JEMBATAN ITU SAKSINYA!

tumblr_m7uyt6uu7G1rzst89o1_500Tokyo, 05 february 2005

“sudah, pergi kalian semua! Biar saja adikku tak bisa bicara seperti kalian, tapi dia lebih pintar dari kalian!” kata sena tegas, membuat nyali mereka-si-tukang-ejek  ciut. Aku sendiri sibuk menyembunyikan diri dibelakang badan sena.

“hu!! Pengadu!  gagap kurang ajar! @!#$!@#%^@#*&%^$##$@!#%$^&” maki mereka padaku. Huh, kalau aku nggak teriak manggil sena, puaslah mereka memukul dan memakiku. Dan Aku pasti akan pulang dengan keadaan babak belur.

“tte.. ri.. maka.. si..h” ucap ku pada sena takut-takut. Sena sebetulnya bukan kakak kandungku, kakak tiri. Mamaku bercerai dengan papanya dan menikah lagi dengan papaku yang sebenarnya. Sena benci mamaku dan aku, tapi entah kenapa ia datang saat kupanggil tadi.

“ya, sama-sama. Lain kali jangan memanggilku kalau hanya urusan seperti itu. kau itu cowok, harus bisa membela dirimu sendiri! lagian, kalau bukan karena papa, aku malas menolongmu” balas sena acuh. Ternyata dia terpaksa menolongku, bukan karena aku adiknya.

“ta..pi.. m.. ere..ka.. ter..l..al..u kua..t,” kataku sambil menunduk, “a..ku.. t..ida..k pu..nya.. t..e..man.. la.. gi.. t.i..d..ak a..da y..ang ..ma..u be..r.t..ema..n..de..ngan..ku..”

Sena diam saja. “kau hanya butuh percaya diri dan.. sedikit perlawanan.” Kata sena setelah beberapa lama.

“a..ku.. sung…gu..h.. ti..dak.. pe..de… da…n… ti..d..dak.. suk..ka.. mel..la.awan.” jawabku sambil menunduk. Makin tertunduk. Menatap kaki-kaki kurusku. Tidak berani menatap sena. Sebenarnya aku memanggil sena karena terpaksa. Anak-anak nakal itu menggangguku. Mereka senang karena aku gagap, bodoh, tidak punya kekuatan, dan suka bermain piano, agar bisa mengejekku. Nah, anak-anak nakal itu saja tidak berani dengan sena. Apalagi aku?

Sena tampaknya punya pemecahan masalahku.

“aku sedang libur sekolah saat ini, renovasi gedung. Aku bisa mengajarimu beberapa jurus karateku kalau kau mau.” Kata sena. Aku mulai berani menatapnya. Yang benar? Diajari dengan si master sena? “kita bertemu dibawah jembatan sana, disana aman dari hujan dan aman dari pengawasan papaku. Selama ini aku di suruh memmbencimu dan mama karena papa sakit hati. Baik, besok, jam 3 sore, kau harus sudah ada dibawah jembatan.” Kata sena cepat sambil memasukkan tangannya ke saku jaket.

Hampir saja ada lalat yang masuk ke mulutku yang terbuka lebar karena tidak percaya dengan semua ini.

***

Tokyo, 06 february 2005

Segera saja, latihan dimulai. Sena mengajariku jurus-jurus sederhana, tendangan dan pukulan. Lama kelamaan aku jadi lebih pede menghadapi anak-anak nakal itu (sebenarnya sih, mereka ketakutan melihat sena). Tapi aku jadi lebih cepat capai dan sesak nafas. Dan lagi, tendanganku sering meleset.

“pukul tanganku. Jangan ke kepala!” teriak sena kesal saat aku menendang (nyaris) kepalanya. Aku diam. “maaf, aku akan berusaha lagi,” jawabku. Sena yang tampaknya sudah bisa memahamiku hanya mengela nafas berat. Aku berusaha menendang tangan sena. Uh, tetap saja meleset. Aku malah berputar-putar sebentar dengan posisi sebelah kaki diatas dan akhirnya kaki satunya lagi kehilangan keseimbangan. Aku jatuh ke rumput.

“hahaha…” sena tertawa melihatku yang jatuh seperti. Tawanya bagus. Aku ikut tertawa.

***

Tokyo, 07 february 2005

Aku sudah memperlihatkan kemajuan walaupun baru berlatih dua hari. Badanku terasa segar bugar dan aku merasa tidak terlalu capek kalau dipaksa menendang berkali-kali. Tapi tendanganku masih sering meleset walaupun pukulanku sudah lumayan (menurut sena)

***

Tokyo, 08 february 2005

Pukulan sudah sempurna, tapi aku masih kurang tangkas. Kadang saat diajak bertarung lawan sena, aku selalu kena pukul dibagian dada. Sena bilang aku terlalu semangat dan melupakan pertahanan dan cara bertahan.

Sena berjanji, untuk besok, aku akan diajarinya jurus rahasia, dimana saat kita memakainya, lawan tidak akan berkutik. Aku tidak sabar menunggu esok.

***

Tokyo, 10 february 2005

02.10 AM

Maaf teman-teman, aku tidak sempat menulis tanggal 9 february. Sena.. sena masuk rumah sakit karena kesalahanku, bukan, kesalahan para anak-anak nakal itu. sena sekarang sedang menjalani operasi, ada satu peluru tembus masuk ke tubuhnya. Anak-anak berandal! Kalian menembak guruku! Sungguh tidak adil! Sena hanya melawan dengan karatenya, dan anak-anak itu membawa pistol!

“sudahlah eri, ini bukan salahmu. Anak-anak itu sudah ditangani polisi.” Kata mama menyabarkanku. Kami, (aku, mama, papa, dan papa sena) sedang menunggu didepan ruang operasi. Dokter bilang, keberhasilan operasi ini 50 : 50 karena peluru yang digunakan anak-anak itu merupakan peluru lama yang sudah agak berkarat. Kalian tahu sendiri, peluru berkarat itu bisa mengandung kuman dan sena bisa infeksi. Sebelum kumannya menyebar, peluru itu sudah harus diangkat.

Masalah kedokteran itu rumit. Aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut tentang kuman-kuman atau penyebab dokter mengatakan peluang sena 50 : 50.

Kulihat mama memeluk papa, papanya sena, yang kelihatannya terpukul sekali mendengar anaknya terluka parah. Selain mama dan sena, om sam tidak memiliki siapa-siapa lagi. Keluarganya meninggal serentak karena virus di meksiko.

Dari pada menangis seperti mama (aku tidak ingin ketika sena sadar mataku sembab habis menangis. Dia akan bilang, ‘sudah susah payah aku mengajarmu karate sampai terluka, kau masih saja seperti perempuan!’) aku memilih menulis tentang kejadian sena kemarin.

Tokyo, 09 february 2005

Karena dijanjikan oleh sena jurus rahasia, aku datang lebih awal. Jam 1. Aku pergi ketempat rahasia kami, jembatan pinggirang tokyo yang sudah lama dan tidak dilirik apalagi dipakai orang. Sesampainya disana, aku membuat grafitti kecil di jembatan. Letak grafitty itu tertutup rumput dan tidak mungkin orang-orang bisa melihatnya.

Jembatan kau adalah saksi bisu persahabatanku dan SENA, juga sebagai saksi peningkatan kemampuanku. JEMBATAN! Dengarlah, mulai hari ini, aku berjanji untuk percaya diri dan tidak mengandalkan sena lagi. Aku harus jadi seorang laki-laki sejati!

Aku tahu ini sedikit konyol dan agak lebay, karena tidak ada jembatan yang memiliki telinga sehingga bisa mendengar. Tapi aku ingin mengukir tanda awal mula persahabatanku dan sena. Aduh,., tulisanku terlalu cantik untuk seorang cowok!

Grafitty itu kupandangi terus sambil mengingat kebaikan sena. Tidak kurasa, sudah hampis jam 5 sore dan air sungai yang menuju langsung kelaut sudah naik sedikit demi sedikit volumenya. Sena lama sekali! Tidak biasanya dia terlambat. Apalagi sekarang sudah jam 5 sore, telat 2 jam.

Aku mulai berlatih sendiri. menendang-nendang angin. Mempraktekkan beberapa tendangan dan pukulan secara beruntun yang lumayan, tidak jatuh-jatuh lagi. Semuanya lancar sampai anak-anak nakal-naughty boys, datang (sena yang memberi panggilan naughty boys).

“hei, anak mami sudah jagoan rupanya sekarang.” Kata salah satu dari rombongan anak nakal yang sekarang terdiri dari 5 orang. 3 remaja sebayaku dan 2 lagi sepantar dengan sena.

Aku diam saja. sena bilang padaku, jangan memancing keributan, walaupun dia tahu aku tidak akan memancing keributan karena aku tidak memiliki skill dalam memancing. Ikan ataupun keonaran.

“hei, anak !#@$^! Mau berkelahi nggak?” tantang seorang lagi, yang berjaket tebal. Aku tetap diam. “apa karena tidak ada pelindung lagi, kau jadi pecundang lagi? Hah?” seru jaket tebal lagi. Ya ampun… apakah mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain mengganggu dan menantang orang berkelahi?

“tidak. Aku tidak mau ribut dengan kalian.” Akhirnya aku mulai angkat suara. Daguku kutinggikan sedikit, agar tidak kelihatan penakut. Padahal sebenarnya aku mau pulang dan bersembunyi dekat mama.

“ayolah, kami sudah lama tidak bersenang-senang. Membuat lenganmu patah bisa memuaskan dahaga kami.” Kata kakak @#*^$* (aku bisa mengumpat!) itu sambil tertawa-tawa. Ini tidak lucu. Aku memutuskan untuk pergi dari bawah jembatan dan berbalik pulang dengan tenang. Keringat dingin mulai mengucur dan aku punya firasat tidak enak akan ini semua.

“Bukk!” kepalaku ditimpuk batu. Sakit sekali! “hei, kalau kau tidak mau meladeni kami, kami akan menimpukmu terus sepanjang perjalanan pulangmu!” seru jaket tebal. Aku tidak menghiraukannya dan lari cepat-cepat. baru 10 langkah, aku merasakan ada batu melayang mendekati kepalaku. Aku sudah belajar dari sena, untuk menangkap gerakan angin.

“plakk!” kutangkis batu itu dengan tanganku dan sang batu mendarat ke sungai. Aku bisa lihat seringai para naughty boys yang gembira tantangannya dipenuhi. Ayolah sena, cepat datang, do’aku sambil melirik ke arah apartemen sena. Tapi jaket tebal sudah maju dan tidak memberikanku kesempatan lebih banyak untuk memandangi apartemen sena.

Dia melayangkan tinju. Aku menangkisnya. Sedapat mungkin seluruh pukulannya kutangkis, tapi ada juga yang luput dari pengawasanku sehingga mengenai perutku. Aku tidak ingin memukul, walaupun sena sudah meminta padaku untuk menggunakan perlawanan jika diserang bertubi-tubi. Tapi tampaknya sang jaket tebal tidak mau berhenti. Oke, akan kuserang bagian belakang kepalanya.

Satu tendangan kena. Dia takkan bangkit dengan cepat karena aku yakin telinganya berdengung dan keseimbangannya kacau. 2 orang remaja lain menghampiriku dan menyerang sekaligus. Aku hampir kewalahan dan putus asa (menang tidak, kalah tidak, capek iya) sampai akhirnya kulihat sekelebat bayangan muncul dari atas jembatan, lalu mendarat dengan mulus dibelakangku. Batman! Eh, spiderman! Naruto! Bukan, dia adalah orang yang kutunggu-tunggu. Sena datang dengan opening yang bagus J

“beraninya lawan anak kecil!” teriak sena marah. Lalu terjadi pertempuran. 2 lawan 5. Sena lebih banyak mengambil bagian, aku hanya sebagi pemain bertahan. Sangking mudahnya untuk sena mengalahkan para musuh, dia bercakap-cakap denganku.

“maaf telat, disuruh angkat barang.” Aku tidak menjawab karena takut lengah.

“kamu sudah lama ya? Kayaknya kemampuan kamu makin tinggi!” teriak sena. Aku tersenyum sedikit. Kakak naughty boys didepanku menyeringai kejam, lalu menyingkir dariku sejauh 2 meter. Dia merogoh kantongnya. Pistol!

“sena! Dia punya pistol!” teriakku. Sena yang melihatku sudah mati langkah dan ditodong pistol, segera meninggalkan lawannya dan segera menerjang si pemegang pistol.

Dan semua adegan seperti memakai efek slow motion.

Sena tertembak. Padahal sedikit lagi ia bisa menjangkau lengan kakak @#*^$* itu.

Dan mereka berlima, pergi meninggalkan sena yang berlumuran darah, kutebak tembakan itu meleset dari jantung, ke lambungnya.

“bertahanlah sena, bertahanlah guru!”

***


Ahaha, bagaimana komentarnya? Ini sedikit cerpen lama saya yang dibikin pas SMP! Bikinnya duet sama Icha, maksudnya duet disini kami (saya) pengen latihan nulis, jadi ngajak Icha buat tantangan nulis dengan tema yang kami tentukan. Misalnya, minggu ini MAKANAN! maka akan dibuatlah cerpen sesuai tema. Satu tema masing-masing empat cerpen, dan kami berhasil menyelesaikan 6 tema meskipun kemudian project ini berhenti begitu saja.

Bisa dilihat sih kenapa, cerpennya masih kasar gitu, hehe. Tapi dari sini bisa diambil banyak hikmah dan cerita, bagaimana nge-improve cerpen biar lebih menarik lagi?

Ya nggak? Ya kan?

BTW nama projectnya Pizza the Explorer (PETE). Nanti kalau lihat tagsdengan tanda Pete gitu, berarti cerpen lama ya!


Like

Comment

Subscribe!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s