Gelombang π

Hara merasakan semilir angin musim penghujan yang sejuk. Menghirup sebebas bebasnya udara sambil memejamkan matanya. Damai.

Semua orang yang berada dibawah terpekik histeris.

“Hara! Jangan melompat!”

“Turun Hara! Jangan gegabah!”

“Hara!”

“Har!”

Yang dipanggil-panggil begitu hanya tersenyum sinis dari atas, tidak melihat kebawah tapi ke awan biru. Baru kali ini kalian betul-betul memanggil namaku. Dasar munafik kalian semua! Gumam Hara dalam hati. Tapi ia sudah tidak peduli sekarang. Ia sudah muak hidup didunia yang tidak pernah benar-benar menerimanya.

Dunia yang menerima perbedaan? Cuih.

Sudah cukup. Selamat tinggal.

Hara melompat.

Semua orang terpekik. Menurut hukum gerak jatuh bebas, seharusnya jatuh dari lantai enam hanya memakan waktu 5 detik saja.

Tapi ia tidak jatuh. Seseorang memegang tangannya, menahannya tetap diatas. Hara memaki sejadi-jadinya dalam hati, berusaha melihat siapa gerangan orang yang menahannya.

Linggo?

“Lepaskan tanganku, hei!” teriak Hara.

“Kenapa kau melakukan hal yang bodoh seperti ini?” balas Linggo.

“Dunia ini tidak bisa menerimaku! Tidak ada yang bisa mengerti aku, semua ingin aku mati, Linggo! Dan aku tahu, kau juga menunggu kejatuhanku! Jangan munafik!” jerit Hara. Airmatanya bercucuran sekarang. Hidupnya begitu menyedihkan.

Linggo terhenyak. Ia tidak mungkin bisa menarik Hara keatas tanpa kemauan Hara sendiri. Beratnya tidak seimbang dengan berat Hara yang ditambah gravitasi. Jika memaksa, maka mereka berdua akan jatuh. Bantuan baru akan datang satu menit lagi. Detik-detik ini akan terasa panjang, relativitas.

“Kubilang naik! Atau kita berdua akan jatuh! Jangan keras kepala seperti itu.”

“Tidak akan, keputusanku sudah bulat Linggo! Lepaskan aku!”

“Oke, oke. Berapa banyak nilai  yang kau bisa kau ingat?” tanya Linggo, ditengah-tengah keputusasaan itu. Hara mengerutkan kening. Sungguh pertanyaan aneh yang salah waktu.

“Buat apa?!” jawab Hara kesal.

“Ternyata kau tidak segenius yang kuduga. Pantas saja kau ingin bunuh diri. Putus asa karena tidak bisa mengalahkanku,” kata Linggo.

“Enak saja, aku hapal lebih banyak darimu!” balas Hara tersinggung.

“Bagus, sekarang buktikan padaku!”

“Buat apa?!”

“Sebutkan saja! Keras-keras!”

Meskipun terasa janggal, tapi Hara menurutinya. Ia tak pernah mau kalah dari siapapun. Apalagi Linggo, rivalnya disetiap olimpiade matematika manapun. Setidaknya akhir kehidupannya akan diisi dengan hal-hal yang paling dicintainya, matematika. Dengan lantang ia menyebutkan, “3,1415926535897932384626433832…”

Tepat pada bilangan ke-42, Hara berhenti. Ia berusaha mengingat kelanjutannya, tapi itulah batasnya.  sendiri adalah bilangan tak hingga, Infinity. Digit-digit desimalnya terdistribusi secara acak. Irasionnal. Keabstrakannya membuat orang-orang tetap penasaran dengan akhir dari , dengan teknologi mereka menghitung bilangan  Triliunan.

Tiba-tiba saja, Hara merasa dirinya tertarik kebelakang. Tapi bukan gravitasi! Makin lama makin cepat, pemandangan sekitarnya berubah menjadi keperakan. Beberapa garis tipis berwarna putih mengiringinya jatuh bentuknya seperti kurva sinus dan cosinus. Lama kemudian badannya berbalik sendiri, masih dalam posisi tertarik kearah bawah. Ia melihat sebuah titik, makin lama makin besar dan hitam.

Zst!

Hara mendapati dirinya sendiri duduk ditengah-tengah ujian.

Mimpi?Ilusi? Gumamnya pada diri sendiri. Ataukah, mesin waktu?  

Ia berdiri kebingungan. Mencari Linggo tentu saja. Ia tidak suka dipermainkan. Bagaimana bisa ia dipindahkan dari atap kedalam kelas hanya melalui lorong putih itu? Tapi sebelum ia dapat bergegas kekelas sebelah, ia melihat semua temannya memandang kearahnya. Sebagian meletakkan telunjuknya dibibir. Beberapa menyuruhnya tetap duduk.

“Ada apa, Hara?” tanya Pak Novrian, guru matematika berwajah galak. Pak Rian adalah salah satu guru yang tidak menyukainya. Hara terlalu genius untuk ukuran anak SMA. Ketika teman-temannya bertanya tentang trigonometri, Hara sudah bertanya soal kalkulus, alogaritma. Tapi Hara rasa sah-sah saja bertanya pertanyaan seperti itu dikelas. Itu gunanya sekolah, kan?

“Saya mau keluar dari sini, pak,” jawab Hara mantap. Mulai muak karena harus berada ditengah-tengah orang-orang yang dibencinya. Lagi.

Pak Novrian melepaskan pandangannya dari Hara, melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya. Mungkin memecahkan perhitungan sin-cos-tangen seperti biasanya. “Sudah selesai nak?” tanyanya. Tunggu, sejak kapan Pak Rian berkata lembut padanya?

Hara membalik lembar soalnya. Tertegun mendapati bahwa ia belum menjawab satupun. Pak Novrian tersenyum  melihatnya. “Lain kali jangan tidur ditengah ujian.”

Ia terduduk. Benar-benar bingung sekarang. Dan Hara tidak suka kondisi seperti ini. Linggo sedang mempermainkannya. Sudahlah, lebih baik ia kerjakan saja soal-soalnya. Matematika, kan?

Keanehan selanjutnya, ia tidak dapat mengerti apa-apa. Tidak sesoalpun.

Biasanya, angka-angka itu berlompatan saja didepannya, betapapun rumit dan kompleksnya. Peluang, matriks, limit bahkan integral bukan apa-apa bagi Hara yang jenius, Hara yang sudah 2 kali mendapatkan medali emas dari kompetisi nasional.

“Psst,” panggil seseorang dari belakang. Hara menoleh. Dwickey?

“Ada apa denganmu? Nih, contekan dari Ami!”

Demi Leonhard Euler!

Contekan adalah barang haram bagi Hara. Tak pernah ada dalam kamusnya ia menerima atau memberi contekkan. Mau dipanggil pelit, kikir, bahkan setan sekalipun ia tidak akan bergeming. Sekarang ia yang MENERIMA contekkan?

“Hei, ayolah. Aku tak mau tertangkap basah lagi!” bisik Dwickey. Ragu-ragu, Hara mengambil kertas kecil yang telah ia lipat kecil-kecil pula. Tangannya bergetar. Dari atap gedung, menyebutkan 42 bilangan  kemudian tersesat didalam kelas yang benar-benar aneh. Bodoh dalam matematika, menerima contekkan. Apa mungkin Linggo benar-benar melepaskan tangannya, ia jatuh dan kemudian koma, lalu akhirnya sembuh dan kehilangan semua ingatannya?

Tidak. Semuanya tampak sama persis seperti terakhir kali Hara belajar, sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Mimpi buruk.

***

“Hara, kau benar-benar ingin menghabiskan waktumu didalam kelas?” tanya Agatha. Dwickey dan Ami berada disampingnya. Hara terbelalak. Agatha, Dwickey dan Ami yang ia kenal adalah anak-anak kasta teratas, anak-anak metropolitan yang high fasion, dan tidak suka bermain diluar kelas. Mereka juga tidak pernah akur. Ketiganya memiliki geng mereka masing-masing, yang sama perangainya dengan mereka. Pun tidak pintar dalam matematika. Tapi jika kembali ke beberapa menit sebelumnya, Amilah yang memberinya sontekan.

“Um.. sepertinya iya,” balas Hara, suaranya tercekat.

“Kamu beda banget deh hari ini. Ada apa?” tanya Dwickey, duduk disampingnya, dan… merangkulnya.

Hara risih, ia tak pernah sedekat ini dengan mereka bertiga. Demi Newton, kenapa ini semua berubah? tanya Hara dalam hati. Ami menghela nafas. “Hei, kalau kau punya masalah, bicarakanlah dengan kami. Itulah gunanya teman baik,” ujarnya.

Te-man, baik?

“Pacar kali, maksudmu,” koreksi Agatha. Ia dan Dwickeypun tertawa sementara Ami bersemu merah. “Kami belum jadian! Dasar kau, sirik aja!”

PACAR?

“Tunggu tunggu, sebenarnya aku merasa sedikit, apa yah? Pusing,” kata Hara membuat mereka bertiga terdiam. “Anggaplah aku sedang amnesia, ya. Nah, sebenarnya aku ini orang yang seperti apa?”

“Pertanyaanmu lucu Hara.” Dwickey mencubit lengannya. “Kau orang terbaik dan ter-ramah yang pernah kutemui. Kau orang pertama yang menyapaku pas ospek!”

“Eh?”

Agatha mengibaskan tangannya. “Kau itu berlebihan, aku yang pertama kali menyapamu. Aku sudah berteman dengamu sejak SMP! Yang benar itu, Hara itu orang paling lucu. Ingat, biasanya kalau Pak Novrian mengajar, Cuma dia satu-satunya yang bisa bikin seisi kelas ngakak!” Mereka bertiga tertawa lagi. Hara juga tertawa, tapi ia menertawai dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia berkawan dengan Agatha, Dwickey dan Ami? Jadi orang paling ramah dan lucu?

“Hara itu, orang yang paling perhatian..” kata Ami, disusul dengan huuu yang keras  dari Dwickey dan Agatha. Beberapa teman lain yang tetap tinggal didalam kelas, memandang mereka aneh. Agatha kembali mengibaskan tangan. “Apa kalian? Sirik?”

“Benar lho. Itu yang buat aku suka sama dia..” kali ini Dwickey memukul mukul punggung Ami gemas. “Dasar orang jatuh cinta. Ditolak lagi baru tahu rasa!”

Agatha tertawa-tawa. Hara juga tanpa sadar menyunggingkan senyumnya. Beginikah rasanya punya teman?

“Ngomong-ngomong nih ya, kamu lihat si Panji nggak tadi, waktu ujian?” Agatha membuka topik pembicaraan baru. Hara tertarik untuk mendengarkan. Panji yang ia kenal, adalah seorang trouble maker yang tak pernah belajar, tak pernah mau mendengarkan guru, rekornya ia pernah membuat seorang kepala sekolah mengundurkan diri karena mau mengeluarkannya dari sekolah.

“Ada apa dengan panji?”

“Si jenius matematika itu, benar-benar sok sibuk dan kikir bukan main! Belum lagi kudengar ia bersungut-sungut saat mengerjakan ujian. Tidak menantanglah, tidak sesuai kurikulumlah, terlalu mudah lah,” cecar Agatha, yang kebetulan duduk dibelakang Panji. Hara meneguk ludah.

Kebalikan dirinya didimensi ini, Panji?

***

Hara pernah mendengar soal ini sebelumnya. Ini bukan tentang mesin waktu yang dapat mengantarkannya kemasa depan, tapi lorong yang mengantarkannya ke realitas waktu paralel. Sederhananya, masa depan berada tepat vertikal dengan dunia nyata, sedangkan dunia paralel berada dalam posisi horizontalnya. Hipotesisnya telah berkembang sejauh itu. Ia harus menemukan Linggo sekarang..

Jalannya yang tergesa-gesa membuatnya tidak menyadari bahwa beberapa orang tersenyum padanya. Hara menghentikan langkahnya, berjalan lebih lambat. Dan benar saja, seorang adik kelas sepuluh menyapanya riang. Semua yang tak pernah ia rasakan di dunia nyata dapat ia rasakan disini. Rasanya benar-benar aneh dan menggelitik.

Diam-diam, Hara menyukai semua ini.

“Linggo!” Panggil Hara keras-keras sambil membuka pintu kelas IPA3. Anak-anak yang sedang bermain lempar-lemparan kertas berhenti ketika mendengarnya. Beberapa hampir kembali ketempat duduknya karena menyangka Hara adalah pengajar yang akan masuk. Hara menahan tawanya.

“Kenapa memanggilku?” tanya seseorang dari belakangnya. Linggo. Anak itu datang dengan wajah dingin dari belakangnya. Penampilan dunia paralelnya nyaris sama dengan apa yang ia lihat di dunia nyata.

Apa jangan-jangan, karena tidak bertemu dalam kompetisi matematika Linggo tidak mengenalnya?

“Ah, um, kau Linggo Liand kan? Peraih medali perak olimpiade matematika?”

Linggo mengerinyit, lalu tersenyum sinis. “Kau bergurau. Minggir,” lalu berjalan begitu saja melewati Hara. Tidak. Ini bencana, apakah ia akan terjebak di realitas ini selamanya, tanpa metematika? Sekalipun ditukar dengan banyak teman, ia lebih memilih mengenali konstanta dan variabel matematika.

Tunggu bukankah ia memang ingin dimengerti oleh orang-orang? Bukankah ia ingin dunia yang menerimanya?

Oh, sudah cukup.

“Berhenti mempermainkanku!” bentak Hara, menggebrak meja yang ada didepannya. Semua orang terdiam sekarang. Linggo berhenti dan berbalik.

“Siapa yang mempermainkanmu?”

“Kau!” Hara terisak, “kembalikan aku ke dunia nyata. Kau tidak bisa mengaturku. Kalian tidak bisa mempengaruhiku. Aku tahu, ini hanya ilusi kau berikan padaku, kan?”

“Berhentilah jadi orang dungu yang bicara seperti orang gila!” balas Linggo, tak paham dengan tingkah Hara yang marah-marah seenaknya, “tidak akan pernah ada orang yang dapat mengatur hidupmu kecuali dirimu sendiri! Berhenti menyalahkan orang lain atas semua yang terjadi pada dirimu. Kembalilah kekenyataan!” balas Linggo. Hara terhenyak. Tidak ada yang bisa mengaturnya? Bohong. Ia diharuskan masuk ke sekolah unggulan, belajar tiap hari, semua perintah orang tuanya. Bagaimana cara ia berpakaian, masuk ke kelas, semua diatur oleh sekolahnya.

Semua ini tambah membingungkan. Tapi belum sempat ia membuka mulutnya, sensasi tarikan dari belakang itu kembali terjadi.

Ia meluncur kebelakang, disatu titik ia tertarik keatas, seperti sebuah boneka dalam permainan capit di taman bermain. Makin lama makin cepat. Realitas dunia paralel mulai mengabur tergantikan dengan cahaya keperakan.   

Zst!

Hara kembali diatas ketinggian, tetap tergantung di ketinggian. Linggo masih memegang tangannya erat-erat. “Sekitar 4 detik, 40 menit, ya? Lumayan. Kau mau naik atau tidak?” tanyanya.

Hara ragu. Ia lelah dengan semua ini, tapi dalam hati ia penasaran dengan apa yang terjadi padanya barusan. “Berjanjilah kau akan menjelaskan tentang hal tadi padaku.” putus Hara.

“Bagus.” Ia mengarahkan Hara kearah kanopi jendela untuk memanjat. Dengan hati-hati, Linggo menayunkan Hara sedikit kearah jendela. Hup. Kaki kiri Hara telah mendapat pijakan, namun ia sedikit terpeleset, membuat para penonton makin histeris.

Tapi Hara berhasil naik. Orang-orang yang ada di bawah bersorak sorai lega.

“Apa yang terjadi padaku barusan?” tanya Hara pada Linggo yang duduk kelelahan.

“Gelombang . Mengantarmu langsung ke realitas paralel apabila kau merapal angka-angkanya—jangan tanya padaku darimana aku tahu. Ini rahasia—Setiap bilangan irasional memiliki kekuatan magisnya masing. Semakin banyak yang kau hapal, semakin lama waktumu di sana. Dan, kau pasti tahu bukan mengapa aku menyuruhmu kesana?”

Hara terdiam.

“Ayolah Hara, kau seorang jenius. Apa yang kau lihat di realitas paralel?”

“Hara yang banyak teman,”

“Hara yang baik, dan hangat.. ramah pada setiap orang,” perlahan-lahan ia mulai menangis.

Linggo menepuk bahunya Hara, “modus tollens. Premis pertama, Jika kau dapat mengerti orang lain, maka orang lainpun akan berusaha mengerti dirimu. Premis dua kau tidak mau mengerti orang lain, maka yang kau dapatkan adalah orang-orang yang tidak mau mengerti dirimu juga. Sesederhana itu. Belum terlambat untuk berubah. Percayalah, itu tidak sesulit matematika.”

***


Follow blog ini ya ^3^
Jangan lupa cek

※2nd blog : http://www.dearcharlotta.wordpress.com

※Sosmed!
IG @firafirdaus13
FB Fira firdaus
✩DJ11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s