Langit Biru

Mendung_di_langit_biru_(74)“Dor!”

Ragil tersentak dari tidurnya dan berdiri dengan linglung. Tembakan? Di dalam shelter evakuasi? Dengan tergesa-gesa dipakainya pakaian kuning astronot—jika dipasangkan dengan helmnya bisa memberikan pasokan oksigen yang cukup seperti astronot—kemudian menyarungkan pistol kesakunya untuk berjaga-jaga.

Belum keluar dari barak, ia bisa mendengar suara orang berlarian di lobi. Berteriak-teriak. Suara jeritan bayi dan tangisan anak-anak yang sesak. Seseorang bahkan melolong-lolong minta tolong.

Persis didepan pintu baraknya.

Ragil membuka pintu. Yang benar saja! Orang-orang yang beberapa jam  lalu baru saja sampai dari penjuru Bengkulu kini sudah berlarian dan berkumpul didepan pintu keluar kearah dermaga. Berdesakan. Ia kemudian mendekat ke jendela, melihat alasan kegilaan dini hari ini.

Sebuah kapal induk merapat di pulau baai.

***

Ia baru saja ingin menertibkan barisan sebelum Redha—temannya di angkatan darat berteriak padanya untuk mendekat ke pos keamanan.

“Sersan Adi kena tembak!” teriaknya.

Ragil memucat, kemudian berlari menembus kerumunan. Tindakan bodoh sebenarnya, ia ditabrak dan sedikit terseret oleh arus manusia yang mendesak maju. Kapal harapan yang dinanti itu akhirnya datang, membuat semua orang menggila. Bukan hanya pengungsi tapi juga relawan yang putus asa—bahkan aparat keamanan berebut untuk mendapatkan tempat di kapal itu. Beruntung badannya yang kekar berhasil ‘memaksa’ kerumunan memberi jalan.

Sersan Adi, senior sekaligus kakak angkatnya tergolek lemah dibalik pos keamanan yang dihancurkan massa. Darah segar mengalir dari perutnya.

Perdarahannya harus dihentikan, pikir Ragil. Ia meraih jaket yang entah milik siapa—kemudian menekankannya keatas luka. “Bang, bertahanlah bang.”

Tapi sersan Adi sudah tidak menjawab. Dalam keputus-asaan, Ragil mengendong kakaknya dipundak, kemudian memantapkan langkah untuk menerobos kerumunan sekali lagi. Melawan arus manusia bermasker.

“Maya! Maya!” panggil Ragil sesampainya ia di unit darurat medis. Tidak ada bed yang kosong. Pun juga tidak ada orang medis yang tidak sibuk. Bahkan seseorang yang menjerit-jerit diujung bangsal tidak dihiraukan.

“Letakkan disini,” teriak Maya dari sayap kiri bangsal. Ragil berlari menuju Maya. Bed yang dimaksudkan Maya masih berisi seorang kakek, namun tampaknya kakek itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Ragil menelan ludah, kakek ini pastilah pengidap ISPA kronik.

Satu lagi korban kabut asap.

“Bukankah jadwal evakuasi selanjutnya masih tiga hari lagi?” tanya Maya sambil memeriksa Sersan Adi dengan cekatan. Ragil mengangkat bahu. Junior Maya datang membantu menangani sersan Adi. Ragil menatap wajah kakak angkatnya dengan ngeri, tidak pernah ia melihatnya terbaring lemah seperti itu.

“Dor!”

Satu lagi bunyi tembakan disusul dengan lampu padam. Orang-orang berteriak ketakutan. Gedung ini tidak didesain untuk keadaan darurat, hanya gedung kargo yang dimodifikasi menjadi shelter perlindungan. Padahal saat ini laut merupakan akses satu-satunya untuk keluar dari kawasan Bengkulu. Kabut asap yang tebal membahayakan penerbangan dan perjalanan darat.

Ragil mengeluarkan senternya dan berlari keluar. Hall utama sudah sepi namun pintu keluar masih disesaki orang-orang. Diluar sana, meskipun jarak pandang hanya sekitar 30 meter, ia masih bisa melihat kerlip lampu kapal. Ia kemudian berlari keluar untuk melihat situasi dermaga. Bau asap pekat memasuki hidungnya dan membuatnya terbatuk. Pun dengan kacamata yang ia gunakan matanya mulai terasa perih saat menerobos asap. Ia melihat sekeliling, orang-orang berlari tanpa masker, mencoba peruntungan dengan memanjat dan melompat ke kapal meskipun telah dilarang oleh teman-teman astronotnya.

Tunggu, kapal itu sudah bergerak!?

Bergerak tanpa memperdulikan bahwa masih ada ratusan orang yang memanggil-manggil sambil tersedak asap meminta belas kasihan didermaga.

Ragil memilih untuk berbalik. Orang-orang harus dievakuasi ke shelter lainnya. Sebentar lagi asap akan memasuki shelter lewat kaca-kaca yang pecah akibat kerusuhan.

“Ibu, ayo kita mengungsi,” Ragil menepuk pundak seorang ibu yang terduduk sambil menggendong bayinya. Ibu tersebut berpaling kearahnya, wajahnya putus asa.

“Anakku, anakku…” Ia memperlihatkan bayinya pada Ragil. Bayi itu pucat, sudah mulai membiru. Dari hidungnya keluar lendir.

Anaknya sudah meninggal.

Ibu itu kemudian menangis histeris sambil menepuk-nepuk bayinya. Ragil menggigit bibir, “Ibu, kita benar-benar harus masuk kedalam dan pindah shelter,” ujar Ragil lagi. Ibu tersebut menggeleng-geleng.

Ragil memasang kembali maskernya kemudian menuntun seorang bapak paruh baya tanpa masker yang kehabisan nafas untuk masuk ke shelter. Beberapa orang sudah mulai berusaha memperbaiki gedung dengan menutup bagian yang berlubang dengan triplek. Tapi usaha itu tidak akan banyak membantu jika pagi sudah menjelang. Kabut asap menebal di pagi hari, kepekatannya hanya menyisahkan 5% oksigen tersisa, sehingga semua orang harus berlindung di shelter yang sudah udaranya dapat dikontrol.

Hanya ada 5 shelter besar seperti ini di Bengkulu. Pulau baai, dua mall Bengkulu, satu di stadion dan satu lagi di STQ.

“Ragil, kemari!” seseorang dengan baju astronot kuning melambaikan tangan padanya. Ragil memapah seorang nenekberlari mendekat.

“Kau sudah evakuasi dermaga?” tanyanya sambil membuka kacamatanya.

“Sudah kapten, tapi ada juga yang tidak mau bergerak dan bersikukuh untuk tetap menanti kapal disana,” jawab Ragil.

“Baik, nanti akan saya utus beberapa orang untuk membujuk mereka. Kau segeralah bawa Adi ke rumah sakit..” kata Letnan Arifin. Pakaian kuningnya membuat Ragil nyaris tidak bisa mengenalinya. Termasuk untuk mengenali teman-temannya yang lain dari angkatan darat. Mereka

“Lapor komandan, dari data awal dan data evakuasi terbaru, hanya tersisa 224 orang di shelter,” lapor seseorang dari balik Ragil. Ragil berbalik dan mengenali laki-laki sebagai relawan pusat. Ia melepas maskernya dan membolak balik kertasnya. “Selain itu ada 51 orang meninggal dan 84 luka-luka. Laporan selesai.”

Kapten Arifin mengangguk-angguk, kemudian memasang kacamatanya lagi. Ragil dapat melihat mata seniornya itu sudah memerah karena iritasi.

“Anu kapten,” kata relawan tadi, kemudian terbatuk sejenak. “Saya rasa kita sudah dikhianati.”

“Maksudmu?”

“Dari pusat melaporkan bahwa kapal tersebut baru akan datang hari sabtu, tapi rupanya datang hari ini tanpa pemberitahuan sehingga semuanya jadi kacau dan memakan korban. Selain itu dari pihak keamanan…” relawan itu takut-takut melanjutkan. Ragil memalingkan wajah ke seniornya, wajah kapten Arifin sedikit berubah tegang.

“Tidak apa-apa, lanjutkanlah.”

“Sebagian besar anggota keamanan dari pihak TNI dan Polri yang didata sudah ikut pergi bersama kapal induk itu. Termasuk juga orang-orang yang ditugaskan untuk menjaga logistik sehingga.. sehingga persedian oksigen, makanan dan lainnya di shelter ini sudah nol kapten.”

“Kurang ajar…” Kapten Arifin mengepalkan tangannya dan meninju tembok. Ragil diam-diam turut merasakan kecewa yang mendalam pada teman-temannya yang memilih untuk menyelamatkan diri dan mementingkan kepentingan sendiri diatas kepentingan negara.

Tapi tidak ada waktu untuk menyesali atau mengutuki para pengkhianat tersebut. Pagi mulai menjelang. Ia harus mengantar Sersan Adi dan orang-orang yang butuh bantuan medis lainnya segera.

“Kapten, saya pamit dulu.” Ujar Ragil kemudian hormat. Kapten Arifin membalas hormatnya. Ragil bergegas melewati kaptennya dan beberapa orang yang tengah duduk kelelahan di lobi. Beberapa orang berbaju kuning lainnya tampak sedang menggotong mayat atau korban luka yang tersisa dari kekisruhan tadi pagi.

Maya masih menangani pasien lainnya di unit gawat, sekarang sedang menstabilisasi kaki seseorang yang berdarah-darah. Ragil meletakkan senternya dan membantu memegang bidai dan mengangkatnya sehingga Maya dapat memasangkan perban.

“Sehabis ini bantu aku mengangkat kak Rifki,” Maya menunjuk pasien laki-laki disebelah pasien patah kaki, “kondisinya gawat.”

“Dimana Sersan Adi?”

“Sudah dipindahkan ke mobil. Kita angkut 4 sekaligus gi,” ujar Maya. Ragil baru sadar bahwa jumlah manusia didalam unit ini juga sudah berkurang drastis. Hanya ada 7 orang termasuk dirinya.

“Mana yang lainnya?”

“Sebagian pergi menyelamatkan diri,” gumam Maya. “Persis setelah kau pergi. Kupikir kau juga akan naik kapal itu dan meninggalkanku disini. Nah, sudah selesai. Mbak, mbak bisa bangun? Biar saya papah ke mobil.”

Pasien tersebut mengangguk. Ragil memasangkan masker N95 pada pasein gawat tadi dan menggendongnya di punggung. Mereka kemudian keluar shelter dan berjalan kearah truk yang sudah dimodifikasi menjadi ambulans. Selain 4 pasien yang butuh pertolongan medis, ada beberapa ibu-ibu dengan anaknya yang duduk dibagian dalam dan 3 perawat.

“Kemana kita Say? Eh, May?” tanya Ragil sambil mengencangkan sabuk pengaman. Mbak-pasien patah kaki yang duduk disebelah Maya tertawa. Maya menyikut Ragil. Masih bisa saja menggoda diwaktu krisis.

“RS M. Yunus saja Gi. Tiara Sella mungkin lebih steril tapi aku nggak yakin sersanmu bisa bertahan,” jawab Maya sambil menoleh kebelakang. Ragil menyalakan mesin dan memundurkan mobil. Tempat parkir yang sangat sempir untuk mobil seukuran truk membuat Ragil sedikit menyerempet tembok dibelakangnya. Tapi tidak ada yang protes.

Jarak pandang yang terbatas tidak membuat Ragil mengemudikan mobil dengan pelan. Beruntung jalan amat sepi. Pun kalaupun ada yang melintas pasti mobil polisi dengan sirine dan lampu birunya yang berkelap-kelip.

“Tadi kudengar,” Maya membuka obrolan agar Ragil memelankan laju mobilnya, “kalau kedatangan kapal induk itu sebenarnya hanya untuk mengangkut orang-orang penting daerah. Makanya datangnya subuh.”

“Bisa jadi,” jawab Ragil. “Ingat kapal pertama? Hampir dua ribu orang bisa diangkut. Kali ini hanya 700.”

Maya terbelalak “Benarkah? Tapi keributannya luar biasa.”

“Itu dia, semuanya berebut untuk menyelamatkan diri. Tinggal disini lebih lama artinya mati pelan-pelan.”

“Berarti kita juga membiarkan diri kita mati pelan-pelan dong,” tukas Maya.

Ya bena. Selamat datang di 2018 jawab Ragil dalam hati.

Keduanya kemudian terdiam.

“Hei, kenapa asap dari arah sana lebih hitam?” tanya mbak-patah kaki. Ragil menghentikan laju mobilnya dan berpaling kearah kanan.

Dari… rumah sakit?

Ragil memacu mobilnya, nyaris membuatnya menabrak mobil pemadam kebakaran yang lewat beriringan. Ragil hampir berbelok kekanan sebelum seseorang menghentikannya ditengah jalan.

“Ada kebakaran di rumah sakit pak. Memutar saja pak, rujuk ke RS Raflessia,” ujar orang itu setengah berteriak.

“Bagaimana bisa? Sial!” gumam Ragil. Maya menutup kembali jendela mobil, memalingkan wajahnya kearah Ragil yang mulai frustasi.

“Sabar gil, ayo kita antarkan dulu pasien ke Tiara Sella.”

Ragil tidak menjawab. Ia bahkan memacu mobil truk lebih kencang dibanding sebelumnya.

***

“Habis, semuanya habis, pak!” ujar perawat di tiara sella. “Ada tiga ambulans datang sebelum bapak dan kami sekarang juga sedang kewalahan!” Ragil menggebrak meja, nyaris kehilangan kesabaran.

“Begini mas, saya bisa mengoperasi sendiri, tapi saya membutuhkan 3 kantong darah AB saja untuk transfusi,” bujuk Maya. Perawat itu alih-alih menjawab permintaan Maya, ia hanya meninggalkannya tanpa jawaban. Ragil yang melihatnya merasa putus asa. Sama putus asanya dengan ibu-ibu yang menggendong bayi yang tadi ditemukannya di dermaga.

“Gil, kemari,” panggil Sersan Adi dengan nafas pendek-pendek.

“Iya bang,” sahut Ragil.

“Relakan saja abang,” Adi mengambil waktu untuk bernapas. Perdarahannya sudah parah, “Mungkin memang takdir abang, sudah menyusahkan umat.”

“Pembakaran hutan, mestinya abang hentikan mereka dari dulu…”

***

Bencana yang sama, asap yang sama. Kita semua selamat pada tahun 2015 namun tidak mengambil langkah apapun untuk mencegah api di masa depan. Selamat datang di tahun 2018 kalau begitu, dimana asap memeluk erat rafflesia dan menghancurkan populasi.

Bahkan memandang langit birupun hanya sebatas mimpi belaka.  

[Cerpen untuk lomba kbbs bahtra bahasa, Post ke 100 blog DJ 11]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s