Firchayala Jilid 2!

Sore-sore yang cerah. Akhirnya bisa liat langit Bengkulu biru, lho!

Curcol sedikit tentang cerita tadi sore. Ada panggilan butuh darah B, untuk ibu yang perdarahan setelah melahirkan. Agak telat datangnya, jadi udah siap berkantong-kantong tuh darah, hehe. Padahal juga bukan keluarga alias cuma dengar dari teman aja ada yang butuh darah. Akhirnya saya (dan Clara, yang menjemput karena khawatir saya pulang sendiri setelah mendonor) akhirnya jalan-jalan seputar rumah sakit. Mirip-mirip jjs cantik tapi kami mutarin RS gitu. RSUD M.Yunus sore hari terlihat sepi, nggak ada kegawatan yang terlihat, malah bisa dibilang adem-adem aja. Lewat ICU dan ICCU memang ramai, tapi tidak begitu histeris. Akhirnya kami pulang dan aku mulai membuka laptop, hehe.

Lanjutkan tulisan-tulisan di blog dan untuk lomba. Tunggu postingan Kegilaan Oktober ya! Hehe.

Nah, jadi, apa yang membuat saya bikin postingan ini adalah saya menemukan draft firchayala jilid 2 di laptop! Lupa-lupa ingat pernah mengerjakan project ini, surprise juga karena pernah terpikir untuk melanjutkan novel firchayala yang bahkan tidak pernah terbit, hehe.

Pengen sih ngelanjutinnya karena kangen, kangen ceritanya yang bisa dibikin segila apa-apa yang kubayangkan dan kangen karakternya. Apalagi di firchayala jilid dua cerita romancenya! Wihihi.

Anyway, coba dibaca dulu nih, siapa tahu kalian bisa kasih saran gimana kelanjutan Firchayala jilid 2!

Baca juga >> Firchayala 1


Prolog-Ayah, Dimana Engkau?

Liburan bagi Aya adalah waktunya menyisingkan lengan baju dan bekerja lebih keras. Waktunya berbakti pada orang tua. Pada ibunya, yang sakitnya sekarang makin menjadi-jadi.

Kata dokter, ibu sakit TBC. Setiap hari harus minum obat rutin, tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran. Pekerjaan-pekerjaan yang berlebihan bisa memperpendek umurnya. Karena itulah Aya yang menggantikannya bekerja. Setidaknya ia bisa memastikan keluarganya makan dengan cukup setiap harinya. Ia, Kak Gilang, sepasang pedang mereka yang kondang; Kak Rio, Kak Tio. juga Ibu. Hanya 5 orang saja.

Seorang pelanggan meminta Aya mengambilkan pasangan sepatu yang sudah ia coba sebelumnya. Ya, kali ini ia bekerja di toko sepatu.

“Sepatu fans ukuran 42 habis ya?” tanya Aya ketika tidak dapat menemukan barang yang ia cari. Apeng, teman kerjanya mengangkat bahu. “Bukannya yang cek persediaan kemarin malam itu kamu? Abang nggak tahu,” jawabnya sambil berlalu dengan kotak sepatu ditangan.

Aya mengaduk-aduk tumpukan kotak sepatu itu sekali lagi. 10 menit kemudian, barulah ia menemukan kotak sepatu fans putih ukuran 42 itu.

Dengan senyum diwajahnya, Aya melenggang keluar ruang penyimpanan dan menghampiri pelanggan tadi. Ia duduk dan membuka kotak itu.

Kosong.

“Lha, mbak. Sepatunya mana?” tanya pelanggan tadi. Aya meringis dan buru-buru minta maaf. “Eh, maaf mbak. Saya pikir pasangan sepatunya ada disini. Rupanya hilang. Maaf mbak, sepatu ukuran ini tinggal satu-satunya.”

Pelanggan tadi mendengus. Seorang kawan yang menemaninya berbisik dengan keras. Mengunjing Aya. Sialnya, Aya mendengar bisik-bisik itu dan hatinya teriris. “Anak itu ceroboh sekali//iya. Selain ceroboh, ia juga sangat nakal, menurut sepupuku, ia bergabung dengan tiga anak yang sama nakalnya dan membuat geng// masa sih? Aku nggak bisa membayangkan ada 3 lagi anak seperti dia// Tapi berita itu nyata kok. Beberapa bulan yang lalu katanya mereka menghajar kepala sekolah mereka sendiri// betulkah? Wah, mengerikan sekali. Mereka seperti setan-setan kecil. Untung saja mereka tidak satu sekolah denganku.

Aya meremas tangannya. Ingin sekali ia menonjok muka pelanggan itu dan temannya. Lalu melempari mereka dengan sepatu. Setelah itu, ia ingin sekali memasukkan mereka kedalam dus sepatu yang kecil nan sempit itu. Mengejek teman-temannya dengan santainya, mereka harus diberi pelajaran!

Tapi Aya menahan hasrat nakalnya itu. Ia harus ingat, ia sedang bekerja. Salah-salah ia nanti bisa dipecat.

Eh, tahu tidak, ia sudah tidak memiliki ayah lagi dan ibunya sakit-sakitan// Oh ya?// Iya, pemilik toko ini memperkerjakannya hanya karena kasihan dan punya wajah yang manis saja…” bisik-bisik itu kembali terdengar. Aya sudah tak tahan.

Dibantingnya kotak yang sedang dipegangnya dan menatap orang yang telah menghina dirinya, teman-temannya, keluarganya dengan tajam. Untunglah ia masih bisa memendam hasrat memukuli dua orang tukang gossip itu. Geram. Ia akhirnya hanya berlari kearah gudang penyimpanan. Lalu duduk dibelakang tumpukan kotak sepatu yang tiap hari mendekati tahun ajaran baru makin tinggi timbunannya. Menangis.

Mendengar Aya membanting kotak sepatu, pemilik toko, Uda Rahmat gusar dan segera mendekati pelanggan tadi.

“Maaf bu, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya. Uda Rahmat lalu mendengarkan komplain dari pelanggan tadi dan segera mencari sepatu fans yang tercecer tersebut. Sepatu sebelah kiri yang tadi tidak ada dikotak ternyata bersembunyi dibalik kotak-kotak kardus yang baru sampai. Uda rahmat mengambil sepatu itu dan menatap tajam Aya.

Uda Rahmat boleh saja terlihat ramah dan menyenangkan didepan pelanggan. Tapi tunggu saja pengunjung tidak ada, pegawainya yang memiliki kesalahan sedikit saja akan diomeli atau dipukul. Dipukul? Ya. kadang-kadang ada tamparan. Aya sudah pernah merasakannya dan kali ini ia punya firasat bahwa ia akan ditampar lagi.

Jam 12. Jam istirahat pegawai sekaligus jam tutup toko sementara. Aya mengelap airmatanya dan mulai merapikan barang-barang yang ada digudang. Uda Rahmat masuk dengan muka merah, marah.

“Ayam, sini!” panggil Uda Rahmat pada Aya. Aya mengangkat kepalanya, menatap Uda Rahmat, dan berjalan takut-takut kearahnya. Aya tahu semua konsekuensi bekerja disini. Dan ia lebih mengharapkan tamparan saja daripada dipecat. Liburan kali ini, banyak sekali remaja lain yang bekerja paruh waktu, sampai-sampai semua lowongan penuh semua. Pekerjaan yang bisa Aya lakukan hanyalah menjadi loper koran dipagi hari, pegawai Uda Rahmat di siang hari dan kadang-kadang mengambil shift malam di toko obat 24 jam.

Pegawai lainnya yang sedang sibuk beristirahat menghentikan pekerjaannya masing-masing. Menantikan eksekusi Aya. “Kamu tahu apa yang barusan kamu lakukan terhadap toko ini?”

“Tahu, da. Aya minta maaf,” kata Aya lirih. Uda Aya dengan muka kerasnya menatap Aya jijik. “Menghilangkan pelanggan… Tahu tidak kau, kalau Pelanggan tadi bilang ia tidak akan membeli sepatu disini lagi.. ngeri lihat kelakuanmu!” serunya dengan nada tinggi. Aya takut.

“Maaf da…”

“Plak!” Aya ditampar dengan amat keras. Pegawai lain memandang mereka berdua ketakutan.

“Maaf da…” ucap Aya sekali lagi. Namun tampaknya Uda Rahmat membenci kata ‘maaf’. Ia mengangkat tangannya, ingin menampar lagi.

Beruntung Aya, karena ada seseorang yang memegangi tangan itu dan mencegah tamparan kedua. Aya mengangkat mukanya. Ale!

“Apa-apaan kau!?” bentak Uda Rahmat. Ale tersenyum, “Pasal 28 G ayat 2, undang-undang 1945. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia…” katanya tegas. Belum sempat Uda Rahmat memotong, Ale langsung melanjutkan lagi, “Bapak tidak seharusnya memukul anak ini, walaupun dia telah melakukan kesalahan. Polisi saja tidak memukuli seorang pencuri motor, masa pegawai bapak yang membanting kotak sepatu karena dihina saja, bapak tampar?”

Uda Rahmat kehilangan kata-kata, merasa bodoh karena kata-kata Ale. Aya sendiri tidak merasa terselamatkan sama sekali. Kedatangan Ale hanya akan membuat Uda Rahmat tambah marah, dan akhir-akhirnya ialah yang akan kena batunya. Dipecat? Mungkin saja.

“Dasar Sok pintar! Tukang ikut campur!” Marah uda Rahmat. Ale melepaskan tangannya dan tersenyum santai. “Saya hanya ingin memastikan Aya tidak kehilangan hak-haknya sebagai manusia.”

“Ya, ia akan mendapatkan hak-haknya ketika menjadi manusia. Namun, jika ia masih  bekerja disini, ia harus melupakan hak-haknya untuk sementara  dan mengerjakan kewajibannya sebagai pegawai paruh waktu. Atau, kau ingin kupecat, Aya?”

Aya menggeleng keras-keras, dan mengisyaratkan pada Ale untuk pergi saja. Tapi Ale tidak bergeming. Uda Rahmat menarik nafas panjang-panjang, “Aya, sebaiknya kau segera ambil jaketmu dan pulang. Pergi, kau kuPECAT!”

Mata Aya dan Ale terbelalak, menatap Uda Rahmat yang sedang tersnyum penuh kemenangan. “Ayolah cepat. Sebentar lagi jam istirahat habis dan tidak ingin kau membuang waktu lagi dengan membujukku agar tidak jadi memecatmu. Sekarang pergilah!” perintah Uda Rahmat yang sangat absolut, mutlak. Aya tidak bisa membantahnya lagi. Dengan berat hati ia meninggalkan tempatnya berdiri, dan segera menuju loker pegawai. Setelah berganti baju toko dengan baju biasa. Tidak lupa jaket warna turqoise-nya.

Aya menyandang tasnya dan keluar dari toko lewat pintu belakang. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah ditampar, dipecat pula. Semua ini gara-gara Ale. Kalau saja, dia tidak datang, Aya pasti hanya akan ditampar saja. Lalu, mana anak itu? Ingin sekali Aya mencubit pinggangnya dan berkata ia tidak perlu ditolong. Belakangan baru sadar, kalau Ale mengikutinya berjalan. Anak itu berjalan dengan tenangnya disamping Aya.

“KAMU?!” pekik Aya kaget melihat Ale. Teman sekelasnya di 7-1 ini malah tersenyum lagi. Ditambah lambaian dan kata “Hai” pula.

Aya menghentikan jalannya. “Semua ini gara-gara kamu! Coba kalau kamu nggak datang dengan gaya sok pahlawan, aku nggak bakal dipecat!” seru Aya lantang. Biar saja ia dilirik aneh oleh orang-orang yang lewat.

Kening Ale mengerinyit. “Aku nggak mendengar kata terima kasih nih.”

Aya mengepalkan tangannya geram. “Buat apa aku berterima kasih? Kata-kata pembelaanmu itu malah membuatku kehilangan uang tambahan buat beli seragam sekolah!”

“Emang enak, ditampar?” tanya Ale. Aya terdiam.

“Kalau itu sebanding dengan kesalahanku, nggak kerasa sakitnya,” jawab Aya, sedikit melunak. Ale datang hanya untuk menyelamatkannya dari tamparan, bukan karena maksud lain. Mungkin Ale belum tahu saja, tamparan itu sudah biasa dalam hidupnya.

“Oh, berarti kamu sudah sering ditampar dirumah, ya?” tanya Ale.

“Kamu mau aku tampar?”

“Maaf bos, aku hanya tanya. Soalnya aku sudah sering lihat orang ditampar, tapi kebanyakan orang malah membalas saja, nggak kayak kamu, pasrah. Memangnya, pekerjaan itu penting banget buat kamu, ya?” tanya Ale. Aya berbelok kearah rumah Yocha. Ale mengikutinya. Entah apa yang ada dipikiran anak itu, sampai-sampai mengikuti Aya segala.

“Ya.”

“Bukannya kamu anak bungsu? Dan satu-satunya anak perempuan? Kok disuruh kerja segala?”

“Dasar banyak tanya. Sebenarnya nggak ada yang nyuruh aku kerja. Ini atas kemauanku sendiri kok.”

“Memangnya orangtuamu kemana?” tanya Ale lagi. Mereka sudah sampai didepan pintu gerbang rumah Yocha yang besar dan mewah. Aya memencet bel sampai memikirkan pertanyaan Ale. Kemana Orangtuamu?

Yocha dengan cepat sudah sampai didepan rumahnya, menyuruh Aya masuk.

Aya tidak dapat menjawab pertanyaan Ale pada akhirnya. Terlalu menyedihkan untuk menceritakan tentang orangtuanya pada Ale. Dan Ale bukanlah siapa-siapanya. Hanya teman sekelas. “Pulang sana!” suruh Aya pada Ale yang menunggu Aya menjawab pertanyaannya.

Mungkin karena Yocha mempelototi Ale bingung atau karena apa, Ale hanya tersenyum saja dan melambai. Ia pergi.

Yocha lalu mengajak Aya masuk kerumahnya tanpa banyak tanya. Tidak bertanya kenapa ia datang tanpa pemberitahuan, kenapa ia datang siang hari padahal ia punya pekerjaan di toko sepatu. Itulah keistimewaan Yocha, tidak banyak tanya dan hanya percaya.

Kemana Orangtuamu?

Ibu Aya sedang terbaring sendiri dirumah, batuk-batuk dan sesak. Ayahnya Aya? Ia sudah meninggalkan rumahnya 7 tahun yang lalu, dan tidak ada yang tahu dimana ia berada.

Sebenarnya Ayahnya Aya bukanlah seorang ayah yang tidak bertanggung jawab ataupun Ayah yang tidak cinta keluarga. Ia adalah tipe suami dan Ayah yang sangat ideal. Kelakuannya baik, tak pernah berbuat kasar, selalu ingat keluarga, pulang tak pernah terlambat, berbicara dengan halus, jujur, tidak merokok, tidak pernah pulang larut, juga tak pernah mengkhianati istrinya.

Ia adalah seorang ilmuan. Setiap hari ia berkutat dilaboratoriumnya dan menciptakan banyak sekali penemuan yang dapat membantu umat manusia. Sampai suatu hari, ia menemukan sebuah penemuan spesial, ia diculik.

Pesan terakhir yang sampai ke telepon genggam ibunya Aya adalah, “Ines, jaga baik-baik gilangku, sepasang pedangku, dan Aya kita. Bilang bahwa Ayah sayang mereka,”Dan tak ada yang pernah tahu dimana ia berada selanjutnya.

Banyak rumor yang mengatakan, kalau ia sudah mati dibunuh dan hak cipta penemuannya diambil alih oleh penculiknya, entahlah. Karena beberapa tahun setelah itu, keluarga Aya jatuh miskin dan kedua kakak kembarnya mulai nakal.

Sampai hari ini, Aya tetap menyimpan pertanyaan yang sama dalam hatinya, “Ayah, ayah dimana? Kenapa engkau tidak datang ketika keluargamu membutuhkanmu? Ayah, dapatkah kau mendengarku?”

***

 Lanjut? Lanjut!


Satu-Surat

“Terima kasih pada teeman-teman yang sudah mau datang pada rapat perdana kita ditahun ajaran baru ini…” kata-kata Dila terputus ketika mendengar lagu Diamond-SNSD mengalun. Pesan masuk. “Maaf,” pintanya pada semua kru majalahnya yang sedang serius menunggunya menyelesaikan pidato penutup ini.

Dari Safir. Mau nggak ngumpul hari ini di markas? Aku kangen nih! Jam 14 semuanya kemarkas ya?!

Dila mendesah. Urusan kecil yang menganggu.

Sudah genap seminggu FirChaYaLa menjalani tahun ajaran baru di sekolah 113. Ya, mereka kelas 8 sekarang. Dan setiap kenaikan kelas, semua anak di acak kelasnya. Alasannya sih, biar mereka berteman dengan teman yang lebih banyak lagi. Tapi itu musibah bagi FirChaYaLa. Soalnya, hanya Aya dan Yocha saja yang sekelas, 8-1. Sementara itu Dila di 8-2 dan Safir 8-3.

Yah, pada akhirnya, Safir terisolasi sendirian di kelas 8-3. Masih ingat tidak, kelas 7-1 dan 7-2 itu berbeda gedung dengan 7-3? Sekarang juga sama. Kelas 8-1 dan 8-2 ada di gedung B, sementara kelas 8-3 ada di gedung C, gedung yang sama dengan markas mereka.

Pantas saja Safir kangen. Apalagi sekarang Safir sudah keluar dari redaksi majalah, katanya sih trauma, (ingat nggak, kejadian Safir dituduh sebagai pengkhianat yang membocorkan rahasia Yocha? nah, dia sudah tidak mau lagi menulis cerita untuk sekolah, pokoknya kapok!) jadi nggak bisa ketemu Dila.

Handphone Safir sudah berdering dua kali, nyaris serentak, hanya beda 10 detik saja. Penanda pesan masuk dari Yocha dan Aya. Pesan itu menyampaikan tanda setuju mereka.

Dila?

Setelah melihat sekilas pesan itu, Dila tidak langsung menjawabnya. Dila malah menghapus pesan dari Safir itu. Kenapa?

Tidak ada yang tahu.

***

“Lho, mana Dila?” tanya Yocha sambil melirik jam tangannya sekilas. Sudah jam 5 sore. Aya membalik koran lokal yang sedang ia baca. Judulnya menarik sekali, tentang pembangunan mercusuar dan terowongan di daerah benteng peninggalan portugis di bengkulu katanya sih, untuk meningkatkan sektor parwisata.

“Udahlah, nggak usah lagi mengharapkan kedatangannya. Pasti sengaja dia tidak datang,” tukas Safir ketus, nampak sangat terganggu dengan ketidakdatangannya Dila. Safir amat tahu jadwal rapat perdana redaksi, hanya dua jam, mulai 15 menit setelah pulang sekolah. Dila seharusnya sudah bisa datang kemarkas paling tidak jam setengah tiga, dan Safir bisa melepas kangen ke Dila selama satu jam setengah, kalau memang Dila mau cepat-cepat ke toko kue buat kerja part time.

Yocha mendesah saja. Dibukanya lagi komik conan dan meneruskan membaca. Rencananya hari ini ia dan Aya mau nonton film action di bioskop jam 7. Jadi dari pada pulang, lebih baik mereka menunggu saja di markas dan menemani Safir yang sedang ngambek, karena nggak boleh ikut nonton film sama orangtuanya dan Dila tidak datang. Membalas SMS pun tidak.

“Eh, gubernur kita mau bangun mercusuar dan terowongan di daerah kampung cina!” Kata Aya memecah keheningan. Yocha diam saja, tapi Safir menggeser duduknya lebih dekat ke Aya supaya bisa melihat berita itu juga.

“Buat apa?”

“Baca aja sendiri, fir,” Aya membukakan berita tersebut. Safir membaca dengan cepat. “Hemm… gubernur… mercusuar besar pengganti tugu putih..

Ekspresi yang terjadi setelah itu sangat mudah ditebak, Aya mengeluh karena Yocha tidak ikut berpartisipasi, Safir mengucapkan selamat. “Maaf ya, Ya, aku nggak ikut. Tapi aku jamin Ale ikut, kok. Tenang aja.. hehe.”

Aya mendelik, Safir bingung. “Ale? Ale si tukang-ikut-campur dari kelas 7-1 itu? Bukannya kamu benci setengah mati dengannya?” tanya Safir bingung pada Aya. Ia berpaling kearah Yocha “Apa hubungannya dengan Aya?”

“Aya…”

Yocha dikagetkan dengan serangan mendadak dari Aya yang tidak ingin rahasianya diketahui orang lain. Terjadilah pergulatan seru, dimana Aya membekap mulut Yocha. meskipun Aya sudah berusaha sekeras mungkin, tenaganya kalah oleh Yocha, yang bisa berkelit dengan mudah dan berbicara lantang didepan Safir“Ye… ketinggalan berita kamu Safir, Aya jatuh cinta sama Ale!” kata Yocha. Muka Aya memerah. Safir sendiri matanya membulat tak percaya, “Aya suka Ale! Tak pernah bisa kubayangkan sebelumnya. Apa Ale sudah tahu?” tanya Safir riang.

“Sudah kubilang jangan kasih tahu…” Aya menghempaskan dirinya ke sofa reot. Yocha sendiri masih berdiri didepan Safir, “Mau kejadian tahun lalu terulang lagi? Percaya aja deh, Safir nggak akan bilang siapa-siapa. Ya kan, Fir?” tanya Yocha sambil mengedipkan mata ke Safir. Safir mengangkat tangannya untuk hormat dan berkata, “Ay, Ay Kapten!” dengan lantang.

Masih teringat jelas dalam pikirannya, Aya, Safir dan Yocha (dan Dila juga), tahun lalu Safir membocorkan rahasia FirChaYaLa tanpa sengaja, yang berakhir dengan pengusiran Canon dari sekolah 113. Tapi sekarang sudah tidak lagi kok. Pergantian kepala sekolah ke-8, Pak Galih, membuat banyak perubahan yang baik. Termasuk Canon diperbolehkan lagi mengajar bridge-eskul kartu, karena Canon memang ahlinya dibidang itu.

Safir “Eh, udah jam 18.30 nih. Ayo berkemas!”perintah Aya, Yocha mengangguk. Semuanya dengan cepat bersiap untuk pulang. Jam menunjukkan angka 18.45 ketika mereka bertiga berpisah jalan.

“Dah Safir!”

“Daah!!”

Safir berjalan sendirian menyusuri beberapa blok untuk sampai kerumahnya. Ia menyenandungkan lagu twinkle-snsd untuk menghilangkan rasa takutnya berjalan sendirin. Jalanan sudah gelap. Orang-orang sudah menutup pintu rumahnya masing-masing. Bintang-bintang bermunculan, indah sekali. Safir sibuk menatap langit dan menyanyikan lagu twinkle twinkle little star sekarang. Ia tak menyadari ada orang didepannya, berjalan buru-buru.

Mereka bertubrukan.

Keduanya sama-sama mengaduh dan memaki. Dibawah sinar lampu jalan yang redup, Safir masih dapat melihat wajah orang yang menubruknya itu. Seorang anak laki-laki sebayanya yang memakai baju lusuh yang sedikit kebesaran dan celana kain longgar bersama ikat pinggang kulit. Tidak biasa. Seperti awak kapal.

“Hati-hati dong!” teriak Safir.

“Kamu juga harusnya berhati-hati! Jalan sambil nyanyi-nyanyi!” balasnya sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit. Sambil mengusap kepalanya yang kelihatannya juga benjol, Safir bangkit lebih dahulu. Safir mengulurkan tangan, ingin membantunya berdiri. “Ayo berdiri!” bentaknya. Anak tadi memandangnya sinis dan mengacuhkan tangan Safir. Dan dengan angkuh, ia berjalan melewati Safir. Ekspresi wajah Safir langsung berubah keruh dan masam.

“Heh, minta maaf kek! Pergi gitu aja. Gak tanggung jawab!” serunya tanpa rasa takut. Safir memang hobi membentak orang tak dikenal. Entah dia preman pasar atau gubernur, dibentaknya kalau orang itu membuat kesalahan. Anak tadi berbalik. Wajahnya terlihat jelas. Kulitnya hitam manis, bentuk wajahnya seperti orang timur tengah, tapi badannya kecil. Tingginya sepantaran, tapi baju dan celananya yang kelonggaran membuatnya terlihat lebih besar dari ukuran sebenarnya.

“Aku harus bilang apa? Maaf? Kan aku tidak salah?!” tegasnya sambil berlalu. Safir mengepalkan tangan, nyaris akan menonjok anak tadi kalau tidak segera ingat bahwa mereka sedang ada ditengah jalan, dan ia masih mengenakan seragam sekolah. Kan bahaya kalau ketahuan Pak Galih atau kak Yuki dan kawan-kawan?

Safir meredam emosinya. Kejadian ini sama dengan konfliknya dengan Yocha tahun lalu. Tidak ada yang mau mengalah. Ia lalu memutuskan untuk minta maaf dahulu.

“Aku minta maaf, telah menubrukmu!” teriaknya. Anak dengan baju gombrong tadi menoleh, dan membalas. “Baguslah kalau kau menyadari kesalahanmu!” teriaknya balik. Safir jengkel, dan karena tak dapat menahan emosi, diambilnya kerikil kecil dan ketapel miliknya. Jarak mereka berdua limabelas meter sekarang. Safir mengambil ancang-ancang. Sekali lontar, langsung tepat sasaran ke kepala anak tak tahu diri itu.

“HEI!” Teriaknya. Safir ngelonyor pergi cepat-cepat (sambil bersorak dalam hati tentunya). Rumahnya sudah didepan mata. Dalam hati ia berharap anak tadi tidak membalas atau sekadar mengikutinya.

Ia menoleh, dan mencapati anak itu sedang mengambil ancang-ancang untuk melempar batu padanya. Safir kaget dan lari lebih cepat. Ketika ia menoleh lagi, anak itu sedang menghentakkan kaki kesal, rupanya karena batu yang ia lemparkan terlalu pendek arah lontarnya. Safir menjulurkan lidah, anak itu kesal, dan berlari untuk mengejar Safir. Tapi ia terlambat, ia sudah masuk kedalam rumahnya.

“Apaan sih kak?” tanya Billa, adik Safir yang terheran-heran melihat kakaknya masuk dengan buru-buru dan tidak mengucapkan salam. “Dikejar orang gila!”

“Oh ya?” tanya Billa lagi, tak percaya. Disibaknya tirai dan ia bisa melihat anak berbaju gombrong. Billa mengerinyitkan kening. “Kok orang gilanya ganteng amat?”

“Au ah!?”

***

Aya baru pulang dari menonton film di bioskop bersama Yocha ketika bertemu dengan seorang anak berbaju gombrong didepan rumahnya. Anak itu menyampaikan sebuah surat pada Aya. Aya mengangkat alisnya yang tebal. “Apa ini?”

“Sebuah surat. Aku hanya mendapatkan perintah untuk menyampaikannya, jadi jangan tanya aku darimana, darisiapa dan apa isnya. Aku pamit dulu,” jawabnya cepat sambil mengusap-usap kepalanya. Aya dapat melihat dua memar yang mulai berubah warna menjadi biru. Salah satunya mengeluarkan darah.

“Tidak mau masuk dulu sebentar? Aku bisa mengobati lukamu,” tawar Aya. Anak itu menggeleng. “Tidak, terima kasih. Aku harus segera pulang.”

Anak itu langsung berbalik dan pergi. Berlari. Rasanya tak ada waktu untuk Aya memaksanya mengobati dua memar itu dulu. Kini ia penasaran dengan sepucuk surat ditangannya.

Hei, wajah anak itu mirip dengan Ale! Ya! hanya saja, penampilan Ale lebih terpelajar dan rapi daripadanya. Juga Ale sedikit lebih tinggi daripadanya. Tinggi anak itu setinggi Safir. Jangan-jangan, anak itu adiknya Ale? Lho, berarti surat ini dari Ale dong? Hei, tapi untuk apa Ale mengirimkan surat lewat adiknya yang sedang luka? Atau mungkin adiknya memar karena dipukul Ale?

Ah, cukup dulu berasumsi! Lebih baik membukanya didalam rumah!

Aya masuk rumah, disambut dengan suara batuk yang khas dari ibunya. Ibu sedang shalat isya. Ketika melangkah masuk ke ruang keluarga yang kecil dan sempit, ia langsung ditarik duduk oleh kedua kakak premannya. “Aya! Kamu pilih MU atau MC?” tanya mereka berdua kompak. Aya menaikan bahu. “Keduanya hebat, dan aku tak bisa memilih salah satu. Bisakah kakak berdua melepaskanku? Aku mau mandi! Bau keringat nih!”

“Oh, ok,” mereka melepas Aya, adik bungsu mereka tersayang. Sebelumnya, mereka mengecup rambut Aya bergantian. Tanda sayang. Walaupun mereka diluar ganas, didalam rumah mereka tetap anak yang penurut dan sayang keluarga kok! Seperti kata Yocha, kedua kakak Aya itu bermuka preman hati kupu-kupu!

Selepas Aya dilepaskan oleh sepasang pedang itu, kakak pertama Aya datang dan disambut hangat seperti Aya datang tadi. Bedanya, kak Gilang turut duduk dan menyaksikan pertandingan antar kedua manchaster itu…..


Panjang ya? Apa boleh buat! Itu copas 13 halaman ful! Wkwkw.

Jadi pengen tau, itu kemaren isi suratnya apa ya? Kenapa ditujukan ke Aya.

Bentar-bentar, samar-samar kok ingat? Oh iya, di chapter 2 mereka diizinkan menyimpan teknologi luar biasa oleh geng sekolah sebelumnya, geng kak yuki yang memungkinkan mereka untuk teleportasi!

Wahaha, lanjut atau pending? Kasih komentar yaaa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s