PISANG GORENG KENYES (baca : krenyes)

UUU YEEAH
UUU YEEAH

Pisang! Pisang! Ah, senang rasanya mendengar nama makanan yang satu ini. Pisang rebus, Pisang Goreng, Kolak pisang.. dibikin apa aja enak! Tapi aku  lebih suka pisang goreng, alasannya sederhana, kalau pisang goreng buatan mbah-ku itu biasanya pake kremes-kremes yang gurih dan enak ditambah susu, keju, coklat, bahkan es krim! Uuh.. Pisang goreng memang lezat!

Ngomong-ngomong tentang pisang goreng, aku jadi lapar nih. Sedang hujan pula! Dingin-dingin makan pisang, tapi sayangnya, pisangnya nggak ada! Biasanya mbah yang datang dengan dramatis, membuka pintu belakang dengan setandan pisang ditangan, backgroundnya kilat, diiringi petir. Tapi hari ini, mbah nggak datang. Usut di usut, ternyata mbah sedang pergi ke rumah bibi fiola di kepahyang. Ah, kangen!

Kakak-kakak ku (all girls), iba melihatku merana tanpa pisang goreng. Salah satunya mendekatiku. “Jalan yuk!” ajaknya. Aku mengalihkan perhatianku dari jendela, (slow motion nih, ceritanya) menatap kakakku dengan muka zombie yang mengerikan, hasil begadang tadi malam menonton bola. Si kakak melompat kaget. “Ih, menyedihkan amat kamu dek!” teriaknya histeris. Kak Riri hanya bisa tertawa, Hahaha, “Ya sudah, kamu ikut kami aja, cari camilan.”

Sebenarnya sih, aku pengen menolak karena sedang dilanda malarindu (penyakit baru nih!) sama mbah.. eh, sama pisang goreng. Tapi karena jarang-jarang, mereka baik, akhirnya aku ikut juga. Aku langsung berganti baju dan menaiki mobil yang disetir live oleh kak Rini. Oh ya, perkenalkan, namaku Rubi, anak bungsu (hiks.. hiks..) dari 3 bersaudara. Kak Rini itu anak sulung, kak Riri, atau biasa dipanggil Uni Riri itu anak pertama juga, dia kembar dengan kak Rini.

Jreng… Jreng… kami sampai di sebuah tempat makan yang di sebut-sebut enak oleh kak Rini. Oh ya? Coba kulihat. Rumah Pizza? Hua… aku pengen pisang!

Kedua kakakku dengan cerianya melangkah ke Rumah Pizza tadi, dan memesan 2 macam pizza dengan toping yang banyak. Saat makanannya sampai, aku bisa melihat sendiri 2 pizza ukuran jumbo bertoping jamur, ayam, sosis, keju, daging, uah.. banyak deh! Aku hanya bisa menahan muntah. Uh.. saosnya banyak sekali! Ngeri aku rasanya dengan makanan berwarna warni ini!

“Makanlah!” Seru Kak Rini. Aku mencibir, kak Riri mendengus. “Makanan ini sedang tren!” ujar kak Rini. Aku memandang keluar jendela. Hujan mesih turun, walaupun tidak selebat tadi. Wajah mbah tergambar jelas di bayanganku. Alasan kenapa aku tidak menggoreng pisang sendiri, itu karena aku agak phobia sama minyak, apalagi minyak mendidih.

Dulu waktu kelas 3 sd, aku pernah mencoba menggoreng ikan, dan, karena pertama kalinya mengolah ikan, aku tidak tahu kalau ikan bisa menciptakan ledakan-ledakan minyak super. Wah, kalau saja dulu aku tahu, aku bakal sembunyi dibawah ranjang dan membiarkan kak Rini melanjutkan memasak. Sontak aku kaget dengan letupan minyak dan tidak beranjak. Tanganku jadi sasaran empuk minyak.

“Percuma Rin, Rubi tu kan anak kampung, pengennya pisang… terus!” sindir kak Riri. Ih… biarin aku kampungan! Yang jelas pisang selalu tetap di hatiku! cieee…

“Gimana kalau burger?” tanya kak Rini baik hati.

“Kelihatannya enak, tapi.. Tidak, terima kasih.”

“Spagheti?”

“Oh, mi hambar itu.. tidak.”

“Donat? Kita ke Mokko yuk!”

“Aku lagi nggak selera…”

“Ayam goreng KFC?”

“Ah.. makanan berat.”

“Bubur? Es kacang? Bakso? Sate? Ampun deh Rubi… kamu mau apa sih?” tanya Kak Riri putus asa. Aku menungkupkan wajah ke meja, “Kangen Pisang…” ucapku merajuk panjang. Kak RIri dan Rini ber-Oh panjang. “Kalau gitu sih, nggak usah susah-susah, mbah tadi ngirim pisang goreng keju, lewat mang Ihsan yang mau transit ke lampung. Yuk, habiskan Pizzanya, terus pulang.” Putus kak Rini.

Apa? Ada kiriman pisang goreng? Pisang goreng ala mbah? Oh… thank’s God! Aku rasanya mau sujud syukur mendengar kata Pisang Goreng dan mbah. Semangatku timbul lagi. Rasanya matahari lagsung bersinar terang, menyinari jalan pulang ke rumah. Oh… aku pengen terbang.

Aku pulang dengan ceria. Sepanjang perjalanan pulang, aku sibuk menepuk pundak kak Riri yang menyetir (gantian dengan kak Rini) agar memacu mobil lebih cepat. Kak Riri gusar, lalu memutar arah ke kiri, aku protes dan hampir menjambak rambut kak Riri. Ternyata ia berhenti ke supermarket dulu. Ampun deh! Lama amat! (padahal baru 3 menit! Hehe) aku sudah menderita penyakit rindu akut stadium 5, rasaya mau mati kalau nggak cepat-cepat ketemu pisang.

Kok jalanku bertemu pisang sulit sekali ya?

Aku mencakar-cakar jok mobil tidak sabar. Kak Rini tertawa melihatku. “Sabarlah adikku sayang..” Kak Riri datang dengan bagian atas basah karena hujan, melempar tas belanjaan ke arahku. Kulirik isinya, es krim, beberapa kotak. Ampun.. hujan-hujan makan es! Tapi aku maklum karena kak Riri dan kak Rini itu pecinta es-krim. Sama cintanya kayak aku mencintai pisang.

Oh ya, kami sudah sampai dirumah, dan harum Pisang khas menuntunku ke plastik hitam, isinya.. tentu saja pisang! Dengan penuh kasih sayang… ku belai-belai pisang goreng, memasukkannya kedalam mulut dengan cinta. Uuuhh.. enak banget! Apalagi kak Rini datang dan menaruh beberapa scop es-krim vanila ke atas pisangku. Tambah enak!

Oh pisang goreng… pisang goreng ala mbah, pisang goreng eskrim! Sedap! Lezat! Tidak ada yang bisa menandingi rasanya!


Ahaha, bagaimana komentarnya? Ini sedikit cerpen lama saya yang dibikin pas SMP! Bikinnya duet sama Icha, maksudnya duet disini kami (saya) pengen latihan nulis, jadi ngajak Icha buat tantangan nulis dengan tema yang kami tentukan. Misalnya, minggu ini MAKANAN! maka akan dibuatlah cerpen sesuai tema. Satu tema masing-masing empat cerpen, dan kami berhasil menyelesaikan 6 tema meskipun kemudian project ini berhenti begitu saja.

Bisa dilihat sih kenapa, cerpennya masih kasar gitu, hehe. Tapi dari sini bisa diambil banyak hikmah dan cerita, bagaimana nge-improve cerpen biar lebih menarik lagi?

Ya nggak? Ya kan?

BTW nama projectnya Pizza the Explorer (PETE). Nanti kalau lihat tagsdengan tanda Pete gitu, berarti cerpen lama ya!


Like

Comment

Subscribe!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s