Waiting Lesson

0b764ce9b1cf0a06ea5fb408a9709963Gadis berambut pendek sebahu dengan dandanan seragam SMA yang tampak kucel sedang duduk dibelakang kemudi. Wajahnya terlihat bosan dan muram. Teringat dibenaknya ucapan mamanya pagi tadi. “Sya, seminggu ini habis pulang sekolah tolong antre bensin ya?”

“Lho, kok Tasya sih ma?” tanyanya dengan kening berkerut.

“Habis, Papa ke Jakarta dan sopir mama lagi pulang kampung. Kamu tolongin ya?”

“Nggak ah ma, sibuk!” tolak Tasya. Mamanya ikut mengerutkan kening.

“Emang Tasya mau, jalan kaki kesekolah?”

“Tasya mau kok,” kata Tasya bersikukuh. Ia tidak akan mau mengantre bensin sekarang, besok ataupun lusa. Soalnya beberapa hari terakhir antrean bensin memblundak. Melihatnya antreannya yang panjang saja Tasya muak. Apalagi kalau harus ikut-ikutan. Ogah!

Krisis bahan bakar telah membuat seisi kota kecil ini berebut untuk mengisi bahan bakar mobil dan motornya masing-masing. Apalagi ketika pemerintah mengabarkan bahwa harga bahan bakar akan dinaikkan, karena subsidi tidak lagi mampu membiayai kenaikan harga bahan bakar dunia, duh, orang-orang jadi makin kalap berurusan dengan bahan bakar. Kasus penimbunanpun menjadi tren.

Namun, Tasya tak kuasa menolak permintaan mamanya itu. Dan, disinilah Tasya berada, Pom Bensin. Sebenarnya bukan di pom bensin sih, sekitar 300 meter dari pom bensin. Sederhananya, Tasya lagi ngantre nih!

“Duh lama amat sih,” gerutu Tasya sambil mengklakson mobilnya, berharap mobil didepannya segera maju. Namun apa daya, mobil didepannya tidak bergeming. Baru beberapa menit kemudian mobil itu maju beberapa meter. Antrean merayap sangat pelan.lesson-2-e1421863971632

Tasya kepanasan. Panas karena AC mobil dilarang Mama dihidupkan (katanya sih membuat bensin semakin cepat terkuras, tapi itu membuat Tasya amat menderita), panas dalam arti konotasi juga. Panas karena marah, bosan, dan tak sabar. Panas itu membuat Tasya keluar dari mobil Sedannya dan duduk berteduh dibawah sebuah pohon mangga milik pohon klontong dipinggir jalan.

Ia menggerutu kesal dalam hati. Mengapa harus ia yang mengantre, mengapa kebanyakan orang mengantre hari ini, mengapa harus bensin yang diisinya ke mobil, bukan air?

“Aku benci menunggu!!!” teriaknya. Tak peduli pejalan kaki atau orang-orang yang mengantre BBM menatap aneh padanya. “Awas saja kalau mengantre ini ternyata memakan waktu satu jam, aku pergi saja!!!” teriaknya tak kalah kencang. Tasya memang harus berteriak untuk meredakan panas dalam hatinya.

Tiba-tiba, seorang cowok berkacamata minus yang kira-kira seumuran dengannya menghampiri. Bajunya yang berwarna merah membuat Tasya menyangka cowok itu adalah salah satu petugas pombensin.

“Hari pertama ngantre yah?” tanyanya ramah. Tasya terpana. Bukan karena cowok ini lumayan tampan, tapi karena suaranya yang begitu tenang dan merdu.

Dan karena gugup, Tasya menjawab dengan tergagap. “Eh, iya.”

“Lagi kesal?” tanyanya lagi. Tasya mengangguk. Tiba-tiba saja semangat bercelotehnya datang. “Iya nih. Mulai hari ini, selama seminggu mama menyuruhku antre bensin. Betul-betul pekerjaan yang membosankan. Padahal sudah 10 menit disini, antrean seperti tidak bergerak.” Celoteh Tasya.

“Sekarang bergerak tuh. Yuk majukan kendaraan kita masing-masing dulu sebelum mengobrol,” ajak cowok itu. Oh, ternyata selama Tasya duduk dan berteduh dibawah pohon mangga-dan berteriak juga-antrean telah bergerak.

Tasya memandang punggung cowok itu, dan baru menyadari bahwa cowok itu mengendarai mobil pick up. Mobil yang dianggap teman-teman sekelas Tasya yang elit “mobil kampungan”.

Setelah memajukan mobil, tasya kembali duduk dibawah pohon lain. Cowok berkacamata tadi mengikutinya duduk.

“Pantesan kamu nggak sabaran. Udah berapa lama kamu ngantre?” tanya cowok tadi. Tasya tergagap.

“Eh, baru 15 menit kalau nggak salah,” jawabnya.

“Segitu aja udah bosan. Aku pernah ngantre sampai 5 jam.”

“Masa sih?”

“Ya. Kalau nggak salah hari itu adalah hari pertama krisis BBM. Bayangkan banyaknya orang yang datang dan mengantre.”

“Wow. Is that worth it?” tanya Tasya dalam bahasa inggris. Sengaja. Karena menurutnya cowok berkacamata ini terkesan terpelajar.

“Maksudmu?” ups, tebakan Tasya salah. “No English ya? aku nggak bisa bahasa inggris,” kata Cowok tadi.

“Yah, apakah 5 jam itu pantas untuk beberapa liter bensin?” ulang Tasya. Cowok tadi mengangguk. “Bagi orang-orang seperti aku sih, itu pantas. Pernah dengar tidak, Waiting is a trap. There will always be reasons to wait.”

“Lho, katanya tidak bisa bahasa inggris?”

“Karena itu adalah kutipan yang paling kusuka, makanya aku hapalin. BTW, majuin mobil yuk. Kasihan yang antre dibelakang.”

Tasya mengangguk. Antrean telah maju sekitar 100 meter. Pom bensin sekarang telah kelihatan, dan Tasya telah kehilangan rasa bosan. Setelah mobil dimajukan, Tasya keluar mobil dan bertemu dengan cowok tadi untuk mengobrol lagi.

Kali ini bukan hanya cowok tadi yang keluar, tapi seorang bapak yang mobilnya mengantre dibelakang mobil cowok tadi.

“Menunggu adalah jebakan. Dan dibalik menunggu itu selalu ada alasan. Itulah yang selalu kulafalkan dalam hati jika bosan menunggu. Keyakinan bahwa akan ada sesuatu yang baik jika sabar menunggu membuatku bertahan,” jelas cowok tadi.

“Masuk akal juga. Wah, keren juga kata-kata mutiaramu!” seru Tasya sambil mengancungkan jempol. Cowok tadi tersenyum. Mereka menjadi akrab. Cowok itu ternyata sebaya dengannya. Namanya Jonathan. Panggilannya Nathan. Kelas 2 SMA juga. Mengantre bensin sehari-hari karena ingin membantu ayahnya yang ternyata seorang sopir mobil sayuran segar. Setiap malam bapaknya pergi ke Curup buat mengambil sayuran segar yang mau dijual, lalu subuhnya sudah harus sampai ke Bengkulu lagi, menjual sayuran tersebut. Kadang-kadang Nathan kasihan melihat ayahnya yang mengantuk karena terjaga semalaman harus mengantri Bahan bakar pula siang harinya. Makanya, Nathan yang menggantikan.

Baru mulai mengobrol tentang sekolah masing-masing, bapak yang mengantre dibelakang mobil Nathan mengomel. “Dik, jangan mengobrol begitu. Lihat antreannya sudah maju tuh. Kasihan yang dibelakang. Adik pikir yang bosan mengantre itu Cuma adik sendiri?”

Tasya dan Nathan kompak meringis. “Maaf pak.”

Nathan tersenyum kembali pada Tasya. “Sampai jumpa,” ucapnya.

“Eh, jangan pergi dulu. Tukaran nomor telepon yuk? Aku mau SMS-an denganmu. Pengen memulai Waiting Lessons,” kedipnya. “Oh, iya. Kita masih bisa bertukar pesan singkat. Tunggu, nomorku 081356781234.” kata Nathan.

Tasya membuat panggilan ke handphone Nathan.

“Sekian lama… aku menunggu… untuk, kedatanganmu…” ringtone dangdut. Sontak membuat Tasya terbahak. “Ternyata kamu fans Ridho Rhoma!” gelaknya.

“Bukan, bukan, aku cuma suka liriknya,” sahut Nathan, tak mau jadi bahan tertawaan.

Tasya kembali memajukan mobilnya. Ia benar-benar meresapi arti kata mutiara Nathan. Waiting is a trap. There will always be reasons to wait. Mengantre BBM adalah sebuah jebakan agar orang tak sabar dan menyerah. Orang-orang yang tak tahan menunggu seperti Tasya bisa saja meninggalkan antrean, menyerah. Tidak dapat apa-apa, hanya kepuasan telah meninggalkan sesuatu yang tidak mengenakkan hati. Tapi jika ia sabar menunggu, ia akan menemukan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang tidak akan ditemukannya jika ia meninggalkan antrean. Seorang… TEMAN.

“Tut tut!” dering SMS di Hp Tasya. Dari Nathan.

Waiting Lessons ya? Ide bagus. Aku senang mendapatkan sahabat baru. Sahabat PomBensin. Hehe,” isi SMS Nathan. Tasya mendengus.

“Awas saja kau panggil aku sahabat PomBensin. Nanti kupanggil kan Pak Guru.” Balas Tasya.

Ada apa sih, Sahabat PomBensin? Oh ya, jangan lupa majukan lagi mobilmu! Kita sudah mendekati akhir pelajaran hari ini!”

Tasya menepuk dahi. Ia sampai lupa memajukan mobil lagi. Tinggal empat mobil lagi didepannya. Ia membalas SMS Nathan lagi. “Ok deh pak guru! :D”

Antrean tidak maju-maju lagi. Tasya mulai kesal. “Pak Guru! Kok antreannya nggak maju-maju?” tanya Tasya via SMS ke Nathan.

Entahlah. Aku cek dulu.” Balas Nathan. Tak lama kemudian Tasya bisa melihat Nathan mendatangi petugas pom bensin dan bertanya. Lalu kembali lagi menghampiri mobil Tasya dengan muka kecewa.

“Bensinnya habis. Pertamaxpun habis. Kita benar-benar kurang beruntung,” ujarnya. “What the hell?!” ucap Tasya tak sadar.

“Katanya lagi, baru besok pagi tankernya datang.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan? Menunggu semalaman? Seperti mengntre tiket Super Junior saja,” gerutu Tasya. Nathan tertawa. “Tidak segitunya kali. Ya besok saja kita mengantre lagi. Anggap saja persediaan BBM habis itu ujian Waiting Lessons saja,” kata Nathan sambil tersenyum. Tasya jadi ikut tersenyum.

“Ya sudah kalau pak guru bilang begitu. Ayo pulang kerumah masing-masing!”seru Tasya ceria. Ia menyalami tangan Nathan. “Tasya pulang dulu Pak Guru,” katanya sambil cekikikan. Nathan hanya bisa mendengus kesal.

Tasya mendapat satu pelajaran tentang kehidupan hari ini. Nathan sebagai pak guru, menunggu sebagai pelajaran pertama, dan PomBensin sebagai sekolahnya.

***

Esok harinya, Tasya mengantre lagi di PomBensin. Ia beruntung, kali ini antreannya pendek. Tapi ia sama sekali tidak melihat mobil pick up Nathan sama sekali. Ditelpon juga tidak diangkat-angkat.

“Kemana ini pak gurunya. Masa’ telat?” gumam Tasya sambil melihat layar handphonenya. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Dari Nathan.

“Sahabat Pom Bensin, maaf,” ucap Nathan dengan suara serak. Tasya langsung menebak, ini pasti berita buruk.

Tasya hampir mematikan teleponnya. Ia sangat tidak suka mendengar berita buruk. Namun karena penasaran, mengapa suara Nathan yang biasanya ceria menjadi serak, membuatnya tetap mempertahankan tangannya menyangga Handphone didepan telinga.

“Ayahku meninggal karena pick up-nya ditabrak bus tadi malam. Sehabis mengambil sayuran dari Curup… Aku tidak bisa berjanji melanjutkan Waiting Lessons kita. Mulai besok, keluargaku akan pindah ke Curup. Dan itu artinya, aku tak ak
an bisa bertemu lagi denganmu di PomBensin pagar Dewa. Maaf…” lanjut Nathan.

“Pak guru, jangan begitu! Cukup beri tahu aku di Pombensin mana yang akan jadi sekolah kita berikutnya! Aku akan menemuimu nanti disana!” teriak Tasya.

“Tut.. tut… tut…” telepon terputus. Tasya baru saja kehilangan guru favoritnya.

Waiting is a trap. There will always be reasons to wait.

Tega nian, baru belajar sehari, Tasya sudah harus menemui ujian dari Waiting Lessons-nya. Ujian menanti Nathan. Semoga suatu hari nanti kita bertemu, Pak guru…

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s