SERAGAM ORANYE

Yu-Youzhen-sedang-menyapu-jalanCoba tebak, siapa yang memakai seragam oranye setiap pagi?

Tukang sapu!

Duh, malunya! Aku salah memilih warna baju hari ini. Dan itu fatal. Padahal hari ini adalah hari yang penting. Hari ini, kelas kami akan foto bareng buat buku tahunan sekolah. dan, aku memilih baju kesayanganku dengan gambar kucing di dada. Eh, melihat bajuku yang oranye-oranye, teman-teman sekelas tertawa.

“wah! Tukang sapu jalan masuk kelas!” teriak raihan menertawakan. Aku tahu dia hanya bercanda, tapi…

“iya! Jadi mirip nenek-nenek yang nyapu jalan didepan rumahku.” Sambung wina. Ampun. semua orang melihat kearahku. Kurasa, memakai baju oranye sama saja dengan memakai baju badut.

“hei, aku bukan tukang sapu!” seruku kencang membuat satu kelas terdiam sejenak. Tapi setelah itu raihan melempar segagang sapu jalan.

“nenek tukang sapu!” panggil wina. Rasanya mau menangis. Tapi untungnya aku anak yang kuat. Aku tidak akan menangis Cuma karena dibilang tukang sapu.

“sudahlah,” aku stay cool dan berjalan menghampiri rina, kawanku. “sudah mulai foto-fotonya?” Tanyaku meredam emosi.

***

Aku terkantuk-kantuk mengerjakan tugas sekolah di balkon kamarku. Sudah hampir tertidur, aku mendengar suara orang bersiul dari bawah. Wah, seorang ibu-ibu tukang sapu berseragam oranye! Ibu itu sedang melakukan tugasnya sebagai tukang sapu kota. Rasa benciku muncul. Kuraih sandal rumah dan kulempar kebawah.

Tepat kena punggung ibu itu.

“Aku benci tukang sapu!!!” jeritku dalam bahasa inggris. Lalu dengan kasar kuambil buku-buku tugasku yang berserakan di lantai dan kubanting ke meja. Yah, begitulah caraku melampiaskan kesal.

***

Aku baru pulang sekolah waktu itu. Pak sutoyo yang biasa menjemput tidak ada. Lebih baik aku pulang saja sendiri, daripada menunggu papa menjemput jam 6 sekalian pulang kantor. Jalan kaki? hiks, hiks, iya.

“wah, panas sekali…”kuseka keringat yang tak henti-henti mengalir di pelipis. kucari sapu tangan yang biasa stand by di dalam saku. Eh, tidak ada. Ya sudah, kuteruskan saja berjalan.

Tak lama kemudian, kerongkonganku sakit minta minum. Hausnya… enaknya minum air putih, atau kalau masih ada uang, minum pocari sweat dingin! Asyik.

Kuhampiri sebuah warung kecil disudut jalan itu. Kira-kira, di sakuku ada uang 5.000 rupiah kembailan beli buku tulis tadi. cukup lah, buat beli pocari sweat botol kecil. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil satu botol dan mengenggaknya sampai habis. Begitu mau bayar..

“perasaan kusimpan disini deh,” kurogoh saku, tas, sampai ke dalam kaos kaki kucari selembar uang 5 ribu tadi. aih… dimana uangnya???

Panik stadium 5. Kutatap bapak penjual minum memelas. Waduh, tampangnya galak dan sangar.

“uangnya mana?” tanyanya. Aku gemetar.

“uangnya mana?” ulang bapak itu meninggi. Kurasa aku akan pingsan ditempat.

“nggak ada pak, uangnya hilang…” kataku takut-takut. Maunya sih, lari sampai rumah dan meninggalkan bapak-bapak yang pelit ini.

“nggak punya uang, jangan minum! grr… ya sudah, kamu sapu saja, halaman depan rumah saya, ganti uangnya dengan tenaga!” perintah bapak tadi.

“dan awas, kalau nggak bersih, kamu ulang menyapunya selama 3 hari berturut-turut!” tegasnya dengan suara besar. Aku terlompat mendengarnya.

Waduh… apesnya. Dengan berat hati, dan juga sambil merutuk diri sendiri, kuambil gagang sapu tua dan mulai menyapu.

Aku memutuskan untuk mulai dari ujung. Ya ampun… banyak sekali daun-daun kering yang berserakan. Untuk menyapunya saja susah, berat! Baru saja selesai 4 meter persegi, aku sudah terduduk kelelahan. Cuaca yang terlalu hangat alias panas ini menggodaku untuk duduk sebentar. Istirahat, ah. Ternyata kesialanku masih berlanjut. Daun-daun yang sudah kusapu tadi ditiup angin, kembali berserakan.

“tidak!!!” jeritku histeris. Susah sekali mengumpulkan daun-daun kering ini! Aku mulai mengumpat dalam hati. Kukumpulkan lagi para dedaunan menjengkelkan itu. Mengingat pengalaman tadi, aku memilih tidak istirahat sampai semuanya selesai.

Butuh perjuangan keras menyelesaikan pekerjaan ini, membuat halaman orang bersih. Tapi, coba kau tebak apa yang bapak tadi katakan?

“huh, membersihkan halaman sekecil  itu saja, lamanya minta ampun. Ya sudah, sana. Hutangmu impas. Tapi jangan coba lagi membeli tanpa uang!” bapak itu lalu mengusirku. Untunglah.

Dalam perjalanan pulang yang tertunda ini, aku mencoba memikirkan hikmah yang bisa kuambil dari menyapu jalan tadi. Aku, menyapu halaman segitu saja, sudah kecapekan. Apalagi para penyapu jalan yang rata-rata sudah berumur? Terus, menyapu jalan siang-siang begini pasti capek.

Tapi, petugas-petugas berseragam oranye itu bukan orang yang mudah menyerah karena angin, haus, atau panas. Mereka adalah orang-orang hebat yang menyerahkan tenaganya untuk menjaga kebersihan lingkungan. Tidak sepantasnya aku melecehkan status mereka. Walaupun Cuma tukang sapu, jasanya besar.

Pemakai seragam oranye adalah orang-orang hebat!!!

***


Ahaha, bagaimana komentarnya? Ini sedikit cerpen lama saya yang dibikin pas SMP! Bikinnya duet sama Icha, maksudnya duet disini kami (saya) pengen latihan nulis, jadi ngajak Icha buat tantangan nulis dengan tema yang kami tentukan. Misalnya, minggu ini MAKANAN! maka akan dibuatlah cerpen sesuai tema. Satu tema masing-masing empat cerpen, dan kami berhasil menyelesaikan 6 tema meskipun kemudian project ini berhenti begitu saja.

Bisa dilihat sih kenapa, cerpennya masih kasar gitu, hehe. Tapi dari sini bisa diambil banyak hikmah dan cerita, bagaimana nge-improve cerpen biar lebih menarik lagi?

Ya nggak? Ya kan?

BTW nama projectnya Pizza the Explorer (PETE). Nanti kalau lihat tagsdengan tanda Pete gitu, berarti cerpen lama ya!


Like

Comment

Subscribe!!!

Iklan

2 thoughts on “SERAGAM ORANYE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s