DEFIBRILATOR

Enji masuk dengan terburu-buru, menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya. Menyenggol seseorang yang sedang minum, mendorong yang lainnya.

Matanya dipenuhi amarah. Tinjunya mengepal. Lihatlah betapa marahnya ia sekarang. Enji yang tenang dan diam benar-benar berubah menjadi sosok monster yang mengerikan. Matanya merah, sedikit sembab.

“Mana Agi!” teriaknya pada seisi kelas. Semuanya terdiam.

“Brak!” Ia memukul meja dengan emosi, kemudian menarik kerah salah satu mahasiswa disana, mencengkramnya erat sampai orang itu terguncang. “Mana Agi!” tanyanya lagi.

Takut-takut, ia menunjuk kekursi paling pojok. Enji mengunci targetnya dan melepaskan orang itu. Beberapa laki-laki yang mulai merasakan hawa tidak beres, mulai bergegas mencegah Enji mendekat ke arah Agi. Agi sendiri bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri menyambut lawannya.

“Brengsek,”

Tetap saja, Enji lebih kuat dibanding mereka. Dan, “Bugh!” tinju Enji mendarat di pipi kanan Agi. Begitu kerasnya hingga Agi terhuyung kesamping.

Neng, tau defibrilator nggak?

***

Benar-benar kacau, selama 2 hari ini dia cuma tidur 7 jam kurang. Stase[1] yang melelahkan, ia bahkan tidak sadar telah tertidur di lobbi rumah sakit. Sekarang pinggangnya sakit semua. Enji meregangkan badannya, menimbulkan suara kretek-kretek yang membuat ibu-ibu keluarga pasien didepannya terkikik.

Enji tersipu malu, kemudian beranjak kearah musholla. Niatnya sih buat melanjutkan tidur, siapa tahu nanti siang ada ibu-ibu yang mau melahirkan lagi. Ia berjalan melewati lobi yang lumayan penuh dengan keluarga pasien yang menunggui saudaranya. Indonesia mah gitu. Kekeluargaannya erat sekali, satu yang sakit satu keluarga besar ikut menemani. Enji jadi senyum-senyum sendiri.

“Eh nji, sini bentar deh,” panggil Maya, teman satu stasenya. Enji mendekat, astaga, jangan-jangan disuruh follow up[2], pikirnya.

“Sudah follow up?”

Tuh kan!

“Belum, kamu ajalah ya May.. Capek nih begadang.”

“Yee, situ ngawur ya. Ga mau, sana-sana dari kamar 103,” usir Maya tanpa rasa perikemanusiaan. Enji memberengut, kemudian meraih stetoskop dan “papan LJK”nya.

Pokoknya selesaikan dulu. Secepatnya. Bantal, i miss u sooo much.

Enji memutar kenop pintu 103. Di bangsal pertama nampaklah pasien berusia 7 tahun yang sedang menonton kartun. Tidak seperti kamar-kamar lainnya yang penuh dengan keluarga, pasien ini hanya ditemani kakak perempuannya yang jatuh tertidur di samping tempat tidur adiknya.

“Pagi dik Uci…” Panggil Enji. Uci membalasnya tanpa menolehkan kepalanya dari tv. Dasar, gerutu Enji. Ia lanjut memeriksa infus dan suhu badan Uci.

“Demamnya sudah turun ya Ci…” kata Enji. Uci mengangguk-angguk saja, kemudian menertawai Upin Ipin yang dimarahi oleh kak Ros. “..kalau besok Uci sudah bisa berdiri, sudah boleh pulang ya,” lanjutnya.

“Apa, pulang?” Kakak Uci mengangkat kepalanya tiba-tiba. Enji berhenti menulis dan bersitatap dengan kakanya Uci.

Subhanallah, buset cantik bener!

Jantung Enji tiba-tiba berdegup kencang. Pikirannya membuncah, tidak bisa konsentrasi. Meskipun perempuan didepannya ini baru bangun tidur dengan muka yang belum dicuci dan rambut “singa”, tapi tampang bidadari nggak bisa menipu! Rambutnya hitam dan lebat, kontras sekali dengan wajahnya yang putih bersih. Senyumnya? Aduhai…

“I iya, pulang. Kondisinya sudah membaik, sudah bisa bilang kedokter kalau…” sahut Enji terbata-bata. Duh, jantungnya masih berdegup kencang! Ia teringat dengan pasien dua hari yang lalu, seorang ibu yang henti jantung karena kelelahan dan syok setelah melahirkan. Jantung berdegup kencang sehingga tak mampu lagi memompa. Dokter kemudian ambil tindakan dengan menggunakan Defibrilator…

“Hei?” tanya kakak Uci, menyadarkan lamunan Enji. Enji gelagapan, tadi lagi ngomong ya? Apa ya? Duh, kok jadi blank gini?. Sumpah, rasanya campur aduk.

“Neng, tahu defibrilator nggak?” kata Enji asal. Daripada kabur ngacir begitu saja membawa malu, lebih baik malu-maluin sekalian. Ngegombal.

“Eh? Defibrilator? Alat kejut jantung kan? Tahu kok. Minggu lalu baru saja belajar mekanisme kerjanya. Ada apa? Uci nggak perlu hal semacam itu, kan?”

Sial, si eneng pintar amat!

“Nggak kok, hehe. Nanya aja. Kamu anak kedokteran juga ya? Kok paham?” tebak Enji, menebak-nebak umur kakaknya Uci dalam hati.

“Bukan-bukan, aku nggak kuliah. Cuma kemarin di lembaga sosialku dapat bantuan AED,” jelas si bidadari, eh, kakaknya Uci.

“Ooh, AED yang alat kejut jantung portabel itu?”

“Iya, Automated External Defibrillator. Barangnya baru pertama kali kulihat, jadi masih inget banget.”

“Iya juga, di rumah sakit aja alat kejut jantungnya terbatas apalagi yang canggih gituan. Padahal kalo disebar di titik-titik strategis pasti bisa menyelamatkan banyak orang…” sahut Enji. Kakaknya Uci mengangguk. Tersenyum. Alamak, manis nian!

“Kakak-kakak, Uci Lapaaar!” teriak Uci cempreng.

***

Namanya Ciara. Umurnya baru 23 tahun. Pemerhati sosial. Bidadari.

“Rasanya menakjubkan bisa berkenalan dengan seorang dokter,” katanya saat berduaan denga Enji di kantin rumah sakit. Koreksi, sebenarnya kantinnya ramai, tapi dalam hati Enji sekarang hanya berdua. Cieee.

“Calon dokter ra, do’akan aja biar cepet selesai koas-nya.”

“Iya iya calon dokter,” Ciara menyeruput kopinya. “Padahal waktu kecil aku trauma lho, sama dokter.”

“Kok?” tanya Enji balik. Ngomong-ngomong, ritme jantungnya sudah kembali normal. Mungkin karena mereka tidak duduk berhadapan dan Enji lebih banyak mengalihkan pandangannya pada anak yang sedang disuapi ibunya sambil berlari-lari. Lucu sekali.

“Soalnya mereka tidak bisa menyelamatkan kedua orangtuaku.”

“…”

“Ketika itu aku hanya bisa berdiri di sudut, menyaksikan dokter hanya memeriksa nadi ayahku kemudian berkata bahwa ayah sudah nggak ada.”

“Ibumu?” tanya Enji hati-hati.

“Sudah tidak bergerak lagi saat ditemukan di TKP. Tewas ditempat.”

“Aku turut berduka cita,” ujar Enji, menepuk bahu Ciara pelan.

“Tidak apa-apa. Yang bikin aku benci dengan dokter waktu itu adalah, kenapa mereka nggak menggunakan alat kejut jantung pada Ayah dan Ibuku? Padahal mereka baru sebentar saja tidak bergerak. Dan aku yakin ayahku masih bisa diselamatkan. Nangis-nangis gitu aku minta dokternya menggunakan alat itu.”

“Tapi alat kejut jantung kan nggak bisa apa-apa lagi kalo denyutnya nggak ada Ra,” balas Enji. “Jantung itu kan punya sistem kelistrikan sendiri. Nah, sinyal listrik itu yang mengontrol rata-rata dan ritme dari detak jantng itu sendiri. Biasanya, kalo orang yang butuh defibrilasi itu orang-orang yang ritme jantungnya abnormal, jadi dengan listrik dari alat, diharapkan bisa kembali normal ritme jantungnya. Nah, buat yang sudah tidak teraba lagi ritme jantungnya, dikejutkan dengan listrikpun..”

“..tidak berpengaruh,” lanjut Ciara. Air mukanya berubah. Enji jadi salah tingkah karena sudah menjelaskan pada Ciara sepanjang lebar itu. Jangan-jangan Ciara jadi sedih.

“Maaf aku jadi melamun,” kata Ciara kemudian. “Jadi profesi dokter nggak se jahat yang kupikirkan ya? Hehe. Maaf ya.”

“Ya, begitulah. Kadang-kadang ada faktor sinetron yang biasa kita tonton juga. Mitos medis seperti defibrilator mah udah biasa,” jawab Enji. “jangan-jangan kamu hobi nonton sinetron yaaa?” goda Enji. Ciara tergelak. “Sembarangan saja kamu, nggak dong. Tapi sekali-kali sih, ada…”

“Tapi hebat ya, dengan alat itu, kita jadi punya kekuatan buat menyelamatkan nyawa orang lain,”

Enji mengangguk mengiyakan. Keduanya kemudian menyeruput kopi mereka masing-masing dengan nikmat. Pagi yang dingin, ditemani secangkir kopi panas dan seorang bidadari, benar-benar kombinasi surga!

“Tut tralalala, lalala~” handphone Ciara tiba-tiba berbunyi. Ciara mengangkatnya kemudian berbicara pada empunya suara di seberang sana. Enji berpikir-pikir apa sebaiknya ia juga memesan sarapan untuk mereka?

“Nji, aku pamit dulu ya, buru-buru nih,” kata Ciara. “Agi minta ditemanin ke rumah saudaranya. Ini dia udah didepan katanya.”

Agi?

Ciara mengambil tasnya dan bergegas membayar kopi mereka. “Deluan ya Nji!”

Enji melambai kearah Ciara yang berlari ke pintu keluar bahkan tanpa menoleh. Penasaran, Enji mengikuti Ciara sampai ke lobi depan. Sebuah mobil sport berwarna merah mengkilap terparkir disana, dan Ciara masuk kedalam dengan riang.

Laki-laki itu bukan tandingannya.

***

“Jatuh cinta lu sob?” tanya Maya. Enji mengangkat bahu. Daripada membahas soal Ciara dan Agi, dengan hipotesis-hipotesis yang ngawur dan mengada-ada, lebih baik membicarakan Uci.

Ya, adiknya Ciara ini rupanya belum bisa pulang secepat yang diperkirakan Enji. Uci rupanya kena perforasi usus[3], sehingga masih harus ditangani medis.

Jatuh cinta? Mungkin.

Semenjak pertemuan “defibrilator” Enji Ciara, mereka memang jadi akrab. Tapi alih-alih membicarakan cinta dan masa depan, Ciara lebih sering berbicara tentang lembaga sosial yang ia urus. Enji sebagai seorang medis diajaknya turut serta dalam aksi-aksi sosial. Dikatakannya bahwa apa gunanya jadi tenaga medis tapi tidak menolong sesama manusia? Enji mengangguk-angguk saja, sebenarnya ia senang dapat berbicara berdua dengan Ciara. Tapi kemudian Agi menelpon, hampir setiap hari—jika Enji tidak salah lihat.

Kemudian Ciara pergi dengan Agi. Bidadarinya pergi.

Enji galau.

Gua mau follow up dulu deh,” ucap Enji, meraih stetoskop dan spghonomanometernya[4].

Sedikit ragu-ragu antara kamar 101 atau 103 terlebih dahulu, Enji kemudian masuk ke kamar 103, menemui Uci.

Seperti biasa, Uci sedang duduk menonton Upin-Ipin dari bangsalnya. Enji mendekati Uci kemudian mengucapkan selamat pagi dan basa-basi yang tidak dibalas oleh Uci. Selesai mengecek infus dan tekanan darah, Enji menghela nafas dan kemudian berjalan kearah bangsal yang lain.

Tapi Enji penasaran dengan Agi, ia berbalik, “Ucii, kenal dengan yang namanya bang Agi nggak?”

Sebenarnya Enji tidak begitu mengharapkan respon dari Uci, yang bahkan tidak menjawab Assalamualaikumnya. Tapi kemudian Uci melepaskan pandangannya dari tv dan berkata, “kak Ciara masih bertemu dengan bang Agi?” tanyanya.

“Iya. Bang Enji lihat beberapa hari yang lalu didepan rumah sakit. Uci kenal?”

“Nggak kenal sih, bang Agi juga nggak pernah jengukin Uci. Uci pernah tanya sama kak Ciara, tapi kakak nggak pernah mau membahasnya. Tapi, tapi..” Uci berhenti, “Uci pernah lihat sms bang Agi. Dia ngancem kak Ciara, mau masukin kakak ke penjara­, mau nyelakain—Uci nggak tahu pasti, tapi kayaknya kak Ciara hutang sama bang Agi…”

“Hutang?”

“Iya. Kak Ciara kerja di LSM, tidak punya cukup uang untuk membiayai kami berdua. Apalagi, Uci sakit kan..” Uci tiba-tiba menangis. Enji jadi gelagapan.

Apa yang sedang dilakukan bidadarinya?

***

Hari lain, teka-teki lain. Hari ini Ciara datang pagi-pagi dan pamit pada Enji mau ke basecamp LSM-nya. Enji mengangguk saja—melambai pada sosok Ciara yang menjauh. Jantungnya masih saja berdegup keras seperti pertama kali bertemu. Benar-benar seperti defibrilator, tiap kali Ciara datang, ia merasa seperti dikejutkan dengan listrik 300 joule.

Entahlah, cinta itu membingungkan. Kadang-kadang ia memberimu energi untuk hidup, kadang-kadang ia mematahkan harapanmu.

Maya baru saja mengajak Enji pergi kewarung didepan rumah sakit ketika ambulans tiba dengan raungannya yang khas. Beberapa sejawat Enji dari stase gawat darurat berlari keluar dengan perawat. Sepertinya ada pasien kecelakaan. Respon mereka amat cepat dan tanggap. Seorang wanita dipindahkan masuk. Tanpa tersadar jantung Enji berdegup kencang lagi. Kali ini perasaannya tidak enak.

“Mau kemana Nji?” teriak Maya, mengikuti Enji yang sudah berlari menuju ruang gawat darurat. Sedikit ramai di ruangan itu, karena beberapa orang lain yang mengiringi ambulans juga ikut turun dan menengok kedalam ruang gawat darurat. Enji hampir dapat melihat wajah pasiennya, namun seseorang mendorongnya kebelakang. Tepatnya semua yang masuk secara ilegal sedang didorong keluar oleh perawat ruang IGD.

Kondisi pasien itu serius, dokter sudah memulai CPR[5] dan teman-teman sejawatnya menyiapkan alat kejut jantung. Enji memperhatikan baju pasien tersebut. Hijau. Ciara?

“Kecelakaan motor?” tanya seseorang dibelakangnya.

“Bukan, tabrak lari. Kami, kami sedang kampanye anti-narkoba tadi pagi. Kemudian—kemudian ada mobil merah. Menerobos kerumunan begitu saja, tanpa klakson sama sekali. Menyerempet beberapa orang, tapi dia yang paling parah.”

Jangan bidadarinya.

Enji merasakan tekanan yang kuat untuk melihat wajah pasien. Dengan cepat ia berputar kedalam rumah sakit dan masuk kedalam ruang IGD dari pintu yang lainnya.

Kakinya tidak kuasa bertahan saat melihat siapa yang terbaring diatas ranjang gawat darurat.

“200 joule, All clear?”

“Clear!”

[1] Bagian. Kalau dirumah sakit sih biasanya ada obgyn, anastesi, mata, dll. Ceritanya magang gitu, kan koas.

[2] Mengecek status pasien

[3] suatu kondisi medis yang ditandai dengan terbentuknya suatu lubang pada dinding lambung, usus halus atau usus besar, yang menyebabkan kebocoran isi usus kedalam rongga perut. Penyebab perforasi saluran cerna yang lebih umum antara lain appendisitis, divertikulitis, penyakit ulkus, batu empedu atau infeksi kandung empedu.

[4] Tensi bos. Hehe

[5] Cardiopulmonary resuscitation/ Resusitasi jantung paru, pertolongan pertama terhadap pasien kasus henti jantung.


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s