkan mereka?”

“Jangan dibiasakan menjauh dari orang-orang Nin, pada orang-orang yang selalu membuka diri untukmu. Karena kalian akan berteman jangka panjang. Panjang sekali sampai lebih dari pensiun. Seperti, selamanya.”

Nina tersenyum cerah. Mengangguk.

“Iya, makasih kak, nasihatnya.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang amat penting. “Ah, aku harus cepat-cepat ke kost-an teman Nin, dia mau pinjam buku.”

“Iya kak, silahkan. Kita pulang sekarang?”

“Iya, ayok,” ajakku. Kami berjalan bersama keluar. Parkiran sudah sepi. Tinggal beberapa motor didepan. Mungkin anak UKM. Aku menaiki motor dan mengklakson Nina, “Deluan ya!”

Nina mengangguk. Aku melaju. Nggak ngebut-ngebut amat sih, soalnya jalan didepan FK belum diaspal dan masih menyisahkan batu-batu. Dulu aku selalu jalan dengan kencang disini, rasanya adrenalin selalu terpompa untuk mengendalikan motor yang roda-rodanya menjadi liar akibat batu-batu sebesar kepalan tangan membelokkan roda.

Astaga, apa itu?

Rasa-rasanya baru saja aku menyaksikan kilatan adegan menyeramkan. Seorang perempuan berkardigan krem tidak berhelm melintas cepat didepanku, namun ia tidak bisa mengendalikan motornya sehingga motor itu berlompatan liar dibatu-batu, kemudian melompat kearah parit. Perempuan malang itu ikut terlempar dan jatuh dengan posisi kepala menghantam batu.

Aku tergugu turun dari motor dan berjalan kepinggir jalan, masih melihat sesosok perempuan yang mati dibawah sana.

“Tidak, ini tidak mungkin.

“Aaaaaaaaaah!”

***

Namaku Nina, 17 tahun.

Mahasiswa semester dua fakultas kedokteran Universitas Bengkulu.

Maaf harus aku yang melanjutkan ceritanya.

Kak Suci yang kau baca ceritanya barusan, sudah meninggal tepat setahun yang lalu. Kecelakaan, tepat didepan kampus yang teramat dicintainya. Kematiannya yang tragis membuat arwahnya tidak dapat pergi dengan tenang, menurutku, sehingga kemudian ia tidak menyadari bahwa eritrositnya tidak lagi menyuplai darah dan oksigen tak lagi lewat di alveolusnya.

Berjalan melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Bahkan sempat-sempatnya menasihatiku agar tak lagi menutup diri.

Selamat tinggal, sejawat.

***

[1] UKDI, singkatan dari Ujian Kompetensi Dokter Indonesia.

[2] Sedikit berbeda dengan fakultas lain di UNIB yang perkuliahannya dihitung per sks, kedokteran belajar dengan modul yang dihitung 6 sks per modul. Modulnya macam-macam, ada Neurosains, Tumbuh Kembang Anak, dll.

[3] Meskipun mereka dosen, lebih afdol kalau dipanggil ‘dokter’ hehe.

[4] Buku fisiologi guyton : isinya tentang penjelasaan faal (fungsional) normal tubuh. Lumayan tuh tebalnya, hehe.

[5] Di kedokteran, kami punya aturan tidak tertulis mengenai sopan santun antar sesama. Ga cuma sama senior sih, pokoknya sama seluruh orang kampus termasuk pak satpam dan mbak CS. Ini buat bekal kalau udah belajar klinik di RS.

[6] Diskusi kelompok

[7] Presentasi hasil diskusi kelompok oleh kelompok satu dengan kelompok lainnya. Kalau diskusi kelompok biasanya hanya diskusi antar teman satu kelompok yang terdiri dari 10 orang bersama 1 tutor, sedangkan pleno itu diskusi bersama seisi kelas

[8] KKD : Keterampilan Klinis Dasar

[9] Jangan ditanya artinya, ga tau! J  yang jelas tempat ini satu-satunya tempat sejuk tanpa AC karena tempatnya cuma pake teralis.


Dipersembahkan buat calon sejawat-sejawat saya di fkik 2014 yang malam ini mungkin sedang mengerjakan logbook atau sedang ketiduran diatas logbook. Mencintai kalian guys, meskipun kayaknya kalian nggak bakal baca blog ini, hehe. 

LKMM DASAR UNIBCYMERA_20150918_122658

Iklan

2 thoughts on “Selamanya Sejawat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s